Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Hukum tiga dunia

Share

Hukum tiga dunia

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-03-06 14:23:21

Selamat membaca.

Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.

Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.

Singkat, Elara bisa melihat kalau kening Rowan menyatu sedikit saat melihatnya. Sepertinya dia marah padanya.

“Alpha. Mereka menuntut kehadiranmu. Sekarang.”

Aelmon melepaskan tangan Elara perlahan, meski jelas ia enggan. Sisa kehangatan dari sentuhan mereka masih tertinggal di kulit Elara, denyut halus yang membuatnya semakin gelisah.

“Aku akan kembali,” kata Aelmon padanya. Itu bukan janji lembut. Itu pernyataan kepemilikan.

“Aku tidak akan ke mana-mana,” Elara membalas dingin. “Karena aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari tempat ini.” jelasnya putus asa.

Mata perak Aelmon berkilat sebentar, antara tersinggung dan terluka. Lalu ia berbalik dan berjalan keluar bersama Rowan.

Pintu batu menutup, menyisakan Elara sendirian.

Aula utama Lunaris, dipenuhi aura berat ketika Aelmon masuk.

***

Ruangan itu luas dan melingkar, dindingnya terbuat dari batu hitam berurat cahaya bulan. Di tengahnya terdapat lingkaran simbol kuno yang bersinar samar, lambang hukum pack.

Dewan Taring telah menunggu. Lima tetua berdiri membentuk setengah lingkaran. Rambut mereka memutih, namun mata mereka tetap tajam seperti predator yang tak pernah benar-benar tua.

Tetua pertama, Darian Holt Blackmere, Sigma dan penjaga hukum, melangkah maju.

“Kau membawa manusia ke jantung Lunaris tanpa persetujuan dewan.”

“Aku membawa mateku,” jawab Aelmon tanpa ragu.

Desisan pelan terdengar dari para anggota pack yang menyaksikan di pinggir aula.

Tetua kedua, wanita tua bernama Maereth Solvaris, menyipitkan mata. “Mate yang belum menerima ikatan bukan Luna. Ia tamu. Dan tamu tidak membawa cahaya dewa ke wilayah kita.”

Itu artinya mereka menganggap Elara sebagai musuh, karena membawa cahaya matahari di wilayah bulan.

Aelmon tidak menunjukkan reaksi, tapi bayangan di bawah kakinya bergerak gelisah.

“Kalian merasakannya,” lanjut Maereth. “Energi matahari itu.”

Rowan berdiri di belakang Alpha, setia namun waspada.

“Dewan Langit telah mengamati,” kata Darian. “Retakan emas muncul di atas Silvaris Umbra satu jam lalu.”

Ruangan menjadi sunyi. Aelmon berbicara pelan, tapi setiap kata terasa seperti tekanan. “Jika mereka turun ke wilayahku, itu berarti perang.”

Beberapa anggota pack bergumam gelisah.

Sylas Thornridge, sang Gamma, melangkah maju dari barisan. “Dengan hormat, Alpha… kita belum pernah berperang melawan dewa.”

“Karena mereka tidak pernah menyentuh apa yang menjadi milik kita,” balas Aelmon.

“Milik?” Suara baru terdengar dari pintu aula.

Semua kepala menoleh.

Elara berdiri di ambang pintu. Ia tidak tahu bagaimana ia sampai di sana, kakinya seperti berjalan sendiri mengikuti sesuatu dalam dirinya. Cahaya samar keemasan menyelimuti kulitnya tipis, hampir tak terlihat… tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan menegang.

“Tidak ada yang memilikinya,” lanjutnya, melangkah masuk.

Beberapa serigala secara naluriah mundur.

Lira Moonwhisper, sang Omega, menatapnya dengan campuran kagum dan iba.

Aelmon mendekat dengan cepat. “Kau seharusnya tetap di kamar.”

“Aku bukan tahananmu,” Elara membalas.

Tetua Darian memandangnya tajam. “Kau membawa matahari ke sarang bulan, gadis manusia. Apa kau tahu konsekuensinya?”

