MasukPagi di Lunaris biasanya tidak pernah benar-benar sunyi.Selalu ada suara penjaga yang berganti giliran.Suara pedang latihan yang beradu atau Asterion yang berteriak entah kepada siapa sejak matahari belum sepenuhnya terbit.Namun pagi itu berbeda. Elara terbangun karena keheningan, bukan suara atau mimpi buruk. Melainkan ketiadaan sesuatu yang seharusnya ada.Ia membuka mata perlahan. Cahaya keemasan menyelinap melalui tirai, udara terasa sejuk. Lalu ia menyadari sesuatu.Aelmon tidak ada.Biasanya pria itu sudah duduk di dekat jendela membaca laporan, atau berdiri memandangi halaman sambil berpura-pura tidak mengawasinya.Hari ini tidak. Tempat itu kosong...Elara duduk perlahan. Jemarinya menyentuh seprai yang masih menyimpan sedikit kehangatan. Artinya Aelmon baru pergi belum lama. Ia menghela napas, kemudian bangkit.Beberapa menit kemudian. Ia menemukan jawabannya, di halaman belakang Aelmon sedang berlatih.Dentang...Clang!Pedang kayu bertabrakan. Sylas melompat mundur, "Be
Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang daripada yang diperkirakan.Tidak ada portal yang meledak.Tidak ada Asterion yang tertinggal.Tidak ada Lira yang mencoba mendorong seseorang ke dalam portal karena kesal.Sebuah kemajuan besar. "Tolong catat tanggal ini." gumam Rowan."Aku sedang mencatatnya." sahut Sylas."Kalian berdua menyebalkan." komentar Lira, memutar bola matanya kesal.Asterion mengangguk setuju. Meski tidak benar-benar tahu bagian mana yang sedang dibahas, Elara hanya tersenyum kecil. Suara-suara itu terasa akrab, hangat seperti suara rumah yang sempat hilang lalu ditemukan kembali.Akan tetapi perasaan itu tidak bertahan lama. Begitu mereka keluar dari portal, semua orang langsung terdiam.Langit Lunaris berubah.Bukan perubahan besar yang bisa dilihat dari jauh, justru sebaliknya.Perubahan kecil yang membuat bulu kuduk berdiri. Langit tampak lebih pucat, cahaya matahari masih a
Mereka tidak langsung kembali ke Lunaris malam itu.Setelah dua belas hari pencarian, perjalanan pulang terasa lebih masuk akal dilakukan keesokan harinya.Setidaknya itu alasan yang disampaikan Rowan saat menerima pesan dari Aelmon.Alasan yang sangat masuk akal. Dan sepenuhnya diabaikan oleh anggota pack lainnya."Apa maksudmu mereka ditemukan?" teriak Lira.Rowan memijat pelipis. "Maksudnya sesuai arti katanya.""Di mana?""Penginapan.""Penginapan mana?""Kenapa kau bertanya seolah akan mendatangi mereka sekarang juga?"Lira tidak menjawab. Itu sudah cukup menjawab pertanyaan Rowan.Di sudut ruangan, Asterion langsung berdiri. "Kita berangkat.""Tidak." tahan Rowan."Kenapa?""Karena aku masih ingin hidup."Asterion membuka mulut. Lalu menutupnya lagi, ia tidak bisa membantah logika itu.Sementara itu, Sylas yang sedang membaca laporan hanya
Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, sementara Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya.Lorong penginapan itu sunyi. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit tua, dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas.Kehidupan terus berjalan. Namun bagi mereka berdua, waktu seolah berhenti sesaat.Aelmon memperhatikan wajah Elara memastikan. Benar-benar memastikan, bahwa perempuan itu ada di hadapannya bukan ilusi.Bukan aroma sisa yang tertinggal di jalanan, atau harapan kosong yang terus mempermainkannya selama berhari-hari.Elara terlihat sehat. Sedikit lebih kurus, wajahnya lebih pucat, tapi untungnya ia sehat.Ketegangan yang selama ini mencengkeram dadanya perlahan mengendur. Tidak sepenuhnya, cukup untuk membuatnya kembali bernapas dengan normal."Aku marah." ucap Aelmon akhirnya.Elara berkedip. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.Ya. Ini lebih masuk akal...
Elara tidak langsung bergerak. Kerumunan manusia terus mengalir di antara trotoar dan jalan raya, lampu lalu lintas berganti warna. Klakson terdengar dari kejauhan.Namun pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang.Tepat pada sepasang mata giok yang baru saja melihatnya.Ia ditemukan. Bukan mungkin, bukan hampir, bukan dugaan. Ditemukan.Deg... deg...Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak takut, tapi perasaan itu sudah berubah sejak beberapa hari lalu. Kini yang muncul justru sesuatu yang lebih rumit, rasa bersalah, kerinduan dan sedikit kepanikan.Karena setelah semua waktu yang ia habiskan untuk menghindar, Apa yang harus ia katakan saat bertemu nanti?"Bagus." Suara Kaelum muncul dari belakang.Elara bahkan tidak terkejut lagi. "Kau benar-benar menyeramkan." gumamnya."Aku menganggap itu pujian."Elara menghela napas. Lalu menoleh, Raja bayangan itu berdiri santai di dekat pagar
Pagi datang bersama langit kelabu, bukan hujan. Hanya awan tipis yang menggantung rendah di atas kota.Udara terasa sejuk, dan jalanan mulai dipenuhi manusia yang berangkat bekerja.Elara keluar lebih awal hari itu. Ia sudah memutuskan sesuatu semalam, belum sepenuhnya, belum cukup berani untuk mengatakannya keras-keras.Namun setidaknya, Ia tidak lagi ingin bersembunyi. Bukan berarti ia akan langsung kembali ke Lunaris.Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.Masih ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.Namun berlari terus-menerus juga melelahkan.Tap... tap...Langkahnya membawanya menuju pasar tua yang berada di dekat sungai.Tempat itu ramai. Suara pedagang saling bersahutan, aroma kopi, roti, dan makanan hangat bercampur memenuhi udara.Elara menyukai tempat seperti itu. Karena tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang memanggilnya Luna. Tidak ada yang melihatnya sebagai dewi, ia hany







