LOGIN"Bagaimana hasilnya Renata?" tanya Wira yang baru pulang selang sepuluh menit setelah Arthur pergi.
"Aku bakal kerja di perusahaan Wijaya Group, Mas. Aku seneng banget. Aku sudah lama ingin bekerja di sana," jawab Renata tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Renata juga merasa sangat lega karena akhirnya dia bisa menabung untuk biaya operasi Alvaro, putra kecilnya yang berusia tiga tahun. Sekaligus mencicil hutang suaminya. Wira memberikan senyumnya pada Renata saat mendengar istrinya itu begitu antusias. "Syukurlah kalau gitu. Mas ikut seneng." Setelah berucap, Wira memeluk pinggang ramping Renata dari arah belakang. Dia lalu membisikkan sesuatu pada istrinya itu. "Karena kamu lagi senang, puasin Mas sekarang, Renata." "Mas, tunggu!" pekik Renata saat Wira bergerak cepat meloloskan dress tidur yang dia kenakan. Sehingga tubuhnya kini hanya dilapisi pakaian dalamnya yang berwarna senada. Kedua mata Wira langsung lapar begitu melihat tubuh indah Renata. Dia menjilati bibirnya sendiri dipenuhi nafsu. Sebenarnya Wira tahu jika Renata sudah tidak perawan saat malam pertama mereka setelah menikah. Tapi, Wira tetap memilih mempertahankan istrinya itu. Karena Renata cantik. Dan wanita itu layak dipamerkan di hadapan teman-temannya. Walaupun Wira masih belum sukses, setidaknya dia memiliki istri tercantik dibandingkan istri teman-temannya. Sehingga dia merasa bangga. "Aku mau susumu, Renata," bisik Wira meremas dada Renata. Melepaskan desahan dari bibir ranum istrinya itu. "Ahh .... Mas Wira. " Wira lalu langsung menghunjam Renata setelah dia melepaskan celana dalamnya. Renata memejamkan kedua matanya. Sudah lama dia tidak merasakan kenikmatan bercinta dengan Wira. Karena suaminya itu lebih sibuk dengan ponselnya. Tapi, baru saja Renata hendak melayang. Tiba-tiba Wira sudah menyudahinya. "Kenapa berhenti, Mas?" tanya Renata kecewa. "Mas udah keluar. Kamu lanjutin aja sendiri," jawab Wira seenaknya. Lalu, dia menutup kembali resleting celananya sebelum beranjak tidur. Renata hanya bisa menatap suaminya yang kini sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur itu dengan menelan kekecewaannya. Sejak mereka menikah sampai sekarang, Wira selalu mengutamakan kepuasannya sendiri saja. Tidak pernah suaminya itu memikirkan kepuasan Renata. Padahal, sebagai wanita dan seorang istri Renata juga perlu nafkah batinnya dipenuhi. Tapi, Wira selalu abai dengan hal itu sampai membuat Renata merasa gairah pernikahannya dengan Wira perlahan surut. Dengan kesal Renata mengenakan kembali dress tidurnya, dan berderap ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari semburan cairan kenikmatan Wira yang tadi mengenai perutnya. Saat sudah berada di kamar mandi, Renata berhenti sejenak untuk memandangi dirinya di cermin. Kemudian, satu tangannya perlahan bergerak turun menemui sesuatu yang basah di antara pangkal pahanya. Dengan mata terpejam Renata menggerakkan jarinya, memburu kepuasannya sendiri. Hingga akhirnya gelombang kenikmatannya datang. Membuat kedua kakinya gemetar hebat. "Ahh ...." *** "Sudah oke," ucap Renata puas setelah mematut dirinya di depan cermin. Di hari pertamanya bekerja di perusahaan Wijaya Group, dia harus tampil maksimal. Renata sudah bangun sejak jam tiga pagi. Dia sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mulai dari membersihkan rumah, mengepel, mencuci baju, memasak, dan menyiapkan air panas untuk putranya mandi. "Mas, kita berangkat sekarang yuk." Renata beralih membangunkan Wira yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Semalam Wira berjanji akan mengantarkannya bekerja. Tapi, sudah jam setengah tujuh, suaminya itu masih molor. "Mas, bangun. Nanti aku terlambat," ucap Renata lagi mengguncang tubuh Wira lebih keras. "Apaan sih?! Ganggu tidur aja!" sentak Wira marah. "Kamu jalan kaki aja, Renata. Toh, jaraknya cuma sepuluh kilometer. Jangan manja," sambung Wira dengan wajah bantalnya yang menyebalkan. "Cuma sepuluh kilometer kata Mas? Sepuluh kilometer itu jauh, Mas. Mendingan aku pinjam motornya Mas aja deh," balas Renata kesal. "Jangan! Motornya mau aku pakai nanti buat pergi ke rumah Ibu." Wira mengangkat kepalanya untuk menatap tajam Renata sebentar, lalu dia menarik selimutnya sampai menutupi semua wajahnya seolah dia tidak mau diganggu lagi oleh Renata. Renata mendengus. Dia akhirnya memilih berjalan kaki