Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Cahaya yang menuntut.

Share

Cahaya yang menuntut.

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-03-06 11:42:06

Selamat membaca.

Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat.

Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata.

Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar.

Elara menatap pria itu takut, bukan padanya tapi pada dunia.

Aelmon tidak melepaskannya.

Ia justru berdiri lebih tegak, aura dominasi lunar menguat. Mantelnya berkibar liar, dan mata hijaunya kini benar-benar menyala.

“Siapa yang berani mengintervensi wilayahku?”

suaranya rendah, tapi mengguncang udara.

Wilayahku.

Padahal mereka masih di dunia manusia. Dari celah emas itu, sosok turun perlahan, ia tidak melangkah seperti Aelmon, Ia melayang.

Rambutnya berwarna keemasan pucat, seperti cahaya yang tidak pernah mengenal malam. Matanya terang, bukan menyala, tapi bersinar konstan seperti matahari yang tak pernah redup.

Pakaiannya bukan kain biasa, melainkan seperti lembaran cahaya yang membentuk jubah panjang.

Elara menahan napas. Ia tidak tahu siapa pria itu.

Tapi kehadirannya membuat lututnya terasa lemas.

“Lepaskan dia,” ulang sosok itu, suaranya bergema di udara dan… di dalam kepala.

Aelmon tersenyum tipis, senyum yang tidak ramah.

“Dan jika aku tidak mau?”

Udara bergetar.

Nama itu turun bersama tekanan yang membuat atap gedung retak halus.

“Eryndor Caelum,” ucapnya datar. “Dan kau berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang bukan milikmu, Alpha.”

Elara membeku.

Alpha? Jadi ini benar. Bukan mimpi.

Bayangan yang melilit kakinya mengencang sedikit, refleks protektif Aelmon.

“Dia matemu?” tanya Eryndor tanpa emosi. “Atau kau hanya mengklaim apa yang tak kau mengerti?”

Kael tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras.

Eryndor mengalihkan pandangannya pada Elara,

untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah. Bukan dingin. Melainkan… lembut.

“Solmira.”

Nama itu menghantam Elara seperti gema dari tempat yang jauh.

Kali ini apa lagi?!

“Aku bukan..., ” suaranya tercekat. Dadanya kembali terasa panas. Lebih kuat dari sebelumnya.

Cahaya keemasan menyembur dari sela jarinya tanpa ia sadari. Hangat, Terang.

Bayangan di kakinya langsung terlepas. Aelmon mundur setengah langkah.

Eryndor menatap cahaya itu dengan sesuatu yang menyerupai kepastian.

“Sudah kubilang,” gumamnya pelan. “Jiwamu akan mengenaliku.”

Mengenalinya, siapa? jiwaku?

“Aku tidak mengenalmu!” Elara berteriak, panik.

Kenangan aneh berkelebat di kepalanya, istana tinggi berkilau, langit emas tanpa awan, dan tangan seseorang yang menggenggam tangannya di balkon cahaya.

Hosh! Hosh! Hosh!

Bukan Aelmon, Tapi pria di depannya. Ia terhuyung.

Aelmon dengan sigap menangkap lengannya sebelum ia jatuh.

Sentuhan itu seperti percikan listrik. Bayangan dan cahaya bertabrakan, ledakan energi kecil mengguncang atap.

Eryndor mengerutkan kening. “Jangan sentuh dia.”

“Dia milikku,” jawab Aelmon dingin. Kata itu membuat sesuatu dalam diri Elara retak.

“Aku bukan milik kalian!” bentaknya.

Namun dua kekuatan di sekelilingnya seolah tidak mendengar.

Eryndor mengulurkan tangan. Cahaya emas memanjang seperti jembatan menuju Elara.

“Dengarkan aku,” katanya lebih lembut. “Kau bukan manusia biasa. Kau adalah reinkarnasi Dewi Matahari. Tempatmu bukan di sisi makhluk bulan.”

Kael tertawa rendah. “Dewa yang kehilangan kekasihnya ribuan tahun lalu sekarang mengklaim manusia fana?” Ia mendekatkan wajahnya pada Elara. “Jangan dengarkan dia."

