Home / Romansa / Hello, Nanny! / 2. CEO Gila

Share

2. CEO Gila

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-09 11:27:53

Kehadiran Kael di tengah kegalauan karena gagal interview membuat perasaan Kalla sedikit membaik. Dia bisa melupakan hari menyebalkan ini sejenak saat bermain dengan anak itu. 

Terlihat dari fisiknya, anak itu bugar dan pintar, selain ganteng tentu saja. Entah apa yang terjadi sampai orang tuanya membiarkan anak ganteng ini berkeliaran sendirian. 

"Kael, ayo kakak antar pulang. Nanti mama kamu nyariin," ujar Kalla setelah capek bermain. Mungkin sudah satu jam lamanya mereka mencoba semua Playground yang ada di taman ini.

Anak itu tampak berpikir sejenak. Lalu menggeleng. "Mama Ki di Amerika."

Kalla melongo dan ingat permintaan anak itu satu jam lalu. 

'Kakak Cantik, mau enggak jadi mamaku'

Sekarang Kalla tahu. Kael minta hal aneh itu karena sang mama mungkin lagi ada di Amerika. 

"Oke." Kalla mencoba mengerti. Dia lantas duduk berjongkok di depan Kael yang sama sekali tidak terlihat lelah meskipun sudah bermain sampai keringetan. "Tapi kamu harus tetap pulang. Kakak juga mau pulang ke rumah kakak. Kalau kamu di sini sendirian bahaya. Nanti ada yang nyulik kamu gimana?" 

Mata bulat Kael berpendar dan bingung secara bersamaan. Kalla paham anak sekecil dia pasti belum mengerti kata-katanya. 

"Jadilah, anak penurut, Kael. Kakak suka anak penurut," ucap Kalla sekali lagi dengan nada lembut. Senyumnya kembali mengembang. "Kakak antar kamu pulang ya. Kalau kita bertemu lagi, kakak janji akan kasih kamu lolipop lagi." 

"Janji?" 

Mata Kalla mengerjap. Giliran menyebut lolipop, anak itu langsung paham. Wanita yang mencepol rambutnya tinggi-tinggi itu meringis lalu mengangguk. Dia memaksa jarinya dan jari Kael untuk melakukan pinky promise. 

"Janji." 

"Rumah Kakak di mana?" 

"Kalau pun kakak sebutkan alamatnya, kamu nggak akan tahu, Kael." Kalla mengulum senyum. Anak yang sejak lahir sudah tajir mana mungkin tahu daerah tempatnya tinggal. 

"Dekat sini?" Kael mengayunkan pegangan tangannya. Tampak mendesak, ingin jawaban. 

"Jauh. Kamu pasti nggak tahu. Di Lebak Bulus." 

"Bulus?" 

Kalla hampir-hampir tertawa melihat muka serius bocah balita itu. 

"Kenapa? Kamu pernah dengar?" 

Tanpa diduga anak itu mengangguk. "Om Cade juga tinggal di Bulus." 

Kali ini Kalla tidak bisa lagi menahan tawa. "Lebak Bulus, Kael. Kalo bulus doang mah itu nama hewan."

"Nama hewan?" 

"Iya, semacam kura-kura."

Setelah itu, keduanya bergandengan tangan menuju apartemen tempat anak itu tinggal. Sesekali Kalla menanyakan tentang sekolah anak itu. 

Kael mengaku berusia tiga tahun menuju ke empat tahun. Sekolah di Kindergarten internasional yang Kalla tahu biaya bulanannya bisa bikin napas ngap-ngapan. Demi apa pun! Orang tua Kael ceroboh banget membiarkan anak ini berkeliaran sendirian. 

"Jadi, hari ini kamu nggak masuk sekolah?" tanya Kalla, mengingat ini masih jam sekolah dan bocil ganteng lucu ini malah main-main. 

"Nggak. Habis papa nggak mau ajak aku ke Mama Ki." 

"Kenapa papa kamu nggak mau ajak kamu?"

