Share

Hati liar sang Alpha
Hati liar sang Alpha
Author: Chatrin

Ikatan pertama

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-03-03 16:19:54

Selamat berimajinasi.

Darah menetes ke tanah yang membeku.

Elara tidak tahu kenapa ia berlari menuju suara geraman itu. Kakinya basah oleh lumpur, napasnya terengah, dan hutan di belakang rumahnya terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan menggantung besar di langit, seolah mengawasi setiap langkahnya.

Geraman itu terdengar lagi, lebih lemah, lebih marah.

Ia menerobos semak berduri dan membeku di tempat.

Seekor serigala hitam raksasa terbaring di tanah. Bulu gelapnya berkilau kebiruan di bawah sinar bulan, namun tubuhnya dipenuhi luka sayatan. Salah satu kakinya berdarah parah, dan napasnya terdengar berat.

Mata hijaunya menyala tajam ketika melihat Elara.

Ia seharusnya takut. Elara seharusnya lari seharusnya lari.

Tapi Elara kecil, yang baru berusia sepuluh tahun, justru melangkah mendekat.

“Tenang… aku tidak akan menyakitimu,” bisiknya, walau tangannya gemetar.

Serigala itu berusaha bangkit dan menggeram pelan, memperlihatkan taringnya. Namun tubuhnya terlalu lemah. Ia kembali jatuh.

Elara menelan ludah. “Kalau kau mau menggigitku, lakukan saja. Tapi kau akan mati kalau aku pergi.”

Angin berhenti berhembus.

Hening.

Mata hijau itu menatapnya lama, terlalu lama untuk seekor binatang liar.

Dengan hati-hati, Elara merobek bagian bawah gaunnya dan menekan kain itu pada luka di kaki serigala. Darah hangat membasahi jarinya. Aneh, ia tidak merasa jijik. Hanya ada rasa… sedih.

Elara suka hewan sejak kecil, anehnya gadis berambut merah itu tidak akan menangis saat ada manusia yang terluka. Namun hatinya mudah robek oleh hewan yang terluka.

“Siapa yang melakukan ini padamu?”

Mana bisa serigala berbicara. Pikir Elara, mendengus kasihan menatap luka itu lagi.

Serigala itu tidak menjawab, tentu saja. Tapi geramannya mereda.

Saat jarinya menyentuh bulu hitam di kepalanya, sesuatu terjadi.

Hangat.

Bukan panas biasa. Hangat yang menyebar dari telapak tangannya ke dada serigala itu.

Tiba-tiba, cahaya samar, keemasan, berkilau sesaat di antara jari-jarinya.

Elara tersentak, tapi serigala itu justru terdiam. Matanya yang tajam perlahan melembut. Luka di kakinya berhenti mengucur deras.

“Aneh…” bisiknya.

Serigala itu mengangkat kepalanya dan mendekatkan moncongnya pada wajah Elara. Ia bisa melihat bayangannya di mata hijau itu.

Satu yang Elara pikirkan saat melihat mata itu, "indah." akan tetapi Elara juga melihat sesuatu yang lain dari mata predator itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat binatang buas.

Ia melihat, "kesepian." gumamnya dalam hati.

Elara tersenyum kecil. “Kau sendirian, ya?” tanya Elara.

Serigala itu mengeluarkan suara rendah, bukan geraman, bukan juga lolongan. Lebih seperti jawaban.

Ia tertawa pelan. “Kalau kau manusia, aku akan menikahimu supaya kau tidak sendirian lagi.”

Bulan terasa makin terang.

Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah dan sesuatu yang lebih tua… sesuatu yang mengamati!

Serigala hitam itu menegang. Telinganya bergerak waspada.

Elara tidak menyadarinya ketika ia menepuk kepalanya pelan. “Jangan mati, ya? Besok aku bawa makanan.”

Ia bangkit berdiri berniat untuk kembali.

Namun sebelum ia sempat melangkah pergi, serigala itu menggigit lembut ujung bajunya, menahannya. Mata hijau itu kini menyala lebih terang.

Seolah mengukir sesuatu.

Janji.

