Home / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 3: Ada yang Membelanya

Share

Bab 3: Ada yang Membelanya

last update publish date: 2026-06-03 23:15:31

Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.

“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Paman! Aku sangat ceroboh, jalanku terhuyung karena kakiku ….” Selina terbata-bata sambil terus merutuki kebodohannya yang luar biasa.

Kalimatnya menggantung di udara, tumpang tindih dengan rasa malu yang membakar seluruh permukaan kulit wajahnya.

Sementara Edgar tidak menyahut. Pria itu hanya memungut handuknya dengan gerakan lambat yang luar biasa tenang, seolah ketelanjangan di depan istri keponakannya bukanlah sebuah skandal besar.

Tatapannya yang pekat terus mengiringi langkah Selina yang mundur teratur hingga punggung gadis itu membentur pintu kayu.

“SELINA! KAU MATI DI DALAM SANA, HAH? LAMA SEKALI!”

Teriakan Luna yang menggelegar dari luar koridor menjadi penyelamat sekaligus lonceng kematian bagi Selina. Tanpa menoleh lagi ke arah Edgar, Selina langsung membuka pintu kamar, menyambar keranjang rotan yang kini sudah terisi, dan setengah berlari keluar.

Di ujung lorong, Luna sudah berdiri dengan wajah melotot, siap menumpahkan seluruh lahar kemarahannya. “Hanya mengambil pakaian kotor di satu kamar saja lama sekali! Kau sengaja mengulur waktu agar bisa bermalas-malasan, dasar lelet!”

“Maaf, Ibu. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Selina dengan tubuh membungkuk dalam, untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah. “Aku ... aku tidak tahu kalau di kamar paling ujung itu sudah ada penghuninya. Aku pikir kamar itu kosong."

Mendengar alasan itu, mata Luna justru semakin menyipit tajam. Dia melangkah maju, lalu mencengkeram rahang Selina dengan ujung kuku-kukunya yang panjang dan runcing, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.

“Tidak tahu atau kau sengaja mencari kesempatan, hah?” tuduh Luna dengan nada suara yang naik satu oktaj.

“Kau tahu adik iparku, Edgar, baru pulang semalam dan kau sengaja masuk ke kamarnya untuk merayunya? Menggoda pria mapan agar bisa lepas dari jerat utang keluargamu, begitu?”

Deg.

Hinaan itu terasa begitu beracun, menyayat harga diri Selina hingga ke titik paling dalam. Setitik air mata menggenang di sudut kelopak matanya, siap meluncur bebas menuruni pipinya yang pias. Selina hanya bisa menunduk, menahan getaran hebat di bahunya agar tidak meledak menjadi tangisan di depan wanita kejam ini.

“Bukan begitu, Ibu ... aku benar-benar tidak tahu,” bisik Selina lirih. "Aku baru tahu pagi ini karena baru melihatnya—"

“Halah! Jangan berlagak polos di depanku! Air mata buayamu itu tidak mempan!” Luna menyentak rahang Selina hingga wajah gadis itu terlempar ke samping.

“Cepat bawa pakaian itu ke ruang cuci! Setelah itu, langsung ke dapur dan masak untuk makan siang. Jika makanan belum siap saat Rafael pulang, aku akan memastikan ayahmu membusuk di penjara!”

Selina tidak berani mendebat. Dia hanya bisa memeluk keranjang rotan itu erat-erat sebagai tameng pelindung dirinya yang rapuh, lalu berjalan cepat menuju ruang cuci yang terletak di lantai dasar bagian belakang, dekat dengan area pelayan yang kini kosong karena seluruh tugas mereka dialihkan kepadanya.

Sementara itu, di lantai atas, ketukan langkah kaki yang tegas terdengar menuruni tangga.

Pria itu kini tampil sangat rapi dan berkelas dalam balutan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan jam tangan mewah kronograf yang melingkar di pergelangan tangannya.

Aura dingin dan berwibawa langsung mendominasi ruangan begitu dia menapakkan kaki di ruang tengah.

Edgar menghentikan langkahnya tepat di hadapan Luna yang masih memasang wajah masam. Pria berusia 35 tahun itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan, menatap sang kakak ipar dengan tatapan lurus yang menghunus.

“Apakah seperti itu cara Kakak memperlakukan menantu sendiri di rumah ini?” tanya Edgar dengan nada rendah dan datar, namun sarat akan intimidasi yang tersembunyi. "Kau butuh menantu atau pembantu gratisan?" 

Luna tersentak kecil, karena tidak menyangka Edgar akan menyuarakan pembelaan untuk gadis kampung itu. Namun, keangkuhan sebagai istri dari pemegang takhta tertinggi keluarga Theodore membuat Luna langsung menegakkan bahunya, mencoba menantang balik pria yang statusnya kini merupakan rival bisnis suaminya sendiri.

