Share

5. Jiwa Peri

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 20:04:50

Wima akhirnya menemukan gadis itu. Ah, lagi-lagi dia lupa Jeevi bukan gadis, tapi wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis. Wima menemukan wanita itu di taman samping tempat parkir karyawan.

Jeevi tengah berjongkok, sambil mencoret-coret tanah, persis anak kecil. Awalnya Wima ingin langsung menegur, tapi saat mendengar isakan kecil, dia mengurungkan niat.

Dalam cahaya remang lampu taman, Wima pelan-pelan mendekat. Makin dekat dia bisa melihat bahu Jeevi bergetar. Tangannya baru akan terulur ketika tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan—

“Harrgg!”

Wima terlonjak kaget melihat muka mengenaskan wanita itu. Dia spontan mengusap dada, menenangkan debaran jantungnya.

Wajah Jeevi bersimbah air mata. Matanya pun bengkak. Hidungnya merah. Rambutnya yang dicepol berantakan seperti habis diterjang badai. Dia masih terisak ketika berdiri.

Dengan kaos yang dipakai, Jeevi mengelap wajah dan ingusnya. Membuat Wima di depannya menatap ngeri.

“Kamu oke?” tanya Wima menjaga jarak. Jangan sampai ingus itu mengenai dirinya.

“Menurut situ saya kayak oke?” sahut Jeevi agak jutek. Kembali dia mengusap hidung dengan kaos.

Benar-benar jorok! Apa wanita itu tidak punya tisu?

“Pakai ini! Ini masih bersih, belum dipakai.” Wima memanjangkan tangan, menyerahkan sapu tangan miliknya.

“Nggak usah. Saya malas nyucinya.”

“Nggak usah dicuci kamu buang aja abis pake.” Biar pun sudah dicuci, Wima tak sudi memakai sapu tangan bekas orang. Apalagi orangnya jorok seperti Jeevi.

Namun wanita itu tetap menolak. Jeevi lebih pilih bergerak ke sebuah kran dekat parkiran. Lalu mencuci mukanya di sana. Efektif pakai air daripada sapu tangan.

“Om nyari saya?” tanya Jeevi saat kembali berhadapan dengan Wima. Wajahnya sudah lumayan segar. Jejak-jejak tangis pun raib. Dia kembali bersikap santai seperti Jeevi yang terlihat di permukaan selama ini.

“Oh iya.” Wima agak tersentak seolah baru diingatkan kembali tujuannya mencari Jeevi. “Ini! Punya kamu kemarin itu ketinggalan di mobil.”

Mata Jeevi yang masih memerah melirik benda itu. Benar itu dompetnya. Dompet yang isinya kadang berguna, kadang enggak.

Jeevi menerima benda itu dengan malas. “Makasih, Om.”

Wima mengangguk. Dia baru berencana akan pergi ketika tiba-tiba Jeevi bersuara lagi.

“Jangan cerita sama Om Luke yang om liat tadi. Dia pasti tertawa paling kenceng kalau lihat saya begini.”

“Oke.”

“Saya kecewa banget. Saya pikir dia satu-satunya orang yang mau terima saya apa adanya. Tapi ternyata sama saja.”

Alis Wima terangkat. Dia tidak ingin mendengar curhatan orang yang baru putus cinta saat hatinya juga sedang tidak baik-baik saja. Wima sudah akan membuka mulut ketika Jeevi bersuara lagi.

“Apa semua orang kaya begitu? Menikahi orang yang sama-sama kaya, tapi tetep mau memiliki pacar miskinnya? Serakah banget jadi orang kaya.”

Wima menghela napas panjang. Kurang lebih dia sudah mengerti situasi wanita itu.

“Nggak semuanya saya rasa,” respons Wima mengangkat bahu. Detik berikutnya dia terperanjat ketika Jeevi menatapnya tajam.

“Yakin Om juga nggak begitu? Om pasti punya istri dan pacar sekaligus kan?” tuduh wanita itu menyebalkan.

Saat itu juga Wima menyesal tidak cepat-cepat pergi dari hadapan wanita aneh ini. “Saya nggak punya dua-duanya.”

Kening Jeevi refleks mengerut. Pandangannya tampak tidak percaya. “Jangan bohong! Om Luke bilang kamu itu penguasa Sagara Group. Udah pasti orang-orang seperti kalian—”

Wima membuang napas lega ketika ponsel milik wanita itu berdering. Perhatian Jeevi seketika teralihkan dan kesempatan itu Wima gunakan untuk mengambil langkah seribu.

Namun jangankan langkah seribu, baru dua langkah, kakinya sudah berhenti bergerak saat mendengar pekikan Jeevi.

“Mama pingsan?!”

Terkutuklah hati Wima yang mudah peduli. Alih-alih melanjutkan langkah, pria itu malah berbalik. Memperhatikan bagaimana Jeevi bicara di telepon. Wanita itu kembali menangis, bibirnya tampak bergetar saat bicara.

“B-baik, Bi. A-aku ke rumah sakit sekarang.” Jeevi mengusap pipinya yang basah sebelum buru-buru pergi. Bahkan wanita itu seperti melupakan keberadaan Wima.

“Tunggu!” seru Wima, membuat Jeevi berhenti melangkah. “Saya antar kamu.” Dia mengumpat dalam hati saat menyadari ucapan refleksnya itu. Tapi saat melihat Jeevi kembali bersimbah air mata, lagi-lagi jiwa perinya kalah.

*

IGD rumah sakit tampak sibuk saat mereka datang. Jeevi bergegas mencari bed ibunya. Namun dari sepuluh bed yang ada di sana, dia tidak menemukan keberadaan sang ibu. Beberapa kali dia bertanya pada suster dan dokter, tidak ada yang menanggapi. Kehadiran Jeevi seolah hanya pengganggu, tak kasat mata di tengah kesibukan mereka.

Tidak ada yang peduli padanya. Bahkan saat dia menangis deras seperti ini. Jeevi putus asa di tengah rasa khawatirnya. Sampai sebuah tangan menyentuh lengannya.

Dia menoleh dan matanya yang basah menemukan Wima. “Om masih di sini?” tanya perempuan itu. Saat pria itu berhasil mengantarnya ke rumah sakit, saking cemasnya Jeevi langsung turun begitu saja dari mobil. Dia pikir pria itu langsung pergi.

Wima menarik tangan Jeevi keluar dari IGD. Lalu menuntun wanita itu duduk. “Biar saya yang bertanya,” katanya tenang.

Setelah mendapat beberapa informasi dari Jeevi, pria itu beranjak menemui salah satu perawat.

Jeevi memperhatikan bagaimana pria itu melobi salah satu perawat. Ajaibnya perawat itu langsung merespons dan melayani pertanyaan Wima dengan baik. Bahkan tak lama kemudian seorang dokter ikut nimbrung.

Jeevi tertawa miris. Dasar manusia. Hanya karena penampilannya lusuh mereka memperlakukan dirinya berbeda. Jeevi akui dirinya sekarang miskin, tapi bukan berarti dia layak diperlakukan berbeda.

Jika masih memiliki tenaga, ingin rasanya dia merangsek maju, dan memberi sedikit pelajaran pada dokter dan perawat yang sudah mengabaikannya itu.

Namun emosinya tidak berlangsung lama ketika Wima memberinya kabar buruk tentang kondisi ibunya.

“Ibu kamu ada di ruang sebelah dan sedang menunggu persetujuan operasi dari keluarga. Mereka bilang tidak bisa menunda operasinya lagi.”

Bukannya cepat bertindak, Jeevi malah mundur pelan dan kembali duduk dengan bahu merosot. Sikapnya membuat Wima bingung.

“Kamu harus segera tanda tangan! Jangan menunggu lagi. Ibu kamu perlu—”

“Uang dari mana?” gumam Jeevi lemah. “Sudah lama dokter menyarankan mama operasi. Tapi kami nggak punya cukup uang buat biaya operasi itu sendiri. Uang yang saya kumpulkan masih jauh dari kata cukup. Itu pun harus terus diambil buat biaya rawat jalan mama.”

“Apa kamu sudah membicarakan ini sama Luke?”

Jeevi menggeleng pelan. “Saya dan keluarga sudah banyak merepotkan Om Luke. Utang saya buat biaya rumah sakit tempo hari saja belum lunas.”

Wima memejamkan mata sesaat. Dia jelas tidak ingin ikut campur masalah orang yang tidak dia kenal dengan baik. Cukup sampai di sini saja. Sudah waktunya dia mundur. Biarlah itu menjadi urusan wanita itu. Kesusahan Jeevi bukan tanggung jawabnya.

Namun baru saja hatinya memutuskan untuk berhenti, wanita itu menggapai tangannya dengan kepala menunduk.

“Saya tahu ini tidak pantas. Tapi saya benar-benar tidak tahu harus gimana lagi,” ucap Jeevi terdengar putus asa, lantas mengangkat pelan wajahnya, menatap mata Wima.

