Share

30. Bar

last update publish date: 2026-03-03 10:47:17
Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla?

Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh.

Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla memasang jarak. "Orang tadi siapa?" tanya Reyga, mengabaikan reaksi Kalla.

"Orang gila, Pa," sahut Kael menyeletuk.

Reyga langsung melotot, tidak menyangka Kael akan membalas dengan jawaban seperti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Selly
kallaaaa… .........
goodnovel comment avatar
Abhizar Ananda Ghaisan
GK dtmbh thorr bab nya
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Sok iyes ya wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   159. Berita dari Ibu

    Matahari Canggu sudah cukup tinggi, tapi Kalla masih betah tengkurap di atas kasur dengan mata yang masih terkatup rapat. Selimut hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara punggung putihnya dibiarkan terbuka. Melihat itu, Reyga yang baru saja masuk menggeleng dan tersenyum. Dini hari hingga subuh menjelang, wanita itu sudah lumayan bekerja keras. Jadi dia membiarkan saja ketika Kalla masih terlelap meski jam sudah hampir memasuki waktu makan siang. Lelaki itu mendekat, merangkak ke ranjang, dan mengurung Kalla yang masih belum juga terbangun. Kepalanya menunduk dan mencium punggung wanita itu, sebelum bergerak ke sisi sebelah yang kosong. Dia merebah dengan posisi miring, sebelah tangan menyangga kepala. Tangan lainnya mulai sibuk membelai punggung mulus itu. “Halus banget,” gumamnya, menyusuri punggung Kalla dari atas hingga lekuk pinggang dengan tangannya. Ada bercak kemerahan, bekas gigitannya semalam di beberapa titik. Kulit wanita itu yang putih bersih membuat bercak it

  • Hello, Nanny!   158. Ngantuk

    Disclaimer dulu yak hehe; Cerita ini hanya hiburan semata. Adegan mature dalam cerita ini tidak untuk ditiru ya, apalagi dipraktekkan. Kalau mau praktek minimal kudu nikah dulu. Muehehe. Author minta maaf sebesar-besarnya kalau ada yang nggak berkenan. =================Reyga langsung merangkul pinggang Kalla saat wanita itu segera menyambut kedatangannya. Dia melambaikan tangan pada Danesh sebelum menggiring Kalla ke tempat parkir motor. “Kalian ngapain aja sampai jam satu baru keluar?” tanya lelaki itu, sembari memakaikan jaket ke badan Kalla. “Makan, minum, nari-nari, ya seneng-seneng. Namanya juga perayaan.” Saat Reyga meresleting jaket tersebut, Kalla sedikit mendongak. Bibir Reyga mencebik. “Happy banget ya sampe nggak mau diganggu. Aku telpon pun nggak diangkat.” “Oh ya? Sori, aku nggak denger.” Setelah memakaikan jaket, lelaki itu memakaikan Kalla helm. “Udara dini hari dingin jadi harus rapet. Yuk!” Meski sudah mengenakan jaket yang lumayan tebal, Kalla tetap mengulu

  • Hello, Nanny!   157. Green Flag

    “Selamat atas kesuksesan kita semua. Tanpa kalian pameran ini tidak akan berjalan sempurna!” Wima mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi. “Dinasty…?!” “Jaya! Jaya! Yes!” sambut para stafnya dengan yel-yel kompak. “Cheers, untuk kita semua!” “Cheers!” Closing pameran berjalan lancar dua hari lalu. Wima mengapresiasi keberhasilan event itu dengan gala dinner yang diadakan di beach club di kawasan Canggu malam ini. Semua staf divisi hadir tanpa terkecuali. “Ini di luar ekspektasi. Selamat buat kalian berdua,” ucap Wima pada dua orang kepercayaannya, Danesh dan Kalla. “Sesuai janji selain bonus, kalian akan liburan ke Eropa.” Danesh dan Kalla kompak menyambut kabar baik itu dengan bertos ria. Keduanya sudah menantikan momen itu. “Eropa, Kal! Sekalian ajak Celine pulang kampung ke Paris!” seru Danesh kegirangan. Tubuhnya lantas berjoget mengikuti irama musik. “Yee, sekali mendayung. Sekalian kenalan sama mertua, Nesh.” “Yoi!” Lelaki berambut jabrik itu lantas berdiri. “Ta

