LOGINSelamat membaca.
Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup. Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun. Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru, melainkan senja abadi berwarna hijau keperakan, dengan dua bulan menggantung rendah dan terlalu besar untuk disebut normal. “Aku… di mana?” bisiknya. Ia berbaring di atas tempat tidur luas dengan seprai hitam halus. Dinding ruangan terbuat dari batu gelap berurat cahaya samar, seperti bernafas. Jendela tinggi tanpa kaca memperlihatkan hutan hitam yang berkilau biru di kejauhan. Kenangan semalam menghantamnya. Aelmon. Retakan langit, Pria bercahaya emas, lali suara perempuan dalam dirinya. Ia menoleh tajam dan mendapati Aelmon berdiri di dekat jendela. Ia tidak mengenakan mantel panjangnya kali ini. Hanya kemeja hitam yang menegaskan tubuhnya yang tinggi dan tegang, rambut gelapnya jatuh sedikit ke dahi, dan mata hijaunya kini tidak menyala… hanya mengawasi. “Kau menculikku,” Elara berkata datar. Aelmon tidak menyangkal. “Kau tidak akan aman di dunia manusia.” “Dan di sini aku aman?” Elara membalas tajam. “Dari siapa? Dari dewa? Atau darimu?” Rahanya mengeras, tapi suaranya tetap rendah. “Dari semua.” Elara turun dari tempat tidur dengan cepat. “Kau tidak berhak membawaku ke sini tanpa izinku.” “Gerbang sudah terbuka,” jawabnya. “Eryndor tahu kau telah bangkit.” “Bangkit apa? Aku tidak mengerti apa pun!” Emosi yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. “Aku hanya ingin hidup biasa! Kuliah, bekerja, punya kehidupan normal!” Aelmon melangkah mendekat. “Normalmu telah berakhir malam itu di hutan.” ucapnya mengingatkan Elara kalau ia sepenuhnya miliknya. Kalimat itu terasa seperti pisau. Elara menatapnya tajam. “Itu bukan salahku.” “Tidak,” katanya pelan. “Itu salahku.” Hening menggantung sesaat. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu selain dominasi dalam mata Aelmon, Rasa takut. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuknya. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” tanya Elara, suaranya melemah. Aelmon terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Dalam sejarah kami, ada legenda tentang Darah Matahari Murni. Energi yang hanya muncul ketika Dewi Matahari bereinkarnasi.” Elara membeku. “Jangan mulai lagi dengan omong kosong dewa.” “Eryndor bukan halusinasi.” Suara Aelmon menegang. “Cahaya yang keluar darimu bukan kekuatan manusia.” Elara menggeleng. “Tidak. Tidak mungkin.” “Dan karena itulah,” lanjutnya, semakin dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal, “kau tidak bisa kembali.” Jantungnya berdetak cepat. “Ini penjara,” bisik Elara. “Ini perlindungan.” “Bagiku, sama saja.” Mata hijaua itu meredup sedikit. Tiba-tiba pintu batu besar di belakang mereka terbuka. Seorang pria berambut cokelat gelap dengan tatapan tajam masuk dan membungkuk hormat. “Alpha.” Elara mundur refleks. Pria itu menatapnya sekilas, tidak kasar, tapi penuh penilaian. “Dewan Taring sudah tahu,” lanjutnya. “Dan mereka tidak senang.” Aelmon tidak mengalihkan pandangan dari Elara. “Biarkan mereka.” “Ini bukan hanya tentang manusia yang kau bawa,” pria itu berkata hati-hati. “Mereka merasakan energinya.” Elara menatap tangannya sendiri, Hangat. Samar, tapi ada. “Rowan,” Aelmon berkata tegas. “Keluar!” Rowan ragu, lalu menunduk dan pergi. Begitu pintu tertutup, Aelmon akhirnya menyentuh pergelangan tangan Elara. Sentuhan itu membuat udara bergetar. Bukan seperti semalam, kali ini lebih dalam. Ikatan. Ia menarik napas tajam. “Lepaskan.” Namun Aelmon justru