Elara tertawa kecil. “Hei, aku serius. Kalau kau berubah jadi manusia nanti, kau harus mencariku, ya?” candanya.

Serigala itu melepaskannya perlahan. Di kejauhan, terdengar lolongan panjang. Bukan satu tapi ada banyak.

-Bayangan-bayangan bergerak di antara pepohonan.

Elara tidak tahu bahwa malam itu bukan kebetulan. Bahwa serigala di depannya bukan makhluk biasa.

Dan bahwa janji polosnya telah mengikat jiwa seorang calon Alpha-

Ketika ia berbalik untuk pulang, ia tidak melihat mata hijau itu berubah menjadi lebih dalam, lebih sadar.

samar, namun Elara tidak melihat cahaya bulan yang berputar di sekitar tubuh besar itu.

Suara berat berbisik di dalam heningnya hutan. Elara menggosok kupingnya yang tak gatal, kembali melanjutkan perjalanan tanpa menoleh.

“Aku akan menagihnya.”

Lalu tubuh serigala hitam itu mulai berubah.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Membawa Bulan Bersama dengannya

    Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat—dari tempat Elara berdiri.Di antara dua kekuatan.Di antara dua dunia.Dan di antara dua pria yang tidak akan mundur. Aelmon tidak melepaskan genggamannya.Namun kali ini, tangannya bergeser—dari pinggang Elara ke punggungnya, menahannya lebih dekat. Bukan sekadar melindungi. Lebih seperti, menegaskan keberadaannya di sana.Elara merasakannya. Detak jantung Aelmon yang stabil keras dan nyata. Dan itu membuatnya tetap berpijak, meski dunia di sekitarnya terasa goyah.Aurelion memperhatikan, tidak sepenuhnya menyukai pria yang berdiri di belakang mereka. Tapi yang lebih menyenalkan dari semua itu adalab pemandangan di depannya, Setiap detail. Cara Aelmon menyentuh Elara. Cara Elara tidak m

  • Hati liar sang Alpha   Yang memanggil namanya

    Cahaya itu memudar perlahan. Hanya… mereda, seperti napas yang dipaksa tenang setelah hampir pecah.Debu halus melayang di udara. Tanah di lingkaran batu retak tipis, memancarkan sisa panas dari ledakan yang barusan terjadi. Beberapa anggota pack terlempar mundur, beberapa masih berlutut, berusaha mengatur napas.Dan di tengah, Elara. uhuk! 'Darah' Elara terus terus terbatuk dengan darah yang terus keluar dari mulutnya.Tubuhnya sedikit membungkuk, bahunya naik turun, napasnya berat.Namun ia masih berdiri. Mencoba untuk bertahan, sekuat yang ia bisa."Elara..."Aelmon masih di sana. Tangannya tidak pernah lepas,Bahkan saat ledakan itu terjadi, ia tidak mundur.Ia justru menarik Elara lebih dekat, memeluknya dari belakang, satu tangan mengunci pinggangnya, satu lagi mencengkeram pergelangan tangannya.Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, maka Lunanya akan benar-benar hilang.“Elara, kamu berdarah."Suaranya rendah, dekat di telinga Elara, Ia mencoba mengatur napasnya yang terseng

  • Hati liar sang Alpha   Janji yang Diuji

    Cahaya turun lebih deras, seperti hujan emas yang terlalu terang untuk ditatap lama. Di sela-selanya, bayangan merembes turun seperti tinta yang menodai langit, perlahan tapi pasti. Dua kekuatan itu tidak lagi menunggu."AUUUU!"Mereka datang.Udara di Lunaris berubah menjadi berat, menekan dada setiap anggota pack. Beberapa berlutut tanpa sadar. Beberapa lainnya menggertakkan gigi, mencoba bertahan. Tanah di bawah kaki mereka bergetar halus, seolah dunia sendiri tidak yakin bisa menahan apa yang sedang terjadi.Di tengah semua itu, Elara berdiri.Tangan Aelmon masih menggenggam tangannya.Dan entah kenapa, di antara semua tekanan itu, genggaman itu menjadi satu-satunya hal yang membuat Elara tetap berpijak.Namun ketenangan itu, tidak bertahan lama.Cahaya di dalam dirinya mulai bereaksi semaki kuat dan lebih cepat dari sebelumnya.Hangatnya berubah menjadi panas yang menekan dari dalam, seperti matahari yang dipaksa bangkit di ruang sempit. Sementara bayangan ikut bergerak, dinginny

  • Hati liar sang Alpha   Di antara cahaya dan sentuhan.