daripada dia keburu terlambat. Naik taksi pun, dia sedang tidak memegang uang. Uang hasil jualan kue mininya kemarin sudah dihabiskan Wira untuk membeli rokok. Sebelum Renata pergi bekerja, dia menyempatkan waktu sebentar untuk menengok ke kamar putra kecilnya. Melihat Alvaro yang terlelap, Renata tidak tega mengganggunya. Renata hanya menatap putra kecilnya itu dari ambang pintu. "Alvaro Sayang, doain Mama ya. Mama mau kerja. Biar Alvaro bisa cepat dapat donor hati," ucap Renata dengan mata berkaca-kaca. Renata mengusap dua tetes air matanya yang berhasil merembes keluar di pelupuk matanya. Dia lalu bergegas berangkat. Di tengah perjalanannya menuju perusahaan, Renata mengusap keningnya yang sudah dipenuhi keringat. Kakinya berdenyut sakit karena high heels yang dia kenakan kekecilan. Padahal masih jam segini, tapi sinar matahari sudah sangat terik. "Hahh ...." Renata mengeluarkan napasnya dengan kasar. Dia melirik jam tangannya dan matanya melebar. Kurang sepuluh menit lagi sudah jam tujuh. Renata harus mempercepat langkahnya supaya bisa segera sampai di perusahaan. Namun, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti di samping Renata, membuatnya terjingkat kaget. Lalu, seorang pria yang mengemudikan mobil mewah tersebut menurunkan kaca pintunya perlahan. Pria itu tersenyum pada Renata. "Arthur?" gumam Renata tak percaya. "Butuh tumpangan, Renata?" tawar Arthur dengan seulas senyumnya yang mempesona. "Tidak perlu. Aku jalan kaki saja," balas Renata bergeleng canggung. "Naik ke mobilku sekarang. Ini perintah," tandas Arthur tidak mau dibantah. Renata pun terpaksa mengiyakan tawaran Arthur. Lagi pula dia tidak yakin bisa sampai di perusahaan tanpa terlambat dengan berjalan kaki. Begitu Renata sudah duduk di samping Arthur, sepupu suaminya itu bergerak perlahan untuk memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Renata. "Arthur ...." Renata tercekat karena jaraknya dengan Arthur sangat dekat. Sampai dia bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu. Arthur mengulas senyumnya saat Renata membeku di dekatnya. Lalu, tanpa permisi dia menyambar bibir Renata yang menggoda.Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se
"Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter
Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah
Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga
"Pikirkan tawaranku ini baik-baik, Renata. Kamu hanya perlu memberikan tubuhmu padaku satu malam. Maka aku akan memberikan uang seberapa pun kamu minta."Mulut Renata sudah terbuka hendak membalas ucapan Arthur barusan, tapi dia mengurungkan niat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir restoran.Arthur dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil di samping Renata dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu turun dari mobil.Renata memegang tangan Arthur dengan menahan perasaannya.Tawaran Arthur memang menggiurkan. Tapi, juga sangat berbahaya.Bagaimana tidak berbahaya? Renata harus menjual tubuhnya pada atasannya itu demi uang.Walaupun Renata sangat memerlukan uang itu sekarang. Dia tidak akan semudah itu tergiur oleh tawaran Arthur.Sebagai wanita dan seorang istri, Renata akan menjaga harga dirinya dengan baik. Dia juga tidak akan membiarkan pesona Arthur dan harta yang dimiliki atasannya itu membuat Renata jatuh dalam dosa perselingkuhan. Karen
"Putra Anda harus dioperasi secepatnya. Kelainan hati yang putra Anda derita sangat parah. Jika tidak segera dioperasi nyawa putra Anda tidak akan tertolong. Paling lambat minggu depan. Saya akan menjadwalkan operasinya secepat mungkin. Jika Anda sudah membayar biayanya sesuai prosedur rumah sakit, Anda bisa menginfokannya pada saya."Hancur sudah hati Renata mendengar ucapan dokter di depannya. Dia jatuh terduduk di kursi dengan bahu merosot. Matanya berkaca-kaca.Alvaro harus segera dioperasi, dan keadaannya sekarang sedang kritis.Tapi, Renata tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya operasi Alvaro di waktu dekat ini.Renata tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang bisa dia minta tolongi. Dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir.Ibu panti yang sudah Renata anggap seperti ibunya sendiri pun telah meninggal satu tahun yang lalu.Sementara kerabat dan saudara dari Wira pasti tidak mau meminjamkan uang pada Renata dengan berbagai al