Elara menelan ludah. “Aku tidak meminta semua ini.”

Cahaya di dadanya tiba-tiba berdenyut lebih kuat.

Simbol di lantai aula menyala terang, bereaksi.

Semua orang membeku, udara memanas.

Dari atas kubah batu, retakan emas kecil muncul, lebih besar dari sebelumnya.

Aelmon langsung berdiri di depan Elara, aura lunar meledak protektif. “Tidak di sini,” geramnya.

Suara bergema dari retakan itu, tenang, namun mengandung kekuatan yang membuat lutut beberapa anggota pack melemah.

“Tiga purnama terlalu lama, Alpha.”

Eryndor.

Elara merasakan sesuatu tertarik dari dalam dirinya, seperti panggilan yang tidak bisa ia pahami.

Aelmon mengepalkan tangan. “Kau tidak diundang.”

“Dan kau tidak memiliki hak atas cahaya yang kau sentuh.”

Retakan itu melebar. Cahaya emas menyusup masuk ke aula, membakar simbol lunar di lantai hingga berasap tipis.

Para tetua panik.

“Alpha!” Rowan berseru.

Aelmon menoleh pada Elara sekilas dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang tidak ia sembunyikan di matanya. Takut kehilangan.

“Pilih sisimu dengan cepat, Elara,” suara Eryndor bergema lagi. “Atau aku akan memilih untukmu.”

Kenapa pria berambut emas datang lagi? pilihan, memangnya Elara harus memilih. Jika iya, maka dari pada menanggung tanggung jawab yang tidak ia ingat di alam dewa, dan tekanan permusuhan dari mata para serigala. Bukankah lebih baik ia menjadi manusia biasa saja.

Cahaya emas tiba-tiba melesat turun, langsung menuju dada Elara.

Sontak Elara membelalakan matanya. Frustasi dengan cahaya yang terus keluar dari dalam dirinya.

Aelmon bergerak lebih cepat dari yang bisa dilihat mata manusia. Ia menarik Elara ke dalam pelukannya,

dan benturan antara cahaya matahari dan bayangan bulan meledak di tengah aula!

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Istri Alpha atau Dewi Matahari

    Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara masih demam.Tubuh manusianya terasa lemah sejak semalam, meski Lyra sudah memaksanya meminum tiga jenis ramuan berbeda yang rasanya mengerikan.Kini ia duduk bersandar di ranjang besar Aelmon, dibungkus selimut tebal berwarna gelap. Rambut panjangnya sedikit berantakan, pipinya pucat karena panas tubuh yang belum turun sepenuhnya.Sedangkan Aelmon—Masih duduk terlalu dekat.Tangannya memegang jemari Elara sejak tadi pagi seolah takut gadis itu menghilang hanya karena ia lengah sesaat.“Aku benar-benar bisa bernapas sendiri.”Suara Elara masih sedikit serak karena demam.Kael tidak melepaskan tangannya.“Aku tahu.”“Lalu kenapa kau terus menatapku seperti pasien sekarat?”Tatapan emas Aelmon t

  • Hati liar sang Alpha   Ketakutan yang Yidak Bisa Dijelaskan Serigala

    Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Dipilih Hati

    Cahaya Helior perlahan menghilang bersama angin malam. Meninggalkan keheningan yang terasa aneh di antara pepohonan Lunaris.Elara masih berdiri diam. Jantungnya belum tenang, Karena kata-kata terakhir Helior terlalu manusiawi untuk seorang dewa.Aku hanya ingin menjadi rumahmu lebih dulu...Aelmon memperhatikan wajah Elara beberapa detik.Lalu tanpa banyak bicara ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Elara pelan.Gerakan sederhana, namun cukup membuat Elara kembali sadar pada keberadaannya. Berbeda dari cahaya Helior yang terasa terlalu jauh untuk disentuh.“Kau memikirkannya.” Suara Aelmon rendah, Jelas sekali ia tidak menyukai fakta bahwa Helior berhasil meninggalkan sesuatu di pikiran Elara.Elara menunduk sedikit. “Aku cuma…” Ia kesulitan mencari kata yang tepat. Karena apa yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.Aelmon menghela napas pelan. Lalu mendekat, “Tanya saja.”Elara mengangkat kepala perlahan, dan setelah beberapa detik ragu, “Kalau seseorang datang lebih dul

  • Hati liar sang Alpha   Yang Seharusnya Tinggal di Hatinya.

