LOGINSelina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.
“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Paman! Aku sangat ceroboh, jalanku terhuyung karena kakiku ….” Selina terbata-bata sambil terus merutuki kebodohannya yang luar biasa.
Kalimatnya menggantung di udara, tumpang tindih dengan rasa malu yang membakar seluruh permukaan kulit wajahnya.
Sementara Edgar tidak menyahut. Pria itu hanya memungut handuknya dengan gerakan lambat yang luar biasa tenang, seolah ketelanjangan di depan istri keponakannya bukanlah sebuah skandal besar.
Tatapannya yang pekat terus mengiringi langkah Selina yang mundur teratur hingga punggung gadis itu membentur pintu kayu.
“SELINA! KAU MATI DI DALAM SANA, HAH? LAMA SEKALI!”
Teriakan Luna yang menggelegar dari luar koridor menjadi penyelamat sekaligus lonceng kematian bagi Selina. Tanpa menoleh lagi ke arah Edgar, Selina langsung membuka pintu kamar, menyambar keranjang rotan yang kini sudah terisi, dan setengah berlari keluar.
Di ujung lorong, Luna sudah berdiri dengan wajah melotot, siap menumpahkan seluruh lahar kemarahannya. “Hanya mengambil pakaian kotor di satu kamar saja lama sekali! Kau sengaja mengulur waktu agar bisa bermalas-malasan, dasar lelet!”
“Maaf, Ibu. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Selina dengan tubuh membungkuk dalam, untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah. “Aku ... aku tidak tahu kalau di kamar paling ujung itu sudah ada penghuninya. Aku pikir kamar itu kosong."
Mendengar alasan itu, mata Luna justru semakin menyipit tajam. Dia melangkah maju, lalu mencengkeram rahang Selina dengan ujung kuku-kukunya yang panjang dan runcing, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.
“Tidak tahu atau kau sengaja mencari kesempatan, hah?” tuduh Luna dengan nada suara yang naik satu oktaj.
“Kau tahu adik iparku, Edgar, baru pulang semalam dan kau sengaja masuk ke kamarnya untuk merayunya? Menggoda pria mapan agar bisa lepas dari jerat utang keluargamu, begitu?”
Deg.
Hinaan itu terasa begitu beracun, menyayat harga diri Selina hingga ke titik paling dalam. Setitik air mata menggenang di sudut kelopak matanya, siap meluncur bebas menuruni pipinya yang pias. Selina hanya bisa menunduk, menahan getaran hebat di bahunya agar tidak meledak menjadi tangisan di depan wanita kejam ini.
“Bukan begitu, Ibu ... aku benar-benar tidak tahu,” bisik Selina lirih. "Aku baru tahu pagi ini karena baru melihatnya—"
“Halah! Jangan berlagak polos di depanku! Air mata buayamu itu tidak mempan!” Luna menyentak rahang Selina hingga wajah gadis itu terlempar ke samping.
“Cepat bawa pakaian itu ke ruang cuci! Setelah itu, langsung ke dapur dan masak untuk makan siang. Jika makanan belum siap saat Rafael pulang, aku akan memastikan ayahmu membusuk di penjara!”
Selina tidak berani mendebat. Dia hanya bisa memeluk keranjang rotan itu erat-erat sebagai tameng pelindung dirinya yang rapuh, lalu berjalan cepat menuju ruang cuci yang terletak di lantai dasar bagian belakang, dekat dengan area pelayan yang kini kosong karena seluruh tugas mereka dialihkan kepadanya.
Sementara itu, di lantai atas, ketukan langkah kaki yang tegas terdengar menuruni tangga.
Pria itu kini tampil sangat rapi dan berkelas dalam balutan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan jam tangan mewah kronograf yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aura dingin dan berwibawa langsung mendominasi ruangan begitu dia menapakkan kaki di ruang tengah.
Edgar menghentikan langkahnya tepat di hadapan Luna yang masih memasang wajah masam. Pria berusia 35 tahun itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan, menatap sang kakak ipar dengan tatapan lurus yang menghunus.
“Apakah seperti itu cara Kakak memperlakukan menantu sendiri di rumah ini?” tanya Edgar dengan nada rendah dan datar, namun sarat akan intimidasi yang tersembunyi. "Kau butuh menantu atau pembantu gratisan?"
Luna tersentak kecil, karena tidak menyangka Edgar akan menyuarakan pembelaan untuk gadis kampung itu. Namun, keangkuhan sebagai istri dari pemegang takhta tertinggi keluarga Theodore membuat Luna langsung menegakkan bahunya, mencoba menantang balik pria yang statusnya kini merupakan rival bisnis suaminya sendiri.