terlihat seperti menahan sesuatu, rasa panas tak terobati saat menyentuh Elara. Batinnya mengamuk meminta lebih. “Kau merasakannya?” tanyanya pelan. Elara ingin menyangkal. Tapi ia memang merasakannya. Denyut halus, sinkron dengan detak jantungnya. Seolah tubuhnya mengenali pria di depannya lebih dari yang ia akui, tiba-tiba rasa panas menjalar dari sentuhan itu. Cahaya emas tipis muncul di antara kulit mereka. Aelmon membeku. Mata hijaunya melebar, dari luar ruangan, terdengar suara lolongan panjang. Pintu batu kembali bergetar keras. Suara Rowan terdengar dari luar, tegang. “Alpha! Para tetua memanggilmu ke aula utama sekarang juga!” Aelmon tidak melepaskan tangan Elara. Tatapannya berubah gelap. Rasa takut menembus Elara, dia tidak bisa menahan Aelmon. Dia tidak cukup kuat sampai Aelmon kehilangan kendalinya nanti. “Mereka tidak hanya marah,” Rowan melanjutkan dari balik pintu. “Mereka bilang… Dewan Langit sudah bergerak.” Udara di ruangan itu mendadak terasa lebih berat. Dan jauh di atas langit senja Lunaris, retakan emas kecil kembali muncul. Bersambung....Keesokan harinya, Pagi datang dengan cahaya yang lebih hangat.Retakan di langit masih ada, membentang tipis seperti garis halus yang belum benar-benar sembuh.Namun kali ini, sinar matahari menembusnya dengan lebih lembut. Tidak lagi terasa asing, tidak lagi menusuk. Seolah dunia… sedang mencoba menenangkan diri.Elara berjalan pelan di antara pepohonan. Langkahnya masih hati-hati, namun tidak lagi rapuh. Udara pagi menyentuh kulitnya, membawa rasa segar yang perlahan menggantikan sisa lelah di tubuhnya.Ia tidak sendirian.Aelmon berjalan di sampingnya dengan jarak yang tak lagi ada.Sesekali, tangan mereka bersentuhan ringan, jelas tidak disengaja, namun juga tidak dihindari.Dan setiap kali itu terjadi, Elara merasakannya. Kehangatan yang tidak pernah ia sangka akan menjadi Aelmon. “Kau terlihat lebih baik,” ujar Aelmon, dengan nada suara pelan dan senang, Matanya tidak lepas dari Elara.“Mungkin,” jawab Elara pelan. “Atau aku hanya berpura-pura kuat.”Aelmon mengangkat alis se
Langit pagi itu masih retak.Namun tidak menekan.Cahaya turun perlahan, menyelinap di sela-sela garis tipis yang membelah langit seperti luka lama yang mulai belajar sembuh. Udara dingin, tapi lembut. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dan kayu.Elara terbangun dalam diam. Tubuhnya masih lemah, namun tidak lagi sesakit kemarin. Selimut tipis menutup sebagian tubuhnya, dan untuk beberapa detik… ia hanya berbaring, mendengarkan napasnya sendiri.Tenang, lebih teratur. Namun ada sesuatu yang ia sadari lebih dulu dari apa pun—Kehadiran.Ia menoleh. Aelmon ada di sana.Duduk di sampingnya, bersandar ringan, satu tangan bertumpu di lutut. Matanya tidak tertutup. Ia tidak tidur.Seperti biasa.Menjaga Elara, ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatapnya. Dan untuk sesaat, dunia terasa… pelan.“Kau menatapku terlalu lama.”Suara Aelmon rendah. Namun tidak dingin, Elara menghela napas kecil.“Karena kau tidak tidur.”“Sudah terbiasa.”Elara mengerutkan kening sedikit. “Bukan itu
Pagi itu tidak datang dengan tenang. Langit masih sama—retak, pucat, tidak sepenuhnya pulih. Namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan tekanan seperti sebelumnya… melainkan rasa tidak nyaman yang halus, seperti firasat yang tidak bisa dijelaskan.Di dalam tenda, Elara terbangun dengan napas yang berat.Tubuhnya panas, namun kulitnya dingin. Keringat menempel di pelipisnya, rambutnya sedikit basah, dan setiap tarikan napas terasa seperti sesuatu menekan dari dalam dadanya.Ia mencoba bangun. Namun tubuhnya langsung melemah.Tangannya gemetar saat menahan berat badannya sendiri.“Ael…”Suaranya hampir tidak terdengar.Aelmon yang sejak tadi tidak benar-benar tidur langsung bergerak.Ia sudah bangun sebelum Elara membuka mata, nalurinya tidak membiarkannya lengah sejak semalam.“Apa yang sakit hmmm.”Ia sudah di sampingnya dalam hitungan detik. Tangannya menyentuh dahi Elara.Panas.Rahangnya mengeras. “Lyra,” panggilnya tegas. Tidak keras.Cukup untuk membuat orang di luar langsung
"Tidak cukup!" Pikir Lira.***Malam turun lebih cepat dari biasanya. Langit masih retak, namun bintang-bintang tetap muncul di sela-selanya—seolah dunia berusaha terlihat normal, meski tidak benar-benar utuh. Api unggun menyala lebih besar malam itu, mungkin tanpa disadari… sebagai cara mengusir dingin yang terasa berbeda.Elara duduk sedikit menjauh, bukan karena ingin sendiri. Namun karena pikirannya terlalu penuh.Keputusan pagi tadi masih terngiang—tentang tanda, tentang ikatan, tentang sesuatu yang seharusnya berarti… tapi terasa salah jika dipaksakan.Ia menarik napas pelan. Namun tetap tidak terasa cukup.Di sisi lain, Lyra berdiri bersama Rowan. Keduanya tidak berbicara keras. Hanya bisikan singkat, cukup untuk saling memahami tanpa menarik perhatian.“Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Rowan.Lyra menatap ke arah Lunae, lalu ke Aelmon.“Aku tahu.”Nada suaranya rendah. “Kalau tanda itu benar-benar memudar, bukan hanya ikatannya yang melemah… tapi juga kestabilannya.”Rowan men
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun sebuah cerita masa lalu membuat ikatan mereka semakin kuat.Bukan karena tidak ada suara, justru sebaliknya. Aktivitas pack tetap berjalan, langkah kaki, percakapan pelan, denting peralatan. Namun ada sesuatu yang berbeda… seperti semua orang sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang belum terjadi.Elara berdiri di dekat aliran air kecil di sisi lembah.Airnya jernih, mengalir pelan di atas batu-batu halus. Ia menunduk, membasuh wajahnya, membiarkan dingin air menyentuh kulitnya.Segar. Ia mengangkat kepala perlahan, dan untuk sesaat, Ia melihat pantulannya.Bukan sesuatu yang asing. Namun tidak sepenuhnya sama, tatapannya lebih dalam.Namun yang membuatnya terdiam, adalah lehernya.Tanda itu… Masih ada. Namun tidak sepekat sebelumnya.Garis halus yang dulu jelas, kini memudar di beberapa bagian. Seperti tinta yang mulai kehilangan warnanya, perlahan ditelan oleh sesuatu yang lebih besar.Elara menyentuhnya, ujung jarinya berhenti tep
Senja turun perlahan di Lunaris.Langit berwarna keemasan pucat, retakan tipis masih tampak seperti garis halus yang belum benar-benar hilang. Angin bergerak lebih lembut, membawa aroma tanah dan daun basah. Suara aktivitas pack mulai mereda, digantikan oleh percakapan pelan dan langkah kaki yang tidak lagi terburu-buru.Di tepi area utama, dekat sebuah tenda terbuka yang berfungsi sebagai tempat perawatan. Elara duduk. Tangannya berada di atas meja kayu sederhana, telapak menghadap ke atas. Cahaya tipis berdenyut di bawah kulitnya, halus namun stabil.Di depannya, Lyra berdiri.Fokus.Matanya tidak hanya melihat—ia merasakan. Jari-jarinya bergerak perlahan di atas pergelangan tangan Elara, tidak menyentuh langsung, hanya cukup dekat untuk membaca aliran energi yang kini menjadi bagian dari tubuh gadis itu.“Lebih tenang,” gumam Lyra.Elara menatapnya. “Dibandingkan kapan?”“Dibandingkan saat kau hampir meledak semalam.” ucapnya dengan nada suaranya datar.Lebih seperti seseorang yan