    Langit masih retak.Cahaya dan bayangan turun bergantian seperti napas yang tidak pernah benar-benar selesai diambil. Udara di Lunaris terasa berat, menekan dada setiap makhluk yang berdiri di bawahnya. Namun di tengah semua itu, Elara berdiri.Tidak sepenuhnya tenang. Cahaya dan bayangan masih bergerak di dalam dirinya, bukan bertabrakan, melainkan mengalir dalam pola yang belum sepenuhnya ia pahami. Dingin merayap perlahan di sepanjang lengannya, seperti kabut yang menyentuh tulang, sementara hangatnya cahaya menekan dari dalam dada, stabil namun kuat. Perpaduan itu tidak menyakitkan seperti sebelumnya, tapi juga tidak nyaman. Seperti sesuatu yang terus mengingatkannya—bahwa ia sedang berubah.Aelmon berdiri di depannya. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak cukup jauh untuk benar-benar menjauh.Tatapannya tidak lepas dari Elara, Tajam, penuh perhitungan… namun di balik itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. 'Khawatir.' Tentu saja, Elara menyadarinnya.Dan enta

  • Hati liar sang Alpha   Saat keseimbangan dipertaruhkan.

    Angin berhenti, Bukan mereda tapi benar-benar berhenti.Daun-daun yang tadi bergetar kini diam di udara, seolah waktu sendiri menahan napas.Di tengah lingkaran batu, tubuh Elara berdiri tegak… namun matanya kosong sesaat.Seperti dua dunia sedang menariknya ke arah yang berbeda.“Dia masih di dalam,” gumam Lyria pelan, tangannya mengepal di depan dada.Rowan melangkah setengah maju, lalu berhenti. Kebiasaannya—selalu menghitung risiko sebelum bertindak. “Kalau ini terlalu lama…”“Jangan ganggu,” potong Lira cepat. Nada suaranya tajam, namun matanya tidak lepas dari Elara. “Kalau keseimbangannya runtuh saat ini, kita tidak bisa menariknya kembali.”Aelmon tidak bergerak. Ia berdiri tepat di belakang Elara.Diam tapi auranya menyebar perlahan dia tidak menekan keras, melainkan mengalirkanny seperti dinding tak kasat mata yang membungkus area itu."Ia menjaga."Menahan dan bersiap.***Di dalam, Ruang putih dan gelap itu bergetar. Bukan karena benturan.Napasnya tidak teratur, Namun ia

  • Hati liar sang Alpha   Saat dunia bertabrakan.

    Selamat membaca.Pegangan Aelmon di pergelangan tangan Luna menguat. Bukan sekadar menahan, melainkan menegaskan.Hangatnya tidak memberi ketenangan, justru terasa seperti jangkar yang ditanam dalam-dalam agar Luna tidak terseret arus yang mulai tak terkendali.“Luna.”Suara Aelmon rendah. Tidak keras. Namun setiap suku katanya seolah menekan ruang di sekitar mereka, membuat napas terasa lebih berat.Jari-jari Elara mencoba membalas genggaman itu. Namun ia gemetar. Bukan karena ketakutan semata, tapi karena sesuatu di dalam dirinya… bergerak.Mengalir.Bukan seperti air yang lembut dan mengikuti bentuk,Ini kasar.Seperti dua arus yang dipaksa bertemu, saling bertabrakan, menciptakan pusaran yang menarik ke dalam tanpa henti.Dingin merayap seperti kabut yang membekukan tulang.Panas menekan dari dalam, seperti cahaya yang memaksa keluar dari dada.“Jangan… lepas…” bisik Elara, suaranya hampir hilang di antara getaran napasnya sendiri.Aelmon tidak menjawab.Namun genggamannya semakin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status