“Jangan ikut campur urusan domestik rumah tangga anakku, Edgar,” desis Luna dengan senyum sinis yang dipaksakan. “Ingat posisimu di rumah ini. Jaga bicaramu jika kau tidak ingin bisnis baru yang sedang kau bangun itu diacak-acak oleh suamiku!”

Edgar tidak terlihat gentar sama sekali. Alih-alih takut, sebuah senyuman miring yang misterius justru terukir di sudut bibirnya yang tegas.

Dia tidak membalas ancaman Luna dengan kata-kata, melainkan memutar tubuhnya, dan menoleh ke arah ruang cuci baju di ujung lorong di mana pintu kacanya sedikit terbuka.

Di dalam ruangan yang pengap itu, Selina sedang berlutut di depan mesin cuci, memasukkan lembar demi lembar pakaian kotor dengan tangan yang gemetar.

Suara mesin yang mulai berputar berisik tidak mampu meredam gaung obrolan antara Edgar dan Luna yang mengudara hingga ke rungu Selina.

Selina termenung di depan mesin cuci, jemarinya perlahan berhenti bergerak. ‘Baru kali ini ... baru kali ini ada seseorang yang bersuara untuk membelaku di rumah neraka ini,‘ gumam Selina dalam hati.

Selama sebulan penuh, dia mengira seluruh anggota keluarga Theodore adalah monster yang diciptakan hanya untuk mencemooh dan menganggapnya seonggok daging pembantu yang tak berharga. Tapi pria itu, Edgar … berbeda.

Rasa haru yang berbaur dengan tekanan batin yang bertubi-tubi membuat pertahanan Selina runtuh. Bayangan wajah ibunya yang teduh di kampung halaman mendadak melintas di benaknya. ‘Ibu ... Selina rindu Ibu. Selina ingin pulang,’ ratapnya dalam hati.

Satu per satu tetesan air mata yang hangat mulai meluncur bebas, membasahi celemek kumal yang dikenakannya. Selina mencengkeram tepi mesin cuci, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengan demi meredam suara isakan agar tidak terdengar sampai ke luar.

Dia merasa begitu kesepian, terasing di dalam rumah mewah yang tak lebih dari penjara berlapis emas.

Puk.

Sebuah tepukan pelan namun mantap mendarat di pundaknya yang tengah terguncang.

“Ah!” Selina terperanjat kaget, hingga tubuhnya refleks berbalik hingga terduduk di lantai ruang cuci.

Dia mendongak dengan mata yang sembap dan hidung yang memerah, menatap sosok manusia itu yang kini sudah berdiri di ambang pintu ruang cuci yang sempit. “Ikut aku ke ruang tengah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang juga.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wieanton
agak terhibur ya selena ada yg belain, biasanya cm caci maki aja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 153

    Pintu kayu tebal kamar mandi utama itu tertutup rapat, mengunci suara desiran angin laut dari luar dan menyisakan atmosfer ruangan yang mendadak berubah menjadi sarat akan tensi gairah pekat.Pendar remang belasan lilin aromaterapi menari-nari di atas permukaan dinding marmer hitam, memancarkan wangi lavender dan vanila yang menenangkan.Tanpa ragu, Edgar mendudukkan Selina di tepi bathtub marmer raksasa yang sudah terisi penuh air hangat berbusa melimpah dan taburan kelopak bunga mawar merah.Tangan tegap Edgar bergerak sigap tanpa jeda, melucuti gaun pantai kuning gading yang melekat di tubuh istrinya, meloloskannya hingga terhempas ke lantai bersatu dengan pakaian yang dilucutinya sendiri."Edgar, airnya... sungguh sangat hangat," cicit Selina dengan suara bergetar pelan saat Edgar menariknya masuk berendam bersama ke dalam kehangatan bathtub.Edgar tidak menjawab dengan kata-kata.Pria itu langsung memajukan tubuh tingginya, mengurung Selina di antara dinding bathtub dan dada bida

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 152

    Edgar menatap kepiting pantai kecil berwarna kemerahan yang santai bertengger di atas sandal kulit mewahnya dengan raut wajah amat dingin, datar, dan tajam.Tatapan mata elangnya yang biasanya mampu membuat para jajaran direktur dan rival bisnis gemetar kini tertuju penuh pada mahluk kecil berukuran tak lebih dari kepalan tangan itu.Raut mukanya begitu serius, seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan intrik bisnis paling berbahaya dari Vance Corp."Ada masalah apa hewan ini sampai berani mengklaim sandalku secara sepihak?" gumam Edgar datar dengan intonasi bariton yang berat dan intimidatif.Selina yang duduk di sofa saung pantai tak bisa lagi menahan geli di dadanya. Wanita itu tertawa terkikik seraya memegangi perutnya yang membuncit manis."Edgar, itu hanya kepiting kecil! Jangan menatapnya seolah-olah kau ingin mengajaknya bernegosiasi soal akuisisi saham!""Dia melakukan pelanggaran wilayah, Selina," balas Edgar tanpa menoleh, masih memaku pandangannya pada kepiting itu.