“Jangan ikut campur urusan domestik rumah tangga anakku, Edgar,” desis Luna dengan senyum sinis yang dipaksakan. “Ingat posisimu di rumah ini. Jaga bicaramu jika kau tidak ingin bisnis baru yang sedang kau bangun itu diacak-acak oleh suamiku!”
Edgar tidak terlihat gentar sama sekali. Alih-alih takut, sebuah senyuman miring yang misterius justru terukir di sudut bibirnya yang tegas.
Dia tidak membalas ancaman Luna dengan kata-kata, melainkan memutar tubuhnya, dan menoleh ke arah ruang cuci baju di ujung lorong di mana pintu kacanya sedikit terbuka.
Di dalam ruangan yang pengap itu, Selina sedang berlutut di depan mesin cuci, memasukkan lembar demi lembar pakaian kotor dengan tangan yang gemetar.
Suara mesin yang mulai berputar berisik tidak mampu meredam gaung obrolan antara Edgar dan Luna yang mengudara hingga ke rungu Selina.
Selina termenung di depan mesin cuci, jemarinya perlahan berhenti bergerak. ‘Baru kali ini ... baru kali ini ada seseorang yang bersuara untuk membelaku di rumah neraka ini,‘ gumam Selina dalam hati.
Selama sebulan penuh, dia mengira seluruh anggota keluarga Theodore adalah monster yang diciptakan hanya untuk mencemooh dan menganggapnya seonggok daging pembantu yang tak berharga. Tapi pria itu, Edgar … berbeda.
Rasa haru yang berbaur dengan tekanan batin yang bertubi-tubi membuat pertahanan Selina runtuh. Bayangan wajah ibunya yang teduh di kampung halaman mendadak melintas di benaknya. ‘Ibu ... Selina rindu Ibu. Selina ingin pulang,’ ratapnya dalam hati.
Satu per satu tetesan air mata yang hangat mulai meluncur bebas, membasahi celemek kumal yang dikenakannya. Selina mencengkeram tepi mesin cuci, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengan demi meredam suara isakan agar tidak terdengar sampai ke luar.
Dia merasa begitu kesepian, terasing di dalam rumah mewah yang tak lebih dari penjara berlapis emas.
Puk.
Sebuah tepukan pelan namun mantap mendarat di pundaknya yang tengah terguncang.
“Ah!” Selina terperanjat kaget, hingga tubuhnya refleks berbalik hingga terduduk di lantai ruang cuci.
Dia mendongak dengan mata yang sembap dan hidung yang memerah, menatap sosok manusia itu yang kini sudah berdiri di ambang pintu ruang cuci yang sempit. “Ikut aku ke ruang tengah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang juga.”
Hampir lima jam penuh Selina duduk mematung di kursi kerja, membedah setiap baris angka yang tertera di dalam dokumen rekapitulasi keuangan Theodore Group.Jemarinya yang lincah menari di atas kalkulator, sementara matanya yang jeli meneliti lembar demi lembar laporan arus kas dengan tingkat ketelitian tinggi.Keheningan di dalam ruangan itu hanya dihiasi oleh denting halus kalkulator dan gesekan kertas yang dibalik.Hingga akhirnya, kening Selina mengernyit dalam.Dia menemukan pola yang sangat aneh pada kolom pengeluaran operasional di kuartal kedua dan ketiga.Selina mengambil pulpen, menarik selembar kertas kosong, lalu mencatat rekapitulasi kejanggalan tersebut secara terperinci."Edgar," panggil Selina memecah keheningan. "Coba lihat ini."Edgar mendongak dari layar laptopnya, menatap Selina yang kini menyodorkan lembaran catatan rapi itu ke hadapannya.Pria itu mengulurkan tangan, mengambil catatan yang dibuat oleh Selina, lalu menelitinya dengan sangat detail.Sepasang mata el
Jemari Selina yang bergetar hebat menunjuk ke arah koridor utama tempat kamar Rafael berada. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun di dalam pelukan Edgar yang protektif. Rasa panik yang mendominasi dirinya perlahan mencair, berganti menjadi emosi meluap-luap yang tak lagi mampu ditahannya."Pria itu ... Rafael tiba-tiba saja memaksaku dan mengajaknya bercinta!" adu Selina dengan nada suara naik satu oktav. Wajahnya memerah karena paduan rasa marah dan mual yang luar biasa. "Dia benar-benar sudah tidak waras! Mengoceh soal tuntutan orang tuanya yang menginginkan pewaris, lalu marah-marah saat aku menolaknya. Pria aneh! Dia pikir dia siapa bisa bersikap sesuka hatinya padaku?!"Edgar menyimak setiap luapan kekesalan yang keluar dari bibir Selina dengan raut wajah yang tetap tenang, namun sorot matanya menajam secara berbahaya. Sebelah alis tebalnya terangkat pelan, meneliti raut wajah Selina demi memastikan kondisi wanita itu."Tapi dia tidak menyentuhmu, kan?" tanya Edgar p
