LOGIN“Sayang, sayang, sabar dulu, oke?” Reyga panik dan langsung menenangkan wanita itu. Dia meringis ngeri mendapati muka Kalla yang sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Hidung wanita itu sudah mengeluarkan asap. “Aku ini—maksudnya begini tuh, nggak mau bikin kamu pusing. Kan kamu lagi sibuk ngurus pameran. Makanya aku nggak kasih tau kamu dulu. Begitu, Sayang. Dan niatnya hari ini aku mau kasih tau kamu setelah acara kamu beres,” terang Reyga mencoba menjelaskan. Jangan sampai gara-gara ini Kalla mencabik-cabik dirinya lalu menolak menikah. No way!Kalla menarik napas panjang beberapa kali sembari memejamkan mata. Sibuk menghalau rasa kesalnya pada lelaki ngeselin di sampingnya ini yang kini menciptakan jarak lantaran takut ditelan. Dua tangannya yang sejak tadi mengepal dia buka secara perlahan. “Sayang…,” panggil Reyga hati-hati, mencoba mendekat kembali. “Sayang, maaf ya udah bikin kamu terkejut. Tapi, bukannya ini berita bagus?” Setelah merasa tenang, Kalla kembali meliri
Matahari Canggu sudah cukup tinggi, tapi Kalla masih betah tengkurap di atas kasur dengan mata yang masih terkatup rapat. Selimut hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara punggung putihnya dibiarkan terbuka. Melihat itu, Reyga yang baru saja masuk menggeleng dan tersenyum. Dini hari hingga subuh menjelang, wanita itu sudah lumayan bekerja keras. Jadi dia membiarkan saja ketika Kalla masih terlelap meski jam sudah hampir memasuki waktu makan siang. Lelaki itu mendekat, merangkak ke ranjang, dan mengurung Kalla yang masih belum juga terbangun. Kepalanya menunduk dan mencium punggung wanita itu, sebelum bergerak ke sisi sebelah yang kosong. Dia merebah dengan posisi miring, sebelah tangan menyangga kepala. Tangan lainnya mulai sibuk membelai punggung mulus itu. “Halus banget,” gumamnya, menyusuri punggung Kalla dari atas hingga lekuk pinggang dengan tangannya. Ada bercak kemerahan, bekas gigitannya semalam di beberapa titik. Kulit wanita itu yang putih bersih membuat bercak it
Disclaimer dulu yak hehe; Cerita ini hanya hiburan semata. Adegan mature dalam cerita ini tidak untuk ditiru ya, apalagi dipraktekkan. Kalau mau praktek minimal kudu nikah dulu. Muehehe. Author minta maaf sebesar-besarnya kalau ada yang nggak berkenan. =================Reyga langsung merangkul pinggang Kalla saat wanita itu segera menyambut kedatangannya. Dia melambaikan tangan pada Danesh sebelum menggiring Kalla ke tempat parkir motor. “Kalian ngapain aja sampai jam satu baru keluar?” tanya lelaki itu, sembari memakaikan jaket ke badan Kalla. “Makan, minum, nari-nari, ya seneng-seneng. Namanya juga perayaan.” Saat Reyga meresleting jaket tersebut, Kalla sedikit mendongak. Bibir Reyga mencebik. “Happy banget ya sampe nggak mau diganggu. Aku telpon pun nggak diangkat.” “Oh ya? Sori, aku nggak denger.” Setelah memakaikan jaket, lelaki itu memakaikan Kalla helm. “Udara dini hari dingin jadi harus rapet. Yuk!” Meski sudah mengenakan jaket yang lumayan tebal, Kalla tetap mengulu
