Teilen

54. Kiana

last update Veröffentlichungsdatum: 16.03.2026 22:00:20

"Itu... Kakak Cantik kamu kan, Kael?"

Kael mengangguk semangat lantas menarik tangan Kiana untuk mendekati Kalla yang masih berdiri di tempatnya.

"Kakak! Mama Ki pulang dong!" lapor Kael semangat sambil memamerkan wanita yang seharusnya jadi tantenya itu.

Kalla mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Kael. Kamu seneng banget kan?"

Kael mengangguk sementara Kiana di sisinya terkekeh lucu.

"Hai, akhirnya kita bisa ketemu," sapa Kiana pada Kalla.

Dilihat dari jarak dekat wanita itu benar-benar ca
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
NeaNeo
kak up lagi dong kakkk
goodnovel comment avatar
Anies
hadeeeeuh pak Rey harus mulai belajar mengendalikan kebiasaan² saat bareng Kiana dong, ada hati yang harus di jaga pak.. awas aja kalo bablas lagi perhatianya sama Kiana. huft makasih thor
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Hello, Nanny!   165. Empat Bersaudara

    Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beberapa kali pukulan dia berhasil memasukkan semua bola kelompoknya. Dia menutup permainan dengan memasukkan bola hitam ke lubang, dan sekaligus memenangkan permainan dalam satu kali putaran. “Woah!” seru Cade melihat kegilaan sang kakak membabat habis lima belas bola di papan billiard. “Kesal bikin permainanya bagus. Maklumi.” Raven menepuk bahu Cade, meminta si bungsu itu membereskan bola-bola tadi ke rak segitiga. Reyga mendengus. Dia memang masih jengkel perkara larangan tak masuk akal itu. Daripada emosinya makin memuncak, dia memilih menyingkir ke sport room. Membuang energi negatif di sana. “Empat bulan mah cepet kali, Rey. Persiapan lo bisa lebih matang,” ujar Candra, dia mulai me

  • Hello, Nanny!   164. Realistis

    “Kallaaa!”Suara cempreng bernada itu menembus telinga Kalla, hingga wanita itu menoleh. Kalla yang sedang duduk bersama ibu–tengah mendiskusikan tentang konsep pernikahan–kontan tersenyum. Itu jelas suara sahabatnya tersayang. Dan benar, tidak berapa lama Moya dengan gaya kasualnya muncul. Bibir wanita itu mencebik dan alisnya berkerut sedih ketika akhirnya bisa bertemu Kalla lagi. Dua sohib itu saling menghampiri lantas berpelukan hangat. “Lo betah banget sih di Bali. Nggak kangen sama gue? Udah ditinggal ke Jepang, eh malah nyambung ke Bali,” kesah Moya dengan bibir maju satu senti. “Yah, Moy. Namanya juga lagi nyari sebongkah berlian. Jauh pun gue jabanin.”“Minta sama Kak Wima dong biar bisa mutasi ke Jakarta. Emang lo nggak kasian sama ibu? Sendirian terus gitu.” Yang jadi obyek mengangkat alis. “Ibu nggak apa-apa kok sendiri. Kan banyak tetangga. Ada kamu juga yang sering datang jenguk ibu kan?” sahut ibu. Dia beranjak berdiri. “Udah makan belum? Ibu tadi masak urap sama i

  • Hello, Nanny!   163. Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Dibalik kemudi Reyga menggeram. Sesekali tatapnya melirik ke kaca spion depan. Mengintip interaksi putranya dan Kalla, yang sudah seperti kekasih lama tak jumpa. Menjengkelkan. Mentang-mentang baru bertemu anak itu ngadi-ngadi. Kael melarang Kalla duduk di sampingnya. Reyga sudah seperti supir duo majikan yang lagi saling melepas rindu saja. “Mau makan di mana kita, Bos?” tanya lelaki itu, menaikkan sudut bibirnya. Kael menatap mantan pengasuhnya dengan senyum manis. “Kakak mau makan apa?” “Gimana kalau pizza?” sambar Reyga. Membuat Kael mengerutkan dahi tak suka. “Aku nggak nanya papa ya. Ladies first.”“Hm, okay.” Reyga mengedikkan bahu dan kembali fokus ke jalanan yang lumayan ramai. Melihat itu Kalla terkikik. Lima tahun tidak bertemu membuat Kael sedikit lebih ekspresif. Ya, hanya sedikit. Dia masih tetap Kael si cuek dan pendiam. “Jadi, kakak mau makan apa?” tanya Kael sekali lagi. Mata beningnya begitu berkilau saat menatap Kalla. Anak itu tidak menyangka lama tak jumpa

