LOGIN
Kepala Wima nyaris meledak saat menginjakkan kaki di salah satu bar milik temannya. Dia mengendurkan dasi dan menyeret langkah ke meja bar. Dengan napas berat, pria itu memesan minuman sebelum beranjak duduk di stool.
Bartender bernama Lucas—sekaligus pemilik bar—segera menyajikan minuman yang Wima pesan. “Ada masalah?” tanya Lucas melihat wajah kecut temannya itu. “Saham anjlok? Investasi gagal? atau tekanan dari nyokap Lo lagi?” Wima menarik napas berat. Pria yang senantiasa terlihat rapi itu tampak kacau. Daripada gagal investasi ini jauh lebih buruk. Dia memijat kepalanya yang berdenyut. “Lebih dari itu.” “Berat banget dong.” Di saat yang sama seorang gadis dengan baju khas karyawan bar ini datang sambil pasang wajah merah padam. Tanpa permisi gadis itu mengambil minuman yang Lucas sajikan dan menenggaknya langsung. Mata Lucas kontan terbelalak melihat tingkah salah satu karyawannya itu. Sementara Wima yang duduk di atas bar stool melihat gadis itu dengan alis naik sebelah. “Jeevi?!” teriak Lucas tertahan dengan mata mendelik. “Apa yang lo lakuin?!” “Ya ampun, iya, iya, potong dari gaji gue deh. Gue lagi kesel banget soalnya.” “Bukan soal gaji, tapi itu minuman pelanggan. Lo nggak sopan main nyerobot seenaknya.” Alis bartender itu menukik tajam. Seakan baru sadar, gadis yang dipanggil Jeevi itu melirik horor pria yang duduk anteng di atas stool. Sumpah! Tadi lelaki itu nggak ada di sana. Gimana bentukannya tiba-tiba udah jogrog di situ? “Sori, Om—eh, Pak! Sori, sori. Saya bakal ganti minuman Bapak.” Gadis itu panik seketika melihat muka datar pria itu. “Kulkas, bikinin lagi gih!” perintahnya pada Lucas. “Heh, bocah!” Lucas nyaris saja melempar Jeevi dengan botol shaker kalau tidak ingat di sini masih ada Wima. Jeevi menyilangkan lengannya, menutupi kepala. “Ampun, Om. Eh, jadi om-om jangan emosian dong. Ntar cepet tua.” Bartender berambut two block itu menggeram, tanduknya perlahan keluar. “Jee—viiii….” Gadis yang dipanggil Jeevi itu mengerjap-ngerjap. Matanya melingkar bulat melihat tampang bartender sekaligus bosnya itu berubah menyeramkan. Secepat kilat dia mengambil nampan yang ada di meja bar. “Iya, iya, gue kerja lagi,” ujarnya panik sebelum lari terbirit-birit meninggalkan meja bar. Lucas kontan menarik napas panjang beberapa kali, guna meredakan emosi akibat kelakuan anak buahnya itu. “Sori, Wim. Jadi terdistraksi sama bocah itu.” Wima melirik gadis yang Lucas sebut bocah. Pemilik tulang hidung tinggi itu lantas menatap Lucas. “Anak magang?” “Ya begitulah.” “Lo bakal rugi kalau pelihara bawahan seperti dia.” Dengan kesadaran penuh Lucas mengangguk. “Tapi dia ponakan gue. Ponakan jauh sih.” Bahunya kontan meluruh. “Kalau nggak karena ibunya, udah gue tendang tuh bocah dari lama. Repotin, tapi kasihan juga kalau nggak dibantu.” Sudut bibir Wima berkedut. Dia memutar kepala ke bahu dan melihat gadis itu sedang membersihkan meja sambil nyanyi-nyanyi. Dengan cekatan gadis itu juga membawa gelas dan piring kotor. Ternyata ada sisi positifnya juga. “Balik ke Lo. Jadi apa yang bikin Lo muram durja?” tanya Lucas kembali ke topik. Dengan terpaksa pria berkulit pucat itu membuat minuman Wima lagi. “Kalla akhirnya nikah sama duda satu anak itu.” Jawaban itu membuat bartender di hadapan Wima melotot. Pasalnya dia tahu cerita tentang si gebetan bujang matang ini. “Serius?” Wima cuma mengangguk. Tangannya menyambar gelas kecil yang Lucas dorong, lantas menandaskan isinya dalam satu kali tegukan. Wajahnya meringis meningkahi sensasi asam manis yang melewati tenggorokannya. “Mungkin ini saatnya Lo move on, Wim. Penantian Lo nggak ada artinya sama sekali. Parah sih nih cewek.” Pentolan Sagara Grup itu menggeleng. Tidak menyalahkan wanita itu. “Gue yang salah karena masih ngotot nunggu. Jelas-jelas dia nggak cinta gue, dan cuma anggap gue … kakak.” Wima tersenyum miris. Menertawakan nasibnya sendiri. Di usianya yang sudah kepala empat, dirinya masih saja kena masalah patah hati. Orang-orang seusianya sudah sibuk mengurus anak-anak mereka yang sudah beranjak remaja. Sementara dirinya masih saja terjebak di cinta tak terbalas. Susah sekali dirinya membuka hati, giliran terbuka, malah patah kian parah. “Lo sama sekali nggak tertarik sama perempuan yang nyokap Lo pilih itu?” “Leona?” “Ah, dia. Dia cantik juga. Masih muda lagi. Dia bisa—” Wima mengangkat tangan. Lalu menggeleng. “Dia sudah nyerah. Sama seperti perempuan lainnya, yang datang dan pergi begitu saja. Lagi pula…dia cuma butuh suntikan modal dari nyokap gue.” Dia menandaskan lagi satu gelas alkohol. Lucas