Satu jam setelah meninggalkan kamar hotel bersama Edgar, Selina melangkah masuk ke dalam bangunan utama kediaman Theodore.Langkah kakinya begitu pelan dan penuh kewaspadaan saat melintasi area ruang tamu.Koridor terasa sepi, namun begitu dia melangkah mendekati pintu kamar utamanya, aroma alkohol yang sangat menyengat langsung menusuk indra penciumannya.Selina mendorong pintu kamar perlahan.Di sana, Rafael tampak berdiri oleng di dekat ujung ranjang dengan kemeja yang sudah terbuka berantakan dan wajah memerah padam. Pria itu masih sangat mabuk akibat pesta semalam.Selina mengabaikan keberadaan suaminya.Dia hanya ingin segera masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.Namun, baru dua langkah Selina berjalan menuju lemari, sebuah cengkeraman kasar di lengannya menghentikan langkahnya.Rafael menarik tubuh Selina secara tiba-tiba hingga wanita itu berbalik menghadapnya."Mau ke mana kau?" serak Rafael, napasnya yang bau alkohol berembus kasar di wajah Selin
Selina berdiri mematung di depan cermin besar bernuansa emas yang terpajang di sudut suite hotel.Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden tebal menerangi lekuk tubuhnya yang hanya terbalut jubah mandi sutra yang agak melorot.Matanya menatap lekat pada bayangannya sendiri, memandangi bintik-bintik kemerahan dan lebam keunguan yang tersebar di leher, tulang selangka, hingga dadanya—jejak-jejak perbuatan Edgar semalam yang begitu liar dan memburu.Jemarinya meraba perlahan tanda kemerahan di lehernya, merasakan sedikit rasa perih yang tertinggal.Sebuah helaan napas berat lolos dari bibirnya yang masih membengkak."Aku benar-benar sudah terperangkap," gumam Selina pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergetar tipis."Terperangkap dalam sentuhan dan permainan Edgar."Tanpa disadarinya, sebuah bayangan tegap bergerak mendekat dari arah tempat tidur.Sebelum Selina sempat membalikkan badan, dua lengan kokoh berbuku-buku rapat melingkar di pinggangnya dari belakang.Ke
"Ah! Edgar, jangan menyiksaku," desis Selina terengah-engah, kepalanya menggeleng gelisah di atas tumpukan bantal putih yang kini berantakan.Sentuhan jemari Edgar di pangkal pahanya tidak lagi perlahan.Pria itu menyibakkan kedua paha Selina selebar mungkin, memosisikan tubuh tegapnya tepat di tengah kurungan kaki jenjang wanita itu.Tatapan mata elangnya yang gelap penuh gairah mengunci wajah Selina yang memerah padam, basah oleh peluh halus yang berkilau di bawah lampu remang."Aku tidak menyiksamu, Selina. Kau sendiri yang menginginkan ini," bisik Edgar, suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan dominasi mutlak.Tanpa memberikan aba-aba atau jeda untuk bernapas, Edgar menegakkan panggulnya dan menghantamkan miliknya yang sudah menegang sempurna masuk penuh ke dalam keintiman Selina.Penyatuan yang mendadak dan tak berampun itu membelah pertahanan Selina hingga ke dasar ter dalam."Akhhh!" Selina menjerit heboh, matanya membelalak lebar sebelum akhirnya terpejam erat. Kedua ta
Pintu kayu jati suite mewah itu terbuka dengan bunyi klik halus.Edgar melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh temaram lampu gantung di sudut tempat tidur.Langkah kakinya yang tenang mendatangkan gelombang ketegangan baru yang seketika mengisi udara.Di atas ranjang berukuran king size, Selina duduk bersandar pada tumpukan bantal.Begitu mendengar suara pintu ditutup, dia refleks melirik ke arah Edgar, lalu segera mendehem pelan untuk menutupi rasa gugupnya.Jemarinya mencengkeram erat selimut tebal yang menutupi bagian bawah tubuhnya.Gerakan kecil dan raut wajahnya yang memerah tak luput dari pandangan Edgar, yang menganggap respons salah tingkah itu sangat lucu sekaligus menggoda."Kau menungguku terlalu lama, hm?" tanya Edgar, suaranya terdengar sangat rendah dan tenang saat berjalan mendekati area tempat tidur.Selina membuang pandangannya ke samping, mencoba menetralkan detak jantungnya. "Kau yang terlalu lama berbicara dengan Samuel di bawah. Aku hampir tert
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me







