Share

Bab 2

Author: Fist
Mendengar suaranya yang penuh kasih sayang itu, perasaanku bercampur aduk. Tanpa sadar aku menggenggam erat dokumen di tanganku. Ternyata setelah tiga tahun menikah, di matanya aku tetap hanyalah "seorang sekretaris."

....

Tiga tahun lalu, dalam sebuah pesta, Zenith mabuk.

Dengan susah payah aku membantunya kembali ke kamar hotel, tapi begitu masuk, dia langsung menekanku ke bawah tubuhnya dan menjatuhkan ciuman yang tidak memberiku kesempatan untuk menolak.

Aku baru saja ingin melawan ketika mendengar dia berbisik pelan di telingaku, "Alena ...."

Mungkin karena pengaruh alkohol dan hormon, entah kenapa aku tidak mendorongnya pergi.

Keesokan paginya saat bangun, kupikir Zenith akan menganggap semua itu tidak pernah terjadi lalu memberiku sejumlah uang tutup mulut, atau langsung memecatku.

Namun, dia malah berkata dengan sangat tenang, "Kamu bawa KTP, 'kan?"

Aku mengangguk dengan bingung.

Dia bertanya, "Mau menikah?"

Bahkan sampai kami berdua keluar dari kantor catatan sipil sambil memegang buku nikah, aku masih merasa seperti sedang bermimpi.

Sebenarnya aku sudah mengenal Zenith sejak lama. Saat kuliah, dia adalah senior dua tingkat di atasku, sekaligus sosok yang diam-diam disukai banyak sekali mahasiswi lainnya.

Aku sadar diriku biasa saja, bahkan tidak berani punya interaksi dengannya. Aku cuma bisa memandangnya dari jauh dalam diam. Hal paling berani yang pernah kulakukan adalah mengirim lamaran kerja ke Grup Goldcrest setelah lulus, lalu menjadi sekretarisnya.

Aku kira, kesediaannya menikah denganku berarti dia juga menyukaiku.

Meski dia meminta pernikahan kami dirahasiakan dan mengatakan untuk sementara waktu hubungan kami tidak akan diumumkan, aku tetap merasa tidak masalah.

Sampai lebih dari setahun setelah menikah, aku baru tahu kalau malam saat Zenith mabuk dan tidur denganku itu hanyalah karena Vanya mengumumkan pacar barunya di luar negeri.

Orang yang benar-benar dia cintai sejak awal selalu Vanya.

Meski merasa sedih setelah mengetahui kenyataan itu, aku tidak putus asa. Bagaimanapun juga, dia sudah menikah denganku.

Aku percaya waktu masih panjang. Selama aku cukup berusaha dan terus berada di sisinya, suatu hari nanti dia pasti akan melihatku dan tersentuh oleh ketulusanku.

Namun selama tiga tahun ini, sikap Zenith kepadaku selalu datar. Dia tidak memperlakukanku terlalu dingin, tetapi juga tidak ramah. Dibanding seorang istri, aku lebih mirip sekretarisnya.

Bulan lalu saat membantu membereskan ruang kerjanya, aku tanpa sengaja menemukan sebuah buku harian. Di dalamnya tertulis penuh tentang cinta dan perasaannya kepada Vanya selama sepuluh tahun terakhir.

Di sana juga terselip sebuah foto mereka berdua. Di balik foto itu ada tulisan tangan yang sangat familier.

[ Love ]

Sulit membayangkan pria yang dingin dan terhormat itu bisa mencintai seseorang sedalam itu.

Jadi, Zenith bukannya tidak bisa mencintai, bukan juga karena dia memang terlahir dingin dan tak berperasaan.

Dia hanya tidak mencintaiku.

....

Minggu lalu, tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.

Aku sudah memesan restoran favorit Zenith sejak jauh-jauh hari, menyiapkan bunga dan hadiah, bahkan memastikan jadwalnya terlebih dahulu.

Namun malam perayaan itu, aku duduk sendirian di restoran dan menunggu sangat lama, tapi dia tidak kunjung datang. Pesanku tidak dibalas, teleponku juga tidak diangkat.

Aku mulai panik, takut Zenith mengalami sesuatu yang berbahaya. Bahkan aku sempat ingin langsung pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.

Namun, aku juga takut dia hanya mendadak sibuk dan belum sempat memberi tahu. Bagaimana kalau nanti dia datang ke restoran setelah selesai bekerja, tapi tidak menemukanku?

Jadi, aku hanya bisa terus menunggu di sana.

Menunggu sampai semua makanan di meja menjadi dingin.

Menunggu sampai pasangan di meja sebelah berganti satu demi satu.

Menunggu sampai pelayan restoran datang dengan sopan memberitahuku kalau mereka sudah tutup.

Saat aku memeluk bunga dan hadiah lalu bersiap pulang, hujan deras tiba-tiba turun.

Aku langsung basah kuyup tanpa persiapan.

Ketika sedang berteduh di bawah atap pinggir jalan, aku tiba-tiba teringat bahwa aku pernah menambahkan Instagram sahabat Zenith, Asnan, dengan identitas sebagai sekretaris.

Aku segera membuka ruang obrolannya, berniat menanyakan apakah dia tahu Zenith pergi ke mana. Namun, tanpa sengaja aku malah membuka postingan story terbarunya. Postingan paling baru ternyata adalah video mereka sedang berkumpul di bar dengan keterangan:

[ Orang yang saling mencintai pasti akan bertemu kembali. Selamat. ]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 10

    Aku yang tadinya sudah sangat kesal, malah tertawa mendengarnya. Aku mengangkat alis lalu menatapnya. "Jadi? Maksudmu apa?"Sekilas senyum muncul di wajahnya. "Mau temani aku pulang untuk cari9? Kalau sudah ketemu, baru kita urus prosesnya."Aku benar-benar tidak menyangka kendali perceraian ini malah jatuh ke tangannya. Untuk sesaat, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana bereaksi.Namun melihat ekspresinya, rasanya marah pun percuma. Aku hanya melambaikan tangan dengan pasrah. "Baiklah, baiklah."Zenith buru-buru turun dari mobil, lalu membukakan pintu kursi penumpang untukku. "Silakan masuk, Alena."Aku belum pernah melihatnya bersikap seantusias ini, sampai rasanya agak lucu.Dulu wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi, tidak disangka sekarang dia malah begitu pandai membujuk orang.Aku masuk ke mobilnya lalu berkata dingin, "Jangan main trik lagi."Tak lama kemudian, kami kembali ke vila. Dengan mudah aku menemukan semua dokumennya di laci ruang tamu. Aku langsung kesal dan melempar

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 9

    Air mataku akhirnya tidak bisa lagi dibendung."Alena ...."Zenith jelas tidak menyangka ternyata selama ini aku menyimpan begitu banyak keluhan. Dia menatapku dengan bingung. "Aku ... ada kesalahpahaman di sini. Bukan seperti itu ...."Aku menarik napas panjang, lalu menghapus air mata di wajahku."Kesalahpahaman atau kenyataan, aku sudah nggak peduli lagi. Zenith, hubungan kita selesai sampai di sini." Setelah mengatakannya, aku langsung mendorongnya menjauh, lalu masuk ke dalam lift.Aku benar-benar tidak menyangka Zenith akan mengejarku sampai ke Selandia Baru. Bahkan untuk menenangkan diri pun aku jadi tidak bisa tenang.Malam itu, Zenith kembali mengetuk pintu kamarku. Awalnya aku tidak berniat membukanya. Namun, dia terlihat seperti akan terus mengetuk sampai aku membuka pintu.Karena takut mengganggu orang lain, akhirnya aku membuka pintu dengan rantai pengaman masih terpasang. "Pak Zenith, tolong jangan ganggu saya lagi."Zenith langsung berbicara dengan cepat,"Alena, bukan a

