Home / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 44: Alasan yang Masuk Akal

Share

Bab 44: Alasan yang Masuk Akal

last update publish date: 2026-07-05 22:37:16

Selina mencoba menarik diri, tapi Edgar justru menarik wajahnya dan menyatukan bibirnya yang membuat Selina langsungb membolaka matanya, tangannya merayap ke punggung wanita itu, menekan tubuh ramping Selina ke dada bidangnya yang kokoh.

Bibir mereka saling melumat dengan rakus, gigi Edgar menggigit pelan bibir bawah Selina hingga ia mengeluarkan desahan kecil yang tertahan, “Mmm... Edgar... ini gila...”

“Ya, ini gila,” balas Edgar dengan suara rendah, matanya gelap penuh nafsu saat ia melepask
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wieanton
permainan memicu adrenalin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 171

    Usai meluapkan amukan dingin yang melumpuhkan jajaran direksi di ruang rapat internal, atmosfer di sekitar mereka berdua perlahan kembali tenang.Edgar melangkah tegap di depan dengan kedua tangan berada di dalam saku celana bahan mewahnya.Sementara itu, Samuel mengekor setengah tapak di belakang, jemarinya bergerak amat lincah menari di atas layar tablet digital untuk memastikan instruksi akuisisi dan surat pembekuan aset pelabuhan Surabaya meluncur tepat waktu ke tim hukum."Semua draf gugatan arbitrase Jenewa sudah terkirim ke email pribadi Olivia Vance lima menit lalu, Edgar," ujar Samuel seraya menggeser layar tabletnya, bermaksud memecah heheningan."Bisa kupastikan wanita pirang itu sedang mengamuk dan melemparkan cangkang kopi mahalnya di dalam jet pribadi sekarang."Edgar tidak menoleh, hanya sudut bibirnya yang terangkat sangat tipis. "Pastikan tim intelijen finansial kita memantau setiap pergerakan rekening entitas turunan Vance Corp hingga esok pagi.""Beres, Bos Besar! S

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 170

    Hanya butuh waktu lima belas menit setelah Olivia Vance dan rombongannya melangkah keluar dari gedung dengan wajah memerah menahan malu, ruang rapat utama Anderson Group kembali terisi penuh.Pintu ganda kayu jati ditutup rapat. Di dalam ruangan kedap suara itu, suasana mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, bukan lagi tegang oleh intrik musuh luar, melainkan membeku oleh teror internal yang siap menerjang.Belasan pemegang saham senior, dewan komisaris, dan seluruh jajaran manajer proyek ekspansi cabang duduk kaku di kursi kulit masing-masing.Tidak ada bisikan, tidak ada dentang cangkir kopi.Hanya ada helaan napas tertahan dari para petinggi korporasi yang menyadari bahwa sang penguasa tertinggi sedang berada di puncak amarahnya.Edgar berdiri tegap di kepala meja mahoni. Jas tiga lapis mewahnya masih melekat sempurna, namun dasi sutranya kini sedikit dilonggarkan.Pria itu tidak duduk. Mata elangnya yang tajam dan menusuk menyapu satu per satu wajah para direktur yang men

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 169

    Sinar matahari pagi membias dingin menembus dinding kaca tebal di lantai teratas gedung Anderson Group.Di dalam ruang rapat utama yang megah dan kedap suara, atmosfer terasa begitu pekat, kaku, dan mencekam.Meja mahoni berukuran raksasa membentang di tengah ruangan, memantulkan pendar lampu pualam yang elegan.Edgar berdiri tegap di ujung meja. Pria penguasa bursa saham itu tampil sempurna dalam balutan setelan three-piece suit berwarna abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Savile Row.Aura dominasinya terpancar begitu pekat, dingin, dan membekukan, seolah setiap helai napas yang ia hembuskan sanggup memangkas suhu ruangan hingga ke titik didih terendah.Di sebelah kanannya, Samuel berdiri santai seraya merapikan ujung lengan kemeja mewahnya.Meski raut wajahnya dihiasi senyum tipis khas pria dandy, pendar mata kecerdasan taktisnya menyala tajam, siap mengeksekusi setiap perintah sang CEO.Klek.Pintu ganda berlapisan kayu jati tebal di ujung ruangan terbuka perlahan. Derap langkah

