Beranda / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Janji bumi pada bulan

Share

Janji bumi pada bulan

Penulis: Chatrin
last update Tanggal publikasi: 2026-03-05 14:59:00

Selamat membaca.

Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.

Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap.

Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Gerhana bulan yang seharusnya indah berubah menjadi kelam, bayangan gelap melahap cahaya perlahan.

Retakan keperakan di langit melebar.

Lalu seseorang melangkah keluar darinya, Bukan jatuh, Melangkah mendekat.

Seolah celah itu hanyalah pintu.

Sepasang sepatu bot hitam menyentuh permukaan atap. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, aura yang terpancar darinya membuat udara terasa berat.

Dan mata itu, mata yang selalu membuat Elara tenggelam di masa lalu. Menyala seperti dua bulan kecil.

Elara mengenalinya sebelum akalnya sempat menolak.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Pria itu menatapnya tanpa berkedip. Suaranya dalam, bergetar halus seperti geraman yang ditahan.

“Aku sudah bilang akan kembali.” ucapnya, melesat ke arah Elara yang masih bingung.

Jantung Elara berdentam keras. Kenangan malam di hutan, darah di bulu hitam, mata hijau yang sama, semuanya menyerbu pikirannya.

Tapi bagaimana itu mungkin, dia menolak semua yang ia lihat saat ini.

“Kau…” suaranya gemetar. “Kau serigala itu.”

Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Namaku Aelmon Nightfang.”

Angin berhenti. Seolah dunia menunggu reaksi Elara.

Ia menggeleng pelan. “Ini mimpi.” gumamnya.

Aelmon melangkah mendekat.

Setiap langkahnya terasa seperti tekanan tak terlihat yang mendorong Elara mundur. Sampai punggungnya menyentuh pagar besi atap.

“Kau berjanji,” ucap Aelmon pelan.

Elara mengerutkan keningnya, mengingat. “Itu hanya candaan!” potong Elara cepat. “Aku anak kecil! Aku bahkan tidak tahu kau, kau ...,”

“Werewolf?” Aelmon menyelesaikan kalimatnya tanpa emosi.

Kata itu menggantung di udara seperti vonis.

Elara menelan ludah. “Ini tidak masuk akal.” kepalanya menggeleng cepat.

“Bagi duniamu, mungkin.” Aelmon berhenti tepat di depannya. “Tapi di duniaku, janji adalah ikatan.”

Tapi Elara tidak ingin terikat dengan werewolf.

Mata Hijaunya melembut sepersekian detik. “Kau menyentuhku malam itu. Kau menyelamatkanku.”

“Aku menolong hewan terluka,” Elara membalas, mencoba terdengar tegas meski tubuhnya gemetar. “Bukan mengikat hidupku.”

Bayangan di bawah kaki Aelmon bergerak liar.

“Aku menunggumu dua belas tahun.” tegasnya.

Suara itu tidak keras. Justru terlalu tenang. Terlalu pasti.

“Aku tidak pernah memintamu menunggu!” seru Elara.

Keheningan jatuh di antara mereka.

Untuk pertama kalinya, emosi nyata melintas di wajah Aelmon, sesuatu yang gelap, sesuatu yang terluka.

“Purnama ketiga bulan ini,” katanya perlahan, “ikatan itu akan bangkit sepenuhnya.”

“Aku tidak peduli dengan ikatan anehmu!”

“Kau akan peduli.”

Tiba-tiba dadanya terasa panas.

Elara tersentak dan memegang jantungnya. Sensasi hangat menyebar dari dalam tubuhnya,bukan sakit, tapi kuat. Terlalu kuat untuk dirinya sebagai manusia.

Aelmon membeku.

Mata Hijaunya melebar.

Cahaya keemasan samar muncul di balik kulit Elara, seperti sinar matahari yang mencoba keluar.

"Elara?"

“Tidak…” gumam Aelmon, suaranya berubah tegang. Dia mendekat ke arah Elara yang tampak kesakitan.

“Apa yang terjadi padaku?” Elara panik.

Cahaya itu memancar lebih terang sesaat, lalu menghilang.

Keheningan kembali turun, tapi kini terasa berbeda.

Aelmon mundur satu langkah.