"Papa bilang Mama Ki sibuk." 

Kalla hanya menghela napas panjang, tidak berniat melanjutkan pertanyaan tentang keluarga Kael. Dia lantas segera mengalihkan pembicaraan dengan melempar joke-joke garing yang anehnya malah disambut riang anak itu. 

Keduanya terus melangkah hingga akhirnya sampai di lobi apartemen yang memiliki pintu kaca tinggi. Mereka masih terus bercanda sambil melewati pintu otomatis lobi. Rencana Kalla adalah menitipkan Kael di resepsionis sampai orang tuanya datang menjemput, tapi....

"Kael!"

Sebuah seruan, kompak membuat mereka menoleh. Tidak jauh dari posisi keduanya, seorang wanita dengan pakaian seragam perawat berwarna pink tampak tergopoh mendekat. 

"Suster." 

Kalla menunduk untuk melihat Kael saat bocah itu bergumam. "Dia nanny kamu, Kael?" 

"Iya."

Kalla bisa bayangkan betapa frustrasinya wanita itu saat tahu majikan kecilnya menghilang. 

Begitu sampai di depan mereka, wanita berpakaian perawat itu langsung berlutut menggapai tubuh kecil Kael. "Astaga, Kael! Kamu ke mana aja? Suster keliling nyariin kamu. Apa kamu baik-baik aja?"

"Aku baik," sahut Kael datar. 

Ya ampun. Kalla salut dengan ekspresi bocah kecil itu yang konsisten memasang wajah datar, padahal susternya sudah tampak khawatir setengah hidup. 

"Papa juga nyariin kamu, Kael."

"Papa?" Mata bulat bocah itu mengedar, mencari sang papa. "Mana?" 

"Tadi keluar gedung buat mastiin kamu ada di sana atau enggak." Setelah mengatakan itu, si suster tampak terperanjat saat menemukan orang lain yang membersamai Kael. Dia segera berdiri dan menghadap Kael. "Maaf, kamu siapa ya?" tanya perempuan itu. 

Kalla nyengir. "Saya bukan siapa-siapa kok. Kebetulan ketemu Kael di taman, jadi saya anterin ke sini."

"Dari mana kamu tahu Kael tinggal di sini?" 

Pertanyaan nanny yang dipanggil suster itu terdengar tak enak. Apa dia mencurigai Kalla mau menculik anak itu? Yang benar saja. 

Kalla melirik Kael. "Dia yang bilang sendiri." 

Ingin rasanya dia berteriak di depan muka nanny itu 'gue udah bantuin nemuin anak ini tau! Kalau nggak ada gue, Lo bakal kena pecat sama majikan lo.' 

Tapi tiba-tiba wajah suster itu melembut dan tersenyum. "Terima kasih, Mbak. Saya beneran bingung tadi nyari Kael. Pak Reyga juga sudah marah-marah karena saya teledor." 

"Pak Reyga?"

"Iya, papanya Kael."

"Oh."

Raut suster itu kini berubah cemas. Hilangnya anak yang diasuh jelas kesalahan fatal dan bisa berujung pemecatan. Kadang anak konglomerat memang suka menyusahkan pekerjanya. Kalla memaklumi karena Kael masih balita. Belum tahu mana yang benar dan salah. 

Sekarang dirinya malah benar-benar berempati pada pengasuh itu. Kalla tahu betul bagaimana susahnya mencari pekerjaan. 

"Papa!" seru Kael tiba-tiba. Anak itu melepas genggaman tangan Kalla, dan berlari menyongsong seseorang. 

Kalla langsung menoleh dan melihat ke sayap kanan lobi—di mana Kael berlari kecil menyambut seseorang yang dia sebut papa.

Oh, ternyata papanya masih muda. Itu isi pikiran Kalla begitu melihat pria tinggi dengan setelan jas necis. Hanya saja... Tunggu! 

Sepertinya Kalla pernah melihat sosok itu. Tapi di mana ya? 

