LOGINPagi di Lunaris selalu indah dan Elara membencinya.Cahaya bulan abadi menyinari taman-taman perak di luar istana. Bunga-bunga malam bermekaran, air mancur kristal memantulkan kilauan lembut.Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna, seperti kebohongan yang dibangun selama bertahun-tahun.Elara berdiri di dekat jendela. Gaun panjang berwarna putih gading membungkus tubuhnya, gaun yang dikirim pelayan pagi tadi, gaun yang pasti dipilih Aelmon.Ia tidak perlu bertanya. Ia sudah tahu, pria itu selalu memilih warna-warna terang untuknya. Seolah Elara adalah cahaya yang harus dijaga tetap bersinar.tap... tap... tap...Pintu kamar terbuka. Elara tidak menoleh, ia sudah mengenali langkah kaki itu.Aelmon."Aku tidak ingin sarapan.""Kau tetap harus makan.""Aku tidak lapar.""Kau berbohong."Elara memejamkan mata.Menyebalkan...Pria itu mengenalnya terlalu bai
Sangkar Bulan, cahaya emas memenuhi langit malam.Simbol di telapak tangan Elara semakin terang. Panas. Menyilaukan. Menyakitkan.Seolah sesuatu sedang memanggilnya dari tempat yang sangat jauh.Dari langit. Dari tahta yang telah kosong selama berabad-abad. Suara agung itu kembali terdengar.'Kembalilah.' Tubuh Elara bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena jiwanya mengenali panggilan itu. Seolah sebagian dirinya memang berasal dari sana.Dari matahari. Cahaya, dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupan manusia yang selama ini ia jalani.Namun sebelum Elara sempat melangkah—sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannya.Aelmon. Tatapan teduhnya tampak gelap, sangat gelap."Jangan." Hanya satu kata. Tetapi terdengar seperti perintah.Elara langsung menarik tangannya. "Lepaskan aku!""Tidak.""Aelmon.""Kau tidak pergi." titah Aelmon, kepalanya tertunduk tapi
Elara mulai membenci pagi. Karena setiap kali membuka mata, Aelmon masih ada. Masih mengawasi dan menunggunya.Mengejarnya dengan kesabaran yang perlahan terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.Pagi itu langit diselimuti awan tipis. Elara mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dan mantel abu-abu yang menutupi tubuhnya dari udara dingin.Ia sengaja keluar lebih awal. Berharap bisa berjalan sendirian, tanpa bayangan Alpha itu.Namun saat melewati etalase sebuah toko.Pantulan kaca memperlihatkan sosok tinggi berpakaian hitam yang berjalan beberapa meter di belakangnya.Aelmon.Lagi. Elara langsung berbalik, dan langsung protes "Kau tidak lelah?""Tidak.""Kau tidak punya harga diri?""Tidak jika itu menyangkutmu."Jawaban itu membuat Elara kehilangan kata-kata selama beberapa detik.Pria ini benar-benar tidak waras. Dulu ia menganggap Aelmon romantis, sekarang ia mulai m
Pagi datang bersama langit kelabu.Elara hampir tidak tidur.Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat darah di tangan Aelmon.Kemudian mengingat senyuman pria itu. Lalu mengingat pelukannya, kemudian kembali mengingat kebohongannya.Semuanya bercampur menjadi satu. Menyakitkan dan sangat menyakitkan.Saat membuka pintu kamar penginapan, Elara berniat mencari udara segar.Tap... tap...Namun langkahnya langsung terhenti. Aelmon duduk di lantai koridor, masih mengenakan pakaian yang sama.Masih berada di tempat yang sama, seolah tidak bergerak semalaman.Mata Zambrud itu terangkat.Menemukan dirinya dan sesuatu yang aneh bergetar di dalam dada Elara.Deg!Karena pria itu tampak lelah, Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya."Apa yang kau lakukan?"Aelmon berdiri. "Aku menjagamu.""Kau duduk di sini semalaman?""Ya."El
Malam semakin larut.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang pergi.Elara masih berdiri di bawah cahaya lampu taman. Sedangkan Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya, keras kepala, menyebalkan dan sangat tidak tahu malu."Aku akan menghitung sampai tiga." Elara menyilangkan kedua tangan."Pulang.""Tidak.""Satu.""Tidak.""Dua.""Tidak."Elara mengembuskan napas panjang.Kemudian menunjuk jalan di belakang pria itu. "Tiga. Pergi." usirnya.Aelmon bahkan tidak bergeming. Seolah mendengar ancaman anak kecil, mata gioknya itu justru terus mengawasinya. Memastikan Elara tidak menghilang lagi dan itu membuat Elara semakin kesal."Apa yang sebenarnya kau inginkan?"Aelmon menjawab tanpa ragu. "Kamu."Elara hampir tersedak oleh udara. "Wanita lain mungkin akan tersipu mendengar itu.""Aku tidak sedang berbicara dengan wanita lain."
"Elara."Namanya terdengar sekali lagi, pelan. Namun cukup untuk membuat dadanya sesak.Lampu-lampu taman memantulkan cahaya keemasan di jalanan yang basah. Udara malam terasa dingin, tetapi tidak sedingin tatapan yang kini diberikan Elara kepada pria yang berdiri di ujung jalan.Aelmon.Suaminya. Pembohong terbesar dalam hidupnya, untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.Bahkan suara kendaraan yang melintas terasa sangat jauh.Elara menggenggam kedua tangannya erat. Berusaha menahan dirinya agar tidak menangis lagi, ia sudah terlalu banyak menangis sejak kemarin.Sementara itu, Aelmon berdiri tanpa bergerak. Mantel hitam panjangnya berkibar diterpa angin, wajah tampannya tampak lebih pucat dari biasanya.Seolah beberapa hari terakhir tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.Dan entah mengapa...Melihat keadaan pria itu justru membuat Elara semakin marah.Karen







