Share

Bab 3

Author: Fist
Tokoh utama dalam video itu adalah Zenith.

Wajahnya yang biasanya sedingin es seolah mendadak mencair. Sorot matanya dipenuhi kelembutan saat dia tersenyum tipis sambil mengangkat gelas ke arah gadis cantik di depannya.

"Vanya, selamat datang kembali."

Hatiku langsung dingin sepenuhnya pada saat itu.

Jadi, alasan dia membatalkan janji denganku, membuatku khawatir sepanjang malam, menunggu berjam-jam di restoran lalu kehujanan, hanyalah demi menyambut kepulangan Vanya.

Dengan tangan gemetar, aku kembali menelepon Zenith. Kali ini dia mengangkatnya. Aku berusaha menenangkan suara, masih menyimpan sedikit harapan di dalam hati.

"Kamu di mana? Aku sudah nunggu lama sekali di restoran ... di luar hujan dan aku nggak bawa payung. Bisa jemput aku?"

Suara musik memekakkan telinga dari sana sudah tidak terdengar lagi. Mungkin dia mencari tempat yang lebih sepi untuk menerima teleponku.

Dia berkata, "Aku nggak bisa pergi sekarang. Ada beberapa bos proyek yang mendadak ingin bertemu, jadi aku masih minum sama mereka. Kamu pulang naik taksi saja."

Aku berkata pelan, "Kalau begitu ... malam ini kamu masih pulang?"

Dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Aku nggak pulang. Tidurlah lebih awal."

Aku hanya menjawab singkat, lalu menutup telepon.

Mimpi yang kujalani selama tiga tahun seakan langsung terbangun begitu saja. Aku pulang dalam hujan deras dengan perasaan kosong, lalu membuang semua bunga dan hadiah ke tempat sampah.

Aku duduk di sofa semalaman tanpa tidur, tak mampu menahan diri untuk terus membuka video di postingan Asnan berulang kali.

Seperti sedang menyiksa diri sendiri, aku terus memastikan lagi dan lagi bahwa ternyata aku memang tidak pernah dicintai.

....

Keesokan paginya, aku tetap memaksakan diri pergi bekerja.

Begitu tiba di perusahaan, aku melihat Zenith berjalan masuk dengan setelan jas rapi dan senyum di wajahnya, bahkan mengangguk pada setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Semua orang tampak terkejut dan mulai berbisik satu sama lain.

"Wah, hari ini Pak Zenith kelihatannya bahagia sekali ...."

"Dia tadi tersenyum ke kita! Aku kira selama ini dia cuma bongkahan es berjalan."

Rekan kerja di sampingku menepuk lenganku pelan lalu berbisik, "Kamu sudah lama jadi sekretarisnya, pernah lihat dia tersenyum seperti itu?"

Tanpa sadar aku menggenggam jemariku erat-erat, lalu memaksakan senyum. "Belum. Aku juga baru pertama kali melihatnya."

Benar.

Selama tiga tahun menikah, aku memang belum pernah melihat Zenith sebahagia itu. Rekan kerjaku mengangguk penuh rasa penasaran. "Jangan-jangan, pria dingin seperti Pak Zenith akhirnya kasmaran juga ...."

Zenith berjalan sampai ke hadapanku. Saat melihat wajahku yang pucat, sekilas rasa bersalah muncul di wajahnya. "Alena, ikut aku masuk."

Aku mengikuti langkahnya masuk ke kantor.

Dia meletakkan jasnya, lalu berbicara dengan nada lembut, "Alena, kenapa raut wajahmu buruk sekali? Semalam nggak tidur nyenyak?"

Aku tidak menjawab. Dia lalu berjalan mendekat, mengangkat tangan dan menyentuh rambutku pelan.

"Kamu marah? Maaf soal semalam. Situasinya mendadak jadi aku nggak sempat kasih tahu. Ponselku juga dalam mode senyap, jadi aku nggak terima teleponmu."

Situasi mendadak?

Aku diam sambil memperhatikannya.

Hari ini, mulai dari kemeja, dasi, sampai jas yang dikenakannya semuanya baru. Tubuhnya juga samar-samar membawa aroma parfum wanita. Bahkan di lehernya masih ada bekas ciuman yang terlihat samar.

Tatapanku tertuju pada bekas itu dan rasa sesak kembali memenuhi dada.

Melihat ekspresiku yang muram, Zenith mengatupkan bibir tipisnya. Aku tahu, itu adalah tanda dia mulai tidak sabar. Dia menunduk lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang indah dari sakunya.

"Alena, ini untukmu. Aku khusus pilihkan hadiah ulang tahun pernikahan ini untukmu. Jangan marah lagi, ya?"

Melihat aku tidak mengulurkan tangan untuk menerimanya, dia langsung membuka kotak itu. Di dalamnya ada kalung berlian yang sangat indah, jelas harganya mahal. Dia mengambil kalung itu, lalu berjalan ke belakangku dan memasangkannya sendiri di leherku.

Saat logam dingin itu menyentuh kulitku, tubuhku refleks sedikit gemetar.

Aku tiba-tiba bertanya, "Kalung ini ... cuma diberikan padaku?"

Zenith sempat terdiam sesaat, lalu tersenyum. "Tentu saja. Hanya untukmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 10

    Aku yang tadinya sudah sangat kesal, malah tertawa mendengarnya. Aku mengangkat alis lalu menatapnya. "Jadi? Maksudmu apa?"Sekilas senyum muncul di wajahnya. "Mau temani aku pulang untuk cari9? Kalau sudah ketemu, baru kita urus prosesnya."Aku benar-benar tidak menyangka kendali perceraian ini malah jatuh ke tangannya. Untuk sesaat, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana bereaksi.Namun melihat ekspresinya, rasanya marah pun percuma. Aku hanya melambaikan tangan dengan pasrah. "Baiklah, baiklah."Zenith buru-buru turun dari mobil, lalu membukakan pintu kursi penumpang untukku. "Silakan masuk, Alena."Aku belum pernah melihatnya bersikap seantusias ini, sampai rasanya agak lucu.Dulu wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi, tidak disangka sekarang dia malah begitu pandai membujuk orang.Aku masuk ke mobilnya lalu berkata dingin, "Jangan main trik lagi."Tak lama kemudian, kami kembali ke vila. Dengan mudah aku menemukan semua dokumennya di laci ruang tamu. Aku langsung kesal dan melempar

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 9

    Air mataku akhirnya tidak bisa lagi dibendung."Alena ...."Zenith jelas tidak menyangka ternyata selama ini aku menyimpan begitu banyak keluhan. Dia menatapku dengan bingung. "Aku ... ada kesalahpahaman di sini. Bukan seperti itu ...."Aku menarik napas panjang, lalu menghapus air mata di wajahku."Kesalahpahaman atau kenyataan, aku sudah nggak peduli lagi. Zenith, hubungan kita selesai sampai di sini." Setelah mengatakannya, aku langsung mendorongnya menjauh, lalu masuk ke dalam lift.Aku benar-benar tidak menyangka Zenith akan mengejarku sampai ke Selandia Baru. Bahkan untuk menenangkan diri pun aku jadi tidak bisa tenang.Malam itu, Zenith kembali mengetuk pintu kamarku. Awalnya aku tidak berniat membukanya. Namun, dia terlihat seperti akan terus mengetuk sampai aku membuka pintu.Karena takut mengganggu orang lain, akhirnya aku membuka pintu dengan rantai pengaman masih terpasang. "Pak Zenith, tolong jangan ganggu saya lagi."Zenith langsung berbicara dengan cepat,"Alena, bukan a

