แชร์

Saat dunia bertabrakan.

ผู้เขียน: Chatrin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-24 15:47:51

Selamat membaca.

Pegangan Aelmon di pergelangan tangan Luna menguat. Bukan sekadar menahan, melainkan menegaskan.

Hangatnya tidak memberi ketenangan, justru terasa seperti jangkar yang ditanam dalam-dalam agar Luna tidak terseret arus yang mulai tak terkendali.

“Luna.”

Suara Aelmon rendah. Tidak keras. Namun setiap suku katanya seolah menekan ruang di sekitar mereka, membuat napas terasa lebih berat.

Jari-jari Elara mencoba membalas genggaman itu. Namun ia gemetar. Bukan karena ketakutan semata
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hati liar sang Alpha   Langit yang Terlalu Sunyi.

    Saat Elara meninggalkan Lunaris, Aelmon tidak melihatnya pergi.Alpha itu telah kehilangan kesadaran.Tubuhnya masih terbaring di aula yang hancur akibat pertempuran.Belati Matahari telah dicabut. Namun luka yang ditinggalkannya belum sembuh, dan untuk pertama kalinya sejak Elara mengenalnya—Pria itu tidak mampu menghentikannya.Tidak mampu mengejarnya. Tidak mampu memanggil namanya, hal itu seharusnya membuat Eryndor puas.Namun anehnya... Tidak sepenuhnya.Perjalanan menuju langit berlangsung tanpa kata-kata.Elara berdiri di atas jembatan cahaya. Awan-awan bergerak di bawah kakinya, bintang-bintang tampak begitu dekat hingga seolah dapat disentuh.Dahulu pemandangan ini adalah rumah. Kini terasa asing, sangat asing.tap.. tap.. tap...Eryndor berjalan beberapa langkah di belakangnya.Memberikan ruang, setidaknya tampak seperti itu.Namun kenyataannya, seluruh jalan menuju langit telah ditutup.Seluruh penjaga mengawasi, seluruh gerbang terkunci.Bukan penjara, tetapi juga bukan ke

  • Hati liar sang Alpha   Harga yang Harus Dibayar

    Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Seolah seluruh Lunaris menahan napas. Eryndor berdiri di tengah cahaya langit, Elara berada beberapa langkah di depannya. Sementara Aelmon berlutut di lantai, berusaha melawan luka yang terus menghancurkan tubuhnya dari dalam.Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Perang telah datang, dan kali ini bukan ramalan.Bukan ancaman yang jauh, atau nama dalam buku kuno.Perang berdiri tepat di depan mereka."Aku akan menghitung sampai tiga." ucap Eryndor, suaranya tidak keras. Namun terdengar sampai ke seluruh ruangan."Menyerahlah.""Tidak." jawab Aelmon tanpa ragu, ia bahkan tidak berpikir. Jawaban yang sama seperti ribuan tahun lalu, mata Eryndor menutup sesaat."Kau tidak pernah berubah." gumamnya."Lalu kau?" balas Aelmon. Perlahan Alpha itu berdiri, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tubuhnya goyah, namun tatapannya tetap lurus."Kau masih menganggap semua yang bernapas di bawah langitmu sebagai milikmu."Keheningan jatuh.Untuk perta

  • Hati liar sang Alpha   Raja yang Menunggu.

    Tangisan itu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah senyuman yang begitu aneh. Lalu...Keheningan di dalam kamar terasa menyesakkan.Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berani berbicara.Aelmon terbaring di lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya, cahaya keemasan dari Belati Matahari masih menyebar di bawah kulitnya seperti retakan api.Lyra terus berusaha menghentikan kerusakan yang terjadi. Namun wajah tabib itu semakin pucat setiap detiknya. "Ini buruk." gumamnya."Tolong katakan sesuatu yang belum kami ketahui." balas Lira."Kalau begitu diam!" bentak Lyra.Lira langsung menutup mulut. Sementara itu, Elara masih berdiri membeku, ingatan lama, dan baru.Kedua kehidupan itu bertabrakan tanpa ampun.Elara sang manusia, Dewi Matahari yang pernah memimpin langit. Keduanya kini hidup dalam tubuh yang sama, dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali—Ia tidak tahu dirinya siapa."Elara." Suara Ae