  • Hello, Nanny!   156. Tetap Kamu yang Menang

    “Kalau kamu mau tidur sama roommate-ku juga silakan.” Kalla mengangkat bahu. Sangat tidak mungkin mengajak lelaki itu menginap di kamarnya. Kening Reyga mengerut. “Sekamar berdua? Sekelas Sagara?” “Kan nggak cuma kamu yang mau hemat, Rey.”“Oke, kita buka kamar di Oshom. Bagus langsung menghadap laut.” “Di sana ada Wima by the way.” “Shit.”Reyga mendebas keras sampai rambut bagian depannya terbang. Wima Sagara benar-benar bencana. Dia benar-benar harus bersabar sampai dua minggu ke depan sebelum memukul mundur pria itu. Kalla terkekeh lantas berdiri. Tangannya terulur. “Aku lapar, tapi nggak mau makan di sini.”Menyambut uluran tangan wanita itu, Reyga turut berdiri. “Kenapa?” “Makanan di sini nggak ramah di kantong,” bisik Kalla, membuat Reyga terkekeh geli. “Meskipun bukan CEO Ganesha lagi, tapi aku masih sanggup kok bayar makan malam kita di sini.”Kepala Kalla menggeleng, dia menarik tangan lelaki itu, dan membawanya keluar dari area beach club. “Kalau cuma buat mengenyang

  • Hello, Nanny!   155. Lamaran Kedua

    Cade di ujung telepon terpingkal mendengar curhatan sang kakak. Kemunculan Wima dan kepatuhan Kalla pada pria itu membuat Reyga jengkel. Gimana tidak, pulang kerja tiba-tiba Kalla memberinya kartu akses unit lain. Wanita itu bilang Reyga harus pindah. Dan ketika ditanya, Kalla bilang itu dari Wima. “Terus lo jawab apa?” “Ya emang gue bisa apa kalau dia udah bawa-bawa ibunya? Kampret si Sagara itu. Nggak demen banget liat gue sama Kalla akur.” “Wajar sih, Lo kan saingan dia. Ya udah sih, itung-itung Lo dapat apartemen gratis.”“Gratis what the— pengurusnya bilang belum dibayar!”Di sana Cade makin terpingkal. Membuat Reyga berdecak kencang. “Jangan cuma ketawa. Lo kasih ide apa gitu, biar si Sagara nggak recokin gue sama Kalla lagi.”Desahan Cade terdengar panjang di ujung telepon. “Apa yang Lo pusingin sih, Kak? Yang penting kan Kalla udah balikan sama Lo.”“Gue belum bisa tenang selama masih ada kunyuk itu.” “Ya udah lo ajak Kalla merit aja secepatnya. Usia dia udah pas kok buat

  • Hello, Nanny!   154. Perkara Numpang

    “Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu sebagai alasan Reyga menumpang di apartemen Kalla. Vila lain banyak, hotel juga banyak. Dia tidak sebodoh itu dengan akal-akalan duda anak satu itu. “Aneh ya. Anda kan CEO Ganesha, masa soal hunian saja sampai numpang?” Reyga yang sedang makan salad sayur melirik Wima dengan tatapan tak suka. “Saya bukan CEO Ganesha lagi. Nggak mungkin Anda nggak tau.” Sumpitnya diarahkan ke wortel. “Oh.” Wima tampak salah tingkah. Lalu melirik Kalla yang untungnya tidak terlalu peduli. “Oke, tapi sebagai anggota keluarga Abimanyu nggak mungkin mereka membiarkan Anda kesulitan.” Hampir saja Reyga membanting sumpit jika tidak ingat Kalla masih ada di sebelahnya. “Pak Wima ini repot banget ya ngurusin urusa

  • Hello, Nanny!   49. Mengindar

    Tidak ada komentar apapun dari Kalla meski saat ini perasaannya mulai terganggu. Wanita itu meminta Cade agar menurunkannya di Sudirman sebelum menyebrang ke Setia Budi. Ini masih pagi dan hatinya mendadak kacau gara-gara mendengar cerita Cade. Mood bekerja pun menurun drastis. Langkah Kalla tera

  • Hello, Nanny!   48. Info Tak Terduga

    “Nggak, bukan begitu.” Tatapan Cade masih fokus ke jalanan. “Bisa enggak kalau lo jaga jarak aja sama Kak Reyga?” Gimana? Kening Kalla mengerut. Tapi dia tidak langsung berkomentar meski benaknya ingin tahu alasan Cade mengatakan itu. Baiklah. Pertemuan awalnya dengan Reyga memang tidak menyenangk

  • Hello, Nanny!   47. Gila Cowok

    “Kenapa Lo nggak bilang kalau Papa Reyga secakep itu?!” Begitu Reyga pergi, Moya kehebohan. BerWow-Wow ria tidak ada hentinya sampai Kalla bosan mendengarnya. “Kan gue udah cerita kalau dia itu ganteng.”“Tapi gue nggak ekspek bakal seganteng ini. Bodynya, Kaaaal. Lengannya, Kaaaaal. Ya ampuuun.

  • Hello, Nanny!   46. Melamun

    Kalla cengar-cengir begitu keluar dari mobil. Di sisi kanan, Reyga juga ikut keluar. Sementara Kael memilih duduk tenang di atas car seat, tidak mau turun. Hampir pukul lima sore ketika mereka sampai di halaman rumah Kalla. “Besok mau berangkat sendiri atau dijemput Pak Sato?” tanya Reyga. Jejak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status