로그인
Selamat berimajinasi.
Darah menetes ke tanah yang membeku. Elara tidak tahu kenapa ia berlari menuju suara geraman itu. Kakinya basah oleh lumpur, napasnya terengah, dan hutan di belakang rumahnya terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan menggantung besar di langit, seolah mengawasi setiap langkahnya. Geraman itu terdengar lagi, lebih lemah, lebih marah. Ia menerobos semak berduri dan membeku di tempat. Seekor serigala hitam raksasa terbaring di tanah. Bulu gelapnya berkilau kebiruan di bawah sinar bulan, namun tubuhnya dipenuhi luka sayatan. Salah satu kakinya berdarah parah, dan napasnya terdengar berat. Mata hijaunya menyala tajam ketika melihat Elara. Ia seharusnya takut. Elara seharusnya lari seharusnya lari. Tapi Elara kecil, yang baru berusia sepuluh tahun, justru melangkah mendekat. “Tenang… aku tidak akan menyakitimu,” bisiknya, walau tangannya gemetar. Serigala itu berusaha bangkit dan menggeram pelan, memperlihatkan taringnya. Namun tubuhnya terlalu lemah. Ia kembali jatuh. Elara menelan ludah. “Kalau kau mau menggigitku, lakukan saja. Tapi kau akan mati kalau aku pergi.” Angin berhenti berhembus. Hening. Mata hijau itu menatapnya lama, terlalu lama untuk seekor binatang liar. Dengan hati-hati, Elara merobek bagian bawah gaunnya dan menekan kain itu pada luka di kaki serigala. Darah hangat membasahi jarinya. Aneh, ia tidak merasa jijik. Hanya ada rasa… sedih. Elara suka hewan sejak kecil, anehnya gadis berambut merah itu tidak akan menangis saat ada manusia yang terluka. Namun hatinya mudah robek oleh hewan yang terluka. “Siapa yang melakukan ini padamu?” Mana bisa serigala berbicara. Pikir Elara, mendengus kasihan menatap luka itu lagi. Serigala itu tidak menjawab, tentu saja. Tapi geramannya mereda. Saat jarinya menyentuh bulu hitam di kepalanya, sesuatu terjadi. Hangat. Bukan panas biasa. Hangat yang menyebar dari telapak tangannya ke dada serigala itu. Tiba-tiba, cahaya samar, keemasan, berkilau sesaat di antara jari-jarinya. Elara tersentak, tapi serigala itu justru terdiam. Matanya yang tajam perlahan melembut. Luka di kakinya berhenti mengucur deras. “Aneh…” bisiknya. Serigala itu mengangkat kepalanya dan mendekatkan moncongnya pada wajah Elara. Ia bisa melihat bayangannya di mata hijau itu. Satu yang Elara pikirkan saat melihat mata itu, "indah." akan tetapi Elara juga melihat sesuatu yang lain dari mata predator itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat binatang buas. Ia melihat, "kesepian." gumamnya dalam hati. Elara tersenyum kecil. “Kau sendirian, ya?” tanya Elara. Serigala itu mengeluarkan suara rendah, bukan geraman, bukan juga lolongan. Lebih seperti jawaban. Ia tertawa pelan. “Kalau kau manusia, aku akan menikahimu supaya kau tidak sendirian lagi.” Bulan terasa makin terang. Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah dan sesuatu yang lebih tua… sesuatu yang mengamati! Serigala hitam itu menegang. Telinganya bergerak waspada. Elara tidak menyadarinya ketika ia menepuk kepalanya pelan. “Jangan mati, ya? Besok aku bawa makanan.” Ia bangkit berdiri berniat untuk kembali. Namun sebelum ia sempat melangkah pergi, serigala itu menggigit lembut ujung bajunya, menahannya. Mata hijau itu kini menyala lebih terang. Seolah mengukir sesuatu. Janji. Elara tertawa kecil. “Hei, aku serius. Kalau kau berubah jadi manusia nanti, kau harus mencariku, ya?” candanya. Serigala itu melepaskannya perlahan. Di kejauhan, terdengar lolongan panjang. Bukan satu tapi ada banyak. -Bayangan-bayangan bergerak di antara pepohonan. Elara tidak tahu bahwa malam itu bukan kebetulan. Bahwa serigala di depannya bukan makhluk biasa. Dan bahwa janji polosnya telah mengikat jiwa seorang calon Alpha- Ketika ia berbalik untuk pulang, ia tidak melihat mata hijau itu berubah menjadi lebih dalam, lebih sadar. samar, namun Elara tidak melihat cahaya bulan yang berputar di sekitar tubuh besar itu. Suara berat berbisik di dalam heningnya hutan. Elara menggosok kupingnya yang tak gatal, kembali melanjutkan perjalanan tanpa menoleh. “Aku akan menagihnya.” Lalu tubuh serigala hitam itu mulai berubah. Bersambung....Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Seolah seluruh Lunaris menahan napas. Eryndor berdiri di tengah cahaya langit, Elara berada beberapa langkah di depannya. Sementara Aelmon berlutut di lantai, berusaha melawan luka yang terus menghancurkan tubuhnya dari dalam.Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Perang telah datang, dan kali ini bukan ramalan.Bukan ancaman yang jauh, atau nama dalam buku kuno.Perang berdiri tepat di depan mereka."Aku akan menghitung sampai tiga." ucap Eryndor, suaranya tidak keras. Namun terdengar sampai ke seluruh ruangan."Menyerahlah.""Tidak." jawab Aelmon tanpa ragu, ia bahkan tidak berpikir. Jawaban yang sama seperti ribuan tahun lalu, mata Eryndor menutup sesaat."Kau tidak pernah berubah." gumamnya."Lalu kau?" balas Aelmon. Perlahan Alpha itu berdiri, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tubuhnya goyah, namun tatapannya tetap lurus."Kau masih menganggap semua yang bernapas di bawah langitmu sebagai milikmu."Keheningan jatuh.Untuk perta
Tangisan itu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah senyuman yang begitu aneh. Lalu...Keheningan di dalam kamar terasa menyesakkan.Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berani berbicara.Aelmon terbaring di lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya, cahaya keemasan dari Belati Matahari masih menyebar di bawah kulitnya seperti retakan api.Lyra terus berusaha menghentikan kerusakan yang terjadi. Namun wajah tabib itu semakin pucat setiap detiknya. "Ini buruk." gumamnya."Tolong katakan sesuatu yang belum kami ketahui." balas Lira."Kalau begitu diam!" bentak Lyra.Lira langsung menutup mulut. Sementara itu, Elara masih berdiri membeku, ingatan lama, dan baru.Kedua kehidupan itu bertabrakan tanpa ampun.Elara sang manusia, Dewi Matahari yang pernah memimpin langit. Keduanya kini hidup dalam tubuh yang sama, dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali—Ia tidak tahu dirinya siapa."Elara." Suara Ae
"AELMON!" Suara Elara pecah, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh pria yang terbaring di lantai. Namun cahaya keemasan dari luka itu kembali menyala, mendorong jemarinya menjauh.Drap.. drap.. drap...Di luar kamar. Terdengar langkah kaki, terdengar teriakan, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.Namun semuanya terasa jauh, sngat jauh. Karena sesuatu sedang retak di dalam dirinya, bukan tubuh dan jiwanya.Melainkan segel yang selama ini menahan ingatan. "Khh..." Elara mencengkeram kepalanya. Rasa sakit meledak, tidak seperti sakit biasa.Melainkan ribuan kenangan yang menghantam bersamaan.Langit...Langit yang bukan Lunaris. Langit yang begitu luas hingga bintang-bintang tampak seperti debu, Istana emas, menara cahaya, lautan awan dan dirinya.Bukan Elara sang manusia, mlainkan seorang penguasa. Seorang dewi, Ratu dari tiga puluh empat dewa dan dewi. Pemimpin dua belas dewa inti, takhta Matah
