LOGINDi dalam kamar.
Erfan dan Bu Evi, saling berpelukan. Mereka belum melanjutkan permainan, karena Bu Evi ingin beristirahat terlebih dahulu."Sayang, simpanan mu sekarang ada berapa? aku penasaran hihi!" tanya Bu Evi, sambil terkikik genit."Emm, lumayan sih," jawab Erfan, sambil berpura-pura berpikir."Apa diantara mereka, ada yang bernama Dewi?" tanya Bu Evi, sambil menatap Erfan.Erfan menggelengkan kepalanya,"Enggak ada kok. Emangnya kenapa?" tanya Erfan, dia sedikit penasaran, kenapa wanita ini tiba-tiba menanyakan ham itu."Kirain aku ada. kalo kamu tau nih, Bu Dewi sangat cantik pokoknya," ucap Bu Evi dengan serius."Emm, apa iyah?" tanya Erfan, dia tidak yakin, dia menganggap Bu Evi hanya bicara omong kosong."Ihh beneran, coba kamu tanya deh, sama Bu Anne, rumah nya deket sama dia!" ucap Bu Resti."Secantik apa sih, jadi penasaran," ucap Erfan, sambil memegang dagunya."Kalo boSetelah terdiam beberapa menit, Erfan menatap wanita itu dengan tatapan nakalnya. "Kamu masih kuat? Mau lanjut?" tanya Erfan, sambil menyeringai nakal. Bu Jessy menggelengkan kepalanya. "Sudah cukup. Tolong sisakan sedikit tenaga untukku, untuk pergi dari sini," balas Bu Jessy, sambil berekspresi berpura-pura memohon.Erfan terkekeh, sambil mengacak-acak rambut wanita itu."Hehe, oke, ayo kita berpakaian!" ucap Erfan."Enggak mau ah, aku mau gini aja," balas Bu Jessy, dengan manja."Hey, jangan nakal! ayo cepat," ucap Erfan, sambil menarik Bu Jessy berdiri.Bu Jessy terkikik genit, sambil mengambil pakaiannya yang berserakan."Sayang, aku tidur di vilamu yah untuk malam ini," ucap Bu Jessy, sambil mengenakan pakaiannya."Kamu wanitaku sekarang, kalo mau tinggal di vila tinggal tinggal saja, gak akan ada yang melarangmu," balas Erfan.Bu Jessy mengangguk, ekspresinya sangat senang.Setelah rapi kembali, Erfan membersihkan belas permainan mereka. Bu Jessy langsung membantu Erfan, tid
Erfan dan para wanita sampai di vila, mereka masuk ke dalam vila lalu duduk di sofa ruang tamu.Bu Evi duduk di samping Erfan. Ekspresi wajahnya terlihat masih syok.Erfan merangkul wanita itu."Semuanya sudah selesai! kamu tidak perlu takut seperti itu!" ucap Erfan dengan nada lembut.Bu Evi mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya di dada Erfan.Erfan melirik Shara, Erfan baru sadar ternyata Shara ada di sana."Kamu juga ada di sini?" ucap Erfan kepada Shara.Shara cemberut lucu, sambil menjawab."Apa kamu gak sadar? aku bersama kakak lainnya dari tadi!" Erfan terkekeh."Maaf-maaf aku gak terlalu memerhatikan!" balas Erfan."Gimana, apa ada kabar dari Geya?" tanya Shara buru-buru. Dia sangat khawatir dengan kondisi temannya itu, yang tiba-tiba menghilang."Dia ada kok di kosan, tadi di telepon oleh ibunya. Dia kecapean sampai ketiduran, jadi gak kuliah," jawab Erfan, dengan santai.Mendengar itu Shara sedikit mengerutkan keningnya."Gak biasanya Geya seperti itu. Mengerjakan tugas sa
Mobil Dewi berhenti di depan Bu Evi. Dewi, Serina, Erlina, Shara, dan juga Pak RW, turun dari mobil. Para wanita langsung menghampiri Bu Evi. "Apa kamu gak apa-apa?" tanya Serina, buru-buru. Bu Evi menggelengkan kepalanya, sambil terisak. Semua wanita memeluk Bu Evi, mencoba menenangkannya. Shara yang baru bertemu dengan Bu Evi pun ikut menenangkannya, karena tahu dari Erlina jika Bu Evi adalah Ibu Nayla, yang sudah pasti memiliki hubungan dengan Erfan. Pak RW langsung berjalan ke tempat para warga yang sedang menghajar Pardi.Kondisi Pardi sangat menyedihkan, wajahnya sudah seperti babi gemuk. Terlihat memar memenuhi wajahnya, darah segar mengalir keluar dari hidung, dan juga darah mengalir dari mulut karena ada beberapa gigi yang tanggal."Arggg, ampun! hentikan arghh!" pekik memilukan terus keluar dari mulut Pardi.Pak RW datang, menghentikan para warga yang memukuli Pardi."Sudah! hentikan dulu!" teriak Pa RW, dengan nada penuh wibawa.Semua warga berhenti, setelah mendengar
