MasukElara mulai membenci pagi. Karena setiap kali membuka mata, Aelmon masih ada. Masih mengawasi dan menunggunya.
Mengejarnya dengan kesabaran yang perlahan terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.Pagi itu langit diselimuti awan tipis. Elara mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dan mantel abu-abu yang menutupi tubuhnya dari udara dingin.Ia sengaja keluar lebih awal. Berharap bisa berjalan sendirian, tanpa bayangan Alpha itu.Namun saat melewati etalElara mulai membenci pagi. Karena setiap kali membuka mata, Aelmon masih ada. Masih mengawasi dan menunggunya.Mengejarnya dengan kesabaran yang perlahan terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.Pagi itu langit diselimuti awan tipis. Elara mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dan mantel abu-abu yang menutupi tubuhnya dari udara dingin.Ia sengaja keluar lebih awal. Berharap bisa berjalan sendirian, tanpa bayangan Alpha itu.Namun saat melewati etalase sebuah toko.Pantulan kaca memperlihatkan sosok tinggi berpakaian hitam yang berjalan beberapa meter di belakangnya.Aelmon.Lagi. Elara langsung berbalik, dan langsung protes "Kau tidak lelah?""Tidak.""Kau tidak punya harga diri?""Tidak jika itu menyangkutmu."Jawaban itu membuat Elara kehilangan kata-kata selama beberapa detik.Pria ini benar-benar tidak waras. Dulu ia menganggap Aelmon romantis, sekarang ia mulai m
Pagi datang bersama langit kelabu.Elara hampir tidak tidur.Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat darah di tangan Aelmon.Kemudian mengingat senyuman pria itu. Lalu mengingat pelukannya, kemudian kembali mengingat kebohongannya.Semuanya bercampur menjadi satu. Menyakitkan dan sangat menyakitkan.Saat membuka pintu kamar penginapan, Elara berniat mencari udara segar.Tap... tap...Namun langkahnya langsung terhenti. Aelmon duduk di lantai koridor, masih mengenakan pakaian yang sama.Masih berada di tempat yang sama, seolah tidak bergerak semalaman.Mata Zambrud itu terangkat.Menemukan dirinya dan sesuatu yang aneh bergetar di dalam dada Elara.Deg!Karena pria itu tampak lelah, Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya."Apa yang kau lakukan?"Aelmon berdiri. "Aku menjagamu.""Kau duduk di sini semalaman?""Ya."El
Malam semakin larut.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang pergi.Elara masih berdiri di bawah cahaya lampu taman. Sedangkan Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya, keras kepala, menyebalkan dan sangat tidak tahu malu."Aku akan menghitung sampai tiga." Elara menyilangkan kedua tangan."Pulang.""Tidak.""Satu.""Tidak.""Dua.""Tidak."Elara mengembuskan napas panjang.Kemudian menunjuk jalan di belakang pria itu. "Tiga. Pergi." usirnya.Aelmon bahkan tidak bergeming. Seolah mendengar ancaman anak kecil, mata gioknya itu justru terus mengawasinya. Memastikan Elara tidak menghilang lagi dan itu membuat Elara semakin kesal."Apa yang sebenarnya kau inginkan?"Aelmon menjawab tanpa ragu. "Kamu."Elara hampir tersedak oleh udara. "Wanita lain mungkin akan tersipu mendengar itu.""Aku tidak sedang berbicara dengan wanita lain."
"Elara."Namanya terdengar sekali lagi, pelan. Namun cukup untuk membuat dadanya sesak.Lampu-lampu taman memantulkan cahaya keemasan di jalanan yang basah. Udara malam terasa dingin, tetapi tidak sedingin tatapan yang kini diberikan Elara kepada pria yang berdiri di ujung jalan.Aelmon.Suaminya. Pembohong terbesar dalam hidupnya, untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.Bahkan suara kendaraan yang melintas terasa sangat jauh.Elara menggenggam kedua tangannya erat. Berusaha menahan dirinya agar tidak menangis lagi, ia sudah terlalu banyak menangis sejak kemarin.Sementara itu, Aelmon berdiri tanpa bergerak. Mantel hitam panjangnya berkibar diterpa angin, wajah tampannya tampak lebih pucat dari biasanya.Seolah beberapa hari terakhir tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.Dan entah mengapa...Melihat keadaan pria itu justru membuat Elara semakin marah.Karen
Mata biru milik serigala bayangan itu menyala di tengah kegelapan.Elara langsung berdiri.Deg! Jantungnya berdetak keras. Bukan karena takut, tetapi karena ia tahu siapa yang mengirim makhluk itu.Aelmon.Tentu saja Aelmon. Siapa lagi? Bahkan setelah semuanya terbongkar, pria itu masih terus mengejarnya. Masih terus mencarinya, seolah Elara tidak berhak pergi. Seolah ia tidak berhak marah, seolah ia tidak berhak merasa dikhianati."Aku tidak akan kembali." Bisikan itu keluar begitu saja. Lebih untuk dirinya sendiri.Di sampingnya, pria berambut emas itu memperhatikan tanpa bicara. Tatapan keemasannya tampak rumit, seakan sedang menyaksikan sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya.Tap... tap... tap...Serigala bayangan itu mendekat, kemudian berhenti. Makhluk itu tidak menyerang, tidak menggeram, tidak pula menunjukkan taringnya.Ia hanya duduk. Lalu perlahan menundukkan kepal, seakan memohon.
Lampu-lampu kota berpendar di tengah malam, Elara berjalan tanpa tujuan. Langkahnya sudah tidak teratur. Kakinya sakit, kepalanya berdenyut."Rasanya sangat Familiar."Namun rasa sakit itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang sedang menghancurkan hatinya.Hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil membasahi rambutnya. Gaun krem yang dikenakannya ikut basah oleh air dan lumpur, orang-orang berlalu lalang di trotoar.Mobil melintas, Suara klakson bersahutan, dunia tetap berjalan seperti biasa. Seolah hidupnya tidak baru saja runtuh.'Haha...' Elara tertawa pelan. "Aku benar-benar bodoh..."Air mata kembali jatuh. Ia mengusapnya dengan kasar, Namun semakin dihapus, semakin banyak yang keluar.Hiks...Kenangan tentang Aelmon terus muncul. Terlalu banyak, dan sangat menyakitkan.Membayangkan pria itu selalu ada. Saat ia sakit, saat ia menangis, saat ia mengalami mimpi buruk, saat ia ketakutan







