Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 68. Ajakan Vanessa

Share

68. Ajakan Vanessa

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-29 21:12:52

“Jangan telat ya, Gan. Gue udah jalan ini. Lo tahu sendiri kalau gue nggak suka ngaret.”

Megantara menghela napas pendek. Lelaki itu baru saja selesai mengancingkan kemejanya. “Iya. Aku udah siap, Mbak.” Ia melirik ke samping. “Tapi, Mbak, aku ngajak Ranu nggak apa-apa, kan?”

“Nggak apa-apa. Gue juga ngajak Brian, kok. Mas Areksa lagi di luar kota dan dia maunya gue tetap datang! Kalaupun mereka nanti rewel, kita tinggal cabut aja. Yang penting setor muka aja,Gan."

“Oke.”

Setelah panggilan deng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
bakalan ketauan Papanya Ranu siapaaaaa wkwkwkwkwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Ira Zamzuri
halloo thoor...yang baik hati, aku tunggu bab2 berikutnya yaa..terimakasih
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
ternyata megan pergi ke acara nya si daren juga nih... siap siap hagia ketemu sama megan dan ranu... hagia menyebalkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   77. Hagia VS Elvira

    “Sumpah, gue kenyang banget hari ini. Kita perlu kopi dan semacamnya nggak, sih?”Suara Arsenio membuyarkan lamunan Hagia. Perempuan itu mengerjap beberapa kali, seolah baru saja kembali dari tempat yang jauh.Mereka baru selesai makan siang di warteg langganan dekat kantor dan kini sedang berjalan kembali menuju gedung Rupa Rancang Nusantara.Namun pikiran Hagia sama sekali tidak berada di sana. Pikirannya masih terjebak pada kejadian tadi.Tepatnya saat Hagia dan Megantara sedang berduaan di ruangan lelaki itu. Saat mereka berciuman dan saat Elvira tiba-tiba membuka pintu tanpa peringatan.Hagia mengembuskan napas. Entah apa reaksi Elvira saat setelah Hagia meninggalkan ruangan tadi. Dan justru hal itu membuatnya semakin kepikiran. “Gi, mikirin apa, sih?” Kali ini suara Risa terdengar tepat di sampingnya.Hagia menoleh. “Nggak ada, Ris. Kenapa, sih?”“Nggak ada, tapi sikap lo dari tadi tuh aneh banget tahu, nggak. Dari tadi Arsenio tuh ngajakin mampir beli kopi.”“Tahu tuh, Mbak. C

  • Hello, Mantan!   76. Rencana Outing

    “Jadi... siapa yang kirim kopi buat kamu?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Hagia yang baru masuk ke ruangan lelaki itu menghentikan langkahnya. Di tangannya ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Megantara.“Hah?” Hagia meletakkan berkas tersebut di atas meja. “Aku nggak tahu, Mas. Aku pikir dari kamu.”Megantara menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa dari aku?”“Karena nggak banyak yang tahu kesukaan aku.” Hagia mengangkat bahu pelan. “Bahkan anak-anak kantor juga nggak terlalu tahu. Jadi aku—”Kalimatnya terputus. Karena tiba-tiba Megantara meraih pergelangan tangannya. Sebelum Hagia sempat bereaksi, lelaki itu menariknya mendekat. Dan dalam sekejap, Hagia sudah jatuh di pangkuan lelaki itu. “Mas!” Wajah Hagia seketika panik. Ia buru-buru melirik ke sekeliling ruangan. “Kamu tuh, ya!”Megantara justru terlihat santai. Seolah apa yang baru dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia.“Kenapa?”“Ini kantor!”“Aku tahu.”“Kalau ada yang masuk gimana

