Home / Romansa / Hello, Nanny! / 32. Wima Sagara

Share

32. Wima Sagara

last update publish date: 2026-03-04 13:28:18
Kaki Kalla menghantam ke samping. Posisi tidurnya berubah dan seketika matanya memicing ketika cahaya menerpa wajahnya. Dia kembali membalik posisi dengan malas. Tapi samar-samar matanya menangkap bayang-bayang orang duduk di depannya.

Secara perlahan dan terpaksa, dia membuka mata. Satu lelaki dewasa dan satu bocah kecil menatap lurus padanya. Saat sadar mereka Reyga dan Kael, Kalla bangkit dengan ekspresi terkejut.

Namun sakit kepala tak terduga menderanya. Membuat wanita itu terpekik sambil
Yuli F. Riyadi

Dua bab nih, Gaes. Jangan lupa mampir dong ke cover depan. Masih sepi tuh.

| 14
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Null_null
Emang bener pesan 1 kamar lagi wkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bantu ulasan di cover depan ya kak, makasih
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Sama-sama kak, bantu ulasan di cover depan ya kak, makasih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   67. Serius

    Di bawah tatapan Ibu, Kalla menunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat, dan dua tangannya saling tertaut. Sementara Reyga masih dengan percaya diri tetap menyunggingkan senyum. Seolah kejadian bibir nempel tadi bukan masalah besar. "Jadi, kalian... punya hubungan lebih dari sekedar teman?" "Iya!" "Enggak!”Kalla dan Reyga tersentak dan refleks saling tatap. Jawaban serentak tapi tidak sinkron itu membuat alis ibu menanjak tinggi-tinggi. "Jadi yang benar mana?" Dua orang lelaki dan perempuan di depan ibu menunjuk diri masing-masing. Ibu makin mengernyit. Lalu ketika keduanya berdecak, ibu cuma bisa menghela napas. "Itu tadi cuma kecelakaan, Bu. Kalla hampir jatuh tadi, terus Reyga nolongin dan yaah berakhir seperti yang ibu lihat. Itu nggak sengaja, Bu," terang Kalla. Mencoba menjelaskan supaya ibu tidak salah paham. Namun ibu seperti kurang percaya. "Oh ya?" Ibu menatap Reyga. "Apa benar begitu, Nak Reyga? Bukannya kalian sengaja diam-diam ketemu?" "Iya.""Enggak!”Lagi-lagi mer

  • Hello, Nanny!   66. Nginep

    “Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk yang dia beli di warung depan. Kalla sendiri tidak ikut makan, karena dia sudah makan malam bersama Wima. “Kael kamu mau tidur di rumah kakak cantik atau di rumah Om?” tanya Cade pada Kael yang sedang menyendok makanannya. “Aku mau sama kakak aja,” sahut Kael santai. Tidak perlu meminta persetujuan sang papa. “Lo, Kak? Mau balik ke Sudirman atau mau nginep di sini?” Yang ditanya alih-alih menjawab malah menatap Kalla. Tapi boro-boro ditatap balik, melirik pun Kalla rasanya ogah. “Gue nginep di rumah Lo,” sahut Reyga pelan, berusaha agar Kalla tidak mendengar. “Maunya sih di sini, tapi ntar digrebek warga.” Di tempatnya Cade berdecih. Dia masih belum percaya kalau Reyga benar-benar me

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu sambil mengucek mata. Di depannya Kalla tersenyum. “Iya, kakak udah pulang. Maaf ya, kamu udah nunggu lama.” “Kakak dari mana? Kakak kenapa nggak datang ke sekolah?” “Siapa bilang kakak nggak datang? Kakak datang kok. Kakak juga lihat kamu pentas.” Kalla membuka galeri ponsel lalu menunjukkan video saat Kael pentas. “Kamu hebat, Kael. Lukisan kamu juara.”“Jadi kakak datang?” Kael tersenyum ketika Kalla mengangguk. Rasa tidak diinginkan yang sempat merayap saat melihat kedekatan Kael dan Kiana pelan-pelan lenyap ketika Kael meloncat ke pelukannya. Hati Kalla menghangat memeluk anak itu erat-erat, dan mencium rambut Kael yang wangi shampo rasa apel. “Kamu udah makan?” tanya Kalla kemudian.

  • Hello, Nanny!   64. Kakak-Adik

    “Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris terjengkang. Cade mendengus kesal seraya membenarkan kerah kemejanya. “Bisa santai nggak sih?”Mata Reyga mendelik. “Nggak kalau sama Lo yang suka bacot sembarangan.” “Gue nggak bacot sembarangan. Apa yang gue bilang itu semua benar.”“Ya terus, Lo berhak gitu ngasih tau semuanya ke Kalla?” “Gue cuma mau melindungi Kalla. Dia temen gue.” “Bullshit.”Keributan dua kakak-beradik itu terdengar sampai ke dalam rumah. Ibu yang sedang beres-beres dapur kontan meninggalkan pekerjaannya, dan setengah berlari keluar rumah. Wanita paruh baya itu terkejut ketika melihat Reyga dan Cade tengah bersitegang. “Nak Reyga, Nak Cade?!” Dua kakak beradik yang tengah saling melotot menghentikan aksinya. Kedu

  • Hello, Nanny!   63. Menunggu Kalla

    Begitu meeting selesai dan Reyga kembali ke kantornya, dia melihat Kael masih terjaga. Duduk di meja kerjanya tengah menekuri sebuah bricks. Dua bricks lain sudah terbentuk di depannya. Sementara di sofa penerima tamu, sekretarisnya duduk menggelosor di lantai dengan kepala jatuh ke meja. Molor. Reyga menarik napas panjang. Lalu berjalan mendekati putranya. “Kael, kenapa kamu nggak tidur siang?”“Aku nggak ngantuk, Pa,” sahut Kael dengan tatapan yang masih fokus ke mainan rakitan itu. Yang tidur lelap malah sekretarisnya. Reyga beralih menghampiri wanita itu. Alisnya terangkat sebelah, dan wajahnya terlihat jijik melihat sesuatu menetes dari ujung mulut Rachel, melewati pipi sebelum netes ke meja.Ujung sepatu Reyga mendorong pelan perempuan itu, sengaja mengetuk beberapa kali, membangunkan. Tapi ternyata tidur Rachel terlalu pulas. Sehingga Reyga kembali mendorong sepatu dengan keras. “Eham!” Lelaki itu berdeham keras. Dan perempuan itu refleks terbangun dengan badan yang langsu

  • Hello, Nanny!   62. Bricks

    Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat saja lantaran selama jalannya pentas dia tidak melihat nanny-nya. Anak empat tahun itu menghela napas, lalu menoleh ke ruangan di belakangnya. Tempat sang papa dan Kiana sedang berdiskusi dengan Miss Principal. Kiana keluar lebih dulu dan menaikkan alis ketika melihat keponakannya itu bermuram durja. “Ada apa?” tanya Reyga mencolek bahu wanita itu. Kiana mengedikkan dagu ke arah Kael. “Anak kamu lagi galau.” Reyga menghela napas lantaran tahu penyebab putranya mengsedih begitu. “Kael ada apa? Kok nggak semangat gitu?” tanya Kiana, mendekati anak itu lalu berjongkok di depannya. Muka cemberut Kael terangkat. “Kakak Cantik nggak ke sini, nggak liat aku nyanyi.” “Ooh.” Kian manggut-man

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status