Untuk ketiga kalinya Wima dibuat terperanjat saat melihat wajah kacau wanita itu. Jenis wajah yang dirundung putus asa dan kekecewaan. Itu mengingatkan Wima pada adik kesayangannya, Willa, ketika ayah tercintanya pergi untuk selamanya.

“Apa … Om mau membeli keperawanan saya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Anies
ooooh... ya ampun
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Husband!    7. 500 Juta

    Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya. “Kamu…”“Ikut saya.”Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?! “Om! Kamu ngikutin saya?!”Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu. “Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?” Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi. Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat. “Kamu mau ke mana?”Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.”“Kamu cuma perlu d

  • Hello, Husband!    6. Tidak Ada Pilihan

    Waktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan. Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu. “Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—” Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya. “Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga di

  • Hello, Husband!    5. Jiwa Peri

    Wima akhirnya menemukan gadis itu. Ah, lagi-lagi dia lupa Jeevi bukan gadis, tapi wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis. Wima menemukan wanita itu di taman samping tempat parkir karyawan. Jeevi tengah berjongkok, sambil mencoret-coret tanah, persis anak kecil. Awalnya Wima ingin langsung menegur, tapi saat mendengar isakan kecil, dia mengurungkan niat. Dalam cahaya remang lampu taman, Wima pelan-pelan mendekat. Makin dekat dia bisa melihat bahu Jeevi bergetar. Tangannya baru akan terulur ketika tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan—“Harrgg!”Wima terlonjak kaget melihat muka mengenaskan wanita itu. Dia spontan mengusap dada, menenangkan debaran jantungnya. Wajah Jeevi bersimbah air mata. Matanya pun bengkak. Hidungnya merah. Rambutnya yang dicepol berantakan seperti habis diterjang badai. Dia masih terisak ketika berdiri. Dengan kaos yang dipakai, Jeevi mengelap wajah dan ingusnya. Membuat Wima di depannya menatap ngeri. “Kamu oke?” tanya Wima menjaga jarak. Jangan

  • Hello, Husband!    4. Dewi Fortuna dari Hongkong

    Malamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama. Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur. “Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.”Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima.“Solusi kepalamu!” Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa. “Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!”“Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.”“Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!”Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya. Eh? Satya?Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sediki

  • Hello, Husband!    3. Keluarga Sagara

    “Om! Kenapa nggak pake baju!” Jeevi berteriak seraya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. “Jangan macam-macam!” serunya lagi. Tidak peduli kegusaran gadis itu, Wima mengulurkan tangan, mengacungkan lima lembar uang pecahan seratus ribu. “Ambil f*e kamu, terus pulang,” katanya dengan ekspresi tenang. Tidak terpengaruh dengan teriakan Jeevi sama sekali. Mengintip di sela-sela jarinya yang terbuka, mata Jeevi langsung ijo melihat lembaran berwarna pink melambai-lambai. Secepat kilat dia merebut lembaran itu dari tangan Wima dengan tampang sumringah. Lima ratus ribu! Ini sih bukan dua kali lipat, tapi lima kali lipat! “Ini semua buat saya, Om?” “Emang ada lagi selain kamu?” “Wah! Teng kyu banget, Om!” Dia mengipas-ngipas uang itu. “Lain kali kalo mabok lagi biar saya aja deh yang anter pulang.” “Nggak ada lain kali. Sudah sana pulang!” “Sekali lagi tararengkyu, Om Ganteng!” Jeevi bergerak mundur seraya membungkuk hingga pantatnya mencium dinding lift. “Jangan lupa

  • Hello, Husband!    2. Cewek Berisik

    “Om, Om, bangun! Bangun, Om!”Cempreng dan agak kasar. Apa tidak bisa membangunkan orang dengan cara lembut? Wima tidak peduli dan cuma menggeliat malas. “Ahelah, Om. Ini udah sampe! Kamu tidur apa mati sih, Om?” Hampir saja Wima mendengus di tidurnya mendengar omongan sembarangan gadis itu. Tidak heran Lucas bilang bocah itu merepotkan. Wima tetap bergeming. Selain malas gerak, dia juga ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan. Wima mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama pintu sebelahnya terbuka. Dia bisa merasakan kehadiran gadis pendek itu. “Gini nih kalau nganterin orang mabok. Repotin,” gerutu Jeevi menatap sebal lelaki berjas itu. “Om, udah sampe apartemen nih. Bangun dong! Saya mau kerja lagi. Nggak cuma ngurusin orang mabok doang.”Lagi-lagi bibir Wima berkedut mendengar Jeevi tampak gusar. Dia merasakan Jeevi mendekat padanya, melepas seatbelt. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di pipinya. “Om, bangun dong. Tidurnya jangan di sini. Ntar dibegal l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status