    Malam semakin larut. Namun Elara tidak bisa tidur.Kata-kata Helior terus berputar di kepalanya seperti bisikan yang tidak mau pergi.Semakin dia mencintaimu… semakin mudah dunia ini hancur.Api kecil di perapian kamar Aelon mulai mengecil, meninggalkan cahaya redup keemasan yang bergerak pelan di dinding batu.Di sampingnya, Aelmon akhirnya tertidur.Meski satu tangannya masih melingkar di pinggang Elara seolah bahkan dalam tidur pun pria itu takut dirinya menghilang lagi.Elara menatap wajahnya diam-diam, tenang, lelah dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak. Karena semua orang terus mengatakan bahwa dirinya adalah awal bencana. 'Aku bencana' batin Elara, dadanya terasa nyeri.Namun saat melihat Aelmon seperti ini, Elara justru hanya melihat seseorang yang terlalu tulus mencintainya.Pelan-pelan Elara bergerak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Aelmon, tapi baru satu langkah suara rendah pria it

  • Hati liar sang Alpha   Hal yang Tidak Bisa Dikuasai Alpha

    Lunaris menjadi sunyi.Hanya suara napas berat serigala hitam besar di tengah lembah yang masih terdengar di bawah langit retak.Semua orang diam. Karena tidak ada yang pernah melihat Kael kehilangan kendali sejauh ini sebelumnya.Dan lebih tidak masuk akal lagi, hanya Elara yang bisa menghentikannya.Elara masih berdiri di depan Aelmon, tangannya menyentuh bulu hitam tebal di wajah serigala itu pelan, meski tubuhnya sendiri masih gemetar akibat tekanan aura Alpha yang belum sepenuhnya stabil. Namun perlahan, geraman rendah Aelmon mulai mereda.Mata hijau liar itu tetap menatap Elara. “Bagus…” gumam Asterion pelan dari belakang. “Terus bicara padanya.”Elara menelan ludah kecil. Lalu mengusap bulu Aelmon perlahan. “Ael…” Suaranya lembut, penuh kehati-hatian. Seolah berbicara pada sesuatu yang terluka. “Aku baik-baik saja.”Serigala besar itu bergerak sedikit mendekat. Hidungnya menyentuh bahu Elara pelan. Dan saat itu juga, tekanan mengerikan yang memenuhi seluruh lembah mulai turun

  • Hati liar sang Alpha   Suara dari Balik Langit

    Suara retakan itu terdengar pelan. Namun cukup untuk membuat seluruh Lunaris membeku.Langit di atas mereka bergerak seperti kaca yang dipaksa pecah perlahan. Cahaya pucat di balik retakan menyebar lebih luas, memantulkan warna keemasan aneh ke seluruh lembah.Whoosh...Angin langsung berubah lebih berat, dingin dan semua serigala di wilayah Lunaris secara naluriah mengangkat kepala ke langit takut.Elara refleks menggenggam lengan Elara.Napasnya tercekat saat cahaya dari retakan itu memantul di mata hijau pria di sampingnya.“Ael…”Aelmon langsung menarik Elara mendekat ke sisinya. Tatapannya tidak pernah lepas dari langit.“Asterion!” panggil Rowan dari bawah.Dalam hitungan detik—Seluruh anggota pack mulai memenuhi area utama. Lira membawa serigala ilusi di belakangnya, mata mereka menyala seolah api biru sedang membara. Lyra masih memegang botol ramuan setengah penuh, bahkan beberapa werewolf muda terlihat pucat karena tekanan energi yang turun dari langit.Asterion muncul dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status