LOGINDuum...Suara akar yang saling bertaut mengguncang tanah.Gerbang hidup itu perlahan membuka, memperlihatkan lorong gelap yang dipenuhi akar-akar berwarna hitam keperakan. Di sepanjang dindingnya, ribuan benang merah membentang dari satu sisi ke sisi lain, berdenyut pelan seperti urat nadi.Elara menghentikan langkahnya.Benang-benang itu... Bukan benda mati, mereka bernapas."Hati-hati." cemas Rowan, dia mengambil sikap waspada."Jangan menyentuh apa pun."Aelmon mengangguk pelan, tetapi matanya masih tertuju pada tangan Elara yang berada dalam genggamannya.Ia mengusap pelan punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya.Gerakan kecil. Nyaris tidak terasa, namun berhasil membuat Elara menoleh. "Ada apa?"Aelmon menggeleng. "Hanya memastikan.""Memastikan apa?""Kau masih di sampingku."Elara tersenyum kecil. "Aku tidak ke mana-mana! mengapa kau selalu mengatakan hal
Api biru di dalam lentera bergoyang perlahan.Tidak ada angin.Namun setiap nyalanya bergerak mengikuti langkah mereka, seolah hutan itu sedang mengawasi setiap napas yang mereka ambil.Perempuan tua berjubah hijau telah menghilang.Yang tersisa hanyalah lorong akar yang memanjang tanpa ujung.Rowan mengamati sekitar. "Aneh.""Tidak ada jebakan."Aelmon justru mendengus pelan."Itu berarti jebakannya belum dimulai."Elara mengangguk setuju. Jemarinya masih bertaut dengan tangan Alpha itu. Hangat yang mengalir dari telapak tangan Aelmon sedikit mengurangi dingin yang merayapi tubuhnya.Beberapa langkah kemudian...Tap... tap...Sepatu Elara menginjak akar pohon yang licin.Tubuhnya oleng.Belum sempat ia kehilangan keseimbangan, sebuah lengan sudah lebih dulu melingkari pinggangnya."Aku dapat."Suara Aelmon terdengar begitu dekat.E
Cahaya emas perlahan memudar.Ruangan kembali sunyi.Namun kesunyian itu terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.Di hadapan mereka... Tiga sosok berdiri tanpa bergerak, tidak ada aura membunuh, tidak ada permusuhan. Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih menyesakkan.Kemungkinan.Kemungkinan hidup yang tidak pernah mereka jalani.Elara menatap sosok dirinya sendiri.Rambut emas panjang tergerai hingga menyentuh lantai. Mahkota Matahari bertengger di atas kepalanya. Jubah putih keemasan menjuntai anggun, sementara di belakang punggungnya berputar dua belas lingkaran cahaya.Tidak ada luka, tidak ada air mata, tidak ada cincin pernikahan. Tatapannya tenang, namun kosong.Begitu kosong hingga membuat dada Elara sendiri terasa nyeri.Di sisi lain...Aelmon membeku. Di hadapannya berdiri Alpha lain, masih berambut hitam, masih bermata hijau, akan tetapi sorot matanya begitu dingin.
Klang...Rantai-rantai hitam bergesekan perlahan.Suaranya panjang, berat, seolah berasal dari dasar dunia.Gerbang Kelima terbuka sedikit demi sedikit.Udara hangat yang mereka rasakan di Gerbang Keempat menghilang. Digantikan aroma tanah basah, dedaunan yang membusuk, dan embun yang terasa dingin saat menyentuh kulit.Di balik gerbang itu terbentang sebuah hutan.Sunyi.Pohon-pohonnya menjulang tinggi tanpa daun. Akar-akar raksasa mencengkeram tanah seperti jemari yang enggan melepaskan sesuatu.Tidak ada burung atau serangga. Hanya, suara napas mereka bertiga.Elara mengangkat ujung gaunnya sedikit agar tidak terseret lumpur. Gaun dewi yang semula bersih kini dipenuhi bercak tanah dan sobekan halus di bagian bawah. Rambut emasnya yang biasanya rapi mulai tergerai diterpa angin.Aelmon memperhatikannya beberapa saat.Tanpa berkata apa pun, ia berlutut.Elara berkedip.
Lorong batu itu lembap.Setiap tetes air yang jatuh dari langit-langit gua memantulkan cahaya keemasan yang samar.Tik...Tik...Tik...Suara itu menjadi irama perjalanan mereka.Tidak ada seorang pun yang terburu-buru.Setelah percakapan di depan gerbang, langkah Aelmon berubah.Ia masih menggenggam tangan Elara, tetapi tidak lagi sekuat sebelumnya.Bukan karena ingin melepaskan, melainkan karena ia mulai belajar. Belajar bahwa cinta bukan hanya tentang menggenggam erat, terkadang... ia juga harus memberi ruang agar orang yang dicintainya tetap dapat bernapas.Elara menyadari perubahan kecil itu.Perubahan yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.Ia melirik jemari mereka. Masih saling bertaut, namun kini terasa jauh lebih nyaman.Tanpa sadar, Elara justru menyelipkan jemarinya lebih dalam di sela jari Aelmon.Alpha itu menoleh. "Kenapa?"Ela
tap... tap... tap...Suara langkah itu tidak tergesa.Namun setiap pijakannya membuat pasir keemasan yang berhamburan di lantai perlahan melayang kembali ke udara.Ruangan menjadi sunyi.Bahkan tetesan air dari langit-langit gua ikut berhenti.Waktu...Seakan menundukkan kepalanya kepada seseorang.Kabut emas perlahan menyingkir.Seorang wanita muncul dari balik retakan jam pasir.Gaunnya panjang berwarna hitam keperakan, dihiasi benang-benang emas yang menyerupai gugusan bintang. Rambutnya terurai hingga menyentuh lantai, berwarna putih pucat dengan kilau kebiruan di ujungnya. Sebuah mahkota tipis dari ranting emas melingkar di kepalanya.Yang paling mencolok adalah matanya.Satu berwarna emas.Satunya lagi hitam pekat.Seolah siang dan malam dipaksa hidup dalam satu tubuh.Elara membeku."...Kau."Wanita itu tersenyum.Sudut
Selamat membaca.Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat.Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata.Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar.Elara menatap pria itu takut
Selamat membaca.Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap.Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Ger
Selamat berimajinasi.Dua belas tahun kemudian. Langit Lunaris berwarna senja abadi ketika Aelmon Nightfang berdiri di tepi Danau Noctyra. Permukaannya berkilau biru, memantulkan dua bulan yang menggantung rendah di cakrawala.Di belakangnya, para anggota pack berlutut.“Alpha,” ucap Rowan, sang Be
Selamat berimajinasi.Darah menetes ke tanah yang membeku.Elara tidak tahu kenapa ia berlari menuju suara geraman itu. Kakinya basah oleh lumpur, napasnya terengah, dan hutan di belakang rumahnya terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan menggantung besar di langit, seolah mengawasi setiap langkahny







