共有

115. Kabar Buruk

作者: IKYURA
last update 公開日: 2026-07-16 15:20:59

“You okay?”

Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Megantara. Sejak tadi lelaki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Hagia.

Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya pun tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.

“Sayang...” Megantara meraih pelan tangan Hagia yang berada di atas meja. “Kepikiran Papa, ya?”

Hagia tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah playground yang berada tak jauh dari restoran. Di sana, Ranu masih asyik ber
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (5)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
mau pergi Tau ngak, Hagia harus tau kamu dihubungin Elvira Mas Megan. apalagi klo kamu mau pergi, kamu bawa Ranu loh. jadi usahakan pamitan dlu sama Hagia. oke?
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
takut klo itu cuma akal²an Maudy sama Elvira.. please y Megan klo mau jenguk ibumu mending sekalian sama Vanesa.. biar aman..
goodnovel comment avatar
A mum to be
Intinya tetap komunikasi sama aja deh kalian satu sama lain
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Mantan!   117. Permintaan Hagia

    “Nadi!”Mendengar suara itu, Hagia seketika menoleh cepat. Kemudian ia tertegun. “Mas? Kamu kok di sini?”Hagia bangkit dari duduknya. Menatap bingung lelaki yang baru saja tiba di hadapannya. “Raga bilang kamu lagi nggak enak badan. Kamu sakit?”Megantara menatap cemas Hagia. Namun alih-alih menjawab pertanyaan perempuan itu, ia langsung mengulurkan tangan. Telapak tangannya menyentuh lembut kening Hagia.Beberapa detik ia terdiam. “Kamu nggak demam. Tapi wajah kamu pucat.” Ia mengernyit. “Kenapa? Ada yang lagi kamu pikirin?”Hagia menggeleng pelan. “Mas, aku nggak apa-apa. Kenapa kamu ke sini, sih? Ranu mana?”Megantara mengembuskan napas pelan. “Pas Raga telepon tadi, aku langsung minta Mbak Vanessa jemput Ranu. Aku khawatir sama kamu.”Mendengar itu, sudut bibir Hagia perlahan terangkat. Ia menggenggam balik tangan Megantara yang masih berada di pipinya.“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Raga tuh berlebihan.”Megantara menggeleng pelan. “Nggak. Kamu memang kelihatan capek banget.” Tat

  • Hello, Mantan!   116. Kelelahan

    “Operasinya berjalan dengan lancar. Untuk saat ini Pak Auriga masih berada dalam pengaruh obat bius. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang rawat untuk menjalani masa pemulihan.”Penjelasan singkat dari Dokter Trenggana seketika mengangkat beban yang sejak tadi menghimpit dada mereka.Hagia menutup kedua matanya sesaat. Tanpa sadar, embusan napas lega keluar dari bibirnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh di wajahnya.“Alhamdulillah...”Djiwa yang berdiri di sampingnya ikut mengusap sudut matanya. “Terima kasih banyak, Dokter.”Hagia mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Dokter Trenggana.”Dokter itu membalas dengan senyum hangat. “Sekarang biarkan Pak Auriga beristirahat dulu. Nanti setelah efek obat bius mulai berkurang, keluarga sudah boleh menemui beliau.”“Baik, Dok.”Setelah berpamitan, Dokter Trenggana beserta tim medis berjalan meninggalkan lorong ruang operasi.Suasana lorong kembali hening. Hagia masih berdiri mematung. Kepalanya yang tadinya teras

  • Hello, Mantan!   115. Kabar Buruk

    “You okay?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Megantara. Sejak tadi lelaki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Hagia.Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya pun tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.“Sayang...” Megantara meraih pelan tangan Hagia yang berada di atas meja. “Kepikiran Papa, ya?”Hagia tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah playground yang berada tak jauh dari restoran. Di sana, Ranu masih asyik bermain perosotan bersama anak-anak lain.Baru setelahnya, ia mengembuskan napas panjang.“Kayaknya aku lagi mood swing banget, deh, Mas.” Hagia menggigit bibirnya. “Udah mau jadwal mens.”Megantara mengangguk pelan. “Oke. Terus sekarang kenapa? Ada yang bikin kamu kepikiran?”Hagia menggigit pelan bibir bawahnya. “Mas...”“Hm?”“Hari ini aku kayaknya berlebihan banget sama Ranu.”Megantara mengernyit. “Kenapa sama Ranu? Hasil evaluasi di sekolah bagus kan, kata kamu?”“Iya.” Hagia mengangguk pelan

