Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Retakan yang tersisa.

Share

Retakan yang tersisa.

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-04-13 15:26:24

Selamat membaca.

Dimensi itu mulai runtuh, bukan karena serangan atau karena kehancuran. Tapi karena tugasnya, selesai.

Cahaya putih yang tadi menopang semuanya perlahan memudar. Ruang kosong di sekitar mereka retak halus, seperti kaca yang kehilangan penopangnya.

Elara masih berada dalam pelukan Aelmon. Hangat nan Nyata.

Namun tubuhnya, tidak lagi kuat. “Ael…” suaranya nyaris tak terdengar.

Ia langsung menunduk. “Aku di sini.”

Matanya tidak lagi liar. Tidak lagi penuh amarah. Hanya, khawatir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Alasan yang Pernah Membuatnya Membenci

    Keesokan harinya, Elara benar-benar tidak keluar selama seharian karena ulah Aelmon. Seharian ia hanya menatap cermin dengan bekas gigitan pria itu di lehernya, belum lagi bibirnya yang sedikit terluka.Hingga sore tiba, Langit masih menyimpan retakan yang sama, namun cahaya keemasannya jatuh lebih hangat di tanah Lunaris. Angin bergerak pelan, tidak lagi membawa tekanan, hanya sisa dingin yang mulai terbiasa.Elara duduk di atas batu datar. Tangannya masih berada dalam genggaman Aelmon. Jari mereka saling bertaut, tidak lagi canggung, tidak lagi ragu. Sesekali ibu jari Aelmon bergerak pelan di punggung tangan Elara, gerakan kecil, namun cukup untuk membuat Elara sadar… ia tidak sendirian.Kenapa dia diajak keluar?Ia melirik Aelmon. “Kalau kau terus menatapnya seperti itu, dia bisa salah paham.”Suara Lira datang dari belakang.Lunae menoleh sedangkan Aelmon tidak. Namun rahangnya sedikit mengeras.Lira berdiri beberapa langkah dari mereka, tangan disilangkan, ekspresinya seperti bi

  • Hati liar sang Alpha   Cara Sederhana untuk Tetap Tinggal

    Sinar senja jatuh hangat di sela dedaunan, seperti mencoba menyentuh tanah dengan hati-hati. Angin berhembus pelan, membawa aroma kayu dan tanah.Elara duduk di dekat api kecil yang hampir padam.Selimut tipis masih melingkari bahunya, rambutnya jatuh sedikit berantakan di sisi wajah. Ia memegang cangkir logam di tangannya, ramuan dari Lyra.Ia menatapnya lama.Sangat lama. Seolah berharap cairan pahit itu berubah menjadi sesuatu yang lebih bersahabat.“Kalau kau menatapnya lebih lama lagi, rasanya tidak akan berubah.”Suara Aelmon datang dari belakang. Tenang.Namun ada nada halus yang hampir seperti menggoda.Elara menoleh. “Siapa tahu,” gumamnya. “Mungkin dia akan merasa kasihan.”Aelmon mendekat. Langkahnya tidak terburu. Ia berhenti di depan Elara, lalu duduk di batu kecil di hadapannya. Cukup dekat.“Lyra tidak membuat ramuan dengan perasaan kasihan,” terangnya.Elara mendengus pelan. “Aku tahu.”Ia kembali menatap cangkir itu. Lalu ia mendorongnya sedikit ke arah Aelmon.“Kau s

  • Hati liar sang Alpha   Jarak yang Sengaja Dipendekkan

    Keesokan harinya, Pagi datang dengan cahaya yang lebih hangat.Retakan di langit masih ada, membentang tipis seperti garis halus yang belum benar-benar sembuh.Namun kali ini, sinar matahari menembusnya dengan lebih lembut. Tidak lagi terasa asing, tidak lagi menusuk. Seolah dunia… sedang mencoba menenangkan diri.Elara berjalan pelan di antara pepohonan. Langkahnya masih hati-hati, namun tidak lagi rapuh. Udara pagi menyentuh kulitnya, membawa rasa segar yang perlahan menggantikan sisa lelah di tubuhnya.Ia tidak sendirian.Aelmon berjalan di sampingnya dengan jarak yang tak lagi ada.Sesekali, tangan mereka bersentuhan ringan, jelas tidak disengaja, namun juga tidak dihindari.Dan setiap kali itu terjadi, Elara merasakannya. Kehangatan yang tidak pernah ia sangka akan menjadi Aelmon. “Kau terlihat lebih baik,” ujar Aelmon, dengan nada suara pelan dan senang, Matanya tidak lepas dari Elara.“Mungkin,” jawab Elara pelan. “Atau aku hanya berpura-pura kuat.”Aelmon mengangkat alis se

