/ Romansa / Hello, Nanny! / 176. Bocah Ganteng

공유

176. Bocah Ganteng

last update 게시일: 2026-05-16 16:37:18
“Aku boleh duduk di sini ya, Dik?”

Kael melirik skeptis dan secara refleks menggeser posisi saat tiba-tiba saja seorang cewek duduk di kursi panjang yang dia tempati. Kursi itu memang muat sampai empat orang, tapi Kael tidak suka berbagi sama orang asing.

Cewek yang mungkin berusia dua puluhan itu meminta izin padanya, tapi langsung duduk sebelum mendapat izinnya. Benar-benar mengganggu.

Kael berusaha mengabaikan dengan tetap memakan roti es krimnya, tanpa menawari.

“Kamu makan apa, Dik?
Yuli F. Riyadi

Ada yang bisa nebak siapa sebenarnya cewek yang menyebut Kael bocah ganteng?

| 15
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (10)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Wkwkwk mudahan bisa kak
goodnovel comment avatar
Anies
keknya cerita Wima bakalan ada novelnya sendiru deh.. wkwk semoga aja ya thor..
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Spill dikit aje yee. Lebihnya ntar cerita lain hihi
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Hello, Nanny!   S2. 5. Dua Pacar

    Dari sejak motor yang ditungganginya memasuki halaman rumah, Kael sudah melihat Kalla menungguinya di teras sambil senyum-senyum tak jelas. Kalau sudah begini Kael paling males. Dia sudah tahu apa yang terjadi setelah ini. Yakin bakal sama seperti waktu Vianna—teman satu sekolahnya datang ke rumah. Dengan langkah ogah-ogahan Kael memasuki teras rumah. Pura-pura tidak melihat ibu sambungnya di sana, dia melewatinya begitu saja. Namun tidak semudah itu, Ciripa. Tangan panjang Kalla langsung menghadang langkahnya. Wanita itu tersenyum lebar menatap putranya dengan jenaka. Seperti tidak punya pilihan, Kael pun akhirnya cuma bisa menghela napas dan mengikuti isyarat yang wanita itu berikan. “Cuma anter sampe depan rumah neneknya lalu pulang. Udah gitu doang,” ucap bujang itu sebelum ditanya. Jawaban datar putranya membuat Kalla tampak kecewa. “Kok cuma gitu doang?” “Emang mama berharap apa?” tanya Kael dengan muka lelah.“Ya apa kek. Basa-basi mampir sebentar ketemu neneknya bila p

  • Hello, Nanny!   S2.4. Tante ini ... Kakak Cantik, ya?

    Seingat Kael, satu-satunya teman yang bernama Rere itu sok imut, bawel, menyebalkan karena selalu menempel dengannya, dan juga suka memakai pita rambut aneh. Satu lagi yang Kael ingat, Rere suka mengklaim dirinya cantik padahal menurutnya tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Hanya saja, cewek itu sekarang cukup berbeda. Ehem! Kael akui, Rere … cantik. Intinya Kael tidak pernah menganggap cewek itu teman akrab. Namun demikian, cewek itu selalu menjadi pembela dirinya ketika ada anak lain yang mengganggunya. “Demi apa jadi selama ini lo tinggal di kampung ini?” tanya Rere takjub dan tidak percaya. “Tapi kenapa gue baru liat lo sekarang?” “Emang lo tinggal di sini juga?” tanya Kael heran. Ternyata cewek itu sama saja seperti dulu. Bawel. Rere menggeleng. “Enggak, sih. Tapi nenek gue tinggal di kampung sebelah. Gue sering ke sini kalau liburan.” Bibir cewek itu mencebik. Tapi detik berikutnya tersenyum. “Meskipun telat. Tapi gue seneng banget bisa ketemu lo lagi.” Bersamaan denga

  • Hello, Nanny!   S2.3. Temen Akrab

    “Lior, Kaia!”Dengan langkah cepat Kalla mencari kedua putrinya. Beberapa menit lalu dua anak itu masih bermain di taman rumahnya, tapi tahu-tahu sudah menghilang. Dia mencari di setiap penjuru rumah tapi belum juga menemukan batang hidung mereka. “Mereka nggak ke sini kok,” ujar ibu ketika Kalla mendatangi rumah ibunya. Ah, sudah tiga tahun Kalla dan keluarganya pisah rumah dengan ibu. Tidak jauh, masih di sebelah rumah ibu. Reyga memutuskan membangun rumah karena merasa butuh banyak ruang untuk anak-anaknya. “Duh, ke mana mereka itu.”“Tenang. Ibu yakin mereka nggak jauh-jauh mainnya. Nanti ibu tanya tetangga. Sekarang kamu pulang dulu, barang kali mereka sudah ada di rumah.”Kalla menurut dan kembali ke rumahnya. Dia masih tetap mencari dari depan hingga belakang rumah. Memanggil nama si kembar berulang-ulang. Mendengar suara Kalla yang terus memanggil adik-adiknya, Kael yang masih sibuk di kamar keluar. Kening Kael mengerut melihat sang ibu berjalan lunglai dengan bahu meroso

  • Hello, Nanny!   S2.2. Nanny?

