بيت / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 58. Jalan-jalan Malam

مشاركة

58. Jalan-jalan Malam

مؤلف: IKYURA
last update تاريخ النشر: 2026-05-20 23:18:47

“Maaaa…”

Suara Ranu yang baru saja bangun dari tidur langsung menarik perhatian Hagia. Megantara yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk ikut menoleh.

Senyuman kecil langsung muncul di wajah lelaki itu. “Lho?” Megantara mendekat ke ranjang. “Jagoannya Papa udah bangun?”

Dengan mata yang masih sembab karena mengantuk, Ranu perlahan mengubah posisi menjadi duduk. Rambutnya acak-acakan dan kaus kecilnya sedikit terangkat karena posisi tidurnya tadi.

“Papa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
Elvira Elvira itu tolong dikondisikan ya Ikyura. aku benci banget sama dia!!
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Hello, Mantan!   67. Penolakan Ranu

    “Kamu habis berantem sama Mas Megan dan sekarang malah pergi kencan sama cowok lain bareng sama Ranu?”Suara Carmen terdengar melengking di seberang sana. Sementara Hagia hanya bisa menundukkan wajah. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya mencengkram ujung blouse yang dikenakannya.Ia berdiri di area lobi kantor. Wajahnya terlihat gelisah, sementara di luar sana langit Jakarta mulai gelap. “Minimal otaknya dipakai dong, Sayang,” lanjut Carmen lagi. Kalo ini terdengar lebih serius.Hagia mengembuskan napas pelan. Pandangannya kosong menatap pintu kaca lobi. Sesekali melirik ujung jalan, barangkali ada tanda-tanda Daren telah tiba menjemputnya. “Gue masih bingung sama perasaan gue sendiri, Men.”“Gue tahu.” Carmen mendecak pelan. “Cuma masalahnya, kenapa sih lo harus melibatkan orang lain?”Hagia memejamkan mata sebentar.“Gue tahu kalau lo masih cinta sama Mas Megan,” lanjut Carmen tanpa memberi jeda. “Dan lo juga masih berharap sama dia. Masalahnya sekarang lo cum

  • Hello, Mantan!   66. Gusarnya Megantara

    Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangannya bergerak pelan mengoperasikan slide demi slide di layar besar ruang meeting.“Luas total lahannya sekitar tiga hektar. Tantangan utama dari proyek ini sebenarnya bukan soal luas lahan, melainkan kontur tebing yang cukup ekstrim Dan arah angin laut yang cenderung kuat di beberapa titik.”Kafka terlihat mengangguk-angguk pelan. Hagia melanjutkan dengan tenang.“Karena itu, saya nggak ingin memaksakan terlalu banyak bangunan dalam satu area. Konsep utama yang saya gunakan adalah low density tropical sanctuary.”Layar kembali berganti.Kini muncul pembagian zoning area lengkap dengan jalur pedestrian, area privat, dan fasilitas umum.“Jadi untuk keseluruhan site, saya membagi menjadi tiga ar

  • Hello, Mantan!   65. Meyakinkan Hagia

    “Ranu barusan tidur.” Suara Megantara terdengar pelan bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup di belakangnya. “Mau ngobrol sekarang?”Hagia yang baru juga keluar dari kamar tidak langsung menjawab. Perempuan itu berjalan melewati Megantara begitu saja menuju dapur di sudut ruangan. Ia mengambil gelas kosong, lalu menuangkan air putih dengan gerakan pelan, seolah sedang mengulur waktu. Megantara memperhatikannya dalam diam. “Kenapa baru pulang?” tanyanya akhirnya. “Ada yang lagi kamu kerjain?”Hagia menggeleng kecil. “Kerjaan aku belum kelar,” jawabnya pelan tanpa menoleh. “Makanya tadi sengaja aku selesain dulu sebentar.”Ia menyesap air putihnya sekali sebelum akhirnya bersuara lagi.“Mas…”Satu alis Megantara tertarik ke atas. “Mm?”Hagia menarik napas pendek, sebelum kemudian menoleh. “Kamu ngapain sih di sini?”Megantara mengernyit tipis. “Maksudnya?”“Aku kasih kebebasan kamu buat ketemu dan bareng sama Ranu.” Nada suara Hagia mulai terdengar tidak stabil. “Tapi bukan berart

