ホーム / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 36. Brunch Bareng Daren

共有

36. Brunch Bareng Daren

作者: IKYURA
last update 公開日: 2026-05-07 08:53:30

Hagia dan Daren akhirnya memutuskan brunch di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kantor.

Mereka duduk saling berhadapan di dekat jendela. Di atas meja, Hagia memesan tuna sandwich, sementara Daren memilih chicken salad. Suasana restoran cukup ramai, tetapi tetap menyisakan ruang tenang di antara percakapan-percakapan pelan para pengunjung.

Beberapa saat, yang terdengar hanya bunyi pelan peralatan makan beradu dengan piring.

“Aku sempat dengar dari Kevin…” Daren membuka suara. “Kalau se
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
kalau hagia udah gak ada rasa sama papanya ranu ya udah sih santai aja..gak usah terlalu dipikir to
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
mengganggu gimanaaaa cobaaa wkwkwkwkwk
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Mantan!   99. One Step Closer

    “Mas, maaf...”Suara Hagia terdengar pelan di tengah riuhnya suasana kedai es krim. Tempat itu cukup ramai siang itu. Tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari area playground yang berada tepat di samping kedai. Sesekali terdengar suara mesin permainan dan panggilan para orang tua yang sedang mengawasi anak-anak mereka.Tak jauh dari sana, Raga terlihat sedang mengejar Ranu yang berlari sambil tertawa. Suara mereka samar-samar masih terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Harus berapa kali aku bilang kalau ada apa-apa bilang sama aku?” tanya Megantara.Suara Megantara terdengar tenang. Namun Hagia tahu bahwa lelaki itu lagi-lagi kecewa karena tingkahnya. “Situasi kantor sedang nggak memungkinkan, Mas,” jawab Hagia pelan. “Dan aku juga nggak bisa mengabaikan Ranu begitu saja.”Megantara mengangguk kecil. Seolah memang sudah menduga jawaban itu.“Ya.” Lelaki itu menundukkan wajah. “Jawaban yang sangat kamu banget.”Hagia mendengus pelan. “Mas...”“Tapi aku serius.”

  • Hello, Mantan!   98. Kalimat Bijak Kafka

    “Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   96. Insiden di Sekolah

    Setelah kekacauan yang terjadi di kantor, Hagia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal.Pikirannya masih kacau. Inside di smoking area tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi setelahnya, pihak HR langsung turun tangan, beberapa karyawan mulai membicarakan kejadian tersebut, dan Megantara yang tampak masih menyimpan amarahnya. Namun sebelum Hagia sempat kembali fokus pada pekerjaannya, sebuah panggilan dari sekolah Ranu datang. Dan seketika semua hal itu terasa tidak penting. Dengan langkah tergesa Hagia meninggalkan meja kerjanya. Menurut penjelasan singkat dari wali kelasnya, Ranu terlibat perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya.Ranu memukul seorang anak bernama Alizar. Dan Sejak menerima telepon itu, jantung Hagia tidak berhenti berdebar.Sepanjang perjalanan menuju sekolah, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya.Apakah Alizar terluka?Apakah Ranu terluka?Apa yang sebenarnya terjadi?Karena selama ini Ranu bukan anak yan

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   94. I Love You

    Megantara menggeliat pelan di atas tempat tidurnya. Sayup-sayup suara alarm terdengar dari atas nakas. Dengan mata yang masih setengah terpejam, lelaki itu mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya.Namun sebelum berhasil menjangkaunya, gerakannya tertahan. Ia menunduk, merasakan lengan kirinya terasa berat. Detik itu juga sudut bibirnya terangkat. Hagia terlihat masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat begitu damai dengan salah satu tangannya melingkar di pinggang Megantara.Setelah mematikan alarm, lelaki itu kembali pada posisinya. Wajahnya menunduk, menatap wajah Hagia dengan lekat. Seolah masih belum percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.Semalam terasa seperti mimpi yang sangat panjang. Setelah semua kesalahpahaman yang selama bertahun-tahun menggunung akhirnya terbongkar, mereka memutuskan untuk menghentikan pertengkaran itu. Terlebih saat Ranu mulai merengek mencari Hagia. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke unit perempuan itu untuk menemui putranya.Sep

  • Hello, Mantan!   4. Hari Pertama Bekerja

    Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyekto

  • Hello, Mantan!   3. Kemarahan Hagia

    “Gi, mau ke mana?”Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”Alis Sinta l

  • Hello, Mantan!   2. Megantara Adiwangsa

    Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be

  • Hello, Mantan!   1. Hagia Nadi Chandrakanta

    Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status