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 151

    Edgar Anderson—seorang CEO konglomerat bernilai miliaran dolar yang biasanya berdiri di balik meja kaca megah untuk mengatur pergerakan bursa saham global, kini terpaksa berlari-lari kecil di atas pasir pantai yang lembut dengan raut wajah yang amat sangat serius.Ia melakukan itu semua hanya demi mengejar seekor burung camar lokal yang bertubuh gemuk dan menatapnya penuh tantangan dari atas batu karang.Burung itu seolah paham bahwa targetnya adalah seorang miliarder, sehingga ia sengaja mematuk-matuk topi pantai bertepi lebar milik Selina dengan pongah setiap kali Edgar mendekat."Hei, burung bodoh, kembalikan topi istriku sekarang juga!" ancam Edgar dengan suara bariton beratnya yang biasa membuat para direktur perusahaan merinding ketakutan.Burung camar itu justru mengepakkan sayapnya ribut, mencabik sedikit pita hiasan topi tersebut, lalu terbang rendah melintasi ombak.Edgar menggeram pelan, melangkah dengan kepalan tangan erat, hingga akhirnya ia melempar sebuah kerikil kecil

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 150

    Cahaya matahari pagi Yunani menyusup lembut melintasi celah tirai sutra vila privat, menyiram kamar utama dengan rona keemasan yang hangat.Selina perlahan menggerakkan jemarinya, terbangun oleh harum manis wafel panggang dan aroma kopi yang menggugah selera.Di samping peraduan, Edgar sudah berdiri rapi dalam balutan kemeja putih kasual yang tergulung hingga siku.Senyum tipis yang teramat langka terhias di wajah tegap sang penguasa Anderson Group."Selamat pagi, Istriku. Waktunya menyambut pagi pertama kita di sini," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang hangat.Edgar meraih tangan Selina secara perlahan, membantu istrinya yang sedang mengandung itu untuk beranjak dari kasur empuk.Edgar membimbing Selina melangkah keluar menuju pelataran kolam renang infinity yang membelah tebing dengan pemandangan langsung menghadap laut lepas.Di permukaan air kolam yang bening bagai kristal, sebuah nampan kayu raksasa berbentuk hati sudah terapung dengan anggunnya.Di atas floating bre

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 149

    Edgar merangkak naik ke atas peraduan megah yang dilapisi kain sutra halus, mengurung tubuh Selina di bawah dominasi tubuh tegapnya.Tanpa memberikan waktu bagi Selina untuk mengatur napasnya yang mulai memburu, jemari besar Edgar bergerak sigap meraup ritsleting gaun malam merah marun yang dikenakan istrinya, melucutinya tanpa ragu hingga gaun indah itu terhempas ke lantai.Edgar menunduk dan langsung menguasai bibir Selina dalam sebuah ciuman yang teramat panas, dalam, dan memabukkan.Tidak ada jeda untuk bernapas; lidah Edgar menerobos masuk, melilit dan memanjakan lidah Selina dengan keliaran yang menuntut penuh.Ciuman yang penuh ketegangan dan rasa kepemilikan mutlak itu seketika merampas sisa kesadaran Selina, membakar seluruh ketahanan dirinya hingga hanya bisa pasrah meremas bahu tegap suaminya.Aura dominasi Edgar makin tak terbendung di bawah pendar redup lilin aromaterapi yang menari-nari di dinding kamar.Jemari besarnya mulai mengeksplorasi area-area sensitif tubuh Selin

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 148

    Pintu kamar ganti perlahan terbuka, memancarkan pesona anggun Selina yang melangkah keluar dengan langkah penuh kehati-hatian.Gaun malam sutra berwarna merah marun itu melekat sempurna di tubuh mulusnya, menjatuhkan siluet keindahan yang memikat dan memperlihatkan lekuk perutnya yang membuncit manis di trimester kedua.Edgar yang sudah menunggu di area ruang tengah dalam balutan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi seketika terpaku.Tatapan mata elangnya menggelap, dipenuhi kepemilikan mutlak dan rasa kagum tanpa cela saat memandangi sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya tersebut."Kau tampak begitu menakjubkan, Selina," puji Edgar dengan suara bariton rendah seraya melangkah mendekat dan merengkuh jemari wanita itu."Terima kasih, Edgar... gaun pilihanmu ini sungguh sangat indah," balas Selina dengan pipi yang mendadak memerah merona di bawah tatapan intens suaminya.Edgar menuntun Selina melangkah keluar dari vila utama, menelusuri tangga kayu yang membawa mereka menu

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 2: Pertemuan yang Mengejutkan

    “Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status