Elara menatap keduanya, napasnya gemetar.

Satu membawa kegelapan yang terasa familiar.

Satu membawa cahaya yang terasa… seperti rumah yang tidak ia ingat.

“Aku hanya ingin hidup normal!” serunya.

Eryndor dan Kael terdiam.

Lalu, dari dada Elara, cahaya itu meledak lebih terang dari sebelumnya. Langit malam terbelah dua, emas dan hijau keperakan bertabrakan.

Sirene di kejauhan berhenti mendadak. Waktu terasa melambat.

Ini seperti kiamat akan terjadi hari ini. Elara menelan ludah, jantungnya berdetak tak karuan.

Aelnon memeluk Elara secara refleks, melindunginya dari tekanan energi yang memancar dari tubuhnya sendiri.

Eryndor mengangkat tangan, menciptakan perisai cahaya.

Atap gedung retak lebih dalam. Dan di tengah kekacauan itu, suara lain bergema. Bukan milik Kael, Bukan juga milik Eryndor.

Suara perempuan, agung dan berlapis gema ribuan tahun.

“Jangan paksa aku bangkit… sebelum waktunya.”

Cahaya itu tiba-tiba padam. Elara jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Aelmon yang cemas. Keheningan menyusul.

Eryndor menatapnya dengan mata yang kini tak lagi tenang.

Aelmon memeluk tubuh Elara erat, aura gelapnya bergetar protektif.

“Dia belum siap,” gumam Eryndor.

Aelmon mengangkat wajahnya, menatap dewa itu dengan tantangan.

“Aku tidak peduli.”

Retakan di langit mulai menutup. Eryndor perlahan terangkat kembali ke celah emas.

“Tiga purnama,” katanya sebelum menghilang. “Setelah itu, aku akan menjemputnya. Dengan atau tanpa izinmu.”

Langit kembali utuh. Hanya gerhana yang tersisa.

Aelmon menatap wajah pucat Elara di pelukannya. Ia bisa merasakan sesuatu yang berubah.

Ikatan itu bukan lagi hanya lunar.

Dan untuk pertama kalinya, Aelmon Menyadari bahwa ia mungkin tidak hanya harus melawan seorang dewa.

Tapi juga takdir itu sendiri.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Ketakutan yang Yidak Bisa Dijelaskan Serigala

    Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Dipilih Hati

    Cahaya Helior perlahan menghilang bersama angin malam. Meninggalkan keheningan yang terasa aneh di antara pepohonan Lunaris.Elara masih berdiri diam. Jantungnya belum tenang, Karena kata-kata terakhir Helior terlalu manusiawi untuk seorang dewa.Aku hanya ingin menjadi rumahmu lebih dulu...Aelmon memperhatikan wajah Elara beberapa detik.Lalu tanpa banyak bicara ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Elara pelan.Gerakan sederhana, namun cukup membuat Elara kembali sadar pada keberadaannya. Berbeda dari cahaya Helior yang terasa terlalu jauh untuk disentuh.“Kau memikirkannya.” Suara Aelmon rendah, Jelas sekali ia tidak menyukai fakta bahwa Helior berhasil meninggalkan sesuatu di pikiran Elara.Elara menunduk sedikit. “Aku cuma…” Ia kesulitan mencari kata yang tepat. Karena apa yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.Aelmon menghela napas pelan. Lalu mendekat, “Tanya saja.”Elara mengangkat kepala perlahan, dan setelah beberapa detik ragu, “Kalau seseorang datang lebih dul

  • Hati liar sang Alpha   Yang Seharusnya Tinggal di Hatinya.