“Selamat atas kesuksesan kita semua. Tanpa kalian pameran ini tidak akan berjalan sempurna!” Wima mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi. “Dinasty…?!” “Jaya! Jaya! Yes!” sambut para stafnya dengan yel-yel kompak. “Cheers, untuk kita semua!” “Cheers!” Closing pameran berjalan lancar dua hari lalu. Wima mengapresiasi keberhasilan event itu dengan gala dinner yang diadakan di beach club di kawasan Canggu malam ini. Semua staf divisi hadir tanpa terkecuali. “Ini di luar ekspektasi. Selamat buat kalian berdua,” ucap Wima pada dua orang kepercayaannya, Danesh dan Kalla. “Sesuai janji selain bonus, kalian akan liburan ke Eropa.” Danesh dan Kalla kompak menyambut kabar baik itu dengan bertos ria. Keduanya sudah menantikan momen itu. “Eropa, Kal! Sekalian ajak Celine pulang kampung ke Paris!” seru Danesh kegirangan. Tubuhnya lantas berjoget mengikuti irama musik. “Yee, sekali mendayung. Sekalian kenalan sama mertua, Nesh.” “Yoi!” Lelaki berambut jabrik itu lantas berdiri. “Ta
“Kalau kamu mau tidur sama roommate-ku juga silakan.” Kalla mengangkat bahu. Sangat tidak mungkin mengajak lelaki itu menginap di kamarnya. Kening Reyga mengerut. “Sekamar berdua? Sekelas Sagara?” “Kan nggak cuma kamu yang mau hemat, Rey.”“Oke, kita buka kamar di Oshom. Bagus langsung menghadap laut.” “Di sana ada Wima by the way.” “Shit.”Reyga mendebas keras sampai rambut bagian depannya terbang. Wima Sagara benar-benar bencana. Dia benar-benar harus bersabar sampai dua minggu ke depan sebelum memukul mundur pria itu. Kalla terkekeh lantas berdiri. Tangannya terulur. “Aku lapar, tapi nggak mau makan di sini.”Menyambut uluran tangan wanita itu, Reyga turut berdiri. “Kenapa?” “Makanan di sini nggak ramah di kantong,” bisik Kalla, membuat Reyga terkekeh geli. “Meskipun bukan CEO Ganesha lagi, tapi aku masih sanggup kok bayar makan malam kita di sini.”Kepala Kalla menggeleng, dia menarik tangan lelaki itu, dan membawanya keluar dari area beach club. “Kalau cuma buat mengenyang
Cade di ujung telepon terpingkal mendengar curhatan sang kakak. Kemunculan Wima dan kepatuhan Kalla pada pria itu membuat Reyga jengkel. Gimana tidak, pulang kerja tiba-tiba Kalla memberinya kartu akses unit lain. Wanita itu bilang Reyga harus pindah. Dan ketika ditanya, Kalla bilang itu dari Wima. “Terus lo jawab apa?” “Ya emang gue bisa apa kalau dia udah bawa-bawa ibunya? Kampret si Sagara itu. Nggak demen banget liat gue sama Kalla akur.” “Wajar sih, Lo kan saingan dia. Ya udah sih, itung-itung Lo dapat apartemen gratis.”“Gratis what the— pengurusnya bilang belum dibayar!”Di sana Cade makin terpingkal. Membuat Reyga berdecak kencang. “Jangan cuma ketawa. Lo kasih ide apa gitu, biar si Sagara nggak recokin gue sama Kalla lagi.”Desahan Cade terdengar panjang di ujung telepon. “Apa yang Lo pusingin sih, Kak? Yang penting kan Kalla udah balikan sama Lo.”“Gue belum bisa tenang selama masih ada kunyuk itu.” “Ya udah lo ajak Kalla merit aja secepatnya. Usia dia udah pas kok buat
Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert
Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.
Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.
“Kak, Lo serius jadiin dia cuma nanny Kael? Dia lulusan S1 Cumlaude loh.” Uneg-uneg yang disimpan Cade setelah tahu Kalla bekerja di apartemen kakaknya akhirnya keluar juga. Reyga itu orangnya teliti. Tidak mungkin dia tidak mengecek CV orang yang bekerja padanya. “Dia pernah ikut seleksi sekreta







