Share

Mine

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-03-03 16:34:37

Selamat berimajinasi.

Dua belas tahun kemudian. Langit Lunaris berwarna senja abadi ketika Aelmon Nightfang berdiri di tepi Danau Noctyra. Permukaannya berkilau biru, memantulkan dua bulan yang menggantung rendah di cakrawala.

Di belakangnya, para anggota pack berlutut.

“Alpha,” ucap Rowan, sang Beta, menunduk hormat. “Dewan Taring menunggu keputusanmu.”

Aelmon tidak menjawab.

Matanya yang teduh, mata yang sama seperti malam itu, terarah pada permukaan air. Di sana, bukan bayangannya yang terlihat, melainkan seorang gadis.

***

Rambutnya tertiup angin sore, wajahnya tertunduk di balik buku-buku tebal. Cahaya matahari dunia manusia menyentuh pipinya.

Elara.

"Hm, kenapa aku merasa panas ya. Seperti ada yang sedang membakarku." keluhnya sebelum ia mengakat kecuali bahunya singkat, kembali pada buku-bukunya.

Pria selalu bisa melihatnya melalui ikatan tipis yang terjalin sejak malam itu.

Aelmon mengepalkan tangannya. “Berapa lama lagi?”

Rowan tahu maksudnya. “Dua belas tahun. Kau sudah menunggu dua belas tahun.”

“Belum cukup.”

Suara Aelmon tenang, tapi auranya membuat udara bergetar. Bayangan di sekitar kakinya bergerak liar, seolah hidup.

Sejak ia naik menjadi Alpha tiga tahun lalu, kekuatannya tak pernah sepenuhnya stabil. Dominasi lunar dalam darahnya terlalu kuat. Tanpa pasangan mate, Alpha biasanya bisa mengendalikannya melalui ritual. Namun Aelmon menolak semua kandidat.

Ia hanya punya satu, seorang manusia.

Dewan Taring menentang, Pack berbisik-bisik. Tapi Aelmon tidak pernah goyah.

“Dia hampir berusia dua puluh dua,” lanjut Rowan hati-hati. “Jika benar dia matemu, ikatan akan bangkit penuh saat purnama ketiga bulan ini.”

Aelmon tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Ia berbalik. Angin senja mengibaskan mantel hitamnya. Tubuhnya tinggi, aura dominasinya membuat bahkan Gamma dan Delta menahan napas.

“Siapkan Gerbang Noctyra.”

Rowan tertegun. “Kau akan pergi sendiri?” tanyanya penasaran.

“Ya.”

“Alpha… dunia manusia bukan tempat kita masuk tanpa alasan. Jika kau memaksanya...,”

“Aku tidak memaksa.”

Jawaban itu cepat. Terlalu cepat, bayangan di tanah bergerak mengikuti detak jantungnya.

Kael berjalan menjauh dari danau. Di setiap langkahnya, tanah Lunaris seolah tunduk.

Ia mengingat malam itu dengan detail yang tak pernah pudar, tangan kecil yang menyentuh lukanya, cahaya hangat yang menenangkan sisi liarnya, dan janji polos yang diucapkan tanpa beban.

Kalau kau manusia, aku akan menikahimu. Bagi Aelmon, itu bukan candaan.

Itu pengakuan.

Selama dua belas tahun, ia mengawasinya dari bayangan. Melihatnya belajar, tertawa, menangis, tumbuh. Ia tahu universitas yang ia pilih. Ia tahu mimpinya menjadi profesor astronomi.

Ia tahu semua. Dan setiap kali Elara tersenyum pada pria lain, sisi serigalanya meraung.

Mine. Kata itu bergema dalam jiwanya

Rowan menyusulnya. “Dan jika dia menolak?” tanya Rowan ragu. Aelmon berhenti.

Pertanyaan itu menggantung seperti kabut dingin.

“Dia tidak akan,” jawabnya akhirnya.

Namun untuk sepersekian detik, hanya sepersekia, keraguan melintas di matanya.

Karena ia tahu satu hal yang pack tidak tahu. Beberapa bulan terakhir, ikatan itu mulai terasa berbeda.

Bukan hanya lunar. Ada sesuatu yang lain.

Hangat, Terang. Seperti cahaya matahari yang mencoba menembus senja Lunaris.

Aelmon menekan dadanya. Rasa panas itu kembali muncul, halus tapi nyata. Setiap kali ia memikirkan Elara, jantungnya berdetak tidak seperti Alpha… melainkan seperti pria biasa.

Ia tidak menyukainya.

Ia menginginkannya.

“Buka gerbangnya malam ini,” perintahnya.

Rowan menunduk. “Baik, Alpha.”

***

Di saat yang sama, jauh di dunia manusia,

Elara berdiri di atap gedung kampusnya, memandangi gerhana bulan yang jarang terjadi.

Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak.

Seolah sesuatu… atau seseorang… sedang mendekat.

Angin berhembus lebih kencang. Langit yang seharusnya bersih tiba-tiba terbelah oleh retakan tipis kehijauan.

Cahaya bulan berubah lebih gelap.

Dan di balik celah itu, Sepasang mata neon menatap lurus ke arahnya.

"Apa itu ...,"

Matanya membelalak, Elara tersentak mundur.

Sebuah suara berat bergema di telinganya, bukan dari luar… tapi dari dalam dirinya.

“Aku datang menagih janji itu, Elara.”

Langit di atasnya pecah.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Ketakutan yang Yidak Bisa Dijelaskan Serigala

    Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Dipilih Hati

    Cahaya Helior perlahan menghilang bersama angin malam. Meninggalkan keheningan yang terasa aneh di antara pepohonan Lunaris.Elara masih berdiri diam. Jantungnya belum tenang, Karena kata-kata terakhir Helior terlalu manusiawi untuk seorang dewa.Aku hanya ingin menjadi rumahmu lebih dulu...Aelmon memperhatikan wajah Elara beberapa detik.Lalu tanpa banyak bicara ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Elara pelan.Gerakan sederhana, namun cukup membuat Elara kembali sadar pada keberadaannya. Berbeda dari cahaya Helior yang terasa terlalu jauh untuk disentuh.“Kau memikirkannya.” Suara Aelmon rendah, Jelas sekali ia tidak menyukai fakta bahwa Helior berhasil meninggalkan sesuatu di pikiran Elara.Elara menunduk sedikit. “Aku cuma…” Ia kesulitan mencari kata yang tepat. Karena apa yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.Aelmon menghela napas pelan. Lalu mendekat, “Tanya saja.”Elara mengangkat kepala perlahan, dan setelah beberapa detik ragu, “Kalau seseorang datang lebih dul

  • Hati liar sang Alpha   Yang Seharusnya Tinggal di Hatinya.

    Malam semakin larut. Namun Elara tidak bisa tidur.Kata-kata Helior terus berputar di kepalanya seperti bisikan yang tidak mau pergi.Semakin dia mencintaimu… semakin mudah dunia ini hancur.Api kecil di perapian kamar Aelon mulai mengecil, meninggalkan cahaya redup keemasan yang bergerak pelan di dinding batu.Di sampingnya, Aelmon akhirnya tertidur.Meski satu tangannya masih melingkar di pinggang Elara seolah bahkan dalam tidur pun pria itu takut dirinya menghilang lagi.Elara menatap wajahnya diam-diam, tenang, lelah dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak. Karena semua orang terus mengatakan bahwa dirinya adalah awal bencana. 'Aku bencana' batin Elara, dadanya terasa nyeri.Namun saat melihat Aelmon seperti ini, Elara justru hanya melihat seseorang yang terlalu tulus mencintainya.Pelan-pelan Elara bergerak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Aelmon, tapi baru satu langkah suara rendah pria it

  • Hati liar sang Alpha   Hal yang Tidak Bisa Dikuasai Alpha

    Lunaris menjadi sunyi.Hanya suara napas berat serigala hitam besar di tengah lembah yang masih terdengar di bawah langit retak.Semua orang diam. Karena tidak ada yang pernah melihat Kael kehilangan kendali sejauh ini sebelumnya.Dan lebih tidak masuk akal lagi, hanya Elara yang bisa menghentikannya.Elara masih berdiri di depan Aelmon, tangannya menyentuh bulu hitam tebal di wajah serigala itu pelan, meski tubuhnya sendiri masih gemetar akibat tekanan aura Alpha yang belum sepenuhnya stabil. Namun perlahan, geraman rendah Aelmon mulai mereda.Mata hijau liar itu tetap menatap Elara. “Bagus…” gumam Asterion pelan dari belakang. “Terus bicara padanya.”Elara menelan ludah kecil. Lalu mengusap bulu Aelmon perlahan. “Ael…” Suaranya lembut, penuh kehati-hatian. Seolah berbicara pada sesuatu yang terluka. “Aku baik-baik saja.”Serigala besar itu bergerak sedikit mendekat. Hidungnya menyentuh bahu Elara pelan. Dan saat itu juga, tekanan mengerikan yang memenuhi seluruh lembah mulai turun

  • Hati liar sang Alpha   Suara dari Balik Langit

    Suara retakan itu terdengar pelan. Namun cukup untuk membuat seluruh Lunaris membeku.Langit di atas mereka bergerak seperti kaca yang dipaksa pecah perlahan. Cahaya pucat di balik retakan menyebar lebih luas, memantulkan warna keemasan aneh ke seluruh lembah.Whoosh...Angin langsung berubah lebih berat, dingin dan semua serigala di wilayah Lunaris secara naluriah mengangkat kepala ke langit takut.Elara refleks menggenggam lengan Elara.Napasnya tercekat saat cahaya dari retakan itu memantul di mata hijau pria di sampingnya.“Ael…”Aelmon langsung menarik Elara mendekat ke sisinya. Tatapannya tidak pernah lepas dari langit.“Asterion!” panggil Rowan dari bawah.Dalam hitungan detik—Seluruh anggota pack mulai memenuhi area utama. Lira membawa serigala ilusi di belakangnya, mata mereka menyala seolah api biru sedang membara. Lyra masih memegang botol ramuan setengah penuh, bahkan beberapa werewolf muda terlihat pucat karena tekanan energi yang turun dari langit.Asterion muncul dari

  • Hati liar sang Alpha   Penjaga yang Seharusnya Tetap Tertidur

    Ruangan itu mendadak terasa sempit. Api di perapian masih menyala, namun kehangatannya tidak lagi terasa sejak kalimat Asterion jatuh di tengah mereka.Sesosok penjaga lama sedang bangun. Tidak ada yang langsung bicara, karena cara Asterion mengatakannya terlalu serius untuk dianggap bercanda.Lira yang pertama memecah keheningan. “Penjaga apa?”Asterion menghembuskan napas pelan. Tatapannya tetap tertuju pada langit di luar jendela. “Makhluk yang diciptakan sebelum pack pertama lahir.”Jawaban itu langsung membuat Rowan mengernyit. “Itu bahkan lebih tua dari para Alpha awal.”“Karena memang lebih tua.”Asterion akhirnya menoleh. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada senyum santai di wajahnya.“Dulu,” ujarnya pelan, “para penguasa langit menciptakan penjaga untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia, dunia serigala, dan alam para dewa.”Elara diam mendengarkan. Sementara Aelmon tetap berdiri di dekatnya, satu tangannya masih menyentuh punggung Elara pelan seolah memastikan gadis i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status