hanya memberinya sampai gelas ketiga. Ketika Wima meminta lagi, pria pucat itu menolak. “Lo datang nggak sama Rafli. Nggak ada yang jagain Lo.” “Ada lo.” Kepala Wima sudah seperti melayang. Dia mengerjap-ngerjapkan mata yang mulai tak fokus. “Sori, kerjaan gue banyak. Gue telpon asisten lo.” Lucas baru mau mengambil ponselnya ketika Wima mengibaskan tangan. “Percuma. Dia lagi ke Makassar, gantiin urusan gue di sana.” Wima turun dari stool dengan tubuh yang terasa begitu ringan. Dirinya masih sadar meskipun otaknya sudah mulai dikuasai reaksi alkohol. “Gue balik dulu. Gue masih bisa nyetir kok.” “Tapi, Wim—” Wima cuma mengibaskan tangan. Mengisyaratkan agar Lucas tak perlu cemas padanya. Ini masih bisa Wima atasi sendiri. Dia yang paling tahu kapasitas tubuhnya. Tiga gelas Tequila tidak akan bikin dia kolaps. Pria itu berjalan keluar dari bar. Langkahnya tampak biasa, meskipun sesekali harus berhenti untuk mengibaskan kepalanya. Aneh, padahal hanya tiga gelas kecil, biasanya lebih dari lima gelas juga baik-baik saja. Tangan besar Wima refleks bertopang pada body mobil saat tiba-tiba kepalanya terasa pening. “Makanya kalau udah tua jangan sok-sokan minum. Mana kuncinya?” Wima menoleh ketika tiba-tiba suara kasar seorang perempuan terdengar. Tatapnya melihat gadis dengan rambut kuncir ekor kuda tengah menengadahkan tangan padanya. Sudut bibirnya naik. Ternyata perempuan itu karyawan Lucas yang meneguk minumannya tanpa rasa bersalah. Kalau tidak salah namanya tadi… Jeevi? “Kamu… Mau nyupirin saya?” tanya Wima dengan alis terangkat seolah tidak percaya. Gadis pendek yang bisa diperkirakan masih sekolah itu mau sok-sokan nyetir? Wima yakin SIM saja pasti belum punya. Ditambah jenis mobil yang Wima pakai sekarang bukan jenis mobil yang orang kebanyakan punya. Pria itu terkekeh geli. Bisa-bisanya Lucas mengirim gadis ini padanya. “Kenapa ketawa? Om nggak percaya kalau saya bisa nyetir?” Wajah Jeevi sedikit menekuk. Sebelah tangannya merogoh saku celana jinsnya. Lalu mengeluarkan dompet kecil. Dia memamerkan kartu izin mengemudi pada Wima. “Nih! saya punya SIM!” Bibir Wima berkedut menahan senyum. “Oke. Saya percaya,” katanya mengangguk-ngangguk. Dalam keadaan setengah mabuk dia tidak mau berdebat dengan bocah yang entah dari mana bisa memiliki SIM itu. “Oke, kamu bisa antar saya.” Wima melempar kunci mobilnya—yang segera Jeevi tangkap—sebelum masuk ke bagian pintu penumpang. Dia ingin tahu apa reaksi gadis itu saat memasuki kendaraan pabrikan Inggris kesayangannya itu. Namun tidak ada reaksi apapun. Jeevi masuk, dan duduk dengan santai di balik kemudi tanpa kebingungan. Membuat Wima yang duduk di belakang mengernyitkan kening. Gestur tubuh gadis itu seolah sudah terbiasa memakai mobil mewah. “Om serius duduk di belakang? Saya berbaik hati gini nyupirin malah dijadiin supir beneran.” Wima yang sudah nyaman duduk di kursinya terkekeh. “Saya kasih f*e dua kali lipat dari yang Luke kasih.” Mata Jeevi langsung bersinar. Dia seketika bersemangat. “Wah kalau udah ngomongin dua kali lipat, itu beda cerita. Oke, berangkaaat….!” Wima menggeleng melihat tingkah absurd gadis itu. Lucu, mengingatkannya pada Kalla. Bedanya, Kalla tidak mata duitan. Ah, sial! Wima memejamkan mata. Bisa-bisanya dia kepikiran wanita yang sudah jadi milik orang itu.“Rafli, kamu bis—”Jeevi menoleh ketika Wima menjeda kalimatnya. Dia mengikuti arah pandang pria itu. Tidak ada Rafli atau pun Brina di mini bar. “Mereka ke mana?” tanya Wima mengerutkan dahi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun beberapa detik lamanya, dia pun menghela napas. Melihat ekspresi suaminya, Jeevi mengernyit. “Kamu tahu mereka ke mana, Mas?” “Mungkin di ruangan sebelah.”“Ruang sebelah?” “Ruangan Rafli.” Wima beranjak ke meja dan menekan angka satu yang langsung menghubungkan ke ruang kerja Rafli. Tidak lama, suara Rafli terdengar dari mesin interkom.“Ya, Pak?” “Kamu ingat ini masih jam kerja, kan?”“Ya, saya tahu, Pak.”“Cepat ke ruangan saya.” Wima mematikan panggilan itu dengan cepat. Lantas kembali mendekati istrinya. “Brina sama Mas Rafli juga, Mas?” tanya Jeevi saat suaminya duduk di sebelahnya.“Yang hilang kan mereka berdua.”“Mereka masih berhubungan rupanya.” Jeevi mendesah. Menarik napas panjang. Dia bukan tidak mengizinkan. Kalau
“Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun
Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan
Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “
“Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar
Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme







