Mag-log inSelamat membaca.
Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain. Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap. Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Gerhana bulan yang seharusnya indah berubah menjadi kelam, bayangan gelap melahap cahaya perlahan. Retakan keperakan di langit melebar. Lalu seseorang melangkah keluar darinya, Bukan jatuh, Melangkah mendekat. Seolah celah itu hanyalah pintu. Sepasang sepatu bot hitam menyentuh permukaan atap. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, aura yang terpancar darinya membuat udara terasa berat. Dan mata itu, mata yang selalu membuat Elara tenggelam di masa lalu. Menyala seperti dua bulan kecil. Elara mengenalinya sebelum akalnya sempat menolak. “Tidak mungkin…” bisiknya. Pria itu menatapnya tanpa berkedip. Suaranya dalam, bergetar halus seperti geraman yang ditahan. “Aku sudah bilang akan kembali.” ucapnya, melesat ke arah Elara yang masih bingung. Jantung Elara berdentam keras. Kenangan malam di hutan, darah di bulu hitam, mata hijau yang sama, semuanya menyerbu pikirannya. Tapi bagaimana itu mungkin, dia menolak semua yang ia lihat saat ini. “Kau…” suaranya gemetar. “Kau serigala itu.” Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Namaku Aelmon Nightfang.” Angin berhenti. Seolah dunia menunggu reaksi Elara. Ia menggeleng pelan. “Ini mimpi.” gumamnya. Aelmon melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti tekanan tak terlihat yang mendorong Elara mundur. Sampai punggungnya menyentuh pagar besi atap. “Kau berjanji,” ucap Aelmon pelan. Elara mengerutkan keningnya, mengingat. “Itu hanya candaan!” potong Elara cepat. “Aku anak kecil! Aku bahkan tidak tahu kau, kau ...,” “Werewolf?” Aelmon menyelesaikan kalimatnya tanpa emosi. Kata itu menggantung di udara seperti vonis. Elara menelan ludah. “Ini tidak masuk akal.” kepalanya menggeleng cepat. “Bagi duniamu, mungkin.” Aelmon berhenti tepat di depannya. “Tapi di duniaku, janji adalah ikatan.” Tapi Elara tidak ingin terikat dengan werewolf. Mata Hijaunya melembut sepersekian detik. “Kau menyentuhku malam itu. Kau menyelamatkanku.” “Aku menolong hewan terluka,” Elara membalas, mencoba terdengar tegas meski tubuhnya gemetar. “Bukan mengikat hidupku.” Bayangan di bawah kaki Aelmon bergerak liar. “Aku menunggumu dua belas tahun.” tegasnya. Suara itu tidak keras. Justru terlalu tenang. Terlalu pasti. “Aku tidak pernah memintamu menunggu!” seru Elara. Keheningan jatuh di antara mereka. Untuk pertama kalinya, emosi nyata melintas di wajah Aelmon, sesuatu yang gelap, sesuatu yang terluka. “Purnama ketiga bulan ini,” katanya perlahan, “ikatan itu akan bangkit sepenuhnya.” “Aku tidak peduli dengan ikatan anehmu!” “Kau akan peduli.” Tiba-tiba dadanya terasa panas. Elara tersentak dan memegang jantungnya. Sensasi hangat menyebar dari dalam tubuhnya,bukan sakit, tapi kuat. Terlalu kuat untuk dirinya sebagai manusia. Aelmon membeku. Mata Hijaunya melebar. Cahaya keemasan samar muncul di balik kulit Elara, seperti sinar matahari yang mencoba keluar. "Elara?" “Tidak…” gumam Aelmon, suaranya berubah tegang. Dia mendekat ke arah Elara yang tampak kesakitan. “Apa yang terjadi padaku?” Elara panik. Cahaya itu memancar lebih terang sesaat, lalu menghilang. Keheningan kembali turun, tapi kini terasa berbeda. Aelmon mundur satu langkah. Ia menatap Elara bukan lagi hanya dengan posesif, melainkan dengan sesuatu yang lain. Kewaspadaan. “Siapa kau sebenarnya…” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. Elara menggeleng. “Aku manusia biasa.” jawabnya. Namun Aelmon bisa merasakan sesuatu yang mengguncang sisi serigalanya. Energi hangat itu tidak seperti apa pun yang pernah ia temui. Bukan lunar (ikatan pasangan) bukan gelap, melainkan terang yang melawan bulan. Angin kembali berputar. Retakan di langit mulai menutup perlahan. Aelmon mengulurkan tangan. “Kau ikut denganku malam ini.” titahnya. Dia hanya ingin memastikan kalau Elara bersama dengannya. “Apa? Tidak!” Elara mencoba berlari ke