Bu Evi yang dibentak oleh pria itu, tidak tahan lagi, ekspresi wajahnya terlihat kesal. "Aku mencintai dia atau tidak, itu bukan urusanmu!" pekik Bu Evi, sambil hendak melangkah pergi. Tapi pria itu menahannya, lalu menekan Bu Evi ke ke batang pohon, yang ada di sisi mereka. Pria itu tertawa gila, ekspresi kejam terlukis di wajahnya. "Haha, jika kau tidak bisa menikah denganmu! biarkan aku mencicipi tubuhmu!" teriak pria itu, sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Bu Evi. Bu Evi sangat ketakutan, dia memberontak. "Apa yang kau lakukan, bajingan!" teriak Bu Evi. Pria itu menghirup aroma tubuh Bu Evi dalam-dalam, seringai mesum tersungging di bibirnya. "Evi, aku selalu mendambakanmu tubuhmu ini. Malam ini aku akan mencicipi tubuhmu ini sampai aku puas!" ucap pria itu. Ekspresi penuh amarah dan rasa jijik terlukis di wajah Bu Evi. "Jadi selama ini, kau hanya mendambakan tubuhku? ternyata kau hanyalah bajingan!" umpat Bu Evi, sambil terus memberontak. "Haha, memang benar! hanya t
Bu Sandra berdiri, dia memosisikan tubuhnya membelakangi Erfan."Sayang, sambil berdiri enak kayaknya!" ucap Bu Sandra, sambil mengaitkan jarinya, memberi kode.Erfan tersenyum nakal. Dia menurunkan Bi Ayu yang baru saja mencapai puncak dari pangkuannya, lalu menghampiri Bu Sandra.PLAKKErfan menampar pantat BU Sandra, yang membuat Bu Sandra merintih nikmat."Jika melihat posisi seperti ini, tanganku suka ingin menampar pantatmu!" ucap Erfan, dengan nada main-main.Bu Sandra menatap Erfan dengan tatapan sayu, ekspresi wajahnya di penuhi hasrat."Tampar saja sayang! aku suka kok!" ucap Bu Sandra, dengan nada berat.Erfan menyeringai nakal."Kamu suka dikasari ternyata," Erfan memosisikan senjatanya di depan pintu gua wanita itu, setelah dirasa pas, dia langsung menusukkannya."Ahh..." desahan nikmat keluar dari mulut keduanya."Sangat dalam sayang!" ucap Bu Sandra, ada kepuasan di nada bicaranya.PLAKK....Erfan menampar kembali pantat wanita itu. Erfan merasakan senjatanya semakin di
Di dalam kamar kos sederhana, tanpa da penerangan di sana, walau hari sudah malam. Remang-remang terlihat seorang wanita, yang sedang meringkuk di sudut sambil membenamkan wajahnya."Ibu, Erfan, maaf aku berbohong kepada kalian," ucap wanita itu. Wanita itu adalah Geya.Ponsel Geya menyala, ada pesan masuk ke dalam ponselnya. Geya mengambil ponselnya. Saat dia melihat siapa yang mengirim pesan, dan apa isi pesan tersebut, wajahnya menjadi pucat.Pesan tersebut di kirim oleh pria yang meniduri Geya. Pria itu meminta Geya untuk membuka pintu kosannya, karena dia ingin meminta jatah. Dia juga mengancam, jika Geya berani menolak permintaannya.Dengan gontai, Geya bangkit lalu membuka pintu kamar kosnya. Dia juga menyalakan lampin kamar kosnya, karena takut ada yang curiga jika lampunya tidak menyala, tapi pintu kamar kosnya terbuka.Geya kembali duduk di kasur. Ekspresi wajahnya sudah berubah menjadi dingin.Tidak lama, seorang pria masuk ke dalamkamar kos Geya, saat keadaan di luar aman







