แชร์

35. Kejujuran Daren

ผู้เขียน: IKYURA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-06 19:50:19
“Baik,” ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. “Sebelum kita lanjut, saya ingin tahu dulu alasan Pak Daren memilih Hagia untuk memegang proyek ini. Padahal di tim kami masih banyak arsitek lain yang pengalamannya jauh lebih matang.”

Kalimat itu membuat Hagia spontan menoleh. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Ia sama sekali tidak menduga Megantara akan membawa pertanyaan itu ke tengah rapat, terlebih dengan nada setajam itu.

Ruangan mendadak terasa lebih hening. Dar
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hello, Mantan!   100. Maudy Adhiwangsa

    Sesampainya di kantor, Megantara bahkan tidak sempat membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Langkahnya yang lebar dan terkesan terburu-buru membuat semua orang heran dengan tingkahnya. Namun tidak ada satupun yang berani berkomentar.Lelaki itu menyusuri koridor yang kini terlihat lengang menuju ruang direktur operasional. Kemudian tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke ruangan Kafka.Pintu ruangan itu terbuka. Kafka yang sejak fokus dengan layar monitor langsung menoleh.“Gan.” Lelaki itu bangkit. Wajahnya terlihat begitu kacau dan frustasi.“Ada apa?” Megantara melangkah mendekat. Tatapan lelaki itu menyapu meja kerja Kafka yang kini dipenuhi map proyek dan beberapa dokumen yang masih terbuka.Raut waja Kafka terlihat lebih pucat dibandingkan saat mereka berbicara lewat telepon tadi.Kafka meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab. “Proyek yang lagi berjalan... semuanya ditarik ke pusat.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap Kafka tanpa berkedip. Bah

  • Hello, Mantan!   99. One Step Closer

    “Mas, maaf...”Suara Hagia terdengar pelan di tengah riuhnya suasana kedai es krim. Tempat itu cukup ramai siang itu. Tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari area playground yang berada tepat di samping kedai. Sesekali terdengar suara mesin permainan dan panggilan para orang tua yang sedang mengawasi anak-anak mereka.Tak jauh dari sana, Raga terlihat sedang mengejar Ranu yang berlari sambil tertawa. Suara mereka samar-samar masih terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Harus berapa kali aku bilang kalau ada apa-apa bilang sama aku?” tanya Megantara.Suara Megantara terdengar tenang. Namun Hagia tahu bahwa lelaki itu lagi-lagi kecewa karena tingkahnya. “Situasi kantor sedang nggak memungkinkan, Mas,” jawab Hagia pelan. “Dan aku juga nggak bisa mengabaikan Ranu begitu saja.”Megantara mengangguk kecil. Seolah memang sudah menduga jawaban itu.“Ya.” Lelaki itu menundukkan wajah. “Jawaban yang sangat kamu banget.”Hagia mendengus pelan. “Mas...”“Tapi aku serius.”

  • Hello, Mantan!   98. Kalimat Bijak Kafka

    “Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   96. Insiden di Sekolah

    Setelah kekacauan yang terjadi di kantor, Hagia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal.Pikirannya masih kacau. Inside di smoking area tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi setelahnya, pihak HR langsung turun tangan, beberapa karyawan mulai membicarakan kejadian tersebut, dan Megantara yang tampak masih menyimpan amarahnya. Namun sebelum Hagia sempat kembali fokus pada pekerjaannya, sebuah panggilan dari sekolah Ranu datang. Dan seketika semua hal itu terasa tidak penting. Dengan langkah tergesa Hagia meninggalkan meja kerjanya. Menurut penjelasan singkat dari wali kelasnya, Ranu terlibat perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya.Ranu memukul seorang anak bernama Alizar. Dan Sejak menerima telepon itu, jantung Hagia tidak berhenti berdebar.Sepanjang perjalanan menuju sekolah, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya.Apakah Alizar terluka?Apakah Ranu terluka?Apa yang sebenarnya terjadi?Karena selama ini Ranu bukan anak yan

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   14. Mama Djiwa

    Hagia menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap pelan, tubuhnya bergulir ke samping, menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Semalam tidurnya tidak nyenyak. Bahkan bisa dikatakan nyaris tidak tidur sama sekali. Pikirannya terlalu penuh.Percakapannya dengan Megantara semalam terus b

  • Hello, Mantan!   12. Permintaan Polos Ranu

    “Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d

  • Hello, Mantan!   10. Gosip Tentang Megantara

    Setelah setengah hari berkutat dengan gambar desain, revisi material, dan diskusi yang seolah tidak ada habisnya, Hagia akhirnya ikut turun bersama Arsenio, Sinta, Kaluna, dan Risa menuju warteg langganan mereka.Tempat itu selalu sama—ramai, hangat, dan penuh suara. Bau tumisan, sambal, dan lauk s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status