    Kalla meninggalkan kamar putri-putrinya setelah mereka jatuh tertidur. Satu dongeng bahkan belum sempat dia selesaikan. Tidak seperti biasanya yang tiap dibacakan dongeng ada saja pertanyaan yang mereka lontarkan. Kali ini mereka langsung pulas.Untuk hari ini berbeda. Mungkin mereka masih sedih karena belum mendapat maaf dari sang kakak. Bahkan sebelum tidur tadi, mereka masih sempat mengatakan penyesalannya. Bertolak dari kamar si kembar, Kalla membuka pintu kamar Kael yang berada tepat di seberangnya. Kael juga sudah terlelap. Wanita itu bergerak mendekat, mengusap kepala sang putra lalu membenarkan selimut. “Sayang, mama tahu kamu kesal banget sama adik-adik kamu. Tapi seharian ini mereka menyesali perbuatannya. Mama harap kamu masih punya maaf yang luas buat mereka,” ucap Kalla pelan, yang mungkin tidak bisa putranya itu dengar.Ketika Kalla akan mematikan lampu kamar, tatapnya menangkap keberadaan maket bricks yang ada di meja. Benda itu yang membuat si kembar hampir menangis

  • Hello, Nanny!   S2.1. Proyek yang Hancur

    Bunyi brakkk terdengar sampai ke dapur. Bunyi familiar yang sekonyong-konyong bisa mematahkan hati seseorang karena usahanya hancur seketika. Kalla yang sedang mengaduk adonan refleks berhenti dan menatap putranya yang berdiri di depannya. Wajah remaja 16 tahun itu spontan memerah sambil memejamkan mata. Kalla tahu betul Kael sedang menahan marah. Dia bahkan melihat tangan putranya itu meremas kuat tangkai hand mixer yang digenggamnya. “Uhm, Sayang. Na-nanti mama bantu kamu merangkainya lagi, oke?” ucap Kalla dengan raut was-was. Perlahan dia melepas spatula. “Jangan marah ya. Mam pastikan adik-adik kamu mendapat hukuman.”Kalla buru-buru lari ke arah kamar. Demi Tuhan dia berharap weekend kali ini aman tanpa keributan. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja. “Kaia…!!! Lior…!!!”Langkah Kalla berhenti mendadak. Dia meringis seraya menutup telinga mendengar teriakan Kael dari dapur, sebelum lanjut lari ke kamar putranya. Pintu kamarnya terbuka sehingga dia bisa melihat langsung

  • Hello, Nanny!   Extra Part 2

    THE TIME Ini akan menjadi momen paling bersejarah untuk Kalla. Dia sudah siap menjalani sectio caesarea hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan makeup tipis hasil pulasan Cecilia. Istri Cade itu bersikeras mendandani Kalla agar saat proses bayi lahir wanita itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Ceci, Kalla dan Reyga juga melakukan birth videography. Mulai dari persiapan, proses, hingga pasca melahirkan diabadikan ke dalam birth video diary yang akan menjadi dokumenter pribadi mereka. “Gimana perasaan kamu?” tanya Kiana, yang ikut menunggui persiapan Kalla. “Deg-degan. Tapi seneng juga.” “Harus semangat, kan kalian sebentar lagi ketemu.” Semua keluarga Reyga ikut berkumpul demi menyambut anggota baru keluarga, kecuali Candra karena dia tidak bisa absen dari rumah sakit. Ibu juga datang. Meski lututnya gemetar, ibu bela-belain datang memberi semangat pada putrinya. Ini pertama kali dalam hidup, dan dirinya akan segera menimang cucu. “Lo harus rileks. Jangan sa

  • Hello, Nanny!   154. Perkara Numpang

    “Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu se

  • Hello, Nanny!   153. Aku-Kamu

    “Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.” Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu. Keputusan lepas dari Ganesh

  • Hello, Nanny!   152. Binal (mature area)

    Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Mat

  • Hello, Nanny!   151. A Chance

    Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status