  • Hello, Mantan!   64. Permintaan Daren

    Dengan langkah gontai, Hagia berjalan menyusuri trotoar jalan raya sepulang dari bertemu dengan Elvira tadi. Langit Jakarta mulai gelap. Angin malam berembus pelan, menerbangkan sedikit rambut Hagia yang tergerai di bahu.Namun pikirannya jauh lebih riuh dibanding suasana di sekitarnya. Perkataan Elvira terus terngiang di kepalanya.‘Tapi kamu punya pengaruh besar buat dia, Gia.’‘Jadi untuk kali ini aja, Hagia. Tolong bujuk dia buat ambil proyek ini.’Hagia mengembuskan napas panjang. Elvira benar. Sejak dulu, bahkan jauh sebelum mereka menikah, Hagia tahu sebesar apa Megantara menyukai dunia arsitektur.Ia masih ingat bagaimana lelaki itu bisa berbicara berjam-jam hanya untuk membahas desain bangunan, konsep ruang, sampai detail-detail kecil yang bahkan tidak pernah dipahami Hagia sepenuhnya.Dan yang paling Hagia ingat tatapan mata Megantara selalu berbinar setiap kali membicarakan mimpinya. Seolah lelaki itu benar-benar hidup di sana.Hagia memejamkan mata sejenak. Ia tidak ingin

  • Hello, Mantan!   63. Rival

    “Gi, nggak balik?”Suara Risa dari belakang membuat perhatian Hagia yang sejak tadi fokus menatap layar laptop langsung teralihkan. Perempuan itu mendongak pelan lalu mengembuskan napas pendek. “Iya, bentar lagi,” jawabnya sambil dengan lehernya yang mulai pegal. “Gue masih nanggung soalnya.”Jam di sudut layar laptop bahkan sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Sebagian besar ruangan kantor mulai kosong. “Butuh bantuan?” Risa berjalan mendekati sambil melirik layar Hagia. “Kayaknya lo serius banget ngerjain proyek ini.” Satu alis perempuan itu terangkat. “Mentang-mentang mantan pacar lo?”Hagia langsung mendecak pelan. “Apa sih, Ris. Nggak usah ngaco deh.”“Lho, Arsenio yang ngomong sendiri ke kita-kita kemarin.” Risa menarik kursi lalu duduk di sebelah Hagia. “Katanya Daren ini mantan pacar lo.”Hagia menghela napas pendek lalu memalingkan wajah sesaat sebelum akhirnya menjawab pelan, “Mantan waktu SMA.”Perempuan itu kini berbalik sepenuhnya menghadap Risa. “Tapi nggak ada

  • Hello, Mantan!   62. Cemburu?

    “Gimana progress-nya? Pulang dari Bali nggak bawa tangan kosong, dong?”Suara Kafka langsung menarik perhatian Megantara yang sejak tadi fokus menatap layar monitor di hadapannya. Lelaki itu berdiri santai di ambang pintu sambil membawa map hitam di tangan.Megantara hanya melirik sekilas sebelum kembali mengetik sesuatu di laptopnya. “Proyek hotel di Kemang progress-nya sampai mana, Ka?”“Halah…” Kafka langsung terkekeh kecil. “Bisaan banget ngalihin topik pembicaraan, ya?”Lelaki itu menutup pintu di belakangnya lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Setelah itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai, menoleh ke arah Megantara yang masih sibuk dengan pekerjaannya.“Aman, kok. Kemarin manager proyeknya baru kasih update. Sejauh ini semuanya masih on track.” Kafka menopang dagu sambil memperhatikan Megantara penuh selidik. “Proyek Astu Group gimana?”Megantara mendesah pendek seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu. “Konsepnya baru mau dikerjain Hagia,” jawabnya dengan tena

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status