LOGINCalon penganten pria kudu dikerangkeng gak sih? Biar gak kabur-kaburan bae
Rasanya Kalla sudah ingin pingsan saking capeknya. Padahal kata Reyga tamu yang hadir tidak sampai 500. Tapi baginya, tamu seolah datang tidak ada hentinya. Fisiknya kelelahan. Matanya pun perih menahan kantuk. Terus memaksakan tersenyum dan membuka mata bikin pegel. Saat selesai sesi foto bersama tamu untuk kesekian kalinya, Reyga langsung menuntun Kalla duduk kembali. Dia menggapai air minum di belakang kursi, dan menyodorkannya ke depan wajah sang istri. “Ayo minum dulu,” pintanya. Tanpa pikir panjang Kalla langsung menyesap minuman tersebut. “Acaranya nggak sampai sore kok. Abis itu kita bisa istirahat,” kata Reyga menenangkan Kalla yang terlihat sudah tidak karuan. Pakaian adat yang wanita itu pakai juga tampak tidak membuatnya nyaman. “Abis ini nggak ada ritual-ritual lain kan? Sumpah, Rey. Aku pengin tidur.” “Kalau pun ada aku pastikan kamu istirahat dulu. Aku nggak mau abis acara nikahan kamu malah drop.” “Ini juga udah drop.” Kalla menutup mulut sembari menguap lebar-l
“Lo ngerti host acara ngomong apaan?”“Kagak tau. Dia ngomong pake bahasa Sansekerta. Mana kita ngerti?” “Dia ngomong pake bahasa Jawa alus, Dodol. Meskipun gue nggak ngerti artinya, tapi gue suka cara dia ngomong.” “Ho-oh, Alus kayak orang-orang di Keraton.” Ibu sedang melakukan prosesi serah terima calon pengantin laki-laki. Malam ini ibu sangat cantik dengan tampilan kebaya warna merah. Ya, pihak keluarga Kalla mengenakan kebaya merah untuk para wanita, dan ageman merah untuk para pria. Sementara di pihak keluarga Reyga mengenakan jenis pakaian serupa berwarna hitam. “Laki Lo cakep amat pake beskap sama blangkon gitu ya,” puji Moya jujur, melihat tubuh tegap Reyga dibalut beskap Jawa warna merah, senada dengan yang Kalla kenakan. Mata Kalla melirik Reyga yang saat ini tengah melakukan ngunjuk tirta wening—semacam pemberian air minum. Ibu memberi air minum pada Reyga alias calon pengantin pria. Moya benar. Reyga tampak begitu gagah mengenakan ageman jawa. Bahunya terlihat begit
Reyga dan Kalla kuyup dengan siraman air tujuh sumber yang dicampur kembang. Saat itulah prosesi awal pernikahan dimulai. Dihadiri keluarga besar masing-masing calon mempelai serta teman-teman terdekat, acara itu berlangsung dengan hikmat dan lancar. Yang seru ketika ibu melakukan prosesi dodol dawet bersama Om Rayas sebagai pengganti ayah Kalla yang sudah lama wafat. Tamu-tamu yang hadir sampai antri beli dawet dari ibu. Ibu yang melayani, sementara Om Rayas memayungi ibu. Dawet ibu laris manis meskipun cuma dibeli menggunakan kreweng, serupa tembikar berbentuk bulat yang terbuat dari tanah. Katanya sih itu sebagai simbol harapan agar rezeki keluarga baru kelak berlimpah dan manis. Semua prosesi pranikah itu diadakan di kompleks rumah joglo komersial yang dekat dengan area candi. “Gue belum tidur siang, Moy,” bisik Kalla ketika merasakan kelopak matanya mulai berat. Saat ini dirinya sedang istirahat sejenak di kamarnya. “Lah sama, emang lo doang? Gue aja dipaksa-paksa melek
