LOGINSelamat membaca.
Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat. Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata. Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar. Elara menatap pria itu takut, bukan padanya tapi pada dunia. Aelmon tidak melepaskannya. Ia justru berdiri lebih tegak, aura dominasi lunar menguat. Mantelnya berkibar liar, dan mata hijaunya kini benar-benar menyala. “Siapa yang berani mengintervensi wilayahku?” suaranya rendah, tapi mengguncang udara. Wilayahku. Padahal mereka masih di dunia manusia. Dari celah emas itu, sosok turun perlahan, ia tidak melangkah seperti Aelmon, Ia melayang. Rambutnya berwarna keemasan pucat, seperti cahaya yang tidak pernah mengenal malam. Matanya terang, bukan menyala, tapi bersinar konstan seperti matahari yang tak pernah redup. Pakaiannya bukan kain biasa, melainkan seperti lembaran cahaya yang membentuk jubah panjang. Elara menahan napas. Ia tidak tahu siapa pria itu. Tapi kehadirannya membuat lututnya terasa lemas. “Lepaskan dia,” ulang sosok itu, suaranya bergema di udara dan… di dalam kepala. Aelmon tersenyum tipis, senyum yang tidak ramah. “Dan jika aku tidak mau?” Udara bergetar. Nama itu turun bersama tekanan yang membuat atap gedung retak halus. “Eryndor Caelum,” ucapnya datar. “Dan kau berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang bukan milikmu, Alpha.” Elara membeku. Alpha? Jadi ini benar. Bukan mimpi. Bayangan yang melilit kakinya mengencang sedikit, refleks protektif Aelmon. “Dia matemu?” tanya Eryndor tanpa emosi. “Atau kau hanya mengklaim apa yang tak kau mengerti?” Kael tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras. Eryndor mengalihkan pandangannya pada Elara, untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah. Bukan dingin. Melainkan… lembut. “Solmira.” Nama itu menghantam Elara seperti gema dari tempat yang jauh. Kali ini apa lagi?! “Aku bukan..., ” suaranya tercekat. Dadanya kembali terasa panas. Lebih kuat dari sebelumnya. Cahaya keemasan menyembur dari sela jarinya tanpa ia sadari. Hangat, Terang. Bayangan di kakinya langsung terlepas. Aelmon mundur setengah langkah. Eryndor menatap cahaya itu dengan sesuatu yang menyerupai kepastian. “Sudah kubilang,” gumamnya pelan. “Jiwamu akan mengenaliku.” Mengenalinya, siapa? jiwaku? “Aku tidak mengenalmu!” Elara berteriak, panik. Kenangan aneh berkelebat di kepalanya, istana tinggi berkilau, langit emas tanpa awan, dan tangan seseorang yang menggenggam tangannya di balkon cahaya. Hosh! Hosh! Hosh! Bukan Aelmon, Tapi pria di depannya. Ia terhuyung. Aelmon dengan sigap menangkap lengannya sebelum ia jatuh. Sentuhan itu seperti percikan listrik. Bayangan dan cahaya bertabrakan, ledakan energi kecil mengguncang atap. Eryndor mengerutkan kening. “Jangan sentuh dia.” “Dia milikku,” jawab Aelmon dingin. Kata itu membuat sesuatu dalam diri Elara retak. “Aku bukan milik kalian!” bentaknya. Namun dua kekuatan di sekelilingnya seolah tidak mendengar. Eryndor mengulurkan tangan. Cahaya emas memanjang seperti jembatan menuju Elara. “Dengarkan aku,” katanya lebih lembut. “Kau bukan manusia biasa. Kau adalah reinkarnasi Dewi Matahari. Tempatmu bukan di sisi makhluk bulan.” Kael tertawa rendah. “Dewa yang kehilangan kekasihnya ribuan tahun lalu sekarang mengklaim manusia fana?” Ia mendekatkan wajahnya pada Elara. “Jangan dengarkan dia." Elara menatap keduanya, napasnya gemetar. Satu membawa kegelapan yang terasa familiar. Satu membawa cahaya yang terasa… seperti rumah yang tidak ia ingat. “Aku hanya ingin hidup normal!” serunya. Eryndor dan Kael