samping. Bagaimana mungkin manusia jadi-jadian memintanya untuk ikut, yang ada Elara mungkin akan digigit. Dalam satu gerakan cepat, terlalu cepat untuk mata manusia, Aelmon sudah berdiri di depannya. Ia tidak menyentuhnya. Belum! Tapi jarak di antara mereka kini hanya sejengkal. “Aku memberimu pilihan dengan sopan,” katanya pelan. “Datang sendiri… atau ...,” “Atau apa?” Mata Hijaunya menyala lebih terang. “Aku akan menjemputmu dengan cara Alpha.” Di kejauhan, sirene mobil polisi terdengar, mungkin seseorang melihat retakan di langit. Itu bagus karena bukan hanya Elara saja yang merasakan jatuhnya langit. Elara memanfaatkan momen itu dan mendorong Aelmon sekuat tenaga. Ia berhasil melewatinya. Satu langkah, dua langkah. Lalu bayangan di tanah tiba-tiba memanjang, dan melilit pergelangan kakinya. Elara jatuh tersungkur. Ia menoleh dengan napas terengah. Arlmon berdiri di sana, mata Hijaunya kini bersinar penuh dominasi. “Penolakan pertama,” ucapnya rendah. Bayangan itu mulai menariknya mundur perlahan. Dan tepat sebelum Elara bisa berteriak, retakan lain terbuka di langit. Bukan berwarna perak. Melainkan emas menyilaukan. Sebuah suara lain, jauh lebih tua dan lebih dingin, menggema dari atas, ”LEPASKAN DIA, MAHKLUK BULAN." Aelmon mendongak. Sedangkan Elara seolah ingin menangis. Dia tidak ingin dipanggil disurga dulu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan ancaman yang bukan berasal dari dunia ini. Bersambung....Orang-orang selalu berkata...Matahari adalah lambang harapan. Bulan adalah lambang kesetiaan, namun tidak ada seorang pun yang pernah bertanya...Bagaimana rasanya dilahirkan dari dua legenda yang bahkan tidak mampu memiliki akhir yang bahagia?***"Apa kau percaya pada cerita itu?"Suara seorang anak laki-laki memecah keheningan. Ia duduk di atas dahan pohon tua, kedua kaki kecilnya bergoyang pelan mengikuti embusan angin.Di bawah pohon, seorang anak perempuan menutup buku tua yang telah lusuh dimakan usia.Bukh!"Aku tidak tahu."Jawabannya datar, tetapi sorot matanya tidak pernah meninggalkan halaman terakhir buku itu.Di sana tertulis sebuah kalimat, "Mereka saling mencintai hingga dunia memilih memisahkan mereka."Anak laki-laki itu mendengus pelan. "Cerita yang bodoh.""Kenapa?""Kalau benar saling mencintai... kenapa berakhir seperti itu?"Tak ada jawaban.Hanya desir angin yang meniup rumput-rumput liar di padang luas.Anak perempuan itu mengangkat kepalanya. Matanya yang ke
Selamat membaca.Beribu-ribu tahun kemudian...Halaman Terakhir Kitab Takdir Cahaya keemasan memenuhi seluruh penjuru langit, Takhta Matahari akhirnya memiliki penguasa baru.Di atas singgasana yang terbuat dari cahaya, Elara membuka matanya perlahan.Namun, mata itu bukan lagi mata seorang manusia. Tatapannya tenang.Hening. Tidak lagi menyimpan keraguan ataupun rasa takut.Eon menundukkan kepala. "Selamat datang kembali... Solaria." sambutnya.Perempuan itu memandang sekeliling.Tatapannya menyapu para dewa, para tetua, Rowan, Aurelion, hingga sosok Alpha yang berdiri paling depan.Lalu ia bertanya dengan suara lembut, "Siapa kalian?"Keheningan langsung menyelimuti ruangan.Rowan menahan napas.Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.Aurelion memejamkan mata. Sementara Aelmon hanya berdiri tanpa bergerak, solaria menatapnya
Ketika Matahari Memilih TenggelamKeheningan menyelimuti Ruang Takhta Matahari.Cahaya keemasan yang memenuhi langit seolah berhenti bergerak. Tidak ada desir angin. Tidak ada nyanyian burung. Bahkan waktu seperti menahan napas ketika sosok berjubah putih itu menutup kedua matanya.Eon membuka matanya perlahan.Tatapannya menyapu setiap wajah yang berdiri di hadapannya—Aelmon, Elara, Rowan, Aurelion, para tetua Lunaris, dan para dewa yang tersisa.Lalu ia berkata dengan suara tenang yang menggema ke seluruh penjuru langit."Mulai sekarang... yang akan menjadi musuh kalian bukan lagi para dewa, melainkan pilihan kalian sendiri."Semua orang terdiam.tap... tap... tap...Eon melangkah mendekati Takhta Matahari yang selama ribuan tahun tidak pernah diduduki siapa pun."Selama ini kalian mengira takdir adalah rantai yang mengikat kehidupan.""Tetapi kalian keliru."Ia mengangkat Kitab Takdir."Takdir hanyalah jalan.""Yang menentukan akhir perjalanan adalah pilihan yang dibuat setiap kali