  • Hello, Mantan!   114. Ketakutan Hagia

    Suasana sekolah pagi itu cukup ramai. Beberapa orang tua tampak berjalan keluar masuk ruang kelas, sementara yang lain masih duduk bersama wali kelas untuk mendengarkan evaluasi perkembangan anak-anak mereka.Pun begitu dengan Hagia yang kini tengah duduk berhadapan dengan Bu Mia, wali kelas Ranu. “Selamat pagi, Bu Hagia. Terima kasih ya sudah menyempatkan hadir hari ini.”“Selamat pagi, Bu Mia.”Guru itu tersenyum hangat. “Baik, kita mulai bahas tentang perkembangan Ranu selama satu tahun terakhir, ya.” Bu Mia mulai membolak-balikkan buku catatannya. “Sejauh ini perkembangan Ranu sangat baik. Dia aktif, cepat beradaptasi, dan rasa ingin tahunya tinggi. Hanya saja memang masih perlu sedikit dibimbing untuk lebih sabar menunggu giliran dan mengontrol emosinya.”Hagia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Di rumah juga kami masih terus belajar soal itu.”“Tapi untuk yang lain-lain, semuanya baik kok, Bu. Dan juga,” lanjut wali kelas, “karena ini sudah pembagian rapor sekaligus evaluas

  • Hello, Mantan!   113. Ketulusan dan Komitmen

    “Ranu udah tidur, Mas?”Suara Hagia memecah keheningan apartemen. Megantara yang baru saja keluar dari kamar Ranu setelah memastikan putra mereka benar-benar terlelap, lantas menoleh ke arah dapur. Lampu dapur masih menyala. Hagia berdiri di depan wastafel, kedua tangannya sibuk mencuci piring bekas makan malam tadi. “Iya.” Lelaki itu mengayunkan langkah menuju dapur. “Baru aja tidur setelah dia cerita banyak hal.”Hagia terkekeh kecil. “Energinya nggak habis-habis kayaknya, ya? Dia selalu antusias sama hal-hal baru.”Megantara hanya tertawa kecil. Lalu tanpa menanggapi ucapan Hagia, kedua lengannya langsung melingkar di pinggang perempuan itu.“Mas!” Hagia berjengit kaget hingga spons di tangannya nyaris terjatuh. “Ya ampun! Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?”Perempuan itu mendengus pelan. Namun alih-alih menyingkir, Megantara justru semakin mempererat dekapannya.“Mas, lepasin nggak! Aku lagi nyuci piring ini.”Sementara lelaki itu tidak menjawab. Dagunya ia sandarkan di bahu Hag

  • Hello, Mantan!   112. Rasa Cemas Hagia

    “Aku pulang ya, Ma.”Hagia dan Djiwa sudah berdiri di depan ruang rawat Auriga. Tatapan perempuan itu sempat menoleh ke arah Auriga yang sedang tertidur karena pengaruh obat.“Maaf aku nggak bisa nemenin Mama di sini.” Ia mengembuskan napas pelan. “Soalnya besok Ranu ada kegiatan di sekolah. Aku harus siapin semua keperluannya malam ini.”Djiwa mengangguk pelan. Raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu.“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu juga nggak bisa ninggalin Ranu lama-lama.” Djiwa mengulas senyuman kecil. “Kamu nggak usah khawatirin Papa, ya. Ada Mama di sini, kalau ada apa-apa nanti Mama bakalan ngabarin kamu.”Hagia mengangguk. “Bener ya, Ma. Besok aku usahakan ke sini sebelum Papa masuk ruang operasi.”“Iya.” Djiwa mengusap pelan pipi putrinya. “Hati-hati di jalan. Kabarin juga kalau udah sampai rumah.”“Iya, Ma.”Hagia melirik sekali lagi ke arah Auriga. Lelaki itu masih terlelap dengan selang infus yang terpasang di tangannya.Dadanya terasa sesak.Ay

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol

  • Hello, Mantan!   34. Rasa Penasaran Megantara

    “Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sud

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status