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 8

    "Entah kapan Pak Zenith menikah sama Bu Vanya. Mereka benar-benar cocok."Dia dan ... Vanya?Jadi, seluruh perusahaan mengira dia dan Vanya adalah pasangan, lalu Alena cemburu dan marah karena itu?Memikirkan hal tersebut, entah kenapa hati Zenith justru merasa sedikit senang.Selama lima tahun mengenal Alena, sifatnya selalu dingin dan tenang, seolah tidak ada apa pun yang bisa mengguncang emosinya. Bahkan selama tiga tahun pernikahan mereka, hubungan mereka selalu sopan dan menjaga jarak.Alena tidak pernah cemburu ataupun marah karena wanita lain. Dia pikir ... Alena tidak peduli.Zenith ingin menjelaskan semuanya padanya. Namun, Instagram-nya sudah diblokir, teleponnya tidak bisa dihubungi, bahkan dia tidak tahu Alena berada di mana.Zenith langsung menelepon asistennya, "Tolong cek penerbangan terbaru dan catatan hotel Alena."....Hari kedelapan menikmati matahari dan kebebasan di Selandia Baru, aku bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti aktivitas berkuda dari hotel.Dengan paka

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 7

    Pada ulang tahun pernikahan pertama mereka, setelah selesai makan malam, keduanya kebetulan melewati sebuah studio foto pernikahan. Saat melihat gaun pengantin mewah di etalase, untuk pertama kalinya mata Alena memperlihatkan rasa iri dan kagum.Zenith berjalan di sampingnya. Cahaya dari etalase jatuh ke wajah Alena. Pada saat itu, Zenith tiba-tiba berkata, "Kamu suka? Kita foto prewedding saja?"Alena tampak terkejut, tetapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia.Setelah sesi foto selesai, Alena memilih salah satu foto favorit untuk dicetak besar dan digantung di ruang tamu. Namun sekarang, foto itu sudah tidak ada.Tanpa sadar Zenith mengepalkan tinjunya, lalu berjalan cepat menuju kamar. Meja yang sebelumnya penuh dengan produk perawatan kulit kini juga kosong melompong. Tidak ada satu pun pakaian Alena tersisa di lemari.Alena pindah?Pikiran itu sempat melintas di benaknya, tetapi langsung dia bantah sendiri.Tidak mungkin. Mana mungkin Alena pindah diam-diam saa

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 6

    Panggilan dari Zenith.Aku mengangkat jus di sampingku, lalu meneguknya sedikit. "Pak Zenith, aku sudah mengundurkan diri. Kalau ada urusan, cari orang lain saja."Nada suaranya terdengar sedikit panik. "Alena, kamu sedang marah sama aku? Apa maksud surat perjanjian cerai itu? Bisa nggak kita bicara baik-baik?"Aku tersenyum."Kita sudah cerai. Itu tanda tanganmu sendiri. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan."....Ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Zenith pergi dinas tanpa membawa Alena bersamanya. Tanpa perhatian dari Alena yang selalu mengurus semuanya secara detail, dia merasa ada sesuatu yang sangat tidak terbiasa.Tentang kejadian tidak mengantarnya ke rumah sakit, dia terus memikirkannya beberapa hari ini dan merasa sedikit bersalah. Jadi, dia sengaja membiarkan Alena tinggal untuk beristirahat dengan baik.Namun entah kenapa, perjalanan dinas kali ini membuatnya terus merasa gelisah.Di ruang rapat, untuk pertama kalinya Zenith kehilangan fokus.Setelah rapat se

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 5

    Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak.Selama setengah bulan berikutnya, selain urusan pekerjaan di kantor, aku dan Zenith hampir tidak pernah berbicara lagi. Setiap siang, Vanya selalu datang mencarinya untuk makan bersama. Seluruh perusahaan mulai menyebarkan rumor bahwa dia adalah calon nyonya besar mereka.Zenith sebenarnya sangat membenci gosip.Dulu juga pernah ada putri dari partner bisnis yang terang-terangan mengejarnya dan dia selalu segera memberi klarifikasi. Namun, kali ini dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah diam-diam mengakuinya.Status yang mati-matian kuusahakan selama tiga tahun tetapi tak pernah kudapatkan, dengan mudah diberikannya kepada Vanya.Hari itu, radang lambung akutku tiba-tiba kambuh. Aku kesakitan sampai berkeringat dingin di kantor. Saat mengantarkan dokumen kepada Zenith, dia langsung menyadari ada yang tidak beres."Kamu nggak apa-apa? Mau aku antar ke rumah sakit?"Namun sebelum aku sempat menjawab, telepon dari Vanya kembali masuk. "Kak Zenith,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status