Perabot di kamar Kalla sudah diganti semuanya. Ranjang tidur menjadi lebih lebar, pun dengan wardrobe pakaian. Bahkan ukuran kamar diperbesar dan memiliki tambahan kamar mandi di dalam. Ibu benar-benar total merenovas habis kamar buat calon pengantin. Kamar untuk Kael juga sudah dipersiapkan dengan baik. Moya yang mendesainnya. Jika biasanya pihak keluarga lelaki yang ngunduh mantu, ini sebaliknya. Ibu yang akan ngunduh mantu. Karena setelah nikah, Reyga dan Kael akan tinggal di rumah ibu. Itu kesepakatan antara Reyga dan Kalla sendiri. “Gila kamar manten keren abis. Udah mirip kamar yang di hotel bintang lima. Ibu beneran total banget ngerombak,” seru Moya melihat kamar baru Kalla itu. Bahkan kamar mandinya saja pakai shower dan water heater. Padahal biasanya juga pake gayung dan bak mandi doang. “Kata ibu itu disesuaikan sama style Reyga. Padahal gue minta yang biasa aja. Biarin aja Reyga yang nyesuaiin gaya hidup kita. Bukan sebaliknya,” ujar Kalla sambil menyiapkan beberapa
“Kamu sudah menunggu lama?” Kalla menggeleng. Ujung matanya melirik meja lain yang letaknya agak jauh dari posisinya. Willa, Kael, dan wanita yang belum Wima kenalkan padanya ada di sana. “Uhm, dia…” Kalla kembali melirik wanita asing itu. Dan wanita itu juga kedapatan memperhatikannya diam-diam. “Cewek itu siapa, Kak?” Mengikuti gerakan mata Kalla, Wima menghela napas. “Anak kolega,” sahutnya singkat. “Jadi, kenapa kamu minta kita ketemu? Ada yang ingin kamu katakan?” Wima dengan cepat mengalihkan topik, seperti tidak membiarkan Kalla mengetahui lebih banyak tentang cewek cantik itu. “Oh iya.” Kalla membuka tas dan mengambil undangan yang sudah dia siapkan. Hati-hati dia meletakkan benda itu ke meja dan mendorongnya ke dekat Wima. “Undangan pernikahanku, Kak.” Tatap Wima jatuh ke undangan berbentuk persegi yang memiliki setengah warna hijau zamrud dan setengahnya lagi putih kehijauan yang senada. Ada ukiran simbol wayang Nusantara sebagai pengait, serta kain pita yang melilit ker
“Aku boleh duduk di sini ya, Dik?” Kael melirik skeptis dan secara refleks menggeser posisi saat tiba-tiba saja seorang cewek duduk di kursi panjang yang dia tempati. Kursi itu memang muat sampai empat orang, tapi Kael tidak suka berbagi sama orang asing. Cewek yang mungkin berusia dua puluhan itu meminta izin padanya, tapi langsung duduk sebelum mendapat izinnya. Benar-benar mengganggu. Kael berusaha mengabaikan dengan tetap memakan roti es krimnya, tanpa menawari. “Kamu makan apa, Dik? Kayaknya enak.” Dahi Kael mengerut. Ujung matanya melirik kesal, sebelum beringsut duduk menyerong, menghindari cewek itu. Cewek itu tertawa melihat reaksinya. “Tenang, aku nggak bakal minta kok. Nih, aku punya sesuatu yang lebih enak dari punya kamu.” Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dia bawa. Makanan berbentuk panjang dan lonjong, keluar dari kertas pembungkus. “Ini namanya chicken roll. Lebih enak dari roti es krim punya kamu. Kamu mau?” Kael mendengus, tampak malas m
Kaki Kalla menghantam ke samping. Posisi tidurnya berubah dan seketika matanya memicing ketika cahaya menerpa wajahnya. Dia kembali membalik posisi dengan malas. Tapi samar-samar matanya menangkap bayang-bayang orang duduk di depannya. Secara perlahan dan terpaksa, dia membuka mata. Satu lelaki dew
Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla? Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh. Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla
“Jadi sekarang Lo di Bali?”“Hu-um.”“Buset, belum apa-apa udah honeymoon.” “Honeymoon pale Lo.” Di ujung telepon sana Moya tergelak. “Jadi baby sitter anaknya orang tajir mah beda ya. Jalan-jalan aja pake jet pribadi. Nginepnya di vila mahal. Mana bapaknya duda lagi. Lo banyak-banyak bersyukur tu
“Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men







