LOGINErfan menahan kedua tangan Bu Risma di atas kepalanya, sampai ketiak mulus wanita itu terpampang jelas. Erfan mendekatkan wajahnya ke ketiak wanita itu, lalu menghirup aroma di sana.
Melihat apa yang di lakukan Erfan, Bu Risma merasa terangsang sekaligus sedikit malu."Ahhh... tuan, di sana pasti beraroma tidak sedap," rengek Bu Risma dengan nada maja."Enggak kok! ini beraroma sangat wangi," balas Erfan dengan nada yang tampak menikmati.Bu Risma menggigit"Sayang... sayang... kalian gak kenapa-napa?" tanya Erfan. Para wanita itu melangkah menghampiri Erfan, lalu mereka semua berkerumun di sekeliling Erfan. "Sayang, tadi aku takut banget!" keluh Dewi. "Kita semua hampir mati tadi," keluh Serina. "Bukan cuma mau di bunuh, kita semua mau di cicipi para pembunuh itu!" keluh Anne. Satu persatu wanita itu melontarkan keluhannya. Mendengar semua keluhan itu, hati Erfan diliputi oleh amarah yang membara. Namun dia menahan amarahnya itu, karena percuma dia tidak bisa melampiaskannya sekarang. Erfan merentangkan tangannya, mengelus lembut setiap kepala para wanita itu. "Maafkan aku. Aku agak lalai, aku kira mereka gak akan mengirim banyak orang! Kalau aku tahu dari awal, ini gak akan terjadi," ucap Erfan. "Kamu gak salah kok!" ucap para wanita sambil menggelengkan kepalanya. "Sayang, kamu harus berterima kasih sama Jessy! Kalau gak ada dia, mungkin kami semua sudah hancur," ucap Serina. "Jessy? Maksudnya?" Erfan kebingungan. "Duduk du
"Mereka itu, bawahan Erfan?" tanya Serina. "Iya. Sebelum Erfan pergi, dia menyuruh beberapa bawahannya menjaga di sekitar sini," balas Nyonya Kartika. "Ternyata, pria nakal itu gak meninggalkan kami tanpa penjagaan," ucap Erlina. "Dia gak akan gegabah meninggalkan wanitanya. Apalagi situasi sedang panas seperti ini," ucap Nyonya Kartika. "Masalah seperti ini harus cepat di selesaikan, kalau tidak akan sangat bahaya. Kalau bertarung secara langsung gak masalah, takutnya mereka memakai trik," ucap Jessy. "Kamu benar!" Nyonya Kartika setuju. Para wanita itu sudah kehilangan rasa kantuk mereka. Pada akhirnya mereka terus mengobrol di ruang tamu. Bahkan, mereka menyiapkan camilan dan minuman untuk menemani obrolan mereka.====Sebuah mobil Pagani Zonda berwarna hitam ~ melesat masuk ke area Kota Zau."Huh, akhirnya sampai!" ucap pria yang mengendarai mobil tersebut. Pria itu tentu saja Erfan. Setelah berdiskusi dengan para petinggi negara tadi siang, dia langsung pergi membawa Viona
"Identitas? Identitas apa?" tanya Tante Yurike. "Sebenarnya, beberapa tahu lalu aku adalah seorang pembunuh top dunia. Julukanku, mawar berdarah," ucap Jessy. Mendengar kata "pembunuh" semua wanita tersentak kaget. Tante Yurike dan Nyonya Kartika lah yang paling kaget, karena mereka tahu jelas apa itu "pembunuh top dunia." "Ja-jadi... kamu itu... mawar berdarah... yang selama ini... me-menduduki peringkat nomor 1 pembunuh top?" ujar Tante Yurike dengan nada terbata-bata. "Iya, itu memang aku," balas Jessy. Nyonya Kartika menghela nafas panjang, berusah menenangkan hatinya yang kacau. "Jessy, kamu kenapa bisa berakhir di sini?" tanya Nyonya Kartika. "Aku sudah muak membunuh. Aku mau menghabiskan sisa hidupku seperti wanita biasa. Punya suami, punya anak, membangun keluarga kecil yang bahagia. Jadi aku memutuskan untuk bersembunyi di kota ini. Setelah aku ketemu mantan suamiku itu, akhirnya aku berakhir di kampung ini," balas Jessy. Semua wanita mengangguk paham. Setela
