Share

Hati yang Berubah, Cinta yang Mati
Hati yang Berubah, Cinta yang Mati
Author: Fist

Bab 1

Author: Fist
Presdir yang biasanya dingin dan terhormat itu menyeretku masuk ke kamar setelah mabuk. Setelah semalaman yang kacau, dia bertanya padaku, "Mau nikah sama aku?"

Entah kenapa, aku malah mengangguk.

Aku kira ini adalah awal dari cinta, tapi ternyata setelah tiga tahun menjalani pernikahan rahasia dengannya, aku tetap tidak pernah mendapatkan status yang jelas.

Sampai pada hari ulang tahun pernikahan kami, cinta pertamanya pulang ke negara ini. Dia meninggalkanku sendirian di restoran sampai tutup demi pergi ke bar menjemput wanita itu, sementara aku pulang dengan diguyur hujan deras.

Saat aku hampir pingsan karena radang lambung akut, dia malah meninggalkanku begitu saja demi satu panggilan telepon dari cinta pertamanya itu.

Di kantor, ketika wanita itu bertanya siapa aku, dia menjawab dengan nada dingin, "Cuma sekretaris."

Hari itu juga, aku membuat janji konsultasi perceraian dengan kantor pengacara, membereskan rumah, juga membereskan perasaanku sendiri, lalu menghilang dari dunianya.

....

"Bu Alena, ini surat perjanjian cerai yang Anda minta." Di kantor firma hukum, pengacara yang duduk di seberang meja menyerahkan sebuah dokumen kepadaku.

"Hanya saja, perjanjian ini baru berlaku setelah ditandatangani kedua belah pihak. Selain itu, ada masa tenang perceraian selama satu bulan. Setelah masa itu selesai, baru bisa mengurus prosedur perceraian."

Aku menggenggam surat perjanjian cerai itu, lalu mengangguk.

Saat kembali ke Grup Goldcrest dengan taksi, waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh siang. Baru saja aku duduk di meja kerja, telepon langsung berdering, "Alena, antar secangkir kopi."

Mendengar suara yang begitu familier namun terasa jauh itu, aku terdiam sesaat.

"Baik, Pak Zenith."

Aku lalu membawa secangkir kopi dan beberapa dokumen masuk ke kantor Zenith. Dia sedang menunduk membaca dokumen di tangannya. Cahaya matahari menembus jendela besar di belakangnya, membuat sosoknya tampak sedikit lebih hangat.

Melihatku masuk, dia mengangkat kepala. Mata indahnya memantulkan bayanganku.

"Alena, tadi siang kamu ke mana? Kenapa nggak antarin makan siang untukku?"

Aku menundukkan mata, meletakkan kopi di depannya, lalu menjawab sekenanya, "Ada barang yang ketinggalan di rumah, jadi aku pulang untuk ambil. Aku lupa kasih tahu kamu."

Setelah itu, dengan sangat natural aku menyerahkan dokumen di tanganku kepadanya. "Ini kontrak pengembangan lahan di kawasan timur kota kali ini, perlu tanda tangan."

Zenith tidak bertanya lebih jauh. Dia menerima dokumen itu dariku, membalik dua halaman dengan asal-asalan, lalu mengambil pena dan menandatangani tiga halaman tanda tangan terakhir satu per satu.

Melihat dia benar-benar membubuhkan tanda tangan, hatiku yang sedari tadi gugup, kini akhirnya bisa tenang. Dia tidak akan tahu kalau di antara tiga halaman tanda tangan itu, aku menyelipkan halaman terakhir surat perjanjian cerai.

Bagaimanapun, sebagai sekretarisnya, aku tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaan selama lima tahun ini. Lama-kelamaan, dia jadi tidak lagi memeriksa detail dokumen yang kuberikan.

Kalau tidak begitu, mana mungkin semua ini berjalan semulus ini.

Setelah selesai menandatangani, Zenith meletakkan pena lalu memijat pelipisnya.

"Alena, beberapa hari ini kita terus sibuk mengurus proyek pengembangan. Kamu pasti capek sekali, ya? Untuk mengganti ulang tahun pernikahan minggu lalu, malam ini aku sudah pesan restoran yang kamu suka. Kita makan malam bersama, ya..."

Kalimatnya belum selesai ketika pintu tiba-tiba didorong terbuka. "Kak Zenith, aku bosan sekali. Aku datang cari kamu, kamu nggak keberatan, 'kan?"

Terdengar suara seorang wanita yang merdu. Aku menoleh dan melihat wajah cantik yang cerah dan menawan.

Vanya.

Cinta pertama Zenith.

Perhatian Zenith langsung sepenuhnya tertuju padanya. Dia sempat tertegun sejenak, lalu sudut bibirnya melengkung dengan lembut. "Tentu saja nggak. Jarang-jarang Bu Vanya datang berkunjung, cepat masuk dan duduk."

Setelah itu dia berkata dengan nada datar kepadaku, "Kontraknya sudah selesai ditandatangani, kamu bisa keluar." Sikapnya padaku benar-benar berbeda jauh dibanding beberapa detik yang lalu.

Baru saat itu Vanya menyadari keberadaanku yang berdiri di samping. Dia menjulurkan lidah dengan sedikit malu. "Kakak ini pegawai Kak Zenith ya? Cantik sekali."

Aku tidak menjawab, hanya mengangguk pada Zenith lalu berbalik keluar dari kantor.

Saat pintu tertutup, aku melihat Zenith berdiri dari kursi kerjanya lalu berjalan ke depan Vanya dengan suara lembut.

"Dia? Cuma sekretaris. Dasar kamu ini, kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau datang. Mau aku suruh mereka siapkan teh sore untukmu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 10

    Aku yang tadinya sudah sangat kesal, malah tertawa mendengarnya. Aku mengangkat alis lalu menatapnya. "Jadi? Maksudmu apa?"Sekilas senyum muncul di wajahnya. "Mau temani aku pulang untuk cari9? Kalau sudah ketemu, baru kita urus prosesnya."Aku benar-benar tidak menyangka kendali perceraian ini malah jatuh ke tangannya. Untuk sesaat, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana bereaksi.Namun melihat ekspresinya, rasanya marah pun percuma. Aku hanya melambaikan tangan dengan pasrah. "Baiklah, baiklah."Zenith buru-buru turun dari mobil, lalu membukakan pintu kursi penumpang untukku. "Silakan masuk, Alena."Aku belum pernah melihatnya bersikap seantusias ini, sampai rasanya agak lucu.Dulu wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi, tidak disangka sekarang dia malah begitu pandai membujuk orang.Aku masuk ke mobilnya lalu berkata dingin, "Jangan main trik lagi."Tak lama kemudian, kami kembali ke vila. Dengan mudah aku menemukan semua dokumennya di laci ruang tamu. Aku langsung kesal dan melempar

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 9

    Air mataku akhirnya tidak bisa lagi dibendung."Alena ...."Zenith jelas tidak menyangka ternyata selama ini aku menyimpan begitu banyak keluhan. Dia menatapku dengan bingung. "Aku ... ada kesalahpahaman di sini. Bukan seperti itu ...."Aku menarik napas panjang, lalu menghapus air mata di wajahku."Kesalahpahaman atau kenyataan, aku sudah nggak peduli lagi. Zenith, hubungan kita selesai sampai di sini." Setelah mengatakannya, aku langsung mendorongnya menjauh, lalu masuk ke dalam lift.Aku benar-benar tidak menyangka Zenith akan mengejarku sampai ke Selandia Baru. Bahkan untuk menenangkan diri pun aku jadi tidak bisa tenang.Malam itu, Zenith kembali mengetuk pintu kamarku. Awalnya aku tidak berniat membukanya. Namun, dia terlihat seperti akan terus mengetuk sampai aku membuka pintu.Karena takut mengganggu orang lain, akhirnya aku membuka pintu dengan rantai pengaman masih terpasang. "Pak Zenith, tolong jangan ganggu saya lagi."Zenith langsung berbicara dengan cepat,"Alena, bukan a

