Home / Romansa / Hello, Husband! / 6. Tidak Ada Pilihan

Share

6. Tidak Ada Pilihan

last update publish date: 2026-08-04 16:35:28

Waktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan.

Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu.

“Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—”

Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya.

“Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga diri, Om,” lanjutnya agak kesal.

“Terus sekarang harga diri itu ke mana?”

Wajah wanita itu kembali menunduk. Dia menggigit tipis bibirnya. Menahan malu yang tersisa. Jika bukan karena demi sang ibu. “Itu—”

Menengadahkan wajah, Wima membuang napas kasar. “Pikir dulu sebelum menawarkan sesuatu sama orang. Terlebih orang itu tidak kamu kenal.”

Dalam hati Jeevi merutuk. Manusia di depannya mungkin jenis orang yang tidak pernah merasakan putus asa. Sehingga begitu mudah mengatakan hal yang untuk saat itu tidak Jeevi perlukan. Nasehat klise orang yang tak pernah hidup dari belas kasih orang.

“Jadi menurut Om, orang miskin seperti saya harus ngapain di situasi terjepit begini? Itu usaha terakhir yang bisa saya lakukan untuk menolong mama saya. Kalau di mata Om salah, saya paham. Saya hanya perlu mencari orang lain yang mau membeli saya tanpa menghakimi.”

Setelah mengatakan itu Jeevi meninggalkan Wima. Dia bergerak menuju ke ruang tindakan untuk mengetahui kondisi ibunya. Dan rasanya masih sama sakitnya seperti kemarin-kemarin. Melihat mama tidak berdaya di atas bed, membuat dirinya merasa buruk.

Setiap tahun yang dia lewati seperti hukuman tanpa jeda. Jeevi menarik pelan tangan sang ibu, dan menggenggamnya.

“Mama sabar ya, Jeevi janji akan melakukan yang terbaik buat kesehatan mama.” — meskipun dirinya harus mengorbankan harga diri yang tersisa.

Hanya sosok Satya yang terlintas saat ini. Dia memejamkan mata, mencoba menekan ego. Tidak ada yang bisa menolongnya lagi. Hidupnya dan sang mama sudah cukup menanggung banyak malu karena menghiba belas kasihan para saudara yang sudah menjauhinya. Jeevi tidak akan lagi melakukan itu.

Di tengah ketenangan rumah sakit malam hari, Jeevi menyingkir sejenak. Dengan tangan bergetar, dia meraih ponsel di saku celananya. Dia menghitung tiga kali sebelum melakukan panggilan pada sang mantan pacar.

Panggilan pertama, Satya tidak menjawab. Pun dengan panggilan kedua. Jeevi tahu ini jam orang-orang tidur. Tapi keadaan tidak bisa menunggu. Panggilan kelima, Satya baru mengangkatnya.

“Halo,” suara berat dan serak Satya terdengar. “Siapa pun di sana, apa lo nggak ngerti waktu?”

“Satya, ini aku…”

Hening. Satya di sana terdiam sampai Jeevi harus menatap layar ponselnya.

“Satya?”

“Jeevi?”

“Hm, sori ganggu tidur kamu.”

Jeevi menyipit mendengar kasak-kusuk di seberang sana. Sepertinya Satya bangkit dari tidurnya. Dia bahkan mendengar suara pintu yang berderit dan tertutup.

“Ada apa? Ini udah sangat larut, Jev?”

“Aku… Aku mau minta bantuan kamu.” Jeevi menggigit bibir. Keraguan mengepung dirinya. Belum 24 jam dia memutuskan lelaki itu, tapi sekarang sudah menghiba kembali.

“Bantuan?”

“Mama masuk rumah sakit. Dan, dia harus segera operasi. Biayanya tidak sedikit. Tapi aku—”

“Kamu butuh berapa?” tanya Satya langsung.

Dan mendengar itu, secercah harapan perlahan memenuhi hati Jeevi. Ternyata Satya masih peduli. Sudut bibir wanita itu sedikit tertarik ke atas. Tapi…

“200 juta, Sat.”

“Itu sesuatu yang mudah, Jev. Hanya saja… “

***

Di depan pintu sebuah apartemen, Jeevi menarik napas dalam-dalam. Dia sudah puas mengumpati pemilik apartemen itu. Namun sebanyak apapun dirinya bersumpah sarapah, keadaan tetap sama. Dia terjepit ketidak-berdayaan.

Maka di sinilah Jeevi. Di depan apartemen milik Satya yang sudah lama tidak dia sambangi. Kembali dia memejamkan mata mengingat percakapannya di telepon satu jam lalu sebelum dirinya sampai di tempat ini.

“Itu sesuatu yang mudah, Jev. Hanya saja… aku nggak bisa memberimu itu secara cuma-cuma. Kamu udah mutusin aku, kalau kamu lupa.”

“Ya, aku tau.”

Jujur, rasa sakit hati karena pengkhianatan lelaki itu saja belum sepenuhnya sembuh. Dan sekarang, sakit itu makin terasa perih ketika Jeevi kembali menerima fakta bahwa Satya tidak sepeduli itu padanya. Tetap ada sesuatu yang harus dia bayar.

“Jadi, Jev. Akan sangat mudah kalau kamu datang ke tempatku sekarang juga.”

