Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 37. Meeting Astu Group

Share

37. Meeting Astu Group

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-07 12:20:29

Setelah makan siang, Megantara kembali mengumpulkan beberapa anggota tim inti ke ruang meeting untuk membahas proyek dari Astu Group lebih lanjut.

Ruangan itu dipenuhi suara ketikan laptop dan gesekan pelan kursi sebelum akhirnya semuanya mulai fokus pada layar presentasi di depan.

Hagia berdiri di dekat monitor, memegang remote presentasi di tangannya. Sementara Megantara duduk di ujung meja dengan laptop terbuka di hadapannya. Arsenio dan Kaluna berada di sisi lain meja, sibuk memperhatikan s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
ahhhh Mas Megan... dipepetin aja mantan bininya kenapaaaa sihhh ............ diingetin sama sentuhan2 masa lalu gituuu lohhh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   98. Kalimat Bijak Kafka

    “Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   96. Insiden di Sekolah

    Setelah kekacauan yang terjadi di kantor, Hagia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal.Pikirannya masih kacau. Inside di smoking area tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi setelahnya, pihak HR langsung turun tangan, beberapa karyawan mulai membicarakan kejadian tersebut, dan Megantara yang tampak masih menyimpan amarahnya. Namun sebelum Hagia sempat kembali fokus pada pekerjaannya, sebuah panggilan dari sekolah Ranu datang. Dan seketika semua hal itu terasa tidak penting. Dengan langkah tergesa Hagia meninggalkan meja kerjanya. Menurut penjelasan singkat dari wali kelasnya, Ranu terlibat perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya.Ranu memukul seorang anak bernama Alizar. Dan Sejak menerima telepon itu, jantung Hagia tidak berhenti berdebar.Sepanjang perjalanan menuju sekolah, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya.Apakah Alizar terluka?Apakah Ranu terluka?Apa yang sebenarnya terjadi?Karena selama ini Ranu bukan anak yan

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   94. I Love You

    Megantara menggeliat pelan di atas tempat tidurnya. Sayup-sayup suara alarm terdengar dari atas nakas. Dengan mata yang masih setengah terpejam, lelaki itu mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya.Namun sebelum berhasil menjangkaunya, gerakannya tertahan. Ia menunduk, merasakan lengan kirinya terasa berat. Detik itu juga sudut bibirnya terangkat. Hagia terlihat masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat begitu damai dengan salah satu tangannya melingkar di pinggang Megantara.Setelah mematikan alarm, lelaki itu kembali pada posisinya. Wajahnya menunduk, menatap wajah Hagia dengan lekat. Seolah masih belum percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.Semalam terasa seperti mimpi yang sangat panjang. Setelah semua kesalahpahaman yang selama bertahun-tahun menggunung akhirnya terbongkar, mereka memutuskan untuk menghentikan pertengkaran itu. Terlebih saat Ranu mulai merengek mencari Hagia. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke unit perempuan itu untuk menemui putranya.Sep

  • Hello, Mantan!   93. Rasa Bersalah Megantara

    “Aku takut, Mas. Aku takut kehilangan Ranu.” Suara Hagia nyaris tidak terdengar. “Aku udah kehilangan kamu.” Air matanya kembali jatuh. “Aku nggak sanggup kehilangan anak aku juga.”Kalimat itu membuat rahang Megantara mengeras. Darahnya mendidih. Bukan kepada Hagia, melainkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya harus menghadapi semua itu sendirian.Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Berusaha menahan luapan emosi yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Lama Megantara hanya diam. Pandangannya masih tertuju pada Hagia yang berdiri beberapa langkah darinya.Perempuan itu terlihat rapuh. Jauh lebih rapuh daripada yang selama ini ia tunjukkan. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak.“Dua tahun, Nadi.” Akhirnya Megantara bersuara. “Dua tahun kamu bikin aku gagal buat jaga dan melindungi kamu, tahu nggak?”Hagia mengangkat kepalanya. Air matanya masih jatuh membasahi wajahnya. “Mas...”“Aku ini suami kamu waktu itu.” Suara Megantara mulai bergetar. “Apapun yang terja

  • Hello, Mantan!   83. Tanda Bahaya

    “MBAK! Astaga, lo lama banget, sih? Toiletnya di Arab apa gimana?”Raut wajah Arsenio tampak kesal begitu melihat Hagia berlari kecil menghampiri rombongan mereka yang sudah bersiap di tepi sungai.“Sorry, sorry, Sen.” Hagia menoleh ke belakang. “Santwi, dong. Noh, masih ada beberapa yang belum ber

  • Hello, Mantan!   82. Bergosip

    Sejak pemandangan tadi—di mana Elvira dengan begitu akrab menggamit lengan Megantara di depan seluruh staf—Hagia merasa pikirannya tidak benar-benar berada di tempat itu.Ia berdiri di antara rekan-rekan satu divisinya, menatap ke arah depan, tetapi tidak benar-benar mendengar apa yang sedang dijel

  • Hello, Mantan!   80. Nggak Ada Kabar

    Hagia baru saja tiba di depan gedung Rupa Rancang Nusantara saat suasana sudah terlihat ramai. Lima bus berukuran medium berjejer rapi di area parkir depan gedung. Beberapa karyawan tampak sibuk membawa tas masing-masing, sementara yang lain mengobrol sambil menunggu keberangkatan.Hari itu seluruh

  • Hello, Mantan!   78. Meeting Outing

    “Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status