LOGIN"hah!" Dingin. Adalah rasa pertama yang Elara rasakan setelah ia membuka matanya—jantungnya kembali berdetak."Ini..."Jelas bukan dingin yang menggigit kulit, melainkan dingin yang merambat perlahan ke dalam ingatan.Elara membuka mata. Tidak ada lagi langit Lunaris, tidak ada kastel, tidak ada aroma kayu pinus yang biasa dibawa angin.Yang menyambutnya hanyalah hamparan tanah hitam sejauh mata memandang.Retakan-retakan besar membelah bumi seperti luka yang belum pernah sembuh. Dari celah itu muncul cahaya kebiruan yang redup, diiringi bisikan ribuan roh.Ssshh...Haa...Suara mereka saling bertumpuk, seperti doa yang kehilangan tujuannya.Akar-akar hitam menjalar di atas tanah.Sebagian menggantung dari langit yang gelap, sebagian lagi melilit tulang-tulang raksasa yang telah menjadi bagian dari negeri itu.Elara mengembuskan napas pelan.Ia mengenal tempat ini. "Dunia bawah..." gumamnya lirih.Tidak jauh di hadapannya berdiri sebuah istana berwarna hitam keperakan. Tidak megah,
Tok... tok...Suara itu kembali terdengar. Bukan dari pintu kastel, bukan pula dari dinding batu yang mengelilingi Lunaris.Suara itu datang dari langit.Seluruh ruangan terdiam.Api yang tadi padam belum juga menyala kembali. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela pun tampak redup, seolah ada sesuatu yang menutupi seluruh langit.Elara perlahan berdiri tapi wajahnya kehilangan warna, tatapannya tidak lagi memandang siapa pun di dalam ruangan.Ia hanya memandang retakan langit. Aelmon langsung berdiri di depannya, "Apa itu?"Elara tidak menjawab.Jari-jarinya justru mulai gemetar. Tetua Darian mengerutkan dahi. "Aku belum pernah mendengar suara seperti itu."Tetua Maereth menggeleng pelan. "Bukan.""Aku pernah membacanya."Semua menoleh. Wanita tua itu menarik napas panjang. "Di naskah kuno, suara itu disebut Ketukan Gerbang."Rowan mengernyit."Gerbang?""Gerbang yang memisahkan dunia." Tatapan Maereth berubah muram. "Ketika seseorang mengetuknya, berarti ada sesuatu di balik lan
Tak seorang pun berbicara.Api di perapian hanya mengeluarkan bunyi kecil.Krek... krek...Cahayanya menari di wajah setiap orang yang berada di aula.Tetua Darian masih memegang gulungan tua itu sedangkan, Tetua Maereth memejamkan mata.Rowan berada di belakang Aelmon dengan satu lengan yang tersisa, sementara Aelmon tidak pernah sekalipun melepaskan tatapannya dari Elara.Kalimat terakhir itu masih menggantung."Dia... memilih mati."Keheningan itu terasa begitu berat hingga suara napas setiap orang terdengar jelas.Aelmon akhirnya melangkah mendekati gulungan tua itu.Tatapannya tidak lagi membaca gambar. Ia justru melihat kembali semua kenangan yang selama ini terasa janggal, pertemuan pertama mereka.Tatapan Elara yang selalu seolah mengetahui sesuatu.Cara gadis itu menerima kebencian tanpa pernah benar-benar membalas.Cara ia berkali-kali berkata bahwa setiap orang bebas memilih. Dan...Cara ia selalu menangis ketika seseorang mati.Bukan karena terkejut.Melainkan seperti sese
Sore belum benar-benar pergi. Bersama bunga yang mulai tumbuh. Awan kelabu masih menggantung di atas atap kastel Lunaris. Udara yang biasanya dingin terasa sedikit lebih hangat karena tungku di ruang keluarga mulai dinyalakan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Tidak ada teriakan. Tidak ada suara pedang, hanya keheningan yang perlahan belajar menjadi damai. Elara duduk di dekat perapian. Tatapannya masih sering kosong, tetapi kini sesekali ia menjawab pertanyaan orang lain. Itu sudah merupakan kemajuan. Tetua Maereth menghela napas lega. "Nah." Wanita tua itu duduk di belakang Elara. Tanpa meminta izin, ia menepuk pelan pahanya. "Kemarilah." Elara menoleh bingung. "Jangan menatapku seperti itu." "Kau terlalu kurus." "Duduk." Sejenak Elara ragu. Namun entah mengapa...
Hari itu masih terasa panjang.Kesedihan belum sempat menemukan tempat untuk beristirahat.Langit Lunaris tetap kelabu, sementara angin yang melewati halaman kastel membawa aroma hujan yang belum benar-benar turun. Burung-burung tidak lagi bernyanyi. Bahkan hutan Silvaris di kejauhan tampak kehilangan warna.Elara masih berada di beranda.Pandangannya kosong.Entah sudah berapa lama ia hanya menatap pepohonan tanpa benar-benar melihatnya.Aelmon berdiri di sampingnya. Tidak banyak bicara,namun kini ia memiliki satu kebiasaan baru.Setiap kali hendak meninggalkan Elara...Ia akan berhenti sejenak.Perlahan mengusap helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.Lalu mengecup pelan dahinya. Begitu pula ketika Elara tertidur, dan ketika ia terbangun.Seolah Alpha itu sedang berusaha mengingatkan dirinya sendiri..."Dia masih di sini."Hari ini pun sama.Aelmo
Langit Lunaris tetap kelabu, seolah matahari pun kehilangan keberanian untuk muncul. Angin berembus pelan melewati beranda kastel, mengangkat beberapa helai rambut Elara yang terjatuh menutupi wajahnya.Ia belum berpindah dari tempatnya.Keheningan menjadi satu-satunya teman yang masih bertahan.Aelmon masih duduk di sampingnya. Tidak lagi memaksa, tidak lagi mengucapkan banyak kata. Ia hanya menemani, membuatkan Elara merasa nyaman dengan kehadirannya.Karena, kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi."Aku boleh tetap di sini?" tanya Aelmon pelan.Elara tidak menoleh. "Kau selalu bertanya." Tapi Aelmon tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya."Aku sedang belajar."Belajar. Satu kata yang membuat Elara tersenyum getir. "Alpha ternyata bisa belajar.""Kalau gurunya adalah istriku..." Aelmon menghela napas pelan. "...aku rela mengulang pelajaran yang sama seumur hidup."Deg! Keheningan kembali hadir. Namun kali ini tidak lag
Selamat BerimajinasiMalam belum benar-benar pergi saat Elara kembali ke dalam wilayah pack. Wajah Aelmon cukup kesal. Dan Rowan menyadari itu, sedang Lyra membantu Elara dengan memberinya selimut.Elara menatap selimut itu sambil menatap Aelmon, membanding kan. Lyra menyadarinya. "Jangan khawat
Selamat membaca.Langit Lunaris, kembali tenang. Namun tidak dengan pack, begitu mereka kembali dari perbatasan, suasana berubah. Bukan karena luka, melainkan karena sesuatu yang lebih berbahaya.Ketakutan.Bisikan-bisikan terdengar di setiap sudut. “Dia hampir menghancurkan Penjaga!" “Kalau dewa b
Selamat membaca."Akar itu menekan dadaku." Dingin, berat dan hidup. Seolah bumi sendiri sedang mencoba menelannya perlahan.Napas tercekat. Jantung Elara berdebar kacau, namun di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang terus meletus, berjalan-jalan tanpa arah dalam dirinya.Cahaya. Seperti listrik
Selamat membaca."Akar itu menekan dadaku." Dingin, berat dan hidup. Seolah bumi sendiri sedang mencoba menelannya perlahan.Napas tercekat. Jantung Elara berdebar kacau, namun di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang terus meletus, berjalan-jalan tanpa arah dalam dirinya.Cahaya. Seperti listrik