  • Hello, Nanny!   162. Lelaki Kuat

    Ucapan salam kompak sekitar 20 murid mengudara bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah. Beberapa detik kemudian kegaduhan anak-anak keluar kelas pun tak bisa terelakkan. Sesuatu yang biasa terjadi di jam pulang sekolah atau istirahat. Tak terkecuali di ruang kelas 3 Einstein, kelas yang Kael tempati sekarang. Di kursinya Kael tengah membereskan alat tulis. Sesaat dia membalas kalem sapaan temannya yang keluar lebih dulu. “Kael,” panggil guru kelasnya yang masih duduk di balik meja guru.“Ya, Miss,” sahut Kael dengan ekspresi datar andalannya. Anak sembilan tahun itu mengangkat wajah, menunggu guru kelas itu mengucapkan sesuatu. “Papa kamu bilang, hari ini kamu dijemput nanny baru.” Meski nyaris tanpa ekspresi, Miss Luna, nama guru kelas 3 Einstein itu melihat kerut samar muncul di dahi anak muridnya itu. Beberapa saat tidak ada respons, Miss Luna menganggap Kael mengerti. Dia pun melanjutkan kegiatan membereskan bawaannya. “Miss, saya bisa minta tolong?” tanya Kael, membuat gur

  • Hello, Nanny!   161. Kamu Berharga

    Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari laut lepas, tatapan Reyga akhirnya berpaling ke Kalla. Pandangan mereka bertemu pada satu titik. “Menurutmu apa?” tanya lelaki itu balik. “Mana aku tau. Kan aku nanya. Masih ada angka 1 sampai 4 sebelum 5. Kenapa harus 5?” Mata bulat itu berkedip pelan. Cantik banget. Membuat Reyga tak tahan menyentuh wajah wanita itu. “Itu karena aku tau kamu butuh banyak waktu. Termasuk meraih satu per satu impian kamu. Uhm, bisa aja sih aku nyusul kamu ke Jepang, tapi aku merasa belum waktunya.” “Waktu yang kamu kasih terlalu banyak. Kalau selama itu aku kecantol sama cowok lain gimana?” Reyga terkekeh seraya menunduk. “Ya nggak mungkin.” Jawaban yang sangat percaya diri. Membuat Kalla berdecak m

  • Hello, Nanny!   160. Surfing

    “Sayang, sayang, sabar dulu, oke?” Reyga panik dan langsung menenangkan wanita itu. Dia meringis ngeri mendapati muka Kalla yang sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Hidung wanita itu sudah mengeluarkan asap. “Aku ini—maksudnya begini tuh, nggak mau bikin kamu pusing. Kan kamu lagi sibuk ngurus pameran. Makanya aku nggak kasih tau kamu dulu. Begitu, Sayang. Dan niatnya hari ini aku mau kasih tau kamu setelah acara kamu beres,” terang Reyga mencoba menjelaskan. Jangan sampai gara-gara ini Kalla mencabik-cabik dirinya lalu menolak menikah. No way! Kalla menarik napas panjang beberapa kali sembari memejamkan mata. Sibuk menghalau rasa kesalnya pada lelaki ngeselin di sampingnya ini yang kini menciptakan jarak lantaran takut ditelan. Dua tangannya yang sejak tadi mengepal dia buka secara perlahan. “Sayang…,” panggil Reyga hati-hati, mencoba mendekat kembali. “Sayang, maaf ya udah bikin kamu terkejut. Tapi, bukannya ini berita bagus?” Setelah merasa tenang, Kalla kembali me

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

  • Hello, Nanny!   25. Nggak Ingin Bertemu

    Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

  • Hello, Nanny!   22. Batu Betuah, Batu Betangkup

    “Kak, Lo serius jadiin dia cuma nanny Kael? Dia lulusan S1 Cumlaude loh.” Uneg-uneg yang disimpan Cade setelah tahu Kalla bekerja di apartemen kakaknya akhirnya keluar juga. Reyga itu orangnya teliti. Tidak mungkin dia tidak mengecek CV orang yang bekerja padanya. “Dia pernah ikut seleksi sekreta

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status