Ia menatap Elara bukan lagi hanya dengan posesif, melainkan dengan sesuatu yang lain.

Kewaspadaan.

“Siapa kau sebenarnya…” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.

Elara menggeleng. “Aku manusia biasa.” jawabnya.

Namun Aelmon bisa merasakan sesuatu yang mengguncang sisi serigalanya. Energi hangat itu tidak seperti apa pun yang pernah ia temui.

Bukan lunar (ikatan pasangan) bukan gelap, melainkan terang yang melawan bulan.

Angin kembali berputar. Retakan di langit mulai menutup perlahan.

Aelmon mengulurkan tangan.

“Kau ikut denganku malam ini.” titahnya. Dia hanya ingin memastikan kalau Elara bersama dengannya.

“Apa? Tidak!” Elara mencoba berlari ke samping.

Bagaimana mungkin manusia jadi-jadian memintanya untuk ikut, yang ada Elara mungkin akan digigit.

Dalam satu gerakan cepat, terlalu cepat untuk mata manusia, Aelmon sudah berdiri di depannya.

Ia tidak menyentuhnya.

Belum!

Tapi jarak di antara mereka kini hanya sejengkal.

“Aku memberimu pilihan dengan sopan,” katanya pelan. “Datang sendiri… atau ...,”

“Atau apa?”

Mata Hijaunya menyala lebih terang.

“Aku akan menjemputmu dengan cara Alpha.”

Di kejauhan, sirene mobil polisi terdengar, mungkin seseorang melihat retakan di langit.

Itu bagus karena bukan hanya Elara saja yang merasakan jatuhnya langit.

Elara memanfaatkan momen itu dan mendorong Aelmon sekuat tenaga.

Ia berhasil melewatinya.

Satu langkah, dua langkah.

Lalu bayangan di tanah tiba-tiba memanjang, dan melilit pergelangan kakinya.

Elara jatuh tersungkur.

Ia menoleh dengan napas terengah.

Arlmon berdiri di sana, mata Hijaunya kini bersinar penuh dominasi.

“Penolakan pertama,” ucapnya rendah.

Bayangan itu mulai menariknya mundur perlahan.

Dan tepat sebelum Elara bisa berteriak,

retakan lain terbuka di langit.

Bukan berwarna perak.

Melainkan emas menyilaukan.

Sebuah suara lain, jauh lebih tua dan lebih dingin, menggema dari atas, ”LEPASKAN DIA, MAHKLUK BULAN."

Aelmon mendongak. Sedangkan Elara seolah ingin menangis.

Dia tidak ingin dipanggil disurga dulu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia merasakan ancaman yang bukan berasal dari dunia ini.

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hati liar sang Alpha   Perjalanan Rahasia

    Perdebatan berlangsung sampai tengah malam.Dan semakin lama, semakin kacau.“Aku ikut.”“Tidak.”“Aku bilang ikut.”“Aku bilang tidak.”Suara Aelmon dan Kaelum sudah terdengar seperti ancaman terselubung sejak satu jam lalu.Aura Alpha memenuhi aula utama sampai beberapa anggota pack memilih keluar karena sesak bernapas, sementara Kaelum tetap duduk santai dengan kaki menyilang seolah menikmati semuanya.Lira sudah hampir melempar buku.Rowan mulai memijat pelipis. Dan Lyra, nyaris meracuni semua orang dengan ramuan tidurnya.“Kita tidak mungkin membawa seluruh pack ke Solthera!” bentak Lira akhirnya.“Dan aku tidak akan membiarkan Elara pergi tanpa penjagaan,” balas Aelmon dingin.“Auramu terlalu mencolok,” sahut Kaelum santai. “Begitu kau masuk wilayah langit, seluruh Solthera akan tahu Alpha Lunaris datang.”Aelmon menatapnya seperti ingin membunuhnya saat itu juga.“Aku tetap pergi.”“Tidak.”Jawaban Aelmon langsung keluar bahkan sebelum Elara selesai bicara. Dan itu membuat Elar

