Home / Romansa / Hello, Husband! / 207. Mau Coba?

Share

207. Mau Coba?

last update publish date: 2026-10-18 12:07:21

Hanya ada beberapa pengunjung saat Jeevi memasuki kafe yang berada di lantai lobi gedung perkantoran Sagara Grup. Alih-alih langsung ke kampus, Jeevi mampir ke kafe tempat biasa dirinya bertemu Brina.

Setelah memesan menu latte dan beberapa pastry, Jeevi memilih tempat duduk di sudut kafe yang agak jauh dari area meja bar. Dia akan menunggu Brina di sana yang sudah membuatnya sampai ke sini.

Jeevi menengok pergelangan tangan. Masih ada satu jam sebelum kelas dimulai. Brina menelepon tepat ket
Yuli F. Riyadi

Influencer yang ketawanya dollar loh, Raf.wkwk

| 11
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Mrs. Diah Marlena
sarung gajah betelor best... wkwkwkwkw
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Yuk udah up say
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Main kuda-kudaan dieee wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   208. Intro

    “Najis banget, jadi lo nyuruh gue ke sini cuma buat dengerin kalian berdua pacaran?”“Ya ampun, Bocah. Itu namanya intro. Kali aja lo bisa ambil hikmah.”“Hikmah apaan paling ujung-ujungnya lo kimpoy, ucluk, ngew—”“Hus!” Brina melirik kiri-kanan, seolah mengamati keadaan sebelum tawanya pecah. Dia menoyor pelan kepala Jeevi. “Filter omongan lo, Bego. Kita lagi di tempat umum.”“Ya abis lo ngeselin. To the point aja.” “Bentar dulu dong ah.” Brina menarik napas panjang beberapa kali. Kemudian lanjut cerita.**Selama sekitar sepuluh menit Brina merasakan pijatan tangan Rafli di bahunya. Nyaman dan memiliki efek menggetarkan. Tangan pria memang lebih kuat dan mantap. Keduanya berada dalam satu bathtub. Dengan posisi Brina agak ke tengah, memberi ruang untuk Rafli duduk di belakang. “Mau tambahan lagi?” tanya Rafli mendekat tepat ke samping telinga Brina. “Rugi kalau nggak nambah.”“Oke, tapi ini beda treatment ya.”Meski mengernyit, Brina hanya mengangguk. Apapun asal badannya tidak

  • Hello, Husband!   207. Mau Coba?

    Hanya ada beberapa pengunjung saat Jeevi memasuki kafe yang berada di lantai lobi gedung perkantoran Sagara Grup. Alih-alih langsung ke kampus, Jeevi mampir ke kafe tempat biasa dirinya bertemu Brina. Setelah memesan menu latte dan beberapa pastry, Jeevi memilih tempat duduk di sudut kafe yang agak jauh dari area meja bar. Dia akan menunggu Brina di sana yang sudah membuatnya sampai ke sini. Jeevi menengok pergelangan tangan. Masih ada satu jam sebelum kelas dimulai. Brina menelepon tepat ketika Jeevi berhasil mengumpulkan semua nyawanya setelah bangun tidur. “Kita harus ketemu. Ada hal yang mau gue omongin ke lo. Penting.”“Nggak bisa ngomong sekarang aja, Bri?” “Nggak bisa. Gue nggak mau lo overthinking terus pingsan. Laki lo pasti udah cabut kan?”“Kok lo tau?”“Taulah. Soalnya Rafli juga buru-buru cabut abis dapat kabar itu.”Deg! Jantung Jeevi seolah berhenti berdetak. Ini pasti kabar tentang Rani. “Oke kita ketemu di mana?”“Kafe biasa aja. Jangan jauh-jauh ntar gue repot.

  • Hello, Husband!   206. Tangki Cinta

    Dalam tidur Jeevi tersenyum geli. Dia tahu saat ini suaminya sedang misuh-misuh sambil mengenakan kimononya. “Aku nggak keberatan kalau kamu mau telanjang, Mas,” ujar wanita itu dengan mata setengah terbuka, lalu terkekeh kecil. “Tapi di depanku aja.”Wima mendengus seraya mengikat kimono setelah mengenakan celana panjang. “Jika yang di luar Rafli, aku pastikan bakal potong gajinya kalau nggak bawa kabar penting.” “Jangan jadi bos kejam seperti Om Luke.” Wima menghela napas panjang sebelum keluar kamar. “Kamu lanjut tidur saja,” ujarnya lantas bergegas turun lantaran orang di luar masih saja menekan bel. Wima sempat melihat orang di balik pintu itu melalui layar. Ternyata benar Rafli. Dia menggeram jengkel seraya bergegas menuju pintu. “Kamu tahu saya baru tidur pukul tiga pagi?” tegur Wima saat dirinya membuka pintu dan langsung berhadapan dengan asistennya itu. Tidak ada raut bersalah, yang Wima lihat Rafli justru memasang wajah tegang. “Maafkan saya, Pak Wima. Tapi ini beri

