LOGINWaktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan.
Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu. “Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—” Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya. “Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga diri, Om,” lanjutnya agak kesal. “Terus sekarang harga diri itu ke mana?” Wajah wanita itu kembali menunduk. Dia menggigit tipis bibirnya. Menahan malu yang tersisa. Jika bukan karena demi sang ibu. “Itu—” Menengadahkan wajah, Wima membuang napas kasar. “Pikir dulu sebelum menawarkan sesuatu sama orang. Terlebih orang itu tidak kamu kenal.” Dalam hati Jeevi merutuk. Manusia di depannya mungkin jenis orang yang tidak pernah merasakan putus asa. Sehingga begitu mudah mengatakan hal yang untuk saat itu tidak Jeevi perlukan. Nasehat klise orang yang tak pernah hidup dari belas kasih orang. “Jadi menurut Om, orang miskin seperti saya harus ngapain di situasi terjepit begini? Itu usaha terakhir yang bisa saya lakukan untuk menolong mama saya. Kalau di mata Om salah, saya paham. Saya hanya perlu mencari orang lain yang mau membeli saya tanpa menghakimi.” Setelah mengatakan itu Jeevi meninggalkan Wima. Dia bergerak menuju ke ruang tindakan untuk mengetahui kondisi ibunya. Dan rasanya masih sama sakitnya seperti kemarin-kemarin. Melihat mama tidak berdaya di atas bed, membuat dirinya merasa buruk. Setiap tahun yang dia lewati seperti hukuman tanpa jeda. Jeevi menarik pelan tangan sang ibu, dan menggenggamnya. “Mama sabar ya, Jeevi janji akan melakukan yang terbaik buat kesehatan mama.” — meskipun dirinya harus mengorbankan harga diri yang tersisa. Hanya sosok Satya yang terlintas saat ini. Dia memejamkan mata, mencoba menekan ego. Tidak ada yang bisa menolongnya lagi. Hidupnya dan sang mama sudah cukup menanggung banyak malu karena menghiba belas kasihan para saudara yang sudah menjauhinya. Jeevi tidak akan lagi melakukan itu. Di tengah ketenangan rumah sakit malam hari, Jeevi menyingkir sejenak. Dengan tangan bergetar, dia meraih ponsel di saku celananya. Dia menghitung tiga kali sebelum melakukan panggilan pada sang mantan pacar. Panggilan pertama, Satya tidak menjawab. Pun dengan panggilan kedua. Jeevi tahu ini jam orang-orang tidur. Tapi keadaan tidak bisa menunggu. Panggilan kelima, Satya baru mengangkatnya. “Halo,” suara berat dan serak Satya terdengar. “Siapa pun di sana, apa lo nggak ngerti waktu?” “Satya, ini aku…” Hening. Satya di sana terdiam sampai Jeevi harus menatap layar ponselnya. “Satya?” “Jeevi?” “Hm, sori ganggu tidur kamu.” Jeevi menyipit mendengar kasak-kusuk di seberang sana. Sepertinya Satya bangkit dari tidurnya. Dia bahkan mendengar suara pintu yang berderit dan tertutup. “Ada apa? Ini udah sangat larut, Jev?” “Aku… Aku mau minta bantuan kamu.” Jeevi menggigit bibir. Keraguan mengepung dirinya. Belum 24 jam dia memutuskan lelaki itu, tapi sekarang sudah menghiba kembali. “Bantuan?” “Mama masuk rumah sakit. Dan, dia harus segera operasi. Biayanya tidak sedikit. Tapi aku—” “Kamu butuh berapa?” tanya Satya langsung. Dan mendengar itu, secercah harapan perlahan memenuhi hati Jeevi. Ternyata Satya masih peduli. Sudut bibir wanita itu sedikit tertarik ke atas. Tapi… “200 juta, Sat.” “Itu sesuatu yang mudah, Jev. Hanya saja… “ *** Di depan pintu sebuah apartemen, Jeevi menarik napas dalam-dalam. Dia sudah puas mengumpati pemilik apartemen itu. Namun sebanyak apapun dirinya bersumpah sarapah, keadaan tetap sama. Dia terjepit ketidak-berdayaan. Maka di sinilah Jeevi. Di depan apartemen milik Satya yang sudah lama tidak dia sambangi. Kembali dia memejamkan mata mengingat percakapannya di telepon satu jam lalu sebelum dirinya sampai di tempat ini. “Itu sesuatu yang mudah, Jev. Hanya saja… aku nggak bisa memberimu itu secara cuma-cuma. Kamu udah mutusin aku, kalau kamu lupa.” “Ya, aku tau.” Jujur, rasa sakit hati karena pengkhianatan lelaki itu saja belum sepenuhnya sembuh. Dan sekarang, sakit itu makin terasa perih ketika Jeevi kembali menerima fakta bahwa Satya tidak sepeduli itu padanya. Tetap ada sesuatu yang harus dia bayar. “Jadi, Jev. Akan sangat mudah kalau kamu