LOGINTeman-teman, author punya buku baru berjudul "Pemuda Pemikat Gadis Desa". Jangan lupa mampir dan baca, ya!
Keesokan paginya. Di ruangan tempat teman-teman Nyonya Yuli tertidur tadi malam. Terlihat, para wanita itu sudah terbangun dari tidurnya. Mereka tak ada yang merasa aneh ~ saat terbangun di ruangan itu. Karena mereka menebak, kalau Erfan lah yang menyediakan ruangan itu untuk mereka. Tiga wanita yang Erfan tiduri tadi malam, merasakan ada yang aneh di area apem mereka. Mereka merasakan apem mereka sangat lembab. Namun, ketiga wanita itu tak berkata apapun. Satu persatu dari mereka pergi ke toilet ~ jelas kalau mereka ingin mengecek kondisi apemnya masing-masing. Karena toilet yang ada di ruangan itu hanya satu, ketiga wanita itu masuk secara bergantian. Wanita pertama yang masuk ke toilet adalah Nyonya Wini. Di dalam, dia buru-buru membuka CDnya, lalu menyentuh apemnya. Saat merasakan cairan lengket yang sudah sedekat mengering, keningnya seketika berkerut. Jelas, dia tahu kalau itu cairan milik pria. "Aku... aku ditiduri pria? Siapa yang meniduriku?" gumam Nyonya Wini
Setelah itu, Erfan mengatur posisi bercinta. Dia berlutut di antara kaki wanita itu, lalu memosisikan ujung batangnya di apem wanita itu. "Tante... aku masukin, yah," ucap Erfan dengan nada main-main, sambil mendorong masuk batang besarnya ke dalam apem wanita itu. "Ahhhh..." Nyonya Retno hanya merespons oleh sebuah desahan yang cukup panjang. "Ahhh... sempit banget... sangat nikmat," ucap Erfan dengan nada menikmati, sambil terus mendorong batangnya sampai mentok di dalam sana. Setelah mentok di dalam, Erfan langsung saja menggempur apem itu. "Ahhh... ahh..." desahan-desahan lembut itu terus keluar dari mulut Nyonya Retno. Erfan menunduk, lalu dia melumat ganas bibir wanita merah wanita itu. Walau tak ada respons, tapi Erfan tetap melanjutkannya sampai dia puas. Karena Nyonya Retno menggunakan dress tanpa lengan, Erfan ingin mencicipi ketiak wanita itu. Dia meraih kedua tangan Nyonya Retno, lalu menyerang ketiak yang tampak sangat mulus itu dengan lidahnya. Aroma yang
Di dalam ruangan, mata panas Erfan menyapu pemandangan di sana. Terlihat semua teman Nyonya Yuli tergeletak di sofa bahkan ada yang yang di lantai. Ada berapa dari mereka yang masih punya sedikit kesadaran, ada pula yang sudah tidur karena saking mabuknya. Karena cahaya di ruangan itu cukup terang, Erfan bisa melihat jelas tampilan para wanita itu. Erfan melangkah menghampiri Nyonya Abel yang tergeletak di atas sofa. Menurutnya, di antara semua wanita, Nyonya Abel yang paling cantik. Jadi dia ingin mencicipinya terlebih dahulu, sebelum yang lainnya. Erfan naik ke aras sofa, lalu dengan cepat dia melepaskan seluruh pakaiannya. Dalam waktu singkat, semua pakaiannya sudah terlepas sepenuhnya. Dia memosisikan Nyonya Abel menghadap ke atas, sambil berkata. "Tante, apa kamu masih sadar?" Terlihat mata wanita itu sedikit terbuka. "Tuan... Muda... itu kamu," ucapan pelan khas orang mabuk keluar dari mulut wanita itu. "Iya ini aku. Aku mau minta ijin... boleh gak aku menidurimu
Semakin lama, para teman-teman Nyonya Yuli yang berjoget di dekat Erfan, semakin merapatkan tubuh mereka ke tubuh Erfan. Bahkan, ada wanita yang dengan berani menggesek payudaranya ke lengan Erfan. Karena hal itu... tentu saja Erfan merasa semakin kepanasan. "Para Tante... kalau kalian begini... aku gak bisa tahan," ucap Erfan. "Kalau Tuan Muda gak tahan... aku siap kok bantu Tuan Muda," balas wanita berpakaian merah. "Tante... bukannya kalian punya suami? Ini gak pantas... kan?" kata Erfan. "Udah lupakan saja masalah itu! Kalau Tuan Muda suka... cicipi aja! Kami gak keberatan, kok," ucap wanita berpakaian ungu. "Udah... Tuan muda nikmati aja!" ucap wanita berpakaian hitam. Karena hasratnya yang semakin membara, serta mendapat ijin dari para wanita dewasa itu, Erfan tam sungkan lagi. Dia menarik wanita berpakaian hitam, yang bernama, Retno, lalu mulai menggerayangi tubuh wanita itu. "Tante Retno, aku mau remas payudaramu.. boleh, kan?" bisik Erfan, sambil mengelus pay
