共有

Dua energi berbeda

作者: Chatrin
last update 公開日: 2026-03-06 14:07:09

Selamat membaca.

Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.

Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.

Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,

melainkan senja abadi berwarna hijau keperakan, dengan dua bulan menggantung rendah dan terlalu besar untuk disebut normal.

“Aku… di mana?” bisiknya.

Ia berbaring di atas tempat tidur luas dengan seprai hitam halus. Dinding ruangan terbuat dari batu gelap berurat cahaya samar, seperti bernafas. Jendela tinggi tanpa kaca memperlihatkan hutan hitam yang berkilau biru di kejauhan.

Kenangan semalam menghantamnya.

Aelmon. Retakan langit, Pria bercahaya emas,

lali suara perempuan dalam dirinya.

Ia menoleh tajam dan mendapati Aelmon berdiri di dekat jendela. Ia tidak mengenakan mantel panjangnya kali ini. Hanya kemeja hitam yang menegaskan tubuhnya yang tinggi dan tegang, rambut gelapnya jatuh sedikit ke dahi, dan mata hijaunya kini tidak menyala… hanya mengawasi.

“Kau menculikku,” Elara berkata datar.

Aelmon tidak menyangkal. “Kau tidak akan aman di dunia manusia.”

“Dan di sini aku aman?” Elara membalas tajam. “Dari siapa? Dari dewa? Atau darimu?”

Rahanya mengeras, tapi suaranya tetap rendah. “Dari semua.”

Elara turun dari tempat tidur dengan cepat. “Kau tidak berhak membawaku ke sini tanpa izinku.”

“Gerbang sudah terbuka,” jawabnya. “Eryndor tahu kau telah bangkit.”

“Bangkit apa? Aku tidak mengerti apa pun!”

Emosi yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. “Aku hanya ingin hidup biasa! Kuliah, bekerja, punya kehidupan normal!”

Aelmon melangkah mendekat. “Normalmu telah berakhir malam itu di hutan.” ucapnya mengingatkan Elara kalau ia sepenuhnya miliknya.

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Elara menatapnya tajam. “Itu bukan salahku.”

“Tidak,” katanya pelan. “Itu salahku.”

Hening menggantung sesaat. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu selain dominasi dalam mata Aelmon, Rasa takut. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuknya.

“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” tanya Elara, suaranya melemah.

Aelmon terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Dalam sejarah kami, ada legenda tentang Darah Matahari Murni. Energi yang hanya muncul ketika Dewi Matahari bereinkarnasi.”

Elara membeku. “Jangan mulai lagi dengan omong kosong dewa.”

“Eryndor bukan halusinasi.” Suara Aelmon menegang. “Cahaya yang keluar darimu bukan kekuatan manusia.”

Elara menggeleng. “Tidak. Tidak mungkin.”

“Dan karena itulah,” lanjutnya, semakin dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal, “kau tidak bisa kembali.”

Jantungnya berdetak cepat.

“Ini penjara,” bisik Elara.

“Ini perlindungan.”

“Bagiku, sama saja.”

Mata hijaua itu meredup sedikit. Tiba-tiba pintu batu besar di belakang mereka terbuka. Seorang pria berambut cokelat gelap dengan tatapan tajam masuk dan membungkuk hormat.

“Alpha.”

Elara mundur refleks. Pria itu menatapnya sekilas, tidak kasar, tapi penuh penilaian.

“Dewan Taring sudah tahu,” lanjutnya. “Dan mereka tidak senang.”

Aelmon tidak mengalihkan pandangan dari Elara. “Biarkan mereka.”

“Ini bukan hanya tentang manusia yang kau bawa,” pria itu berkata hati-hati. “Mereka merasakan energinya.”

Elara menatap tangannya sendiri, Hangat.

Samar, tapi ada.

“Rowan,” Aelmon berkata tegas. “Keluar!”

Rowan ragu, lalu menunduk dan pergi. Begitu pintu tertutup, Aelmon akhirnya menyentuh pergelangan tangan Elara.

Sentuhan itu membuat udara bergetar. Bukan seperti semalam, kali ini lebih dalam.

Ikatan.

Ia menarik napas tajam. “Lepaskan.”

Namun Aelmon justru terlihat seperti menahan sesuatu, rasa panas tak terobati saat menyentuh Elara. Batinnya mengamuk meminta lebih.

“Kau merasakannya?” tanyanya pelan. Elara ingin menyangkal.

Tapi ia memang merasakannya. Denyut halus, sinkron dengan detak jantungnya. Seolah tubuhnya mengenali pria di depannya lebih dari yang ia akui, tiba-tiba rasa panas menjalar dari sentuhan itu. Cahaya emas tipis muncul di antara kulit mereka.

Aelmon membeku. Mata hijaunya melebar, dari luar ruangan, terdengar suara lolongan panjang.

Pintu batu kembali bergetar keras. Suara Rowan terdengar dari luar, tegang.

“Alpha! Para tetua memanggilmu ke aula utama sekarang juga!”

Aelmon tidak melepaskan tangan Elara. Tatapannya berubah gelap.

Rasa takut menembus Elara, dia tidak bisa menahan Aelmon. Dia tidak cukup kuat sampai Aelmon kehilangan kendalinya nanti.

“Mereka tidak hanya marah,” Rowan melanjutkan dari balik pintu. “Mereka bilang… Dewan Langit sudah bergerak.”

Udara di ruangan itu mendadak terasa lebih berat.

Dan jauh di atas langit senja Lunaris,

retakan emas kecil kembali muncul.

Bersambung....

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Hati liar sang Alpha   Harga yang Harus Dibayar

    Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Seolah seluruh Lunaris menahan napas. Eryndor berdiri di tengah cahaya langit, Elara berada beberapa langkah di depannya. Sementara Aelmon berlutut di lantai, berusaha melawan luka yang terus menghancurkan tubuhnya dari dalam.Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Perang telah datang, dan kali ini bukan ramalan.Bukan ancaman yang jauh, atau nama dalam buku kuno.Perang berdiri tepat di depan mereka."Aku akan menghitung sampai tiga." ucap Eryndor, suaranya tidak keras. Namun terdengar sampai ke seluruh ruangan."Menyerahlah.""Tidak." jawab Aelmon tanpa ragu, ia bahkan tidak berpikir. Jawaban yang sama seperti ribuan tahun lalu, mata Eryndor menutup sesaat."Kau tidak pernah berubah." gumamnya."Lalu kau?" balas Aelmon. Perlahan Alpha itu berdiri, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tubuhnya goyah, namun tatapannya tetap lurus."Kau masih menganggap semua yang bernapas di bawah langitmu sebagai milikmu."Keheningan jatuh.Untuk perta

  • Hati liar sang Alpha   Raja yang Menunggu.

    Tangisan itu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah senyuman yang begitu aneh. Lalu...Keheningan di dalam kamar terasa menyesakkan.Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berani berbicara.Aelmon terbaring di lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya, cahaya keemasan dari Belati Matahari masih menyebar di bawah kulitnya seperti retakan api.Lyra terus berusaha menghentikan kerusakan yang terjadi. Namun wajah tabib itu semakin pucat setiap detiknya. "Ini buruk." gumamnya."Tolong katakan sesuatu yang belum kami ketahui." balas Lira."Kalau begitu diam!" bentak Lyra.Lira langsung menutup mulut. Sementara itu, Elara masih berdiri membeku, ingatan lama, dan baru.Kedua kehidupan itu bertabrakan tanpa ampun.Elara sang manusia, Dewi Matahari yang pernah memimpin langit. Keduanya kini hidup dalam tubuh yang sama, dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali—Ia tidak tahu dirinya siapa."Elara." Suara Ae

  • Hati liar sang Alpha   Ingatan yang Terkubur

    "AELMON!" Suara Elara pecah, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh pria yang terbaring di lantai. Namun cahaya keemasan dari luka itu kembali menyala, mendorong jemarinya menjauh.Drap.. drap.. drap...Di luar kamar. Terdengar langkah kaki, terdengar teriakan, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.Namun semuanya terasa jauh, sngat jauh. Karena sesuatu sedang retak di dalam dirinya, bukan tubuh dan jiwanya.Melainkan segel yang selama ini menahan ingatan. "Khh..." Elara mencengkeram kepalanya. Rasa sakit meledak, tidak seperti sakit biasa.Melainkan ribuan kenangan yang menghantam bersamaan.Langit...Langit yang bukan Lunaris. Langit yang begitu luas hingga bintang-bintang tampak seperti debu, Istana emas, menara cahaya, lautan awan dan dirinya.Bukan Elara sang manusia, mlainkan seorang penguasa. Seorang dewi, Ratu dari tiga puluh empat dewa dan dewi. Pemimpin dua belas dewa inti, takhta Matah

  • Hati liar sang Alpha   Belati Matahari

    Malam itu terasa aneh.Bukan karena ada ancaman, langit yang berubah atau karena ramalan baru muncul dari arsip kuno. Justru sebaliknya, smuanya terlalu tenang.whoosh...Angin musim panas bergerak lambat di antara pepohonan Lunaris. Jangkrik bernyanyi dari balik semak, cahaya bulan menumpahkan warna perak ke seluruh wilayah pack.Sudah hampir dua minggu sejak Elara kembali, dan Aelmon masih mencoba untuk menarik pakaiannya agar lepas dari tubuhnya.Dua minggu tanpa serangan. Tanpa pelarian, hanya pertengkaran kecil.Bahkan Lira dan Asterion berhasil melewati tiga hari penuh tanpa saling melempar sesuatu. Sebuah pencapaian yang membuat Rowan hampir menangis haru.Malam itu sebagian besar anggota pack sedang beristirahat.Para penjaga berjaga seperti biasa. Lyra masih berkutat dengan ramuannya, Sylas melakukan pemeriksaan rutin di wilayah perbatasan.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Elara m

  • Hati liar sang Alpha   Kebiasaan yang Aneh

    Elara baru menyadari satu hal yang mengganggu. atau mungkin bukan mengganggu. Hanya membuatnya bingung, Aelmon selalu menyentuh pakaiannya.Bukan tangannya, rambutnya, atau wajahnya. Tapi pakaiannya. Awalnya Elara mengira itu kebetulan, namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari polanya.Saat mereka berjalan berdampingan hari ini, jemari Aelmon akan menangkap ujung lengan bajunya.Saat mereka menghadiri rapat, pria itu terkadang memainkan pita yang mengikat rambutnya. Bahkan ketika sedang membaca laporan, tangan besar itu bisa saja tiba-tiba merapikan kerah mantelnya yang sebenarnya sudah rapi.Dan yang paling aneh, Aelmon melakukannya tanpa sadar."Kenapa kau melakukan itu?" tanya Elara mulai risih.Mereka sedang duduk di beranda kastel. Angin musim gugur berembus lembut di antara pepohonan."Hm?" Aelmon mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya."Itu." Elara menunjuk jemari pria itu.

  • Hati liar sang Alpha   Serigala yang Berbahaya.

    Pagi masih muda ketika Elara memutuskan keluar dari kastel.Sendiri. Bukan karena marah, bukan karena ingin kabur.Ia hanya ingin berjalan.Musim mulai berubah.Embun masih menempel di ujung rumput. Udara pagi membawa aroma pinus yang lembut, hutan Lunaris terlihat damai dari kejauhan.Sudah lama sejak terakhir kali Elara berjalan tanpa diikuti siapa pun. Atau setidaknya—Ia mengira tidak diikuti siapa pun."Aku tahu kau ada di sana." ucapnya tanpa menoleh.Tidak ada jawaban. Semak-semak bergoyang, kemudian muncul sosok besar berambut hitam.Aelmon."Tidak lucu." gumam Elara. Lagi-lagi Aelmon mengawasi seperti seorang penjaga yang setia, menempel seperti lem."Aku tidak sedang bercanda." jawab Alpha itu, ia berjalan di samping Elara. Seolah kehadirannya merupakan sesuatu yang alami."Aku hanya berjalan." kata Elara."Aku tahu.""Lalu kenapa ikut?"Tatapan giok itu turun padanya. "Karena kau berjalan.""...""Itu bukan jawaban.""Itu jawaban yang cukup."Elara memutar mata. Namun diam-

  • Hati liar sang Alpha   Yang mengamati dari atas

    Selamat membaca.Langit tidak pernah benar-benar diam. Malam itu, meski tampak tenang, sesuatu tetap bergerak di balik retakan halus yang tersisa.Badai? bukan, cahaya? tapi, pengamatan. Di atas segalanya, Di kerajaan langit yang tidak tersentuh waktu, sebuah aula luas terbentang, dipenuhi pilar-p

  • Hati liar sang Alpha   Retakan yang tersisa.

    Selamat membaca.Dimensi itu mulai runtuh, bukan karena serangan atau karena kehancuran. Tapi karena tugasnya, selesai.Cahaya putih yang tadi menopang semuanya perlahan memudar. Ruang kosong di sekitar mereka retak halus, seperti kaca yang kehilangan penopangnya.Elara masih berada dalam pelukan A

  • Hati liar sang Alpha   Yang tetap berdiri.

    Selamat membaca.Dimensi itu bergetar hebat. Kehadiran Aelmon membuat keseimbangan yang rapuh mulai retak. Cahaya dan bayangan tidak lagi hanya saling menahan, kini mereka bereaksi.Terhadapnya.Terhadap Elara.Terhadap mereka “Aku bilang… jangan sentuh dia.”Suara Aelmon rendah, bergetar oleh nal

  • Hati liar sang Alpha   Ikatan yang tak terlihat.

    Selamat membaca.Dimensi itu bergetar. Bukan karena serangan atau karena kekuatan. Tapi karena, Elara.Kata-kata Aurelion masih menggema di kepalanya,“Selama kau masih terikat… kau tidak akan pernah benar-benar bebas.”Elara mundur satu langkah. Napas terasa berat.Ini bukan pertarungan yang bis

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status