  • Hello, Husband!   205. Abi-Ummi

    “Kalau ini besar pasti lucu.”“Ngeledek.”“Serius, Sayang. Kamu cantik, imut, ditambah perutnya besar, pasti makin—”“Kayak badut,” potong Jeevi cepat. Membuat Wima kontan tertawa. “Nggak. Kamu tetap cantik. Apalagi kalau lagi hamil anakku.” Pandangan Wima kembali turun ke perut Jeevi yang terbuka. Tangannya mengelus pelan. “Isi lagi ya. Biar Abi ada temennya.”“Hah?! Apa tadi?” “Apa?”“Kamu tadi sebut diri kamu apa?”“Uhm, abi?” Seketika tawa Jeevi pecah. Dia ngakak sambil guling-guling di atas kasur. Membuat Wima mengernyit heran. “Emang salah?”Jeevi berhenti tertawa sejenak. “Kalau kamu abi, aku ummi dong!” “Boleh.”Jeevi kembali ngakak brutal, kali ini sambil nungging-nungging. Membuat Wima ngeri sendiri. “Sayang, jangan aneh-aneh deh.”“Kamu yang aneh, Mas!” Jeevi mengusap sudut matanya yang basah. Perutnya sakit karena tertawa. “Muka kita.” Dia menuding dirinya dan suaminya. “Nggak cocok banget dipanggil abi-ummi.”“Siapa bilang? Cocok aja kok.”“Umumnya orang Indo pada u

  • Hello, Husband!   204. Rumahku Kamu

    “Luke bilang kamu ke bar sama Jenan.” Di pelukan Wima, Jeevi mengangguk pelan. Pria itu langsung memeluk sebelum dirinya mengatakan apa-apa. Jeevi membiarkan saja karena sepertinya Wima memang membutuhkan itu. “Maaf ya sudah ninggalin kamu di rumah. Aku tadi pulang ke sana lagi buat jemput kamu, tapi kamu nggak ada di paviliun. Harusnya aku sadar kamu nggak mungkin mau tinggal di sana lagi setelah semuanya.” Wima menarik napas untuk menjeda kalimatnya. “Lalu aku ingat Luke yang sempat telepon. Saat dia bilang kamu datang ke barnya sama Jenan, aku langsung pulang ke unit.” Setelah memberi keterangan yang sebenarnya tidak Jeevi perlu, Wima mengurai pelukannya. “Kamu dari mana aja?” tanya Jeevi datar. Ada bau asap rokok di kemeja pria itu. “Jalan-jalan cari udara segar.”Di kediaman keluarga Sagara banyak udara segar karena rumah itu dikelilingi pepohonan. Bahkan di paviliun ada pohon rindang. Tidak perlu jauh-jauh mencari udara segar. “Kamu nggak angkat panggilanku.”“Iya, maaf.”

  • Hello, Husband!   203. Amnesti

    “Kamu akrab ya sama Lucas.” Jeevi tertawa saat Jenan mengatakan itu. “Apa yang kayak tadi bisa disebut akrab?” Jenan mengangguk. Meski dibalut dengan keributan, justru itu yang membuat Jenan bisa menyimpulkan mereka dekat. “Aku jadi iri. Andai kita lebih awal bertemu. Mungkin aku bisa sedekat itu sama kamu seperti Lucas.” Menatap Jenan, Jeevi tersenyum kecil. “Kamu sama Lucas punya sifat berbeda. Keakraban kita pasti beda. Ibarat kata Lucas itu api, kamu airnya.” “Cara kami menyalurkan rasa sayang beda, begitu?” Jeevi mengangguk setuju, lantas menarik gelas dan meneguk isinya hingga tandas. Malam ini sudah cukup dia melarikan diri. Dia mengusap layar ponsel hingga membuat benda itu menyala. Masih belum ada balasan atau panggilan dari Wima. Pria itu mungkin benar-benar sedang butuh sendiri. Jeevi kembali menyimpan ponsel. “Aku mau pulang,” ujarnya turun dari stool. “Aku antar.” “Nggak perlu, Kak. Aku kan bawa mobil sendiri.” “Nanti aku suruh orang bawa mobil itu. Aku nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status