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 8

    "Entah kapan Pak Zenith menikah sama Bu Vanya. Mereka benar-benar cocok."Dia dan ... Vanya?Jadi, seluruh perusahaan mengira dia dan Vanya adalah pasangan, lalu Alena cemburu dan marah karena itu?Memikirkan hal tersebut, entah kenapa hati Zenith justru merasa sedikit senang.Selama lima tahun mengenal Alena, sifatnya selalu dingin dan tenang, seolah tidak ada apa pun yang bisa mengguncang emosinya. Bahkan selama tiga tahun pernikahan mereka, hubungan mereka selalu sopan dan menjaga jarak.Alena tidak pernah cemburu ataupun marah karena wanita lain. Dia pikir ... Alena tidak peduli.Zenith ingin menjelaskan semuanya padanya. Namun, Instagram-nya sudah diblokir, teleponnya tidak bisa dihubungi, bahkan dia tidak tahu Alena berada di mana.Zenith langsung menelepon asistennya, "Tolong cek penerbangan terbaru dan catatan hotel Alena."....Hari kedelapan menikmati matahari dan kebebasan di Selandia Baru, aku bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti aktivitas berkuda dari hotel.Dengan paka

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 7

    Pada ulang tahun pernikahan pertama mereka, setelah selesai makan malam, keduanya kebetulan melewati sebuah studio foto pernikahan. Saat melihat gaun pengantin mewah di etalase, untuk pertama kalinya mata Alena memperlihatkan rasa iri dan kagum.Zenith berjalan di sampingnya. Cahaya dari etalase jatuh ke wajah Alena. Pada saat itu, Zenith tiba-tiba berkata, "Kamu suka? Kita foto prewedding saja?"Alena tampak terkejut, tetapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia.Setelah sesi foto selesai, Alena memilih salah satu foto favorit untuk dicetak besar dan digantung di ruang tamu. Namun sekarang, foto itu sudah tidak ada.Tanpa sadar Zenith mengepalkan tinjunya, lalu berjalan cepat menuju kamar. Meja yang sebelumnya penuh dengan produk perawatan kulit kini juga kosong melompong. Tidak ada satu pun pakaian Alena tersisa di lemari.Alena pindah?Pikiran itu sempat melintas di benaknya, tetapi langsung dia bantah sendiri.Tidak mungkin. Mana mungkin Alena pindah diam-diam saa

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 6

    Panggilan dari Zenith.Aku mengangkat jus di sampingku, lalu meneguknya sedikit. "Pak Zenith, aku sudah mengundurkan diri. Kalau ada urusan, cari orang lain saja."Nada suaranya terdengar sedikit panik. "Alena, kamu sedang marah sama aku? Apa maksud surat perjanjian cerai itu? Bisa nggak kita bicara baik-baik?"Aku tersenyum."Kita sudah cerai. Itu tanda tanganmu sendiri. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan."....Ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Zenith pergi dinas tanpa membawa Alena bersamanya. Tanpa perhatian dari Alena yang selalu mengurus semuanya secara detail, dia merasa ada sesuatu yang sangat tidak terbiasa.Tentang kejadian tidak mengantarnya ke rumah sakit, dia terus memikirkannya beberapa hari ini dan merasa sedikit bersalah. Jadi, dia sengaja membiarkan Alena tinggal untuk beristirahat dengan baik.Namun entah kenapa, perjalanan dinas kali ini membuatnya terus merasa gelisah.Di ruang rapat, untuk pertama kalinya Zenith kehilangan fokus.Setelah rapat se

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 5

    Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak.Selama setengah bulan berikutnya, selain urusan pekerjaan di kantor, aku dan Zenith hampir tidak pernah berbicara lagi. Setiap siang, Vanya selalu datang mencarinya untuk makan bersama. Seluruh perusahaan mulai menyebarkan rumor bahwa dia adalah calon nyonya besar mereka.Zenith sebenarnya sangat membenci gosip.Dulu juga pernah ada putri dari partner bisnis yang terang-terangan mengejarnya dan dia selalu segera memberi klarifikasi. Namun, kali ini dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah diam-diam mengakuinya.Status yang mati-matian kuusahakan selama tiga tahun tetapi tak pernah kudapatkan, dengan mudah diberikannya kepada Vanya.Hari itu, radang lambung akutku tiba-tiba kambuh. Aku kesakitan sampai berkeringat dingin di kantor. Saat mengantarkan dokumen kepada Zenith, dia langsung menyadari ada yang tidak beres."Kamu nggak apa-apa? Mau aku antar ke rumah sakit?"Namun sebelum aku sempat menjawab, telepon dari Vanya kembali masuk. "Kak Zenith,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status