  • Hello, Mantan!   75. Pemuja Rahasia

    “Mas!”Pintu mobil baru saja tertutup ketika Hagia menjatuhkan tubuhnya ke kursi penumpang. Napasnya masih sedikit terengah akibat berjalan cepat dari halte.“Aku nggak tahu kalau banyak driver TransJakarta pada mogok kerja. Katanya pada demo hari ini. Aku bingung, dan orang pertama yang aku pikirkan cuma kamu.”Megantara yang duduk di kursi kemudi menoleh sekilas. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Mulai besok kamu berangkat bareng aku aja.”Hagia langsung menoleh cepat. Kemudian menggeleng. “Nggak bisa dong, Mas.”“Nggak bisa kenapa, Nadi?” Megantara mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. Pandangannya fokus ke depan. “Kita satu apartemen dan kita juga sekantor. Masalahnya di mana, coba?”“Masalahnya banyak.” Hagia mendecak pelan. “Anak kantor bakal tahu kalau kita mantanan dan—”Megantara mengedikkan bahu. “Terus?”“Terus... ya nanti mereka ngomong macam-macam, Mas. Situasi di kantor bakalan kacau, apalagi kalau sampai mereka tahu kamu tuh mantan suamik

  • Hello, Mantan!   74. Meyakinkan Hagia

    Mereka tiba di Ruang Kaldu, restoran ramen langganan yang dulu hampir selalu menjadi tujuan mereka setiap kali ingin menghabiskan waktu bersama.Tempat itu tidak banyak berubah.Interior kayunya masih sama. Aroma kaldu yang gurih masih menyambut begitu mereka melangkah masuk. Bahkan beberapa dekorasi di sudut ruangan masih berada di tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu.Sejenak, Hagia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu. Ke masa ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih yang sering menghabiskan akhir pekan di tempat ini. “Mas, kamu yakin Ranu nggak nyariin aku?” tanya Hagia begitu mereka duduk. Megantara yang sedang menuangkan air ke dalam gelas hanya mengedikkan bahu. “Nggak, kok. Aku cuma bilang ke dia kalau aku mau jemput kamu. Dan dia kasih izin.”“Bisaan banget cari alasannya, ya. Awas aja kalau sampai dia nangis nanti.”“Nggak apa-apa. Kenapa, sih? Kamu kayak nggak suka banget aku ajak ke sini,” jawab Megantara dengan nada dibuat-buat kesal.“Nggak gitu…” Ha

  • Hello, Mantan!   73. Bahasa Cinta

    “Please don't blame yourself, Hagia. Nggak ada yang salah dengan status kamu sekarang. Ini bukan salah kamu.”Hagia tersenyum kecut. Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya sendiri yang saling bertaut di atas pangkuan. Entah kenapa, Hagia merasa tidak sanggup menatap Dokter Laskar terlalu lama. Seolah jika ia melakukannya, semua kegelisahan yang selama ini berusaha disembunyikan akan terbaca dengan jelas.“Saya biasanya nggak kayak gini, Dok.” Suara Hagia terdengar lebih lemah dibanding sebelumnya. “Alih-alih saya mengkhawatirkan ucapan orang ini, saya justru semakin takut membuka hati untuk mantan suami saya.”Dokter Laskar membiarkan kalimat itu menggantung beberapa saat.“Jadi… dia kembali?”Hagia menganggukkan kepala sebagai jawaban dan Dokter Laskar kembali bersuara. “Do you still love him?”Pertanyaan itu membuat Hagia membeku. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Ia membuka mulut, ingin menjawab. Namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar.Karena bahkan setelah semua y

  • Hello, Mantan!   72. Kejujuran Hagia

    “So, gimana nasib kerja sama dengan Astu Group? Bakal tetap lanjut atau...?” Pertanyaan itu dibiarkan menggantung begitu saja. Kafka yang berdiri di samping Megantara menoleh penasaran. Mereka baru saja selesai bertemu dengan klien dan memutuskan untuk kembali ke kantor. Megantara sedang menatap layar laptopnya ketika pertanyaan itu dilontarkan. “Masih gue kaji ulang,” jawabnya tenang. “Tapi kalaupun lanjut, gue nggak mau Nadi yang handle proyek ini.” Kafka mengangguk pelan. Sejujurnya, ia sudah menduga keputusan itu akan keluar dari mulut Megantara cepat atau lambat. “Sejak awal kita tahu kalau Astu Group emang problematik, sih,” ujar Kafka sambil mengaduk kopinya. “Cuma ya gimana. Daren Astunegara sendiri yang datang ke sini dan minta Hagia buat handle.” Megantara tidak langsung menanggapi. Tatapannya masih tertuju pada layar laptop, tetapi pikirannya jelas sedang berada di tempat lain. “Kalau Daren profesional, gue nggak ada masalah sebenarnya.” Kafka mengangkat alis. “Yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status