ログインSelina menahan napas sejenak mendengar pertanyaan dari pria itu.Dadanya naik turun saat pandangan mata elang Edgar mengunci seluruh fokusnya.Dia tengah berusaha menguasai diri dari rasa malu yang masih membakar pipinya, lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan."Memangnya ide seperti apa yang kau maksud, Edgar?" bisik Selina lirih, mencoba terdengar netral meski tangannya di samping tubuh sudah meremas pinggiran roknya.Edgar menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Selina dengan sisa senyuman miring yang menggoda."Anggap saja kita sedang liburan. Dan selama dua hari di sana, coba pikirkan apa saja yang mungkin akan terjadi antara kau dan aku saat malam tiba."Perkataan bernada provokatif itu membuat pipi Selina makin memanas hingga merah padam.Sensasi hangat menjalar liar di sepanjang lehernya, teringat kembali betapa brutal dan liarnya sentuhan pria itu setiap kali mereka berduaan di tempat tertutup."Edgar, tolong... bisakah kau
"Kemas pakaianmu untuk dua hari ke depan," ucap Edgar setelah mereka tiba di ruang kerja."Siang ini kita akan pergi ke lokasi proyek luar kota. Ada inspeksi lapangan yang harus kuselesaikan, dan kau wajib ikut bersamaku sebagai asisten pribadi."Selina mengangguk pelan, mencatat instruksi itu di benaknya.Namun sebelum sempat menanyakan detail proyek tersebut, tiga ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerja.Edgar memberikan izin masuk, dan sosok Kevin melangkah masuk dengan raut wajah serius dan sigap."Tuan Edgar," panggil Kevin seraya membungkuk hormat."Saya ingin menyampaikan laporan intelijen mengenai keberadaan dan kegiatan Tuan Rafael semalam setelah dia keluar dari rumah ini."Edgar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya, menyilangkan kaki, lalu memberikan isyarat agar Kevin melanjutkan laporannya.Selina yang berdiri tak jauh dari meja kerja ikut memasang telinga dengan seksama."Setelah mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan, Tuan Rafael mendatangi se
Pagi harinya di kediaman utama Theodore, suasana di ruang makan lantai bawah terasa teramat kaku dan mencekam.Selina duduk di salah satu kursi, sibuk mengoleskan mentega ke atas rotinya dengan jemari yang sedikit gemetar.Pagi ini, Selina menghabiskan waktu hampir setengah jam di kamar mandi hanya untuk memoleskan concealer dan foundation tebal di leher, tulang selangka, serta bagian atas dadanya.Tanda kemerahan dan keunguan yang pekat akibat permainan brutal Edgar di atas meja kerja semalam begitu jelas membekas.Mengenakan blouse berkerah tinggi masih membuat rasa paniknya tak kunjung surut. Setiap kali gerakan lehernya terasa kaku, ketakutan akan ketahuan menyergap pikirannya.Di sudut meja yang lain, Thomas sibuk membaca koran bisnis dengan kening berkerut tebal.Rafael belum juga menampakkan batang hidungnya, kemungkinan besar masih terkapar akibat mabuk berat dan insiden pingsan di koridor semalam.Sementara itu, Luna—ibu Rafael duduk di kepala meja dengan gaun mewahnya, menat
Selina tidak sempat membalas pertanyaan Edgar barusan.Jawaban itu seketika tenggelam begitu Edgar kembali meraup bibirnya dalam ciuman yang jauh lebih menggebu, panas, dan liar.Lidah Edgar menyusup menerobos masuk, membelit lidah Selina secara dominan, menyerap setiap inci rasa manis dan saling bertukar saliva yang terputus-putus di sela sengal napas mereka.Selina melenguh pasrah, mencengkeram erat bahu berotot Edgar demi menahan sengatan gairah yang mendadak meledak.Edgar menarik wajahnya perlahan, menyisakan benang saliva di udara sebelum mendaratkan bibirnya di leher jenjang Selina.Kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil yang liar menelusuri leher hingga turun ke dada Selina.Di bawah pendar lampu ruang kerja, kedua payudara Selina membusung indah, naik turun memburu mengikuti irama napasnya."Indah sekali," bisik Edgar dengan suara baritonnya yang serak dan berat. Tangannya meremas kenyal salah satu bagian itu dengan tekanan yang pas."Terasa semakin membesar dan padat setiap
Edgar menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada hal spesifik. Ini hanya untuk menambahkan informasi atau apa pun itu, bukti kuat untuk menggulingkan Rafael dan Thomas begitu kita mendapatkannya. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa mengintimidasi kau maupun aku lagi di rumah ini."Edgar bersandar pada punggung kursinya dan menatap langit-langit ruangan sejenak dengan pandangan malas."Sebenarnya aku sangat malas melakukan hal-hal menguras energi seperti ini. Toh, aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku bangun dengan jerih payah dan keringatku sendiri selama bertahun-tahun. Kalau bukan karena perintah dari seseorang, mana mungkin aku mau bersusah payah melakukan ini semua."Selina seketika mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kata 'perintah' itu menghantam rasa ingin tahunya hingga ke puncaknya."Perintah? Perintah dari siapa, Edgar? Siapa yang bisa menyuruhmu?"Namun, Edgar tidak menjawab.Pria itu hanya diam membisu, mengabaikan tatapan menuntut Selina, lalu mengulurkan tangan mer
Selina kembali mengarahkan fokusnya pada tumpukan kertas laporan yang berserakan di meja.Tangannya yang memegang pena terus mencatat poin-poin krusial, bertumpu penuh pada tugasnya untuk membongkar setiap kejanggalan keuangan Theodore Group hingga tak ada satu pun transaksi mencurigakan yang terlewat.Namun, rasa lelah yang menumpuk sejak pesta semalam dan pergulatan gila-gilaan mereka di kamar hotel mulai menggerogoti pertahanannya.Tanpa sadar, Selina menguap cukup lebar seraya memejamkan mata sejenak, melemaskan otot-otot wajahnya yang tegang.Suara gesekan pena Edgar di sudut meja mendadak terhenti. Pria itu menoleh perlahan, menatap wajah Selina yang tampak kelesuan di bawah pendar lampu meja."Ngantuk, hm?" tanya Edgar dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam.Selina tersentak kecil, refleks menegakkan punggungnya.Dia pun menoleh ke arah Edgar dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba bersikap seolah dirinya masih sangat segar."Tidak," jawab Selina berbohong. "Ak
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama







