Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 22. Batu Betuah, Batu Betangkup

Share

22. Batu Betuah, Batu Betangkup

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-23 17:06:50

“Kak, Lo serius jadiin dia cuma nanny Kael? Dia lulusan S1 Cumlaude loh.”

Uneg-uneg yang disimpan Cade setelah tahu Kalla bekerja di apartemen kakaknya akhirnya keluar juga. Reyga itu orangnya teliti. Tidak mungkin dia tidak mengecek CV orang yang bekerja padanya.

“Dia pernah ikut seleksi sekretaris, tapi gagal. Karena nggak masuk kualifikasi yang perusahaan inginkan.”

Cade sukses ternganga. Bagaimana mungkin orang secerdas Kalla bisa tak lolos?

“Nilai akademiknya memang bagus. Tapi pengalama
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Ly🕊
tumben udah sore belum up?? biasanya pagi udah up
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Aye aye aye...
goodnovel comment avatar
Anies
ahelaah.. ribet banget deh mamanya, cieeeee pak Rey udah mulai peduli nih sama Kalla
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   189. Dokter Charming

    “Masih ada satu destinasi lagi yang mau gue kunjungi, tapi gue pastiin sebelum acara syukuran di rumah ibu, gue udah balik.” “Lo mau ke mana lagi?”“Gue mau ke Pindul, ngeriver tubing bareng Pandu.”Moya tersenyum manis dengan ujung mata melirik ke arah Pandu yang sedang mengambil sarapan bersama Reyga. “Gue baru tahu kalau Pandu itu ternyata spesialis bedah jantung. Kacamata itu beneran pas di mukanya.” Kalla ikut memperhatikan pria di sebelah suaminya itu. “Mukanya juga bersih banget kan? Charming.” Kalla terkekeh sembari mengangguk-angguk. Charming adalah nama lain Cade. Tapi charmingnya Dokter Pandu lebih kelihatan dewasa. “Ya, itu kan tipe lo.” Setelah dua pria itu bolak-balik demi mengambil makanan yang dua wanita itu mau, mereka akhirnya bisa duduk bersama dalam satu meja. “Udah lengkap semuanya kan? Mau foto dulu sebelum makan?” tanya Reyga. Jelas itu sebuah sindiran keras. “Apaan sih?” Kalla berdecak sebal. “Bukannya kalian biasanya gitu? Sebelum makan foto dulu sama

  • Hello, Nanny!   188. Kesurupan Ramayana

    Mulut Kalla yang terbuka terus mengeluarkan desahan. Setengah berbaring satu tangannya meremas rambut tebal Reyga, sebelah lainnya dia gunakan untuk menopang badannya. Kalla melihat bagaimana lelaki itu kembali mendamba dirinya. Berada di antara dua pahanya yang terbuka, menggodanya. Kecupan, jilatan, bahkan hisapan membuat Kalla benar-benar kepayahan. “R-Rey jangan di situ. Ak-aku—ah! Brengsek!” Kalla melempar kepala ke belakang. Pinggulnya sedikit naik, lantas tubuhnya bergetar hebat. Dia mengerang, merasakan kenikmatan menjalar di setiap inci tubuhnya. Belum sempat mengatur napas, Reyga sudah membalik tubuhnya. Membuat posisi Kalla menjadi tengkurap. Tangan lelaki itu kembali merambat, menyusuri punggungnya seraya mengecup dan sesekali menggigit. “Jangan digigit!” Mata Kalla memicing sembari merintih saat merasakan gigitan yang begitu kuat. “Dasar vampir.” Dia yakin punggungnya pasti penuh bercak merah sekarang. “Kamu nggak bisa protes, Sayang. Nikmatin aja.” Reyga menyeri

  • Hello, Nanny!   187. Adik Kael

    “Kapan papa sama mama pulang?” “Uhm besok. Tapi kalau nggak bisa ya besoknya lagi, kalau nggak bisa lagi ya besoknya lagi.” Kalla menabok paha Reyga mendengar jawaban ngaco itu. Di layar, anak sambungnya itu menghela napas. Seperti sudah hapal banget kelakuan bapaknya. “Kami pulang lusa, Kael. Uhm kamu mau oleh-oleh apa?” tanya Kalla tersenyum lembut. Senyum yang langsung menulari anak sembilan tahun itu. “Kata Om Cade aku harus minta oleh-oleh spesial.” Perasaan Kalla mendadak tak enak. Begitu pun Reyga, kalau sudah bawa-bawa Cade pasti bukan sesuatu yang bagus. “Yang spesial itu kayak apa?” tanya Kalla hati-hati. “Aku nggak tau yang Om Cade bilang itu beneran atau cuma bercanda. Dia bilang … aku harus minta oleh-oleh adek bayi sama kalian.” Tuh kan! Andai Cade ada di dekatnya Kalla pasti sudah mencubit keras pahanya. Tapi di sebelahnya Reyga malah tertawa, kontras dengan wajah Kalla yang berubah jadi semerah dadu. “Jangan dengerin Om kamu. Dia ngaco,” balas Kalla.

  • Hello, Nanny!   186. Dokter Pandu

    “Kesan kamu apa habis nonton pertunjukkan tadi?” tanya Kalla begitu mereka keluar dari venue setelah sendratari berakhir. Reyga pura-pura berpikir padahal dalam hati ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat Dewi Shinta melakukan sumpah obong untuk membuktikan kesuciannya setelah setelah 11 tahun diculik Rahwana. “Rahwana kurang beruntung, Shinta bego, dan Rama… lebih brengsek daripada aku.” Kalla sukses melongo mendengar jawaban suaminya. Dia berharap ada jawaban luar biasa dari lelaki itu. Cinta sejati tak akan terpisahkan, misalnya. Ini malah yang keluar kritikan pedas buat para tokoh utama. Kalla menepuk jidatnya seraya terkekeh. “Kenapa? Pendapatku bener kan? Coba pikir deh, Sayang. Rahwana udah segitu baiknya ngetreat Shinta selama belasan tahun, eh malah dengan gobloknya tuh Shinta masih cinta sama cowok yang nyuruh dia bakar diri.” “Astaga, Rey. Rahwana itu nyulik Shinta. Artinya dia memaksakan kehendak.” “Tapi nyatanya dia sabar nungguin sampe Shinta

  • Hello, Nanny!   185. Sendratari

    “Aku pikir Ramayana dan Mahabarata itu cerita yang sama.”“Beda dong, kalau Ramayana kan cerita tentang Rama dan Dewi Shinta. Kalau Mahabarata itu perang saudara Pandawa dan Kurawa.”Reyga tersenyum seraya menatap Kalla. “Istriku ternyata pintar. Bisa bedain dua fenomenal cerita itu.” “Iya dong. Kalau enggak, mana mungkin bisa dapat beasiswa.” Kalla terkikik meningkahi pujian sang suami. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju venue yang sudah dibuka. Pengunjung sudah berdatangan dan lumayan ramai padahal harga yang dibandrol lumayan agak mahal. “Kita nggak beli tiketnya dulu, Rey?” tanya Kalla yang bingung lelaki itu melewati pintu loket. “Udah ada yang beliin, kita tinggal masuk aja.” “Hah?” Saat itulah Kalla melihat Reyga melambaikan tangannya. Dia mencari tahu dengan siapa pria itu bertegur sapa. Sampai tatapnya menemukan seorang pria tinggi setengah berlari ke arahnya. “Loh itu bukannya… “ Kalla refleks memutar kepala saat mendapat colekan di bahu kanannya, ket

  • Hello, Nanny!   184. Sosis Solo

    Secangkir kopi dengan pemandangan Candi Prambanan membuat sore Kalla terasa mewah. Tidak banyak orang yang memiliki momen seberharga ini. Banyak yang punya uang, tapi tidak punya waktu, atau sebaliknya banyak waktu, tapi tak punya uang. Makanya tidak henti-hentinya Kalla mensyukuri apa yang dia jalani sekarang. Terlebih saat ini dirinya sudah bukan wanita single lagi. Reyga muncul membawa camilan dan bergabung duduk di sisi Kalla. “Aku pesan ini. Kamu pasti suka.” Mata Kalla melirik kudapan seperti lumpia tapi tidak tampak kering. Lumpia itu diselimuti serabut yang bisa Kalla tebak berasal dari celupan telur kocok sebelum digoreng. “Risoles?” “Bukan. Itu sosis solo.” Reyga mengambil satu dan memberikannya pada sang istri. Kalla langsung mencoba. Menggigit sepertiga bagian kue tersebut dan mengernyit bingung. Bukan karena rasanya yang tidak enak. Sumpah kue ini enak banget, tapi… “Kenapa sih yang kayak gini aja mesti bohong?” Di sisinya, Reyga yang juga tengah menikmati kue

  • Hello, Nanny!   14. Bertemu Musuh

    Kalla baru saja sampai ke apartemen setelah sebelumnya mengantar Kael ke sekolah. Suasana sepi kembali menyerbunya. Selalu seperti ini. Hanya melepas Kael ke sekolah tapi sudah rindu celotehan anak itu. Kakinya bergerak menuju kamar Kael. Saat melihat kamar sudah rapi senyumnya terukir. Sejauh ini

  • Hello, Nanny!   13. Resiko Orang Cantik

    "Terima kasih, Kal." Ucapan terima kasih yang diucapkan dengan gurat lelah membuat Kalla cuma bisa mengangguk. Sudah empat hari ini Reyga memintanya menjaga Kael sampai lewat senja lantaran pria itu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bahkan sekarang jauh lebih malam. Dengar-dengar ada proyek baru, en

  • Hello, Nanny!   12. Es Krim

    Sebenarnya Reyga ingin memecat Kalla sejak kejadian seminggu lalu di apartemen. Mana ada majikan kalah ribut sama bawahan? Harga dirinya sedikit terusik dengan tingkah tengil pengasuh Kael itu. Tapi melihat betapa Kael sangat akrab dengan wanita itu, Reyga mengurungkan niatnya. Terlebih ada perubah

  • Hello, Nanny!   11. Dada Kecil

    Bagaimana Reyga tidak mendidih ketika kembali ke apartemen dan melihat kekacauan di sana? Begitu membuka pintu dia langsung disuguhi pemandangan yang 'menakjubkan'. Bungkus camilan berserakan di atas meja, sofa dan juga karpet. Belum gelas bekas minum yang mengembun sehingga membentuk lingkaran tip

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status