Home / Romansa / Hasrat di Balik Meja Presdir / Bab 4. Bibirnya Terasa Lembut

Share

Bab 4. Bibirnya Terasa Lembut

Author: Cececans
last update publish date: 2026-06-24 19:34:41

Timbul sensasi aneh yang menjalari tubuh Renata, saat bibir Arthur yang basah dan lembab menempel di bibirnya.

Sensasi mendebarkan itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Renata yang telah lama mati. Yaitu gairah terpendamnya.

Namun, Renata segera tersadar jika dia telah melakukan hal terlarang dengan sepupu suaminya itu.

Sontak, Renata mendorong Arthur menjauh dengan keras.

"Arthur. Maksudku Pak Arthur. Tidak seharusnya kita berciuman. Anda adalah sepupu suamiku," ucap Renata, buru-buru menghindari tatapan mata Arthur yang menatap lekat wajahnya. Membuat debaran jantungnya semakin kencang.

"Aku hanya mencoba memperbaiki lipstikmu yang meluber ke mana-mana, Renata. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman," balas Arthur dengan suara tenang. Seolah apa yang baru saja dia lakukan itu bukan sesuatu yang mengejutkan.

Pipi Renata langsung memanas mendengar jawaban enteng dari Arthur.

Pria itu memperbaiki lipstiknya dengan cara mencium bibirnya? Tidak ada kah cara yang lain?

Lagi pula, Renata tadi sudah memastikan dandanannya sudah rapi sebelum berangkat bekerja. Termasuk bibirnya.

Renata yakin dia tidak memakai lipstiknya melewati garis bibirnya. Apalagi sampai meluber ke mana-mana.

Pasti pria itu hanya beralasan saja. Batin Renata kesal.

Renata berusaha menahan diri. Dia harus menjaga sikapnya di depan Arthur.

Renata tidak boleh memberikan kesan buruk pada sepupu suaminya yang kini resmi jadi atasannya itu. Karena dia tidak mau dipecat di hari pertamanya bekerja.

"Kalau begitu. Terima kasih, Pak Arthur, atas niat baik Anda," ucap Renata memberikan penekanan di setiap katanya sambil memaksakan seulas senyum tidak ikhlas.

"Sama-sama."

Arthur mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya.

Renata sibuk dengan pikirannya sendiri yang terus-terusan mengumpati Arthur yang sangat kurang ajar.

***

"Tugas pertama kamu adalah mencoba ini semua," tukas Arthur melempar tujuh lingerie dengan warna dan desain berbeda ke meja Renata.

"Apa, Pak Arthur? Semua ini?" tanya Renata kaget mendengar perintah konyol Arthur. Matanya terbelalak lebar melihat lingerie-lingerie kurang bahan di depannya.

Renata kira tugas awalnya seperti pekerjaannya di perusahaannya yang lama. Seperti menyiapkan ruang rapat, membuatkan kopi, mengatur ulang jadwal. Dan bukannya disuruh memakai pakaian super seksi seperti itu.

"Iya. Ini tugas pertamamu," balas Arthur enteng.

"Pak Arthur, aku tidak bisa memakainya." Renata menolak dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan Arthur.

Mendengar penolakan Renata, Arthur balas menatap sekretaris barunya itu dengan kedua alis tebalnya menyatu jengah. "Kenapa tidak bisa? Aku selalu menyuruh sekretarisku mencoba bahan hasil perusahaanku sebelum diluncurkan. Dan bahan ini khusus dibuat untuk lingerie."

"Kamu kira aku sengaja menyuruhmu agar aku bisa melihat tubuhmu? Big no! Karena kamu bukan tipeku. Ini sudah jadi tugasmu sebagai sekretarisku. Kalau kamu menolak, aku akan sulit mempertahankanmu di perusahaanku," tambah Arthur sengaja memancing Renata. Sedikit menyinggung harga diri wanita itu.

Rencananya ini berhasil. Renata dengan wajah kesal langsung menyambar ketujuh lingerie.

"Baiklah. Aku akan mencoba semuanya," ucap Renata sebelum dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan Arthur.

Apa katanya tadi? Aku bukan tipenya? Terus kenapa tadi dia menciumku? Awas saja kalau kamu nanti malah terpesona denganku, Pak Arthur. Dengus Renata dalam hati.

Renata merasa tertantang karena ucapan Arthur yang meremehkannya.

Pria itu tidak tahu saja jika Renata memiliki tubuh yang sangat memikat.

Sementara Renata masih mengganti pakaiannya, Arthur bersiul tidak sabar.

Dia mengetuk jari telunjuknya ke meja untuk mengusir rasa bosannya.

Lalu, tak berselang lama derap langkah kaki Renata yang terdengar mendekat, membuat Arthur mengangkat pandangannya untuk melihatnya.

Dan ketika Arthur melihat Renata dalam balutan lingerie seksi, dia mengumpat dalam hati karena kejantanannya langsung bangkit.

Sial!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 16. Ibu Mertua Dajal

    Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 15. Sentuh Aku, Pak Arthur

    "Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 14. Kekhawatiran Arthur

    Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 13. Siapa Wanita Itu, Mas?!

    Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 12. Ciuman Selamat Malam

    "Pikirkan tawaranku ini baik-baik, Renata. Kamu hanya perlu memberikan tubuhmu padaku satu malam. Maka aku akan memberikan uang seberapa pun kamu minta."Mulut Renata sudah terbuka hendak membalas ucapan Arthur barusan, tapi dia mengurungkan niat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir restoran.Arthur dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil di samping Renata dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu turun dari mobil.Renata memegang tangan Arthur dengan menahan perasaannya.Tawaran Arthur memang menggiurkan. Tapi, juga sangat berbahaya.Bagaimana tidak berbahaya? Renata harus menjual tubuhnya pada atasannya itu demi uang.Walaupun Renata sangat memerlukan uang itu sekarang. Dia tidak akan semudah itu tergiur oleh tawaran Arthur.Sebagai wanita dan seorang istri, Renata akan menjaga harga dirinya dengan baik. Dia juga tidak akan membiarkan pesona Arthur dan harta yang dimiliki atasannya itu membuat Renata jatuh dalam dosa perselingkuhan. Karen

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 11. Aku Perlu Tubuhmu, Renata

    "Putra Anda harus dioperasi secepatnya. Kelainan hati yang putra Anda derita sangat parah. Jika tidak segera dioperasi nyawa putra Anda tidak akan tertolong. Paling lambat minggu depan. Saya akan menjadwalkan operasinya secepat mungkin. Jika Anda sudah membayar biayanya sesuai prosedur rumah sakit, Anda bisa menginfokannya pada saya."Hancur sudah hati Renata mendengar ucapan dokter di depannya. Dia jatuh terduduk di kursi dengan bahu merosot. Matanya berkaca-kaca.Alvaro harus segera dioperasi, dan keadaannya sekarang sedang kritis.Tapi, Renata tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya operasi Alvaro di waktu dekat ini.Renata tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang bisa dia minta tolongi. Dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir.Ibu panti yang sudah Renata anggap seperti ibunya sendiri pun telah meninggal satu tahun yang lalu.Sementara kerabat dan saudara dari Wira pasti tidak mau meminjamkan uang pada Renata dengan berbagai al

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status