LOGIN
Aku yang tadinya sudah sangat kesal, malah tertawa mendengarnya. Aku mengangkat alis lalu menatapnya. "Jadi? Maksudmu apa?"Sekilas senyum muncul di wajahnya. "Mau temani aku pulang untuk cari9? Kalau sudah ketemu, baru kita urus prosesnya."Aku benar-benar tidak menyangka kendali perceraian ini malah jatuh ke tangannya. Untuk sesaat, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana bereaksi.Namun melihat ekspresinya, rasanya marah pun percuma. Aku hanya melambaikan tangan dengan pasrah. "Baiklah, baiklah."Zenith buru-buru turun dari mobil, lalu membukakan pintu kursi penumpang untukku. "Silakan masuk, Alena."Aku belum pernah melihatnya bersikap seantusias ini, sampai rasanya agak lucu.Dulu wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi, tidak disangka sekarang dia malah begitu pandai membujuk orang.Aku masuk ke mobilnya lalu berkata dingin, "Jangan main trik lagi."Tak lama kemudian, kami kembali ke vila. Dengan mudah aku menemukan semua dokumennya di laci ruang tamu. Aku langsung kesal dan melempar
Air mataku akhirnya tidak bisa lagi dibendung."Alena ...."Zenith jelas tidak menyangka ternyata selama ini aku menyimpan begitu banyak keluhan. Dia menatapku dengan bingung. "Aku ... ada kesalahpahaman di sini. Bukan seperti itu ...."Aku menarik napas panjang, lalu menghapus air mata di wajahku."Kesalahpahaman atau kenyataan, aku sudah nggak peduli lagi. Zenith, hubungan kita selesai sampai di sini." Setelah mengatakannya, aku langsung mendorongnya menjauh, lalu masuk ke dalam lift.Aku benar-benar tidak menyangka Zenith akan mengejarku sampai ke Selandia Baru. Bahkan untuk menenangkan diri pun aku jadi tidak bisa tenang.Malam itu, Zenith kembali mengetuk pintu kamarku. Awalnya aku tidak berniat membukanya. Namun, dia terlihat seperti akan terus mengetuk sampai aku membuka pintu.Karena takut mengganggu orang lain, akhirnya aku membuka pintu dengan rantai pengaman masih terpasang. "Pak Zenith, tolong jangan ganggu saya lagi."Zenith langsung berbicara dengan cepat,"Alena, bukan a
"Entah kapan Pak Zenith menikah sama Bu Vanya. Mereka benar-benar cocok."Dia dan ... Vanya?Jadi, seluruh perusahaan mengira dia dan Vanya adalah pasangan, lalu Alena cemburu dan marah karena itu?Memikirkan hal tersebut, entah kenapa hati Zenith justru merasa sedikit senang.Selama lima tahun mengenal Alena, sifatnya selalu dingin dan tenang, seolah tidak ada apa pun yang bisa mengguncang emosinya. Bahkan selama tiga tahun pernikahan mereka, hubungan mereka selalu sopan dan menjaga jarak.Alena tidak pernah cemburu ataupun marah karena wanita lain. Dia pikir ... Alena tidak peduli.Zenith ingin menjelaskan semuanya padanya. Namun, Instagram-nya sudah diblokir, teleponnya tidak bisa dihubungi, bahkan dia tidak tahu Alena berada di mana.Zenith langsung menelepon asistennya, "Tolong cek penerbangan terbaru dan catatan hotel Alena."....Hari kedelapan menikmati matahari dan kebebasan di Selandia Baru, aku bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti aktivitas berkuda dari hotel.Dengan paka
Pada ulang tahun pernikahan pertama mereka, setelah selesai makan malam, keduanya kebetulan melewati sebuah studio foto pernikahan. Saat melihat gaun pengantin mewah di etalase, untuk pertama kalinya mata Alena memperlihatkan rasa iri dan kagum.Zenith berjalan di sampingnya. Cahaya dari etalase jatuh ke wajah Alena. Pada saat itu, Zenith tiba-tiba berkata, "Kamu suka? Kita foto prewedding saja?"Alena tampak terkejut, tetapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia.Setelah sesi foto selesai, Alena memilih salah satu foto favorit untuk dicetak besar dan digantung di ruang tamu. Namun sekarang, foto itu sudah tidak ada.Tanpa sadar Zenith mengepalkan tinjunya, lalu berjalan cepat menuju kamar. Meja yang sebelumnya penuh dengan produk perawatan kulit kini juga kosong melompong. Tidak ada satu pun pakaian Alena tersisa di lemari.Alena pindah?Pikiran itu sempat melintas di benaknya, tetapi langsung dia bantah sendiri.Tidak mungkin. Mana mungkin Alena pindah diam-diam saa
Panggilan dari Zenith.Aku mengangkat jus di sampingku, lalu meneguknya sedikit. "Pak Zenith, aku sudah mengundurkan diri. Kalau ada urusan, cari orang lain saja."Nada suaranya terdengar sedikit panik. "Alena, kamu sedang marah sama aku? Apa maksud surat perjanjian cerai itu? Bisa nggak kita bicara baik-baik?"Aku tersenyum."Kita sudah cerai. Itu tanda tanganmu sendiri. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan."....Ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Zenith pergi dinas tanpa membawa Alena bersamanya. Tanpa perhatian dari Alena yang selalu mengurus semuanya secara detail, dia merasa ada sesuatu yang sangat tidak terbiasa.Tentang kejadian tidak mengantarnya ke rumah sakit, dia terus memikirkannya beberapa hari ini dan merasa sedikit bersalah. Jadi, dia sengaja membiarkan Alena tinggal untuk beristirahat dengan baik.Namun entah kenapa, perjalanan dinas kali ini membuatnya terus merasa gelisah.Di ruang rapat, untuk pertama kalinya Zenith kehilangan fokus.Setelah rapat se
Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak.Selama setengah bulan berikutnya, selain urusan pekerjaan di kantor, aku dan Zenith hampir tidak pernah berbicara lagi. Setiap siang, Vanya selalu datang mencarinya untuk makan bersama. Seluruh perusahaan mulai menyebarkan rumor bahwa dia adalah calon nyonya besar mereka.Zenith sebenarnya sangat membenci gosip.Dulu juga pernah ada putri dari partner bisnis yang terang-terangan mengejarnya dan dia selalu segera memberi klarifikasi. Namun, kali ini dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah diam-diam mengakuinya.Status yang mati-matian kuusahakan selama tiga tahun tetapi tak pernah kudapatkan, dengan mudah diberikannya kepada Vanya.Hari itu, radang lambung akutku tiba-tiba kambuh. Aku kesakitan sampai berkeringat dingin di kantor. Saat mengantarkan dokumen kepada Zenith, dia langsung menyadari ada yang tidak beres."Kamu nggak apa-apa? Mau aku antar ke rumah sakit?"Namun sebelum aku sempat menjawab, telepon dari Vanya kembali masuk. "Kak Zenith,







