LOGINGaes, bacanya jangan terlalu menghayati, ntar mupeng lagi 😭
“Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius
Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik.Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan.Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya.Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya. “So
Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka. Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung. “Mama sama Papa kalian nggak ke sini?” Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Lior. Suasana sekolah sudah mulai ramai. Tenan, tenan bazar juga sudah full terisi. Dekorasi meriah di area lapangan juga sudah maksimal. Dan para wali murid sudah mulai berdatangan. Hanya Kael, yang belum tampak batang hidungnya. “Abang kalian udah gede ya? Kok bisa datang? Soalnya kalau Abang aku mah masih SMP.” Tasya terkikik sambil menutup mulutnya. Kaia menoleh dan mengangguk. “Abang udah kelas sebelas.”Dan tiga bocah yang mengelilingi si kembar langsung berwah-wah ria. “Terus mana? Kok
“Maafin mama sama papa ya, Sayang.” Lior dan Kaia bisa melihat jelas raut menyesal mama di layar laptop. Di sebelah sang mama, tampak papanya mengusap lengan wanita itu sekilas sebelum balik sibuk lagi dengan gadget. Dua anak itu sebenarnya menginginkan kedua orang tuanya hadir di acara pekan olahraga. Tapi mereka teringat lagi ucapan abangnya. “Jangan bikin mama merasa bersalah karena nggak bisa hadir di pekan olahraga. Nanti mama berantem sama papa, terus pekerjaan papa di sana kacau. Makin lama nanti mereka di sana.” Itu yang Kael ucapkan sebelum mereka melakukan panggilan video. Dan belum apa-apa Kalla beneran terlihat sedih padahal si kembar cuma memberi tahu acara tersebut, tidak meminta mama harus hadir. Bahkan sekarang mereka melihat mamanya itu menyeka sudut matanya yang basah. Hadeehhh. “Ih, mama lebay deh,” celetuk Kaia dengan wajah yang tetap menampilkan senyum ceria. Padahal di bawah meja, tangannya sedang berpegangan erat dengan tangan Lior.“Iya ih, mama apa-apaan
“Kak Re!” Itu suara si kembar. Rere yang sedang melewati jalan dekat lapangan bola melambatkan laju sepeda. Dia memutuskan hendak ke rumah Kael setelah memikirkan beberapa pertimbangan. Lapangan sepi hanya ada satu orang yang terlihat sedang berlari. Sementara di taman bermain ada sekitar sepuluh anak yang tengah lari-larian. Salah duanya adalah si kembar. Secara otomatis Rere menghentikan laju sepeda dan mengernyit bingung. Dua anak itu langsung berlari ke arahnya. Sudah pukul empat sore tapi dua anak itu main jauh dari rumah lagi. “Kalian kenapa di sini? Nanti Abang kalian nyariin.” Terakhir main sampai ke lapangan, Kael kelimpungan mencari anak itu. Kaia meringis lebar, memamerkan deretan giginya yang belum rapi lantaran masih ada gigi rongah yang sedang tumbuh. “Abang ada di sana.” Dia menunjuk lapangan bola. Dan secara otomatis pandangan Rere mengikuti arah telunjuk Kaia. “Bang Kael lagi jogging,” imbuh Lior. Rere mengerjap. Tak percaya bahwa seseorang yang sekilas dia
Seperti hari sebelumnya Rere datang cepat ke rumah Kael. Menggunakan sepedanya dan sudah berpakaian seragam rapi. Lampu depan yang masih menyala menandakan penghuninya belum terbangun dari lelap. Rere memutuskan membuka pintu dengan angka kombinasi yang sebelumnya sudah Kalla bagi. Dia mematikan lampu depan, taman, dan juga teras. Dia mengetik kamar si kembar, tapi tidak ada jawaban. Ketika mengetuk pintu kamar lain yang merupakan kamar Kael, pun tidak ada jawaban. “Aku bikin mereka sarapan dulu aja deh.” Dari semalam dia sudah memikirkan kreasi baru untuk sarapan. Dia rajin scrolling sosmed hanya untuk menemukan ide sarapan sederhana tapi enak. Seperti sekarang, dia akan membuat sup krim jagung dan roti keju panggang. Dia membuat untuk empat porsi karena dirinya belum sarapan. Hanya saja sampai semua sarapan yang gadis itu buat selesai, tidak ada tanda-tanda mereka keluar dari kamar.Rere beranjak meninggalkan dapur dan kembali ke kamar si kembar. Dia mengetuk papan kayu berkeli
Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia
Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?”
“Udah nemu pengganti lo?”Itulah yang sedang Kalla pikirkan. Dua kali dirinya dan Reyga membawa Kael ke penyalur. Berharap anak itu bisa menemukan seseorang yang cocok. Namun hasilnya nihil. Anak itu malah minta papanya buat mindahin sekolah ke Jepang. Gimana Kalla nggak tepok jidat?Kalla menggel
Reyga membuang napas seraya meremas roda kemudi. Di sebelahnya Kalla hanya menundukkan pandang. Sebenarnya lelaki itu masih marah, kesal terkait soal ke Jepang. Bukan dia tidak mendukung kemajuan kekasihnya. Tapi Reyga sedang di posisi lagi nyaman-nyamannya, masa mau ditinggal? “Aku minta maaf ata