  • Hati liar sang Alpha   Ingatan yang Terkubur

    "AELMON!" Suara Elara pecah, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh pria yang terbaring di lantai. Namun cahaya keemasan dari luka itu kembali menyala, mendorong jemarinya menjauh.Drap.. drap.. drap...Di luar kamar. Terdengar langkah kaki, terdengar teriakan, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.Namun semuanya terasa jauh, sngat jauh. Karena sesuatu sedang retak di dalam dirinya, bukan tubuh dan jiwanya.Melainkan segel yang selama ini menahan ingatan. "Khh..." Elara mencengkeram kepalanya. Rasa sakit meledak, tidak seperti sakit biasa.Melainkan ribuan kenangan yang menghantam bersamaan.Langit...Langit yang bukan Lunaris. Langit yang begitu luas hingga bintang-bintang tampak seperti debu, Istana emas, menara cahaya, lautan awan dan dirinya.Bukan Elara sang manusia, mlainkan seorang penguasa. Seorang dewi, Ratu dari tiga puluh empat dewa dan dewi. Pemimpin dua belas dewa inti, takhta Matah

  • Hati liar sang Alpha   Belati Matahari

    Malam itu terasa aneh.Bukan karena ada ancaman, langit yang berubah atau karena ramalan baru muncul dari arsip kuno. Justru sebaliknya, smuanya terlalu tenang.whoosh...Angin musim panas bergerak lambat di antara pepohonan Lunaris. Jangkrik bernyanyi dari balik semak, cahaya bulan menumpahkan warna perak ke seluruh wilayah pack.Sudah hampir dua minggu sejak Elara kembali, dan Aelmon masih mencoba untuk menarik pakaiannya agar lepas dari tubuhnya.Dua minggu tanpa serangan. Tanpa pelarian, hanya pertengkaran kecil.Bahkan Lira dan Asterion berhasil melewati tiga hari penuh tanpa saling melempar sesuatu. Sebuah pencapaian yang membuat Rowan hampir menangis haru.Malam itu sebagian besar anggota pack sedang beristirahat.Para penjaga berjaga seperti biasa. Lyra masih berkutat dengan ramuannya, Sylas melakukan pemeriksaan rutin di wilayah perbatasan.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Elara m

  • Hati liar sang Alpha   Kebiasaan yang Aneh

    Elara baru menyadari satu hal yang mengganggu. atau mungkin bukan mengganggu. Hanya membuatnya bingung, Aelmon selalu menyentuh pakaiannya.Bukan tangannya, rambutnya, atau wajahnya. Tapi pakaiannya. Awalnya Elara mengira itu kebetulan, namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari polanya.Saat mereka berjalan berdampingan hari ini, jemari Aelmon akan menangkap ujung lengan bajunya.Saat mereka menghadiri rapat, pria itu terkadang memainkan pita yang mengikat rambutnya. Bahkan ketika sedang membaca laporan, tangan besar itu bisa saja tiba-tiba merapikan kerah mantelnya yang sebenarnya sudah rapi.Dan yang paling aneh, Aelmon melakukannya tanpa sadar."Kenapa kau melakukan itu?" tanya Elara mulai risih.Mereka sedang duduk di beranda kastel. Angin musim gugur berembus lembut di antara pepohonan."Hm?" Aelmon mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya."Itu." Elara menunjuk jemari pria itu.

  • Hati liar sang Alpha   Serigala yang Berbahaya.

    Pagi masih muda ketika Elara memutuskan keluar dari kastel.Sendiri. Bukan karena marah, bukan karena ingin kabur.Ia hanya ingin berjalan.Musim mulai berubah.Embun masih menempel di ujung rumput. Udara pagi membawa aroma pinus yang lembut, hutan Lunaris terlihat damai dari kejauhan.Sudah lama s

  • Hati liar sang Alpha   Pulang

    Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, sementara Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya.Lorong penginapan itu sunyi. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit tua, dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas.Kehidupan terus berjalan. N

  • Hati liar sang Alpha   Ditemukan?

    Elara tidak langsung bergerak. Kerumunan manusia terus mengalir di antara trotoar dan jalan raya, lampu lalu lintas berganti warna. Klakson terdengar dari kejauhan.Namun pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang.Tepat pada sepasang mata giok yang baru saja melihatnya.

  • Hati liar sang Alpha   Bulan yang Tidak Mau Melepaskan

    Pagi di Lunaris selalu indah dan Elara membencinya.Cahaya bulan abadi menyinari taman-taman perak di luar istana. Bunga-bunga malam bermekaran, air mancur kristal memantulkan kilauan lembut.Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna, seperti kebohongan yang dibangun selama b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status