"Aku mau yang paling cantik!" ucap salah satu pria sambil menunjuk Dewi. "Tiga wanita muda itu bagus juga," ucap pria yang masih agak muda, sambil menunjuk Diva, Tesa, dan Frisa. "Yurike buat aku. Aku juga mau yang itu!" ucap pria bertubuh agak besar sambil menunjuk Susan dan Sandra. "Jangan biarkan mereka bunuh diri!" ucap pria tua. Para wanita Erfan semakin ketakutan, mereka gak takut mati, api mereka gak mau sebelum mati di tiduri para pria itu. Saat para pria sedang sibuk memilih, tiba-tiba salah satu pria Erfan berkata. "Aku menyerah! Aku bakal jadi wanita kalian, kalian jangan bunuh aku yah." Mata semua wanita Erfan tertuju ke wanita itu. "Jessy... apa maksudmu!" teriak Dewi dengan nada penuh amarah. "Kak Jessy... kamu mau khianati Erfan! Aku gak nyangka kamu seperti itu!" teriak Shara. Jessy diam, tak menjawab perkataan para wanita itu. Ekspresinya tampak senang, tak beriak sama sekali. "Gak ada pilihan lain," ucap Jessy di dalam hatinya. "Jessy... kau sungguh men
Dua mobil yang lolos sudah tiba di pintu masuk kampung. Namun kedua mobil itu terpaksa berhenti, karena ada 4 orang pria berdiri menghalangi jalan."Hmm... kalian berlima lawan mereka! Kita yang mengurus para wanita itu," ucap pria di mobil yang pertama alat komunikasi."Baik!" terdengar suara belasan dari alat komunikasi tersebut.Lima pria yang ada di mobil belakang turun, lalu menyerang ke empat pria bawahan Erfan.Terlihat kelima pria itu tampak kuat, bahkan bawahan Erfan hanya bisa imbang melawan mereka. Jika kelima lagi ikut menyerang, kemungkinan besar bawahan Erfan akan kalah.Mobil yang pertama melaju masuk ke dalam kampung."Sialan! Bagaimana ini! Para Nona pasti celaka," teriak pria berambut keriting dengan panik."Mau bagaimana lagi, para sialan ini ternyata sangat kuat!" balas pria bertato naga di wajahnya dengan ekspresi sangat muram."Kita harus cepat habisi mereka, siapa tahu masih bisa menyelamatkan para Nona," ucap pria yang sudah agak tua. Ekspresi pria itu tampak t
Di malam hari, pas di jam tengah malam. Terlihat belasan mobil sedan hitam melaju di jalanan pedesaan."Ternyata ini tempat Tuan Muda Erfan bersembunyi selama ini," ucap seorang pria berpakaian serba hitam yang ada di dalam salah satu mobil sedan tersebut."Hati-hati, jangan sampai lengah! Di sini pasti sudah di jaga ketat," ucap pria di sampingnya.Tak lama setelah pria itu berbicara, terlihat puluhan pria berdiri menghadang jalan. "Hmm... sulit banget bersembunyi dari mereka. Aku kira mereka berjaga di sekitar vilanya," ucap pria berpakaian hitam itu.DOR... DOR... DORTerdengar suara tembakan di luar."Hati-hati!" ucap salah satu pria berpakaian hitam, sambil menunduk.PRAKK... PRAKK... PRAKKKaca mobil itu hancur oleh beberapa peluru sniper."Sialan, ayo cepat keluar! Jangan sampai mati di sini," ucap salah satu pria dengan panik.Semua pria berpakaian hitam di dalam belasan mobil itu keluar dari mobil.Para pria yang menghadang mereka menatap tajam. Aura mereka semua tampak sang
Beralih ke tempat Shara dan wanita lainnya berada. Para wanita itu, terlihat sedang berjalan beriringan dengan mahasiswa lainnya. Mereka mengikuti seorang staf pergi ke suatu tempat dia dalam perusahaan tersebut. Shara berjalan sambil mengobrol dengan Diva. Seperti biasa yang mereka bahas hanyalah
"Sayang, mau makan di mana?" tanya Shara. "Bebas! mau di hotel apa di luar terserah kalian!" balas Erfan dengan nada santai. "Di luar aja yuk! sekalian menikmati suasa malam Kota Su. Kota Su adalah kota besar, pasti kalo malam sangat ramai," ucap Diva. Semu orang mengantuk setuju. Mereka masuk
Tuan Gubernur mendekat ke Erfan. "Tuan Muda, anda dan putri saya...serius memiliki hubungan?" tanyanya dengan canggung. "Ayah, kenapa kamu bayak bertanya! tentu saja benar!" Diva menyela dengan kesal. "Gadis nakal, diam!" tegur Tuan Gubernur. "Itu benar! di masa depan anda tidak perlu sungk
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas