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 8

    "Entah kapan Pak Zenith menikah sama Bu Vanya. Mereka benar-benar cocok."Dia dan ... Vanya?Jadi, seluruh perusahaan mengira dia dan Vanya adalah pasangan, lalu Alena cemburu dan marah karena itu?Memikirkan hal tersebut, entah kenapa hati Zenith justru merasa sedikit senang.Selama lima tahun mengenal Alena, sifatnya selalu dingin dan tenang, seolah tidak ada apa pun yang bisa mengguncang emosinya. Bahkan selama tiga tahun pernikahan mereka, hubungan mereka selalu sopan dan menjaga jarak.Alena tidak pernah cemburu ataupun marah karena wanita lain. Dia pikir ... Alena tidak peduli.Zenith ingin menjelaskan semuanya padanya. Namun, Instagram-nya sudah diblokir, teleponnya tidak bisa dihubungi, bahkan dia tidak tahu Alena berada di mana.Zenith langsung menelepon asistennya, "Tolong cek penerbangan terbaru dan catatan hotel Alena."....Hari kedelapan menikmati matahari dan kebebasan di Selandia Baru, aku bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti aktivitas berkuda dari hotel.Dengan paka

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 7

    Pada ulang tahun pernikahan pertama mereka, setelah selesai makan malam, keduanya kebetulan melewati sebuah studio foto pernikahan. Saat melihat gaun pengantin mewah di etalase, untuk pertama kalinya mata Alena memperlihatkan rasa iri dan kagum.Zenith berjalan di sampingnya. Cahaya dari etalase jatuh ke wajah Alena. Pada saat itu, Zenith tiba-tiba berkata, "Kamu suka? Kita foto prewedding saja?"Alena tampak terkejut, tetapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia.Setelah sesi foto selesai, Alena memilih salah satu foto favorit untuk dicetak besar dan digantung di ruang tamu. Namun sekarang, foto itu sudah tidak ada.Tanpa sadar Zenith mengepalkan tinjunya, lalu berjalan cepat menuju kamar. Meja yang sebelumnya penuh dengan produk perawatan kulit kini juga kosong melompong. Tidak ada satu pun pakaian Alena tersisa di lemari.Alena pindah?Pikiran itu sempat melintas di benaknya, tetapi langsung dia bantah sendiri.Tidak mungkin. Mana mungkin Alena pindah diam-diam saa

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 6

    Panggilan dari Zenith.Aku mengangkat jus di sampingku, lalu meneguknya sedikit. "Pak Zenith, aku sudah mengundurkan diri. Kalau ada urusan, cari orang lain saja."Nada suaranya terdengar sedikit panik. "Alena, kamu sedang marah sama aku? Apa maksud surat perjanjian cerai itu? Bisa nggak kita bicara baik-baik?"Aku tersenyum."Kita sudah cerai. Itu tanda tanganmu sendiri. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan."....Ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Zenith pergi dinas tanpa membawa Alena bersamanya. Tanpa perhatian dari Alena yang selalu mengurus semuanya secara detail, dia merasa ada sesuatu yang sangat tidak terbiasa.Tentang kejadian tidak mengantarnya ke rumah sakit, dia terus memikirkannya beberapa hari ini dan merasa sedikit bersalah. Jadi, dia sengaja membiarkan Alena tinggal untuk beristirahat dengan baik.Namun entah kenapa, perjalanan dinas kali ini membuatnya terus merasa gelisah.Di ruang rapat, untuk pertama kalinya Zenith kehilangan fokus.Setelah rapat se

  • Hati yang Berubah, Cinta yang Mati   Bab 5

    Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak.Selama setengah bulan berikutnya, selain urusan pekerjaan di kantor, aku dan Zenith hampir tidak pernah berbicara lagi. Setiap siang, Vanya selalu datang mencarinya untuk makan bersama. Seluruh perusahaan mulai menyebarkan rumor bahwa dia adalah calon nyonya besar mereka.Zenith sebenarnya sangat membenci gosip.Dulu juga pernah ada putri dari partner bisnis yang terang-terangan mengejarnya dan dia selalu segera memberi klarifikasi. Namun, kali ini dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah diam-diam mengakuinya.Status yang mati-matian kuusahakan selama tiga tahun tetapi tak pernah kudapatkan, dengan mudah diberikannya kepada Vanya.Hari itu, radang lambung akutku tiba-tiba kambuh. Aku kesakitan sampai berkeringat dingin di kantor. Saat mengantarkan dokumen kepada Zenith, dia langsung menyadari ada yang tidak beres."Kamu nggak apa-apa? Mau aku antar ke rumah sakit?"Namun sebelum aku sempat menjawab, telepon dari Vanya kembali masuk. "Kak Zenith,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status