Malam itu terasa aneh.Bukan karena ada ancaman, langit yang berubah atau karena ramalan baru muncul dari arsip kuno. Justru sebaliknya, smuanya terlalu tenang.whoosh...Angin musim panas bergerak lambat di antara pepohonan Lunaris. Jangkrik bernyanyi dari balik semak, cahaya bulan menumpahkan warna perak ke seluruh wilayah pack.Sudah hampir dua minggu sejak Elara kembali, dan Aelmon masih mencoba untuk menarik pakaiannya agar lepas dari tubuhnya.Dua minggu tanpa serangan. Tanpa pelarian, hanya pertengkaran kecil.Bahkan Lira dan Asterion berhasil melewati tiga hari penuh tanpa saling melempar sesuatu. Sebuah pencapaian yang membuat Rowan hampir menangis haru.Malam itu sebagian besar anggota pack sedang beristirahat.Para penjaga berjaga seperti biasa. Lyra masih berkutat dengan ramuannya, Sylas melakukan pemeriksaan rutin di wilayah perbatasan.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Elara m
Elara baru menyadari satu hal yang mengganggu. atau mungkin bukan mengganggu. Hanya membuatnya bingung, Aelmon selalu menyentuh pakaiannya.Bukan tangannya, rambutnya, atau wajahnya. Tapi pakaiannya. Awalnya Elara mengira itu kebetulan, namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari polanya.Saat mereka berjalan berdampingan hari ini, jemari Aelmon akan menangkap ujung lengan bajunya.Saat mereka menghadiri rapat, pria itu terkadang memainkan pita yang mengikat rambutnya. Bahkan ketika sedang membaca laporan, tangan besar itu bisa saja tiba-tiba merapikan kerah mantelnya yang sebenarnya sudah rapi.Dan yang paling aneh, Aelmon melakukannya tanpa sadar."Kenapa kau melakukan itu?" tanya Elara mulai risih.Mereka sedang duduk di beranda kastel. Angin musim gugur berembus lembut di antara pepohonan."Hm?" Aelmon mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya."Itu." Elara menunjuk jemari pria itu.
Pagi masih muda ketika Elara memutuskan keluar dari kastel.Sendiri. Bukan karena marah, bukan karena ingin kabur.Ia hanya ingin berjalan.Musim mulai berubah.Embun masih menempel di ujung rumput. Udara pagi membawa aroma pinus yang lembut, hutan Lunaris terlihat damai dari kejauhan.Sudah lama sejak terakhir kali Elara berjalan tanpa diikuti siapa pun. Atau setidaknya—Ia mengira tidak diikuti siapa pun."Aku tahu kau ada di sana." ucapnya tanpa menoleh.Tidak ada jawaban. Semak-semak bergoyang, kemudian muncul sosok besar berambut hitam.Aelmon."Tidak lucu." gumam Elara. Lagi-lagi Aelmon mengawasi seperti seorang penjaga yang setia, menempel seperti lem."Aku tidak sedang bercanda." jawab Alpha itu, ia berjalan di samping Elara. Seolah kehadirannya merupakan sesuatu yang alami."Aku hanya berjalan." kata Elara."Aku tahu.""Lalu kenapa ikut?"Tatapan giok itu turun padanya. "Karena kau berjalan.""...""Itu bukan jawaban.""Itu jawaban yang cukup."Elara memutar mata. Namun diam-
Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, sementara Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya.Lorong penginapan itu sunyi. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit tua, dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas.Kehidupan terus berjalan. N
Elara tidak langsung bergerak. Kerumunan manusia terus mengalir di antara trotoar dan jalan raya, lampu lalu lintas berganti warna. Klakson terdengar dari kejauhan.Namun pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang.Tepat pada sepasang mata giok yang baru saja melihatnya.
Pagi di Lunaris selalu indah dan Elara membencinya.Cahaya bulan abadi menyinari taman-taman perak di luar istana. Bunga-bunga malam bermekaran, air mancur kristal memantulkan kilauan lembut.Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna, seperti kebohongan yang dibangun selama b
Sangkar Bulan, cahaya emas memenuhi langit malam.Simbol di telapak tangan Elara semakin terang. Panas. Menyilaukan. Menyakitkan.Seolah sesuatu sedang memanggilnya dari tempat yang sangat jauh.Dari langit. Dari tahta yang telah kosong selama berabad-abad. Suara agung itu k