Waktu dengan cepat berlalu, tak terasa dua jam telah berlalu. Saat ini, di dalam ruangan tempat Erfan dan Nyonya Yuli terjera dalam hasrat, masih terasa membara. Keduanya tampak masih terjerat satu sama lain. Namun, terlihat kalau Nyonya Yuli sudah tampak sangat kelelahan. Desahan-desahan yang keluar dari mulutnya terdengar sangat lemah. Walaupun, saat ini Erfan dengan keras menggempurnya dari atas. "Fan... udah... ahh.. hah... Tante... udah gak tahan! Udah... yah..." Nyonya Yuli memohon, dengan suara yang terpatah-patah. "Ini yang terakhir, Tan! Sebentar lagi aku keluar, kok!" tegas Erfan. "Oke... buruan Fan! Tante bisa pingsan... kalau terus di gempur sekeras ini," ucap Nyonya Yuli. Tak lama kemudian, akhirnya Erfan mendapatkan puncaknya. Dia menumpahkan cairannya yang entah ke berapa kali di dalam apem wanita itu. "Ahhh... ahh.. nikmat banget, ahh.." desah Erfan dengan tubuh yang tersentak-sentak nikmat. "Ahh... ahh.. ahh.." Nyonya Yuli tak berkata apapun, yang terde
"Tante, mau lanjut langsung?" tanya Erfan dengan nada main-main, sambil mengelus wajah wanita itu. "Ayo... langsung saja!" balas Nyonya Yuli, seraya menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu... Tante nungguin, yah!" pinta Erfan. Tanpa harus di arahkan, Nyonya Yuli mengambil posisi menungging membelakangi Erfan. "Kayak, Gini... Fan?" tanya Nyonya Yuli, sambil menoleh ke belakang ~ ke arah Erfan. "Bagus! Udah pas! Tante sangat pintar," balas Erfan, sambil meremas pantat wanita itu. Namun, Erfan bukannya memasukkan kembali batangnya, dia malah membenamkan wajahnya di apem wanita itu, lalu menjilatinya. "Ahhh.. Fan, Kamu!" Seketika, Nyonya Yuli mendesah keras, dengan tubuh yang bergetar hebat. "Ke-kenapa kamu malah menjilatnya, sih?" tanya Nyonya Yuli. "Biar hasrat Tante lebih menyala lagi," balas Erfan lalu dia melanjutkan jilatannya. "Ahhh... ahh, kamu ini... tapi... benar juga, sih," ucap Nyonya Yuli. Dia mulai menikmatinya. Setelah puas menjilati, Erfan menarik wajah
Kakak perempuan pertama Diva yang bernama, Gisel, tampak ingin berkata, namun dia tampak ragu.Diva menyadari itu, lalu dia bertanya kepada kakaknya itu. "Ada apa kak? kalau ada yang mau kakak katakan, katakan saja!" "Sebenarnya... aku kepikiran membuka bisnis di sana. Tapi...
Beberapa saat kemudian, Bu Sumi bangkit, lalu menghampiri Erfan. Dia bergerak naik ke atas pangkuan Erfan dengan posisi kaki yang di lebarkan. "Tuan muda... aku belum pernah merasa senikmat ini saat bercinta," ucap Bu Sumi dengan nada menggoda sambil melingkarkan tangannya di leher Erfa
Setelah merasa cukup beristirahat, mereka pun kembali mengenakan pakaian, lalu keluar dari rumah tersebut. Erfan memasukkan barang-barang milik Bu Sandra dan Geya ke dalam mobil. Setelah semuanya selesai, mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan Erfan pun melajukan mobilnya menuju vila."
Erfan menatap wanita dewasa itu, dengan mata panas. Karena wanita tersebut terlihat masih sangat muda dan segar, dia sangat penasaran dengan statusnya, yang akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Apakah anda memiliki suami?" tanya Erfan. "Aku seorang janda," Jawab Bu Evi dengan nada genit. Erfan