datang ke tempatku sekarang juga.” Akan jauh lebih mudah menyerahkan diri ke orang yang sama sekali tidak dia kenal. Daripada harus menyerahkan diri pada orang yang sudah dia anggap dekat dan paling mengerti dirinya, tapi ternyata…lebih bajingan. Namun, wanita 25 tahun itu tidak punya pilihan. Menarik napas panjang, Jeevi mengangkat tangan dan menekan angka kombinasi untuk membuka pintu apartemen. Saat bunyi ‘bip’ satu kali terdengar jantungnya seakan berhenti berdetak. Setelah dirinya tenggelam di balik pintu itu, maka segalanya akan hilang. Dirinya tidak akan lagi sama. Namun… Jeevi baru akan menekan handle pintu ketika tangan lain lebih dulu menekan handle pintu tersebut. Wanita itu tersentak, dan sontak menoleh. Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya. “Kamu…”Selamat datang di cerita baruku. Meskipun mungkin ceritanya klise, tapi semoga bisa menghibur teman-teman. Jangan lupa ramaikan dan review terbaik kalian aku tunggu. Happy reading 🥰🥰🥰
“Bagus nggak, Sayang?”Rafli sedang memijat pangkal hidung saat mendapat pertanyaan itu dari kekasihnya. Dia baru saja mengecek keadaan cctv yang dia pasang di depan pintu unit penthouse milik Wima. Semua aman terkendali. Wajahnya otomatis terangkat dan matanya langsung menemukan Brina tengah berpose di ambang pintu walk in closet dengan mengenakan—lingerie? Tatapan Rafli kontan terkunci melihat begitu seksinya tubuh molek Brina dibalut kain tipis dan menerawang itu. Brina memang senang mengenakan gaun tidur seksi, tapi tidak seperti sekarang yang begitu berani dan menggairahkan. Rafli menelan ludah, dan tanpa sadar menggeser posisi duduk. “Ini aku beli siang tadi sama Jeevi. Dia juga aku pilihkan beberapa yang bagus.”Kembali Rafli menelan ludah saat wanita itu mendekat. Setiap gerakan Brina seolah mengirim getar ke tubuhnya. Sialan, tiap hari wanita itu membuatnya tak bisa menahan diri. Brina mengenakan gaun tidur renda hitam. Gaun tidur tipis dengan motif bintik- bintik yang t
“Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap
“A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du
“Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan
BRAAKK! Bunyi pintu dibuka dari luar dengan kasar mengejutkan semua yang ada di ruang ranap itu. Semua kepala menoleh dan melihat Satya muncul dengan napas terengah. Lelaki itu menatap ke arah Jeevi yang duduk di atas bed dan terkesiap cemas. “Jeevi!” Langkahnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengabaikan semua yang ada di sana, dia hendak menggapai Jeevi. Namun sebelum itu terjadi, lengan panjang Wima lebih dulu mencekalnya, dengan menarik kerah belakang lelaki itu. Kaki Satya auto kesulitan bergerak dan dua tangannya menggapai-gapai udara. “Jeevi, Jeevi, Jeevi!” “Kamu mau apa?” tanya Wima masih menarik kerah belakang ponakannya itu. “Aku mau lihat keadaan Jeevi, Om. Lepasin!” “Cukup lihat dari jauh.” Wima menarik mundur Satya hingga lelaki itu berjarak dari tempat istrinya. Dua alis Satya mengerut. Dia menatap kesal omnya itu. “Aku denger kabar kalau Jeevi diculik. Om gimana sih jadi suami? Bisa jagain istri nggak? Kalau nggak bisa, lepasin aja. Masih ada yang mau jagai
Willa mendorong pintu ganda berwarna putih diikuti Bunda di belakangnya. Keduanya berniat menjenguk Jeevi yang masih belum pulang dari rumah sakit pasca insiden Jenan. Sebenarnya sudah sejak kemarin Bunda mengajak Willa untuk menengok menantunya itu. Semarah-marahnya wanita itu pada Jeevi, dia khawatir juga. “Lah kosong? Ke mana mereka?” Willa celingungkan mendapati kamar rawat inap VVIP itu tidak ada penghuni. Jangankan Wima, Jeevi pun tidak ada di tempat. “Mungkin mereka lagi—” Dua ibu dan anak itu kontan terpegun saat mendengar suara cekikikan dari arah kamar mandi. Bukan cekikikan horor, tapi cekikan manja. “Ih, Mas! Jangan mainin itu, geli tau!” Willa terperanjat mendengar suara itu. Suara yang dia tahu betul milik kakak iparnya. Sementara Bunda di tempatnya mematung, agak kaget juga mendengar kalimat seperti itu bisa telontar— “Enak kan diginiin?” Suara berat yang menimpali lagi-lagi membuat Willa dan Bunda terkejut. Keduanya mengerjap bersamaan. “Iya, tapi jangan la