terdiam. Lalu, dari dada Elara, cahaya itu meledak lebih terang dari sebelumnya. Langit malam terbelah dua, emas dan hijau keperakan bertabrakan. Sirene di kejauhan berhenti mendadak. Waktu terasa melambat. Ini seperti kiamat akan terjadi hari ini. Elara menelan ludah, jantungnya berdetak tak karuan. Aelnon memeluk Elara secara refleks, melindunginya dari tekanan energi yang memancar dari tubuhnya sendiri. Eryndor mengangkat tangan, menciptakan perisai cahaya. Atap gedung retak lebih dalam. Dan di tengah kekacauan itu, suara lain bergema. Bukan milik Kael, Bukan juga milik Eryndor. Suara perempuan, agung dan berlapis gema ribuan tahun. “Jangan paksa aku bangkit… sebelum waktunya.” Cahaya itu tiba-tiba padam. Elara jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Aelmon yang cemas. Keheningan menyusul. Eryndor menatapnya dengan mata yang kini tak lagi tenang. Aelmon memeluk tubuh Elara erat, aura gelapnya bergetar protektif. “Dia belum siap,” gumam Eryndor. Aelmon mengangkat wajahnya, menatap dewa itu dengan tantangan. “Aku tidak peduli.” Retakan di langit mulai menutup. Eryndor perlahan terangkat kembali ke celah emas. “Tiga purnama,” katanya sebelum menghilang. “Setelah itu, aku akan menjemputnya. Dengan atau tanpa izinmu.” Langit kembali utuh. Hanya gerhana yang tersisa. Aelmon menatap wajah pucat Elara di pelukannya. Ia bisa merasakan sesuatu yang berubah. Ikatan itu bukan lagi hanya lunar. Dan untuk pertama kalinya, Aelmon Menyadari bahwa ia mungkin tidak hanya harus melawan seorang dewa. Tapi juga takdir itu sendiri. Bersambung....Pagi di Lunaris biasanya tidak pernah benar-benar sunyi.Selalu ada suara penjaga yang berganti giliran.Suara pedang latihan yang beradu atau Asterion yang berteriak entah kepada siapa sejak matahari belum sepenuhnya terbit.Namun pagi itu berbeda. Elara terbangun karena keheningan, bukan suara atau mimpi buruk. Melainkan ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada.Ia membuka mata perlahan. Cahaya keemasan menyelinap melalui tirai, udara terasa sejuk. Lalu ia menyadari sesuatu.Aelmon tidak ada.Biasanya pria itu sudah duduk di dekat jendela membaca laporan, atau berdiri memandangi halaman sambil berpura-pura tidak mengawasinya.Hari ini tidak. Tempat itu kosong...Elara duduk perlahan. Jemarinya menyentuh seprai yang masih menyimpan sedikit kehangatan. Artinya Aelmon baru pergi belum lama. Ia menghela napas, kemudian bangkit.Beberapa menit kemudian. Ia menemukan jawabannya, di halaman belakang Aelmon sedang berlatih.Dentang...Clang!Pedang kayu bertabrakan. Sylas melompat mundur, "Be
Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang daripada yang diperkirakan.Tidak ada portal yang meledak.Tidak ada Asterion yang tertinggal.Tidak ada Lira yang mencoba mendorong seseorang ke dalam portal karena kesal.Sebuah kemajuan besar. "Tolong catat tanggal ini." gumam Rowan."Aku sedang mencatatnya." sahut Sylas."Kalian berdua menyebalkan." komentar Lira, memutar bola matanya kesal.Asterion mengangguk setuju. Meski tidak benar-benar tahu bagian mana yang sedang dibahas, Elara hanya tersenyum kecil. Suara-suara itu terasa akrab, hangat seperti suara rumah yang sempat hilang lalu ditemukan kembali.Akan tetapi perasaan itu tidak bertahan lama. Begitu mereka keluar dari portal, semua orang langsung terdiam.Langit Lunaris berubah.Bukan perubahan besar yang bisa dilihat dari jauh, justru sebaliknya.Perubahan kecil yang membuat bulu kuduk berdiri. Langit tampak lebih pucat, cahaya matahari masih a