    Malam semakin larut. Namun Elara tidak bisa tidur.Kata-kata Helior terus berputar di kepalanya seperti bisikan yang tidak mau pergi.Semakin dia mencintaimu… semakin mudah dunia ini hancur.Api kecil di perapian kamar Aelon mulai mengecil, meninggalkan cahaya redup keemasan yang bergerak pelan di dinding batu.Di sampingnya, Aelmon akhirnya tertidur.Meski satu tangannya masih melingkar di pinggang Elara seolah bahkan dalam tidur pun pria itu takut dirinya menghilang lagi.Elara menatap wajahnya diam-diam, tenang, lelah dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak. Karena semua orang terus mengatakan bahwa dirinya adalah awal bencana. 'Aku bencana' batin Elara, dadanya terasa nyeri.Namun saat melihat Aelmon seperti ini, Elara justru hanya melihat seseorang yang terlalu tulus mencintainya.Pelan-pelan Elara bergerak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Aelmon, tapi baru satu langkah suara rendah pria it

  • Hati liar sang Alpha   Hal yang Tidak Bisa Dikuasai Alpha

    Lunaris menjadi sunyi.Hanya suara napas berat serigala hitam besar di tengah lembah yang masih terdengar di bawah langit retak.Semua orang diam. Karena tidak ada yang pernah melihat Kael kehilangan kendali sejauh ini sebelumnya.Dan lebih tidak masuk akal lagi, hanya Elara yang bisa menghentikannya.Elara masih berdiri di depan Aelmon, tangannya menyentuh bulu hitam tebal di wajah serigala itu pelan, meski tubuhnya sendiri masih gemetar akibat tekanan aura Alpha yang belum sepenuhnya stabil. Namun perlahan, geraman rendah Aelmon mulai mereda.Mata hijau liar itu tetap menatap Elara. “Bagus…” gumam Asterion pelan dari belakang. “Terus bicara padanya.”Elara menelan ludah kecil. Lalu mengusap bulu Aelmon perlahan. “Ael…” Suaranya lembut, penuh kehati-hatian. Seolah berbicara pada sesuatu yang terluka. “Aku baik-baik saja.”Serigala besar itu bergerak sedikit mendekat. Hidungnya menyentuh bahu Elara pelan. Dan saat itu juga, tekanan mengerikan yang memenuhi seluruh lembah mulai turun

  • Hati liar sang Alpha   Suara dari Balik Langit

    Suara retakan itu terdengar pelan. Namun cukup untuk membuat seluruh Lunaris membeku.Langit di atas mereka bergerak seperti kaca yang dipaksa pecah perlahan. Cahaya pucat di balik retakan menyebar lebih luas, memantulkan warna keemasan aneh ke seluruh lembah.Whoosh...Angin langsung berubah lebih berat, dingin dan semua serigala di wilayah Lunaris secara naluriah mengangkat kepala ke langit takut.Elara refleks menggenggam lengan Elara.Napasnya tercekat saat cahaya dari retakan itu memantul di mata hijau pria di sampingnya.“Ael…”Aelmon langsung menarik Elara mendekat ke sisinya. Tatapannya tidak pernah lepas dari langit.“Asterion!” panggil Rowan dari bawah.Dalam hitungan detik—Seluruh anggota pack mulai memenuhi area utama. Lira membawa serigala ilusi di belakangnya, mata mereka menyala seolah api biru sedang membara. Lyra masih memegang botol ramuan setengah penuh, bahkan beberapa werewolf muda terlihat pucat karena tekanan energi yang turun dari langit.Asterion muncul dari

  • Hati liar sang Alpha   Penjaga yang Seharusnya Tetap Tertidur

    Ruangan itu mendadak terasa sempit. Api di perapian masih menyala, namun kehangatannya tidak lagi terasa sejak kalimat Asterion jatuh di tengah mereka.Sesosok penjaga lama sedang bangun. Tidak ada yang langsung bicara, karena cara Asterion mengatakannya terlalu serius untuk dianggap bercanda.Lira yang pertama memecah keheningan. “Penjaga apa?”Asterion menghembuskan napas pelan. Tatapannya tetap tertuju pada langit di luar jendela. “Makhluk yang diciptakan sebelum pack pertama lahir.”Jawaban itu langsung membuat Rowan mengernyit. “Itu bahkan lebih tua dari para Alpha awal.”“Karena memang lebih tua.”Asterion akhirnya menoleh. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada senyum santai di wajahnya.“Dulu,” ujarnya pelan, “para penguasa langit menciptakan penjaga untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia, dunia serigala, dan alam para dewa.”Elara diam mendengarkan. Sementara Aelmon tetap berdiri di dekatnya, satu tangannya masih menyentuh punggung Elara pelan seolah memastikan gadis i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status