  • Hati liar sang Alpha   Jalan Menuju Dunia Manusia

    Hujan belum berhenti.Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.Lyra menyebarkan gulungan tua dan botol-botol ramuan di atas meja panjang dengan wajah frustrasi. Rambut merahnya diikat asal, sementara lingkar hitam samar mulai terlihat di bawah matanya karena tidak tidur semalaman.Sylas berdiri di dekat jendela batu sambil membaca buku tua yang sudah hampir hancur.Sedangkan Aelmon, masih berdiri terlalu dekat dengan Elara.Seolah Kaelum akan menculik istrinya kapan saja jika ia lengah.Elara duduk di kursi besar dekat perapian dengan selimut gelap menyelimuti tubuhnya. Demamnya sedikit turun, namun kulitnya masih terasa panas dan cahaya samar kadang muncul di jemarinya tanpa kendali.Itu membuat Aelmon semakin gelisah.Dan Kaelum terlihat terlalu tenang melih

  • Hati liar sang Alpha   Istri Alpha atau Dewi Matahari

    Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara masih demam.Tubuh manusianya terasa lemah sejak semalam, meski Lyra sudah memaksanya meminum tiga jenis ramuan berbeda yang rasanya mengerikan.Kini ia duduk bersandar di ranjang besar Aelmon, dibungkus selimut tebal berwarna gelap. Rambut panjangnya sedikit berantakan, pipinya pucat karena panas tubuh yang belum turun sepenuhnya.Sedangkan Aelmon—Masih duduk terlalu dekat.Tangannya memegang jemari Elara sejak tadi pagi seolah takut gadis itu menghilang hanya karena ia lengah sesaat.“Aku benar-benar bisa bernapas sendiri.”Suara Elara masih sedikit serak karena demam.Kael tidak melepaskan tangannya.“Aku tahu.”“Lalu kenapa kau terus menatapku seperti pasien sekarat?”Tatapan emas Aelmon t

  • Hati liar sang Alpha   Ketakutan yang Yidak Bisa Dijelaskan Serigala

    Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Dipilih Hati

    Cahaya Helior perlahan menghilang bersama angin malam. Meninggalkan keheningan yang terasa aneh di antara pepohonan Lunaris.Elara masih berdiri diam. Jantungnya belum tenang, Karena kata-kata terakhir Helior terlalu manusiawi untuk seorang dewa.Aku hanya ingin menjadi rumahmu lebih dulu...Aelmon memperhatikan wajah Elara beberapa detik.Lalu tanpa banyak bicara ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Elara pelan.Gerakan sederhana, namun cukup membuat Elara kembali sadar pada keberadaannya. Berbeda dari cahaya Helior yang terasa terlalu jauh untuk disentuh.“Kau memikirkannya.” Suara Aelmon rendah, Jelas sekali ia tidak menyukai fakta bahwa Helior berhasil meninggalkan sesuatu di pikiran Elara.Elara menunduk sedikit. “Aku cuma…” Ia kesulitan mencari kata yang tepat. Karena apa yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.Aelmon menghela napas pelan. Lalu mendekat, “Tanya saja.”Elara mengangkat kepala perlahan, dan setelah beberapa detik ragu, “Kalau seseorang datang lebih dul

  • Hati liar sang Alpha   Yang Seharusnya Tinggal di Hatinya.

    Malam semakin larut. Namun Elara tidak bisa tidur.Kata-kata Helior terus berputar di kepalanya seperti bisikan yang tidak mau pergi.Semakin dia mencintaimu… semakin mudah dunia ini hancur.Api kecil di perapian kamar Aelon mulai mengecil, meninggalkan cahaya redup keemasan yang bergerak pelan di dinding batu.Di sampingnya, Aelmon akhirnya tertidur.Meski satu tangannya masih melingkar di pinggang Elara seolah bahkan dalam tidur pun pria itu takut dirinya menghilang lagi.Elara menatap wajahnya diam-diam, tenang, lelah dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak. Karena semua orang terus mengatakan bahwa dirinya adalah awal bencana. 'Aku bencana' batin Elara, dadanya terasa nyeri.Namun saat melihat Aelmon seperti ini, Elara justru hanya melihat seseorang yang terlalu tulus mencintainya.Pelan-pelan Elara bergerak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Aelmon, tapi baru satu langkah suara rendah pria it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status