Beranda / Romansa / Hasrat di Balik Meja Presdir / Bab 3. Gairah yang Mati

Share

Bab 3. Gairah yang Mati

Penulis: Cececans
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 15:51:17

"Bagaimana hasilnya Renata?" tanya Wira yang baru pulang selang sepuluh menit setelah Arthur pergi.

"Aku bakal kerja di perusahaan Wijaya Group, Mas. Aku seneng banget. Aku sudah lama ingin bekerja di sana," jawab Renata tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Renata juga merasa sangat lega karena akhirnya dia bisa menabung untuk biaya operasi Alvaro, putra kecilnya yang berusia tiga tahun. Sekaligus mencicil hutang suaminya.

Wira memberikan senyumnya pada Renata saat mendengar istrinya itu begitu antusias.

"Syukurlah kalau gitu. Mas ikut seneng."

Setelah berucap, Wira memeluk pinggang ramping Renata dari arah belakang. Dia lalu membisikkan sesuatu pada istrinya itu. "Karena kamu lagi senang, puasin Mas sekarang, Renata."

"Mas, tunggu!" pekik Renata saat Wira bergerak cepat meloloskan dress tidur yang dia kenakan. Sehingga tubuhnya kini hanya dilapisi pakaian dalamnya yang berwarna senada.

Kedua mata Wira langsung lapar begitu melihat tubuh indah Renata. Dia menjilati bibirnya sendiri dipenuhi nafsu.

Sebenarnya Wira tahu jika Renata sudah tidak perawan saat malam pertama mereka setelah menikah.

Tapi, Wira tetap memilih mempertahankan istrinya itu. Karena Renata cantik. Dan wanita itu layak dipamerkan di hadapan teman-temannya.

Walaupun Wira masih belum sukses, setidaknya dia memiliki istri tercantik dibandingkan istri teman-temannya. Sehingga dia merasa bangga.

"Aku mau susumu, Renata," bisik Wira meremas dada Renata. Melepaskan desahan dari bibir ranum istrinya itu.

"Ahh .... Mas Wira. "

Wira lalu langsung menghunjam Renata setelah dia melepaskan celana dalamnya.

Renata memejamkan kedua matanya. Sudah lama dia tidak merasakan kenikmatan bercinta dengan Wira. Karena suaminya itu lebih sibuk dengan ponselnya.

Tapi, baru saja Renata hendak melayang. Tiba-tiba Wira sudah menyudahinya.

"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Renata kecewa.

"Mas udah keluar. Kamu lanjutin aja sendiri," jawab Wira seenaknya. Lalu, dia menutup kembali resleting celananya sebelum beranjak tidur.

Renata hanya bisa menatap suaminya yang kini sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur itu dengan menelan kekecewaannya.

Sejak mereka menikah sampai sekarang, Wira selalu mengutamakan kepuasannya sendiri saja. Tidak pernah suaminya itu memikirkan kepuasan Renata.

Padahal, sebagai wanita dan seorang istri Renata juga perlu nafkah batinnya dipenuhi. Tapi, Wira selalu abai dengan hal itu sampai membuat Renata merasa gairah pernikahannya dengan Wira perlahan surut.

Dengan kesal Renata mengenakan kembali dress tidurnya, dan berderap ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari semburan cairan kenikmatan Wira yang tadi mengenai perutnya.

Saat sudah berada di kamar mandi, Renata berhenti sejenak untuk memandangi dirinya di cermin. Kemudian, satu tangannya perlahan bergerak turun menemui sesuatu yang basah di antara pangkal pahanya.

Dengan mata terpejam Renata menggerakkan jarinya, memburu kepuasannya sendiri. Hingga akhirnya gelombang kenikmatannya datang. Membuat kedua kakinya gemetar hebat.

"Ahh ...."

***

"Sudah oke," ucap Renata puas setelah mematut dirinya di depan cermin. Di hari pertamanya bekerja di perusahaan Wijaya Group, dia harus tampil maksimal.

Renata sudah bangun sejak jam tiga pagi. Dia sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mulai dari membersihkan rumah, mengepel, mencuci baju, memasak, dan menyiapkan air panas untuk putranya mandi.

"Mas, kita berangkat sekarang yuk." Renata beralih membangunkan Wira yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.

Semalam Wira berjanji akan mengantarkannya bekerja.

Tapi, sudah jam setengah tujuh, suaminya itu masih molor.

"Mas, bangun. Nanti aku terlambat," ucap Renata lagi mengguncang tubuh Wira lebih keras.

"Apaan sih?! Ganggu tidur aja!" sentak Wira marah.

"Kamu jalan kaki aja, Renata. Toh, jaraknya cuma sepuluh kilometer. Jangan manja," sambung Wira dengan wajah bantalnya yang menyebalkan.

"Cuma sepuluh kilometer kata Mas? Sepuluh kilometer itu jauh, Mas. Mendingan aku pinjam motornya Mas aja deh," balas Renata kesal.

"Jangan! Motornya mau aku pakai nanti buat pergi ke rumah Ibu." Wira mengangkat kepalanya untuk menatap tajam Renata sebentar, lalu dia menarik selimutnya sampai menutupi semua wajahnya seolah dia tidak mau diganggu lagi oleh Renata.

Renata mendengus. Dia akhirnya memilih berjalan kaki daripada dia keburu terlambat. Naik taksi pun, dia sedang tidak memegang uang.

Uang hasil jualan kue mininya kemarin sudah dihabiskan Wira untuk membeli rokok.

Sebelum Renata pergi bekerja, dia menyempatkan waktu sebentar untuk menengok ke kamar putra kecilnya.

Melihat Alvaro yang terlelap, Renata tidak tega mengganggunya.

Renata hanya menatap putra kecilnya itu dari ambang pintu.

"Alvaro Sayang, doain Mama ya. Mama mau kerja. Biar Alvaro bisa cepat dapat donor hati," ucap Renata dengan mata berkaca-kaca.

Renata mengusap dua tetes air matanya yang berhasil merembes keluar di pelupuk matanya. Dia lalu bergegas berangkat.

Di tengah perjalanannya menuju perusahaan, Renata mengusap keningnya yang sudah dipenuhi keringat. Kakinya berdenyut sakit karena high heels yang dia kenakan kekecilan.

Padahal masih jam segini, tapi sinar matahari sudah sangat terik.

"Hahh ...." Renata mengeluarkan napasnya dengan kasar. Dia melirik jam tangannya dan matanya melebar.

Kurang sepuluh menit lagi sudah jam tujuh. Renata harus mempercepat langkahnya supaya bisa segera sampai di perusahaan.

Namun, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti di samping Renata, membuatnya terjingkat kaget.

Lalu, seorang pria yang mengemudikan mobil mewah tersebut menurunkan kaca pintunya perlahan. Pria itu tersenyum pada Renata.

"Arthur?" gumam Renata tak percaya.

"Butuh tumpangan, Renata?" tawar Arthur dengan seulas senyumnya yang mempesona.

"Tidak perlu. Aku jalan kaki saja," balas Renata bergeleng canggung.

"Naik ke mobilku sekarang. Ini perintah," tandas Arthur tidak mau dibantah.

Renata pun terpaksa mengiyakan tawaran Arthur. Lagi pula dia tidak yakin bisa sampai di perusahaan tanpa terlambat dengan berjalan kaki.

Begitu Renata sudah duduk di samping Arthur, sepupu suaminya itu bergerak perlahan untuk memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Renata.

"Arthur ...." Renata tercekat karena jaraknya dengan Arthur sangat dekat. Sampai dia bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu.

Arthur mengulas senyumnya saat Renata membeku di dekatnya. Lalu, tanpa permisi dia menyambar bibir Renata yang menggoda.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 9. Gunung Kembar yang Nikmat

    "Kamu sengaja menggodaku ya?"Arthur menarik satu sudut bibirnya ke atas. Tatapannya jatuh pada gunung kembar Renata yang tampak menggoda di balik kemeja yang dikenakan wanita itu.Renata yang menyadari arah pandang Arthur tertuju segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak, Pak Arthur. Braku basah jadi aku melepasnya," ucap Renata panik.Sebelum Renata sempat berucap lagi, sebelah tangan Arthur sudah lebih dulu meraih pinggang ramping Renata dan menarik wanita itu mendekat. Sangat dekat sampai puting payudara Renata terasa menekan dada bidang Arthur.Ketika jarak mereka sedekat ini, Arthur menarik napas panjang untuk menikmati aroma tubuh Renata yang dia suka.Sudah tiga tahun berlalu. Wanita ini tidak berubah sama sekali.Arthur kemudian mengumpat dalam hati. Kejantanannya merespon lebih cepat dari yang dia duga.Kini celana Arthur terasa sangat sesak. Miliknya yang besar itu meronta-ronta minta segera dilepaskan.Tak ingin membuang-buang waktu lagi, kedua tangan Arthu

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 8. Siluet Indah Renata

    "Apa aku perlu mengulanginya lagi, Renata?" tanya Arthur yang sudah berdiri menjulang di depan Renata. Sedang, sekretarisnya itu masih terpaku karena ucapan Arthur barusan.Renata mendongak menatap Arthur, lalu berkedip beberapa kali. Akal sehatnya pun segera menyadarkan Renata untuk tidak mengikuti perintah gila atasannya itu yang menyuruhnya membuka kemejanya. Selain kurang ajar, ternyata Pak Arthur juga mesum. Batin Renata yang memundurkan langkah untuk menghindari tatapan tajam Arthur yang seolah sudah tidak sabar melahapnya bulat-bulat."Maaf, Pak Arthur. Aku akan membersihkannya sendiri," tukas Renata buru-buru.Wanita berambut panjang itu pun segera berlari keluar dari ruangan Arthur menuju toilet umum perempuan yang biasa dipakai karyawan biasa.Begitu Renata sudah menghilang dari pandangannya, Arthur memanggil pengawal pribadinya yang bernama Pak Surya.Pak Surya dengan sigap masuk ke dalam ruangan menghadap Arthur."Ada yang perlu saya lakukan, Pak Arthur?" tanya Pak Surya

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 7. Lepas Bajumu, Renata!

    Arthur menatapi langit-langit kamarnya dengan muak. Di kamarnya yang sangat luas ini, dia merasa kesepian. Hanya ada dirinya, para pelayan, dan pengawalnya yang tinggal di mansion mewah miliknya. Tidak ada anggota keluarganya. Arthur bahkan sudah lupa jika sebenarnya dia masih memiliki keluarga di Jakarta, kota tempatnya tinggal sekarang. Karena dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Arthur melepaskan selapis udara dari hidungnya dengan kasar. Arthur kira dengan dirinya mempunyai kekayaan dan kekuasaan, dia bisa hidup bahagia. Namun, nyatanya tidak. Meski, Arthur bergelimang harta dan menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia, dia tidak pernah merasa bahagia. Arthur mengeluarkan napasnya dengan keras sekali lagi, lalu memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Namun, ketenangannya malah terganggu karena ponselnya yang ada di atas meja mendadak berdering nyaring. "Shit!" umpat Arthur terpaksa membuka lagi kedua matanya, dan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 6. Kejantanan Pak Arthur

    "Ahh .... Ahh ...." "Aku mau keluar. Ahh ...." Renata terkejut mendengar suara berat Arthur yang berulang kali mendesah saat dia keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya dengan heran, dan melanjutkan langkahnya menuju meja Arthur. Tapi, begitu Renata sudah berdiri tidak jauh dari meja Arthur. Kedua mata Renata seketika membulat melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu. Arthur sedang masturbasi di balik meja kerjanya. Renata bisa melihatnya dengan jelas karena sudut pandangnya ada di samping meja pria itu. "Ahh .... Shit!" Arthur pun mengerang puas saat dia mencapai klimaksnya. Renata buru-buru bersembunyi di balik rak buku. Dia tidak menduga Arthur masturbasi di ruang kerja. Apa karena melihat tubuh Renata dalam balutan lingerie tadi membuat atasannya itu terangsang? Renata tak berkedip sama sekali menatap pusaka Arthur yang sangat besar, berurat, dan gagah. Sangat berbeda dengan milik suaminya yang hanya sebesar jari jempol. Berdaki pula. Renata menelan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 5. Dalaman Transparan

    Arthur menelan ludahnya berulang kali saat melihat Renata berdiri di depannya dalam balutan lingerie seksi. Matanya menelusuri tubuh indah Renata dengan berdecak kagum. Sepasang payudara wanita itu yang bulat dan besar nyaris terlihat sepenuhnya. Hanya bagian tengahnya saja yang tertutupi bordiran berbentuk bunga. Kulitnya putih dan mulus, sehingga sangat menyatu dengan warna lingerie yang cerah. Arthur merasa puas dengan penampilan pertama Renata. Dia sampai merasakan kejantanannya mulai bangkit dari tidurnya. "Bagaimana?" tanya Renata meminta pendapat. Dia merentangkan kedua tangannya di sisi badan. "Berputarlah!" titah Arthur yang diam-diam mengelus pusaka raksasanya yang kelaparan di balik mejanya. Renata menganggukkan kepala patuh. Dia lalu memutar tubuhnya membelakangi Arthur, membiarkan atasannya itu melihat semua bagian tubuhnya. Di saat Renata bergerak, pantatnya yang sintal dan payudaranya yang besar ikut bergetar. Semakin memancing gairah Arthur. "Lumayan. Coba g

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 4. Bibirnya Terasa Lembut

    Timbul sensasi aneh yang menjalari tubuh Renata, saat bibir Arthur yang basah dan lembab menempel di bibirnya. Sensasi mendebarkan itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Renata yang telah lama mati. Yaitu gairah terpendamnya. Namun, Renata segera tersadar jika dia telah melakukan hal terlarang dengan sepupu suaminya itu. Sontak, Renata mendorong Arthur menjauh dengan keras. "Arthur. Maksudku Pak Arthur. Tidak seharusnya kita berciuman. Anda adalah sepupu suamiku," ucap Renata, buru-buru menghindari tatapan mata Arthur yang menatap lekat wajahnya. Membuat debaran jantungnya semakin kencang. "Aku hanya mencoba memperbaiki lipstikmu yang meluber ke mana-mana, Renata. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman," balas Arthur dengan suara tenang. Seolah apa yang baru saja dia lakukan itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Pipi Renata langsung memanas mendengar jawaban enteng dari Arthur. Pria itu memperbaiki lipstiknya dengan cara mencium bibirnya? Tidak ada kah cara yang lain? Lagi pula,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status