Mereka tidak langsung kembali ke Lunaris malam itu.Setelah dua belas hari pencarian, perjalanan pulang terasa lebih masuk akal dilakukan keesokan harinya.Setidaknya itu alasan yang disampaikan Rowan saat menerima pesan dari Aelmon.Alasan yang sangat masuk akal. Dan sepenuhnya diabaikan oleh anggota pack lainnya."Apa maksudmu mereka ditemukan?" teriak Lira.Rowan memijat pelipis. "Maksudnya sesuai arti katanya.""Di mana?""Penginapan.""Penginapan mana?""Kenapa kau bertanya seolah akan mendatangi mereka sekarang juga?"Lira tidak menjawab. Itu sudah cukup menjawab pertanyaan Rowan.Di sudut ruangan, Asterion langsung berdiri. "Kita berangkat.""Tidak." tahan Rowan."Kenapa?""Karena aku masih ingin hidup."Asterion membuka mulut. Lalu menutupnya lagi, ia tidak bisa membantah logika itu.Sementara itu, Sylas yang sedang membaca laporan hanya
Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, sementara Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya.Lorong penginapan itu sunyi. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit tua, dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas.Kehidupan terus berjalan. Namun bagi mereka berdua, waktu seolah berhenti sesaat.Aelmon memperhatikan wajah Elara memastikan. Benar-benar memastikan, bahwa perempuan itu ada di hadapannya bukan ilusi.Bukan aroma sisa yang tertinggal di jalanan, atau harapan kosong yang terus mempermainkannya selama berhari-hari.Elara terlihat sehat. Sedikit lebih kurus, wajahnya lebih pucat, tapi untungnya ia sehat.Ketegangan yang selama ini mencengkeram dadanya perlahan mengendur. Tidak sepenuhnya, cukup untuk membuatnya kembali bernapas dengan normal."Aku marah." ucap Aelmon akhirnya.Elara berkedip. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.Ya. Ini lebih masuk akal...
Elara tidak langsung bergerak. Kerumunan manusia terus mengalir di antara trotoar dan jalan raya, lampu lalu lintas berganti warna. Klakson terdengar dari kejauhan.Namun pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang.Tepat pada sepasang mata giok yang baru saja melihatnya.Ia ditemukan. Bukan mungkin, bukan hampir, bukan dugaan. Ditemukan.Deg... deg...Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak takut, tapi perasaan itu sudah berubah sejak beberapa hari lalu. Kini yang muncul justru sesuatu yang lebih rumit, rasa bersalah, kerinduan dan sedikit kepanikan.Karena setelah semua waktu yang ia habiskan untuk menghindar, Apa yang harus ia katakan saat bertemu nanti?"Bagus." Suara Kaelum muncul dari belakang.Elara bahkan tidak terkejut lagi. "Kau benar-benar menyeramkan." gumamnya."Aku menganggap itu pujian."Elara menghela napas. Lalu menoleh, Raja bayangan itu berdiri santai di dekat pagar
Pagi datang bersama langit kelabu, bukan hujan. Hanya awan tipis yang menggantung rendah di atas kota.Udara terasa sejuk, dan jalanan mulai dipenuhi manusia yang berangkat bekerja.Elara keluar lebih awal hari itu. Ia sudah memutuskan sesuatu semalam, belum sepenuhnya, belum cukup berani untuk mengatakannya keras-keras.Namun setidaknya, Ia tidak lagi ingin bersembunyi. Bukan berarti ia akan langsung kembali ke Lunaris.Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.Masih ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.Namun berlari terus-menerus juga melelahkan.Tap... tap...Langkahnya membawanya menuju pasar tua yang berada di dekat sungai.Tempat itu ramai. Suara pedagang saling bersahutan, aroma kopi, roti, dan makanan hangat bercampur memenuhi udara.Elara menyukai tempat seperti itu. Karena tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang memanggilnya Luna. Tidak ada yang melihatnya sebagai dewi, ia hany







