Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 36. Brunch Bareng Daren

Share

36. Brunch Bareng Daren

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-07 08:53:30

Hagia dan Daren akhirnya memutuskan brunch di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kantor.

Mereka duduk saling berhadapan di dekat jendela. Di atas meja, Hagia memesan tuna sandwich, sementara Daren memilih chicken salad. Suasana restoran cukup ramai, tetapi tetap menyisakan ruang tenang di antara percakapan-percakapan pelan para pengunjung.

Beberapa saat, yang terdengar hanya bunyi pelan peralatan makan beradu dengan piring.

“Aku sempat dengar dari Kevin…” Daren membuka suara. “Kalau se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
kalau hagia udah gak ada rasa sama papanya ranu ya udah sih santai aja..gak usah terlalu dipikir to
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
mengganggu gimanaaaa cobaaa wkwkwkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   100. Maudy Adhiwangsa

    Sesampainya di kantor, Megantara bahkan tidak sempat membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Langkahnya yang lebar dan terkesan terburu-buru membuat semua orang heran dengan tingkahnya. Namun tidak ada satupun yang berani berkomentar.Lelaki itu menyusuri koridor yang kini terlihat lengang menuju ruang direktur operasional. Kemudian tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke ruangan Kafka.Pintu ruangan itu terbuka. Kafka yang sejak fokus dengan layar monitor langsung menoleh.“Gan.” Lelaki itu bangkit. Wajahnya terlihat begitu kacau dan frustasi.“Ada apa?” Megantara melangkah mendekat. Tatapan lelaki itu menyapu meja kerja Kafka yang kini dipenuhi map proyek dan beberapa dokumen yang masih terbuka.Raut waja Kafka terlihat lebih pucat dibandingkan saat mereka berbicara lewat telepon tadi.Kafka meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab. “Proyek yang lagi berjalan... semuanya ditarik ke pusat.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap Kafka tanpa berkedip. Bah

  • Hello, Mantan!   99. One Step Closer

    “Mas, maaf...”Suara Hagia terdengar pelan di tengah riuhnya suasana kedai es krim. Tempat itu cukup ramai siang itu. Tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari area playground yang berada tepat di samping kedai. Sesekali terdengar suara mesin permainan dan panggilan para orang tua yang sedang mengawasi anak-anak mereka.Tak jauh dari sana, Raga terlihat sedang mengejar Ranu yang berlari sambil tertawa. Suara mereka samar-samar masih terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Harus berapa kali aku bilang kalau ada apa-apa bilang sama aku?” tanya Megantara.Suara Megantara terdengar tenang. Namun Hagia tahu bahwa lelaki itu lagi-lagi kecewa karena tingkahnya. “Situasi kantor sedang nggak memungkinkan, Mas,” jawab Hagia pelan. “Dan aku juga nggak bisa mengabaikan Ranu begitu saja.”Megantara mengangguk kecil. Seolah memang sudah menduga jawaban itu.“Ya.” Lelaki itu menundukkan wajah. “Jawaban yang sangat kamu banget.”Hagia mendengus pelan. “Mas...”“Tapi aku serius.”

  • Hello, Mantan!   98. Kalimat Bijak Kafka

    “Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   96. Insiden di Sekolah

    Setelah kekacauan yang terjadi di kantor, Hagia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal.Pikirannya masih kacau. Inside di smoking area tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi setelahnya, pihak HR langsung turun tangan, beberapa karyawan mulai membicarakan kejadian tersebut, dan Megantara yang tampak masih menyimpan amarahnya. Namun sebelum Hagia sempat kembali fokus pada pekerjaannya, sebuah panggilan dari sekolah Ranu datang. Dan seketika semua hal itu terasa tidak penting. Dengan langkah tergesa Hagia meninggalkan meja kerjanya. Menurut penjelasan singkat dari wali kelasnya, Ranu terlibat perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya.Ranu memukul seorang anak bernama Alizar. Dan Sejak menerima telepon itu, jantung Hagia tidak berhenti berdebar.Sepanjang perjalanan menuju sekolah, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya.Apakah Alizar terluka?Apakah Ranu terluka?Apa yang sebenarnya terjadi?Karena selama ini Ranu bukan anak yan

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol

  • Hello, Mantan!   45. Debat Lagi

    “Mas!”Suara itu membuat Megantara menoleh.“Kenapa dari tadi cuma diem? Nggak lapar?” tanya Hagia yang kini berdiri tepat di belakang sana. Sejak tadi ia memang memilih menyingkir dari keramaian. Berdiri di sisi restoran yang menghadap ke tebing, cukup jauh dari meja-meja utama dan suara obrolan

  • Hello, Mantan!   43. Cemburu?

    Makan malam yang diadakan oleh Astu Group berlangsung di salah satu restoran yang ada di kawasan Uluwatu.Megantara mengayunkan langkahnya begitu memasuki lobi. Ia baru saja hendak mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Hagia saat gerakannya tiba-tiba terhenti.Pandangannya terpaku pada sosok lelaki

  • Hello, Mantan!   41. Bali dan Kenangannya

    “Sini, biar aku yang gendong.”Melihat Hagia mulai tampak kewalahan menopang Ranu yang setengah tertidur di bahunya, Megantara langsung mengambil alih.Tangannya bergerak ringan, seolah sudah terbiasa. Ranu bahkan nyaris tidak benar-benar terbangun. Bocah itu hanya menggumam pelan, lalu otomatis me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status