"...adalah kesalahan pertama yang berhasil dibuat oleh seorang dewi."Kalimat itu jatuh begitu saja.Tidak keras. Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.Srrtt...Angin dingin menyapu lantai marmer Singgasana Matahari. Ujung jubah Elara berkibar pelan, sementara rambut keemasannya menari perlahan di bawah cahaya yang mulai meredup.Aelmon menyipitkan mata. Bahunya menegang. Tanpa sadar, jemarinya meraih gagang pedang di pinggangnya."Apa maksudmu?" tanyanya datar. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari pria berambut perak itu.Pria itu tidak segera menjawab.Ia justru mengangkat kepalanya, menatap langit-langit istana yang dipenuhi cahaya keemasan."Hari ini masih sama."Senyum tipis terukir di bibirnya. "Cahaya Matahari tetap hangat.""Padahal pemiliknya sudah berubah."Elara mengernyit pelan. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Kau mengenalku?"Pria itu menurunkan pandangannya perlahan. "Aku mengenal Solaria.""Lalu aku mengenal Elara.""Dan sekarang.
Suara langkah itu terdengar pelan.Tok... tok... tok...Bukan tergesa-gesa.Bukan pula berat seperti langkah seorang prajurit yang hendak berperang.Sebaliknya, langkah itu tenang. Terlalu tenang hingga setiap gema yang dipantulkannya membuat dada siapa pun yang mendengar terasa semakin sesak.Angin berhenti berembus.Kelopak-kelopak bunga matahari yang sejak tadi beterbangan perlahan jatuh ke tanah tanpa sempat menari di udara.Seluruh tempat mendadak sunyi.Bahkan cahaya Singgasana Matahari meredup, seolah menghormati seseorang yang baru saja datang.Aurelion mengatupkan rahangnya. Jemarinya yang biasanya santai perlahan mengepal di balik lengan jubahnya. Untuk pertama kalinya, raut wajah Raja Dunia Bawah itu kehilangan ketenangannya."Itu... tidak mungkin." Suaranya rendah, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Elara menangkap perubahan sekecil apa pun pada kakaknya. Alisnya berkerut. Ia belum pernah melihat Aurelion setegang ini."Kak...""Ada apa?"Aurelion tidak seger
"Siapa bilang... kisah ini telah berakhir?"Suara itu tidak keras.Namun gema langkahnya membuat Singgasana Matahari bergetar pelan. Cahaya keemasan yang baru saja kembali menyelimuti langit mendadak meredup sesaat, seolah dunia ikut menahan napas.Aelmon tanpa sadar melangkah ke depan, berdiri di antara Elara dan pintu kuno yang perlahan terbuka.Gerakan itu begitu alami, ia bahkan tidak perlu berpikir.Melindungi Elara telah menjadi naluri yang tumbuh jauh lebih dahulu daripada cintanya sendiri.Elara menatap punggung Alpha itu, punggung yang dipenuhi bekas luka, sebagian karena peperangan.Sebagian lagi karena keputusan-keputusan yang pernah mereka sesali bersama."Aelmon...""Aku di sini."Hanya tiga kata.Namun cukup membuat jantung Elara yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan kembali tenang.Ia tersenyum kecil.Dulu, ia menganggap ketenangan hanya dapat ditemukan di atas singgasana.Kini ia mengerti.Ternyata rumah tidak selalu berupa tempat.Kadang rumah adalah seseorang yang sel
Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening R
Selamat membaca.Latihan tidak berhenti. Hari demi hari, Elara kembali ke lingkaran batu itu. Mengulang hal yang sama. Menghadapi hal yang sama. Dan setiap kali itu terjadi, Rasa sakitnya tidak pernah benar-benar berkurang.***“Fokus.”Suara Lyria tenang, namun tegas. Elara berdiri di tengah lingk
Selamat membaca.Getaran itu tidak hanya mengguncang aula. Seluruh Lunaris bergetar, Dua bulan di langit senja bergetar seperti bayangan di air yang tersentuh batu. Hutan Silvaris Umbra melolong, bukan oleh serigala, melainkan oleh pepohonan hidup yang merasakan ancaman purba.Di aula, suhu turun d
Selamat berimajinasi.Ledakan itu membutakan.Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa







