LOGINSuara langkah kaki terdengar ringan di sepanjang jalan, suara senandung juga ikut melengkapi.Kabut turun lebih cepat malam itu.Hutan Lunaris dipenuhi cahaya bulan pucat yang menembus sela pepohonan tinggi, menciptakan bayangan panjang di tanah. Udara dingin, namun tidak menusuk. Hanya saja, terlalu sunyi.Elara berjalan sendirian. Awalnya ia hanya ingin mencari udara segar, setelah berhari-hari berada di sekitar pack, mendengar diskusi para tetua, merasakan tatapan khawatir semua orang… kepalanya terasa terlalu penuh. Apalagi Aelmon terus menariknya ke dalam tenda.Ia butuh diam. Di saat Aelmon sedang pergi bersama Rowan untuk memeriksa batas wilayah, meski Rowan harus memaksa Aplhanya itu yang seperti akan memakan Rowan karena Elara tidak ikut.Tapi akhirnya ia mengalah juga.Jadi Elara pergi sendiri. Daun-daun kering berderak pelan di bawah langkahnya.Ia terus berjalan tanpa benar-benar memperhatikan arah. Cahaya bulan membuat semuanya terlihat sama, pepohonan, batu, jalan kecil
Keesokan harinya, Elara benar-benar tidak keluar selama seharian karena ulah Aelmon. Seharian ia hanya menatap cermin dengan bekas gigitan pria itu di lehernya, belum lagi bibirnya yang sedikit terluka.Hingga sore tiba, Langit masih menyimpan retakan yang sama, namun cahaya keemasannya jatuh lebih hangat di tanah Lunaris. Angin bergerak pelan, tidak lagi membawa tekanan, hanya sisa dingin yang mulai terbiasa.Elara duduk di atas batu datar. Tangannya masih berada dalam genggaman Aelmon. Jari mereka saling bertaut, tidak lagi canggung, tidak lagi ragu. Sesekali ibu jari Aelmon bergerak pelan di punggung tangan Elara, gerakan kecil, namun cukup untuk membuat Elara sadar… ia tidak sendirian.Kenapa dia diajak keluar?Ia melirik Aelmon. “Kalau kau terus menatapnya seperti itu, dia bisa salah paham.”Suara Lira datang dari belakang.Lunae menoleh sedangkan Aelmon tidak. Namun rahangnya sedikit mengeras.Lira berdiri beberapa langkah dari mereka, tangan disilangkan, ekspresinya seperti bi
Sinar senja jatuh hangat di sela dedaunan, seperti mencoba menyentuh tanah dengan hati-hati. Angin berhembus pelan, membawa aroma kayu dan tanah.Elara duduk di dekat api kecil yang hampir padam.Selimut tipis masih melingkari bahunya, rambutnya jatuh sedikit berantakan di sisi wajah. Ia memegang cangkir logam di tangannya, ramuan dari Lyra.Ia menatapnya lama.Sangat lama. Seolah berharap cairan pahit itu berubah menjadi sesuatu yang lebih bersahabat.“Kalau kau menatapnya lebih lama lagi, rasanya tidak akan berubah.”Suara Aelmon datang dari belakang. Tenang.Namun ada nada halus yang hampir seperti menggoda.Elara menoleh. “Siapa tahu,” gumamnya. “Mungkin dia akan merasa kasihan.”Aelmon mendekat. Langkahnya tidak terburu. Ia berhenti di depan Elara, lalu duduk di batu kecil di hadapannya. Cukup dekat.“Lyra tidak membuat ramuan dengan perasaan kasihan,” terangnya.Elara mendengus pelan. “Aku tahu.”Ia kembali menatap cangkir itu. Lalu ia mendorongnya sedikit ke arah Aelmon.“Kau s
Keesokan harinya, Pagi datang dengan cahaya yang lebih hangat.Retakan di langit masih ada, membentang tipis seperti garis halus yang belum benar-benar sembuh.Namun kali ini, sinar matahari menembusnya dengan lebih lembut. Tidak lagi terasa asing, tidak lagi menusuk. Seolah dunia… sedang mencoba menenangkan diri.Elara berjalan pelan di antara pepohonan. Langkahnya masih hati-hati, namun tidak lagi rapuh. Udara pagi menyentuh kulitnya, membawa rasa segar yang perlahan menggantikan sisa lelah di tubuhnya.Ia tidak sendirian.Aelmon berjalan di sampingnya dengan jarak yang tak lagi ada.Sesekali, tangan mereka bersentuhan ringan, jelas tidak disengaja, namun juga tidak dihindari.Dan setiap kali itu terjadi, Elara merasakannya. Kehangatan yang tidak pernah ia sangka akan menjadi Aelmon. “Kau terlihat lebih baik,” ujar Aelmon, dengan nada suara pelan dan senang, Matanya tidak lepas dari Elara.“Mungkin,” jawab Elara pelan. “Atau aku hanya berpura-pura kuat.”Aelmon mengangkat alis se
Langit pagi itu masih retak.Namun tidak menekan.Cahaya turun perlahan, menyelinap di sela-sela garis tipis yang membelah langit seperti luka lama yang mulai belajar sembuh. Udara dingin, tapi lembut. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dan kayu.Elara terbangun dalam diam. Tubuhnya masih lemah, namun tidak lagi sesakit kemarin. Selimut tipis menutup sebagian tubuhnya, dan untuk beberapa detik… ia hanya berbaring, mendengarkan napasnya sendiri.Tenang, lebih teratur. Namun ada sesuatu yang ia sadari lebih dulu dari apa pun—Kehadiran.Ia menoleh. Aelmon ada di sana.Duduk di sampingnya, bersandar ringan, satu tangan bertumpu di lutut. Matanya tidak tertutup. Ia tidak tidur.Seperti biasa.Menjaga Elara, ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatapnya. Dan untuk sesaat, dunia terasa… pelan.“Kau menatapku terlalu lama.”Suara Aelmon rendah. Namun tidak dingin, Elara menghela napas kecil.“Karena kau tidak tidur.”“Sudah terbiasa.”Elara mengerutkan kening sedikit. “Bukan itu
Pagi itu tidak datang dengan tenang. Langit masih sama—retak, pucat, tidak sepenuhnya pulih. Namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan tekanan seperti sebelumnya… melainkan rasa tidak nyaman yang halus, seperti firasat yang tidak bisa dijelaskan.Di dalam tenda, Elara terbangun dengan napas yang berat.Tubuhnya panas, namun kulitnya dingin. Keringat menempel di pelipisnya, rambutnya sedikit basah, dan setiap tarikan napas terasa seperti sesuatu menekan dari dalam dadanya.Ia mencoba bangun. Namun tubuhnya langsung melemah.Tangannya gemetar saat menahan berat badannya sendiri.“Ael…”Suaranya hampir tidak terdengar.Aelmon yang sejak tadi tidak benar-benar tidur langsung bergerak.Ia sudah bangun sebelum Elara membuka mata, nalurinya tidak membiarkannya lengah sejak semalam.“Apa yang sakit hmmm.”Ia sudah di sampingnya dalam hitungan detik. Tangannya menyentuh dahi Elara.Panas.Rahangnya mengeras. “Lyra,” panggilnya tegas. Tidak keras.Cukup untuk membuat orang di luar langsung