Akan jauh lebih mudah menyerahkan diri ke orang yang sama sekali tidak dia kenal. Daripada harus menyerahkan diri pada orang yang sudah dia anggap dekat dan paling mengerti dirinya, tapi ternyata…lebih bajingan. Namun, wanita 25 tahun itu tidak punya pilihan.

Menarik napas panjang, Jeevi mengangkat tangan dan menekan angka kombinasi untuk membuka pintu apartemen. Saat bunyi ‘bip’ satu kali terdengar jantungnya seakan berhenti berdetak. Setelah dirinya tenggelam di balik pintu itu, maka segalanya akan hilang. Dirinya tidak akan lagi sama. Namun…

Jeevi baru akan menekan handle pintu ketika tangan lain lebih dulu menekan handle pintu tersebut. Wanita itu tersentak, dan sontak menoleh.

Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya.

“Kamu…”

Yuli F. Riyadi

Selamat datang di cerita baruku. Meskipun mungkin ceritanya klise, tapi semoga bisa menghibur teman-teman. Jangan lupa ramaikan dan review terbaik kalian aku tunggu. Happy reading 🥰🥰🥰

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hello, Husband!    7. 500 Juta

    Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya. “Kamu…”“Ikut saya.”Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?! “Om! Kamu ngikutin saya?!”Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu. “Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?” Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi. Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat. “Kamu mau ke mana?”Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.”“Kamu cuma perlu d

  • Hello, Husband!    6. Tidak Ada Pilihan

    Waktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan. Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu. “Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—” Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya. “Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga di

  • Hello, Husband!    5. Jiwa Peri

    Wima akhirnya menemukan gadis itu. Ah, lagi-lagi dia lupa Jeevi bukan gadis, tapi wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis. Wima menemukan wanita itu di taman samping tempat parkir karyawan. Jeevi tengah berjongkok, sambil mencoret-coret tanah, persis anak kecil. Awalnya Wima ingin langsung menegur, tapi saat mendengar isakan kecil, dia mengurungkan niat. Dalam cahaya remang lampu taman, Wima pelan-pelan mendekat. Makin dekat dia bisa melihat bahu Jeevi bergetar. Tangannya baru akan terulur ketika tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan—“Harrgg!”Wima terlonjak kaget melihat muka mengenaskan wanita itu. Dia spontan mengusap dada, menenangkan debaran jantungnya. Wajah Jeevi bersimbah air mata. Matanya pun bengkak. Hidungnya merah. Rambutnya yang dicepol berantakan seperti habis diterjang badai. Dia masih terisak ketika berdiri. Dengan kaos yang dipakai, Jeevi mengelap wajah dan ingusnya. Membuat Wima di depannya menatap ngeri. “Kamu oke?” tanya Wima menjaga jarak. Jangan

  • Hello, Husband!    4. Dewi Fortuna dari Hongkong

    Malamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama. Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur. “Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.”Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima.“Solusi kepalamu!” Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa. “Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!”“Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.”“Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!”Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya. Eh? Satya?Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sediki

  • Hello, Husband!    3. Keluarga Sagara

    “Om! Kenapa nggak pake baju!”Jeevi berteriak seraya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. “Jangan macam-macam!” serunya lagi. Tidak peduli kegusaran gadis itu, Wima mengulurkan tangan, mengacungkan lima lembar uang pecahan seratus ribu. “Ambil fee kamu, terus pulang,” katanya dengan ekspresi tenang. Tidak terpengaruh dengan teriakan Jeevi sama sekali. Mengintip di sela-sela jarinya yang terbuka, mata Jeevi langsung ijo melihat lembaran berwarna pink melambai-lambai. Secepat kilat dia merebut lembaran itu dari tangan Wima dengan tampang sumringah. Lima ratus ribu! Ini sih bukan dua kali lipat, tapi lima kali lipat! “Ini semua buat saya, Om?”“Emang ada lagi selain kamu?”“Wah! Teng kyu banget, Om!” Dia mengipas-ngipas uang itu. “Lain kali kalo mabok lagi biar saya aja deh yang anter pulang.” “Nggak ada lain kali. Sudah sana pulang!” “Sekali lagi tararengkyu, Om Ganteng!” Jeevi bergerak mundur seraya membungkuk hingga pantatnya mencium dinding lift. “Jangan lupa pake baju

  • Hello, Husband!    2. Cewek Berisik

    “Om, Om, bangun! Bangun, Om!”Cempreng dan agak kasar. Apa tidak bisa membangunkan orang dengan cara lembut? Wima tidak peduli dan cuma menggeliat malas. “Ahelah, Om. Ini udah sampe! Kamu tidur apa mati sih, Om?” Hampir saja Wima mendengus di tidurnya mendengar omongan sembarangan gadis itu. Tidak heran Lucas bilang bocah itu merepotkan. Wima tetap bergeming. Selain malas gerak, dia juga ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan. Wima mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama pintu sebelahnya terbuka. Dia bisa merasakan kehadiran gadis pendek itu. “Gini nih kalau nganterin orang mabok. Repotin,” gerutu Jeevi menatap sebal lelaki berjas itu. “Om, udah sampe apartemen nih. Bangun dong! Saya mau kerja lagi. Nggak cuma ngurusin orang mabok doang.”Lagi-lagi bibir Wima berkedut mendengar Jeevi tampak gusar. Dia merasakan Jeevi mendekat padanya, melepas seatbelt. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di pipinya. “Om, bangun dong. Tidurnya jangan di sini. Ntar dibegal l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status