  • Hati liar sang Alpha   Di Antara Nafas dan Jarak

    Langit pagi itu masih retak.Namun tidak menekan.Cahaya turun perlahan, menyelinap di sela-sela garis tipis yang membelah langit seperti luka lama yang mulai belajar sembuh. Udara dingin, tapi lembut. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dan kayu.Elara terbangun dalam diam. Tubuhnya masih lemah, namun tidak lagi sesakit kemarin. Selimut tipis menutup sebagian tubuhnya, dan untuk beberapa detik… ia hanya berbaring, mendengarkan napasnya sendiri.Tenang, lebih teratur. Namun ada sesuatu yang ia sadari lebih dulu dari apa pun—Kehadiran.Ia menoleh. Aelmon ada di sana.Duduk di sampingnya, bersandar ringan, satu tangan bertumpu di lutut. Matanya tidak tertutup. Ia tidak tidur.Seperti biasa.Menjaga Elara, ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatapnya. Dan untuk sesaat, dunia terasa… pelan.“Kau menatapku terlalu lama.”Suara Aelmon rendah. Namun tidak dingin, Elara menghela napas kecil.“Karena kau tidak tidur.”“Sudah terbiasa.”Elara mengerutkan kening sedikit. “Bukan itu

  • Hati liar sang Alpha   Pagi yang Terlalu Berat

    Pagi itu tidak datang dengan tenang. Langit masih sama—retak, pucat, tidak sepenuhnya pulih. Namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan tekanan seperti sebelumnya… melainkan rasa tidak nyaman yang halus, seperti firasat yang tidak bisa dijelaskan.Di dalam tenda, Elara terbangun dengan napas yang berat.Tubuhnya panas, namun kulitnya dingin. Keringat menempel di pelipisnya, rambutnya sedikit basah, dan setiap tarikan napas terasa seperti sesuatu menekan dari dalam dadanya.Ia mencoba bangun. Namun tubuhnya langsung melemah.Tangannya gemetar saat menahan berat badannya sendiri.“Ael…”Suaranya hampir tidak terdengar.Aelmon yang sejak tadi tidak benar-benar tidur langsung bergerak.Ia sudah bangun sebelum Elara membuka mata, nalurinya tidak membiarkannya lengah sejak semalam.“Apa yang sakit hmmm.”Ia sudah di sampingnya dalam hitungan detik. Tangannya menyentuh dahi Elara.Panas.Rahangnya mengeras. “Lyra,” panggilnya tegas. Tidak keras.Cukup untuk membuat orang di luar langsung

  • Hati liar sang Alpha   Garis yang Tidak Terucap

    "Tidak cukup!" Pikir Lira.***Malam turun lebih cepat dari biasanya. Langit masih retak, namun bintang-bintang tetap muncul di sela-selanya—seolah dunia berusaha terlihat normal, meski tidak benar-benar utuh. Api unggun menyala lebih besar malam itu, mungkin tanpa disadari… sebagai cara mengusir dingin yang terasa berbeda.Elara duduk sedikit menjauh, bukan karena ingin sendiri. Namun karena pikirannya terlalu penuh.Keputusan pagi tadi masih terngiang—tentang tanda, tentang ikatan, tentang sesuatu yang seharusnya berarti… tapi terasa salah jika dipaksakan.Ia menarik napas pelan. Namun tetap tidak terasa cukup.Di sisi lain, Lyra berdiri bersama Rowan. Keduanya tidak berbicara keras. Hanya bisikan singkat, cukup untuk saling memahami tanpa menarik perhatian.“Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Rowan.Lyra menatap ke arah Lunae, lalu ke Aelmon.“Aku tahu.”Nada suaranya rendah. “Kalau tanda itu benar-benar memudar, bukan hanya ikatannya yang melemah… tapi juga kestabilannya.”Rowan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status