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 168

    Pintu besi tempa mansi utama terbuka perlahan saat sedan mewah Edgar memasuki pelataran.Di dalam kabin, Edgar menghela napas panjang, menatap sebentar pantulan dirinya di kaca spion tengah.Raut kaku dan beban intrik korporasi di wajahnya berusaha ia singkirkan rapat-rapat sebelum jemarinya mendorong pintu mobil.Langkah kaki Edgar bergema stabil di atas pualam lorong depan. Begitu memasuki area ruang keluarga utama, aroma vanila dan kayu cendana yang menenangkan seketika menyapa indra penciumannya.Di atas sofa empuk berbalut kain beledu, Selina tampak sedang duduk santai seraya membaca majalah desain interior.Ia mengenakan gaun tidur longgar berwarna merah muda lembut.Wajah cantiknya yang merona alami dipenuhi ketenangan, dan begitu mendengar derap langkah sepatu suaminya, Selina mendongak dengan senyuman hangat yang mekar sempurna."Kau sudah pulang, Edgar?" sapa Selina manis, gerakan tubuhnya hendak bergeser untuk berdiri."Jangan bangun, Sayang," potong Edgar cepat.Langkah ka

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 167

    Sisa aura panas bekas benturan kata-kata tajam di ruang kerja presiden direktur masih membubung tebal di udara.Tunjuk jari Edgar yang membunuh masih mengambang sejenak di depan wajah Samuel, sebelum akhirnya pria penguasa bursa saham itu menarik kembali tangannya secara perlahan.Edgar menghela napas panjang melalui hidungnya, mengalirkan oksigen dingin untuk meredakan gejolak emosi di dalam dadanya.Dengan ketenangan eksekutif yang kembali terkendali penuh, ia memutarkan tubuh, meraih dasi sutranya yang sempat agak miring, lalu merapikan simpulnya secara presisi di depan cermin dinding pualam."Keterampilanmu dalam memprovokasi orang memang belum berkurang sedikit pun, Samuel," ucap Edgar dengan suara bariton rendah yang kembali tenang, membelakangi asistennya.Samuel terkekeh pelan, melangkah mundur dua tapak lalu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja kerja."Aku tidak memprovokasi, Edgar. Aku cuma menjalankan tugasku sebagai satu-satunya orang di perusahaan ini yang berani menepuk

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 166

    Brak!Edgar menghempaskan berkas tipis berisi foto dan rekam jejak Olivia Vance ke atas meja kaca mewahnya hingga terdengar dentum keras yang menggema di seluruh sudut ruangan.Pria itu berdiri tegap, membelakangi meja kerja seraya melepas kancing jas hitamnya dengan gerakan kasar. Ujung matanya membeku tajam menatap pemandangan pencakar langit dari balik dinding kaca tebal."Rombak total struktur pendanaan proyek kawasan selatan sekarang juga," perintah Edgar dengan intonasi bariton yang menusuk dingin."Ganti seluruh konsorsium investor Eropa dengan dana internal Anderson Group. Alokasikan likuiditas cadangan kita sebesar delapan triliun rupiah sore ini. Aku tidak sudi nama perusahaan kita terkoneksi satu milimeter pun dengan entitas milik Olivia Vance."Samuel yang berdiri santai di seberang meja tidak bergerak sedikit pun.Alih-alih buru-buru menyambar laptopnya untuk mengeksekusi perintah, asisten pribadi itu justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya.

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 7: Bisa Melakukannya denganku

    Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status