Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 60. Satu-satunya yang Berharga (21+)

Share

60. Satu-satunya yang Berharga (21+)

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-22 15:16:20

Hagia menahan napasnya saat jemari Megantara mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

Gerakannya lambat. Namun justru itu yang membuat jantung Hagia semakin kacau.

“Mas…”

Suara perempuan itu terdengar melemah.

Megantara mengangkat satu tangan, ibu jarinya menyentuh pelan bibir Hagia seolah meminta perempuan itu berhenti memikirkan semuanya malam ini.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Dan seperti biasa Megantara selalu berhasil membuat Hagia sulit berpaling.

“Aku mau kamu…” Suara lelaki itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
IKYURA
Makasih udah nungguin ...️
goodnovel comment avatar
Colin
semoga jalan kedepannya tidak menyulitkan mereka utk kembali bersatu. mereka harus saling menguatkan saat menghadapi mamanya megantara ataupun elvira.
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
finally... aku udah mikir bakal drama gak jadi ini. but thanks kak, akhirnya dijadikan adegan Plus2 mama n papa Ranu... huhuhu. makasih lo kak surprise nya, dr subuh aku nunggu update, akhirnya update...huhuhu... semoga komunikasi mereka makin lebih baik, n can't wait for the 2nd baby :3 makasih kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   120. Peluang Baru

    “Aku kayaknya hamil.”Megantara yang sejak tadi mengusap punggungnya seketika terdiam. Tangannya berhenti bergerak.Hagia menundukkan wajah, tak berani menatap lelaki di sampingnya. “Kamu... bakalan senang, nggak? Kamu bakalan tanggung jawab, kan?”Mendengar pertanyaan itu, Megantara seketika tertegun. Ia menatap Hagia seolah baru saja salah mendengar.“Ulangi lagi, Sayang.” Hagia menggigit bagian dalam bibirnya. “Kamu tadi bilang apa?”Hagia mengembuskan napas pendek. Ia masih belum berani menatap Megantara. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma mau bilang kalau...” Hagia berhenti sejenak. “Aku telat.”Megantara masih diam.“Dan kayaknya...” Hagia akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. “... aku hamil.”Hening selama beberapa saat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Hagia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Megantara perlahan berubah.“Mas? Kenapa? Kamu nggak suka, ya? Kamu—” Hagia menelan ludah. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma—”Belum sempat Hagia melanj

  • Hello, Mantan!   119. Hamil?

    “Kita pulang, ya?”Suara Megantara terdengar lembut. Ia sudah berdiri di hadapan Hagia setelah menjenguk ibunya. Satu tangannya masih menggenggam tangan perempuan itu.“Kamu udah janji setelah aku menemui Mama, kita bakalan pulang.”Sudut bibir Hagia perlahan tertarik ke atas. Namun alih-alih menanggapi ucapan Megantara, perempuan itu justru bertanya, “Mama gimana keadaannya, Mas?”Megantara langsung mengernyit. “Kenapa malah mengalihkan topik pembicaraan, sih?”Hagia terkekeh pelan. “Aku kan, cuma nanya. Nggak boleh?”“Boleh.” Megantara menghela napas pendek. “Tapi kamu nggak jawab pertanyaanku.”Megantara menatap Hagia lekat. “Jawab pertanyaan aku dulu. Gimana kondisi Mama?”Megantara mengembuskan napas panjang. “Mama cuma kecapekan aja, Sayang. Dokter bilang kondisinya sudah cukup stabil. Tapi beliau memang diharuskan untuk banyak istirahat.”Hagia mengangguk pelan. “Mama pasti banyak pikiran juga, Mas.” Ia mendongak, menatap Megantara lekat. “Mama memang keras, tapi aku tahu kalau

  • Hello, Mantan!   118. Berdebat

    Entah sudah berapa lama Hagia berdiam diri di depan wastafel. Kedua telapak tangannya bertumpu pada permukaan marmer dingin, sementara kepalanya tertunduk lemah.Perlahan ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan pantulan dirinya sendiri di cermin.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya. Bahkan bibirnya kehilangan warna. Ia memutar keran, membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali. Berharap rasa pening yang sejak tadi mengganggunya bisa sedikit mereda. Namun yang datang justru rasa mual.Hagia buru-buru memejamkan mata. Satu tangannya refleks menekan pelan ulu hati. Napasnya diatur perlahan hingga rasa bergolak di perutnya sedikit demi sedikit mereda.“Aku nggak mungkin hamil, kan?”Ia kembali menatap bayangannya di cermin. Kata-kata Raga kembali terngiang di kepalanya.“Kamu nggak hamil kan, Mbak?”Hagia menggeleng pelan. Berusaha mengusir pikiran itu.“Nggak mungkin…” Ia menggeleng pelan. Namun, alih-alih merasa tenang, dadanya justru semakin dipenuhi ke

  • Hello, Mantan!   117. Permintaan Hagia

    “Nadi!”Mendengar suara itu, Hagia seketika menoleh cepat. Kemudian ia tertegun. “Mas? Kamu kok di sini?”Hagia bangkit dari duduknya. Menatap bingung lelaki yang baru saja tiba di hadapannya. “Raga bilang kamu lagi nggak enak badan. Kamu sakit?”Megantara menatap cemas Hagia. Namun alih-alih menjawab pertanyaan perempuan itu, ia langsung mengulurkan tangan. Telapak tangannya menyentuh lembut kening Hagia.Beberapa detik ia terdiam. “Kamu nggak demam. Tapi wajah kamu pucat.” Ia mengernyit. “Kenapa? Ada yang lagi kamu pikirin?”Hagia menggeleng pelan. “Mas, aku nggak apa-apa. Kenapa kamu ke sini, sih? Ranu mana?”Megantara mengembuskan napas pelan. “Pas Raga telepon tadi, aku langsung minta Mbak Vanessa jemput Ranu. Aku khawatir sama kamu.”Mendengar itu, sudut bibir Hagia perlahan terangkat. Ia menggenggam balik tangan Megantara yang masih berada di pipinya.“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Raga tuh berlebihan.”Megantara menggeleng pelan. “Nggak. Kamu memang kelihatan capek banget.” Tat

  • Hello, Mantan!   116. Kelelahan

    “Operasinya berjalan dengan lancar. Untuk saat ini Pak Auriga masih berada dalam pengaruh obat bius. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang rawat untuk menjalani masa pemulihan.”Penjelasan singkat dari Dokter Trenggana seketika mengangkat beban yang sejak tadi menghimpit dada mereka.Hagia menutup kedua matanya sesaat. Tanpa sadar, embusan napas lega keluar dari bibirnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh di wajahnya.“Alhamdulillah...”Djiwa yang berdiri di sampingnya ikut mengusap sudut matanya. “Terima kasih banyak, Dokter.”Hagia mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Dokter Trenggana.”Dokter itu membalas dengan senyum hangat. “Sekarang biarkan Pak Auriga beristirahat dulu. Nanti setelah efek obat bius mulai berkurang, keluarga sudah boleh menemui beliau.”“Baik, Dok.”Setelah berpamitan, Dokter Trenggana beserta tim medis berjalan meninggalkan lorong ruang operasi.Suasana lorong kembali hening. Hagia masih berdiri mematung. Kepalanya yang tadinya teras

  • Hello, Mantan!   115. Kabar Buruk

    “You okay?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Megantara. Sejak tadi lelaki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Hagia.Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya pun tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.“Sayang...” Megantara meraih pelan tangan Hagia yang berada di atas meja. “Kepikiran Papa, ya?”Hagia tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah playground yang berada tak jauh dari restoran. Di sana, Ranu masih asyik bermain perosotan bersama anak-anak lain.Baru setelahnya, ia mengembuskan napas panjang.“Kayaknya aku lagi mood swing banget, deh, Mas.” Hagia menggigit bibirnya. “Udah mau jadwal mens.”Megantara mengangguk pelan. “Oke. Terus sekarang kenapa? Ada yang bikin kamu kepikiran?”Hagia menggigit pelan bibir bawahnya. “Mas...”“Hm?”“Hari ini aku kayaknya berlebihan banget sama Ranu.”Megantara mengernyit. “Kenapa sama Ranu? Hasil evaluasi di sekolah bagus kan, kata kamu?”“Iya.” Hagia mengangguk pelan

  • Hello, Mantan!   5. Marriage is Scary, Right?

    Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor

  • Hello, Mantan!   4. Hari Pertama Bekerja

    Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyekto

  • Hello, Mantan!   3. Kemarahan Hagia

    “Gi, mau ke mana?”Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”Alis Sinta l

  • Hello, Mantan!   2. Megantara Adiwangsa

    Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status