Share

137. Shara

last update publish date: 2026-09-19 09:27:34

Jeevi hanya melirik ketika ponselnya bergetar. Daripada mengangkat benda itu, dia lebih memilih mengurusi kelincinya. Wanita itu tahu suaminya yang melakukan panggilan. Namun karena masih kesal dengan pria itu, Jeevi mengabaikan.

Ada sekitar sepuluh pesan dari lelaki itu yang belum Jeevi lihat. Sampai pria itu pulang nanti, Jeevi tidak mau mengatakan apapun.

"Kak Jeevi, ngapain?"

Jeevi yang sedang berjongkok di depan kelinci menoleh, dan menemukan Shara tak jauh dari tempatnya berada. Di jam
Yuli F. Riyadi

Nah kan nyesel Jeev... Lo sih ovt mulu

| 13
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Pucuk dicinta ulam pun tiba hoho
goodnovel comment avatar
Anies
wkwkwk orangnya muncul dong...
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Manurung sampe dibawa-bawa wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   141. Era dan Yosi

    Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan.

  • Hello, Husband!   140. Abegeh Tua Birahi

    “Serius boleh?”“Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.”“Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia baru akan m

  • Hello, Husband!   139. Insting

    Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme

  • Hello, Husband!   138. Biar Kamu Puas

    “Iya, aku maafin.”Bahu Jeevi yang terguncang efek menangis sontak menegak mendengar suara itu. Dia memutar kepala melewati bahu. Tidak jauh dari posisinya, wanita itu melihat Wima berdiri tersenyum hangat menatapnya. “Mas Wima,” bisik Jeevi segera berdiri. Dengan langkah cepat dia menghampiri pria itu dan menghambur ke pelukannya. Jeevi membenamkan wajah ke dada Wima sebab malu ketahuan menangis diam-diam. “Sudah selesai ngambeknya?” tanya Wima selagi mengelus punggung istrinya. Di pelukan Wima, Jeevi menggeleng. Dia belum mau mengangkat wajah sampai akhirnya Wima membopong wanita itu memasuki paviliun. “Kamu nggak balas pesanku, nggak angkat telepon. Bikin aku nggak fokus kerja,” ucap pria itu sesaat setelah membaringkan istrinya ke tempat tidur. “Sebenarnya aku buat kesalahan apa? Aku beneran bingung,” lanjutnya lantas ikut berbaring di sebelah wanita itu. Menggunakan sapu tangan dia mengusap wajah Jeevi yang basah. “Dari semalam kan kamu nangis? Bikin aku nebak-nebak sampai k

  • Hello, Husband!   137. Shara

    Jeevi hanya melirik ketika ponselnya bergetar. Daripada mengangkat benda itu, dia lebih memilih mengurusi kelincinya. Wanita itu tahu suaminya yang melakukan panggilan. Namun karena masih kesal dengan pria itu, Jeevi mengabaikan. Ada sekitar sepuluh pesan dari lelaki itu yang belum Jeevi lihat. Sampai pria itu pulang nanti, Jeevi tidak mau mengatakan apapun. "Kak Jeevi, ngapain?"Jeevi yang sedang berjongkok di depan kelinci menoleh, dan menemukan Shara tak jauh dari tempatnya berada. Di jam kerja seperti ini, dia jarang melihat adik pertama Wima itu. Dia salah satu wanita tersibuk di rumah ini. Lantaran bersama suaminya, Shara memiliki usaha di bidang IT.Jeevi tersenyum, membiarkan kelinci kecil berjalan ke punggung tangannya, lalu berdiri. "Shara, kok kamu di rumah?" Dia bergerak mendekati adik iparnya. "Iya, Kak. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke bunda." Mata pekat Shara melirik sesuatu yang Jeevi bawa. “Kelinci? Kamu pelihara kelinci, dan Kak Wima izinin?” tanya wanita i

  • Hello, Husband!   136. Mood Swing

    “Masih di kendala yang sama. Tapi manajer operasional berhasil menangani pemilik tanah dengan bijak. Diperkirakan tahun depan sudah mulai pembangunan. Kemudian untuk Dinasty Art di Bali, permintaan ekspor makin meningkat khususnya di wilayah Asia Timur. Pasar Amerika yang sepertinya agak lesu. Mungkin karena dampak perang dan juga cuaca yang kurang baik akhir-akhir ini. Saham yang Anda—”Rafli menghentikan laporannya dan mengerutkan dahi ketika melihat sang atasan malah melamun alih-alih mendengarkan. Ya Tuhan, mulutnya sudah menyerocos hampir satu jam dan pria di depannya malah sibuk dengan dunianya sendiri. Asisten dengan setelan jas abu itu membuang napas perlahan. Mencoba tetap sabar meski rasanya sudah ingin mengunyah meja. “Pak?”Not respond. Persis seperti web yang kehilangan server. “Pak Wima?” panggil Rafli sekali lagi. Makin parah. Lamunan Wima sepertinya sudah sampai ke Antartika. Tidak ada sinyal. Kembali Rafli menarik napas panjang. Lantas dengan sedikit keras meleta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status