Sembari memperhatikan Kael yang sedang meloncat ke pelukan sang papa, Kalla berpikir keras, mengingat di mana dia pernah melihat muka ganteng Kael versi dewasa itu. 

Perlu beberapa waktu untuk mengingat. Otak lemotnya memang susah diajak mikir hal-hal mendadak. Kalla menyipitkan mata, pangkal alisnya bahkan sampai berkerut. Hingga sebuah kalimat tiba-tiba menerjang ingatannya. 

'Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti Saudari' 

Itu dia! 

Mata Kalla kontan terbelalak saat ingat wajah itu. Wajah iblis berkedok malaikat, yang berani mengata-ngatai dirinya saat interview. CEO sombong yang tidak bisa menyaring mulutnya. 

Wah! Rasanya tidak percaya pria arogan itu punya anak semanis Kael. Apa mungkin Kael anak adopsinya? Ups! 

Kalla menabok mulutnya sendiri, lalu kembali melirik dua bapak dan anak itu. Untuk ketampanan, Kalla bisa memverifikasi bahwa Kael memang mewarisi ketampanan bapaknya. Tapi soal kelakuan, amat beda jauh. Meskipun suka pasang wajah datar, Kael itu manis. 

Kalla menyondongkan badan ke dekat suster. "Sus, dia betulan papanya Kael, si Pak Reyga itu?" tanyanya sambil berbisik.

"Bener, Mbak. Ada apa?" 

"Nggak cocok. Kael terlalu manis untuk jadi anak CEO gila itu."

Suster di sebelahnya mengerjap dan agak syok mendengar ocehan Kalla. Melihatnya, Kalla pun hanya bisa nyengir kuda menyadari kebodohannya itu. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Selvy
Kasian itu RERE , bisa2 dibully namanya jadi LELE krn cadel
goodnovel comment avatar
Hary Anto
aseeeekk ketemu lqgi doong
goodnovel comment avatar
Anies
Kalo udah kenal dekat sama papanya mungkin juga kamu bakalan bilang papanya juga manis dan ngegemesin Kall.. wkwk
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Nanny!   174. Firewall Party

    “Maaf aku nggak bisa ikut sepertinya.”Kalla mendesah mendengar penolakan yang dikatakan secara halus itu. “Tapi kalian bisa melakukannya di bar & lounge punyaku di Sanur. Sudah aku bilang ke stafnya. Kalian tinggal pesan menu ntar. Nggak usah mikir soal membayar. Itu gampang.” Sudah cintanya ditolak, resign karena nikah, mau mengadakan firewall party pun harus Wima turun tangan. Nggak tau diri lo, Kal. Kalla mengusap dahi mendengar setan dalam hatinya misuh-misuh. “Nggak bisa gitu dong, Kak. Tetep harus bayar. Aku nggak mau punya utang.”Di ujung telepon sana Wima tertawa. “Kalau gitu terserah kamu deh. Yang penting kamu senang.”“Tapi kamu beneran nggak bisa dateng, Kak?” tanya Kalla memastikan lagi. “Nggak, Kalla. Selain masih ada urusan di Jakarta, aku juga nggak benar-benar firewall sama kamu kan? Kita bahkan masih bisa ketemu di Jakarta. Kalau mereka kan belum tentu.”Wima benar. Tapi kalau pria itu tahu dirinya akan menikah, mungkinkah Wima mau menemuinya lagi? “Uhm oke.”

  • Hello, Nanny!   173. Resign

    Sebulan setelah masa cuti Kalla mengajukan surat resign. Dan itu cukup menghebohkan orang-orang yang selama ini bekerja dengannya. Padahal dia sudah berusaha tidak bersuara soal keputusan resign ini. “Bu, padahal gaji sama jabatan udah lumayan.” “Mbak sayang banget nggak sih? “Terus Pak Wima gimana? Kalla sampai pusing ngadepin para stafnya. Dia cuma bisa melirik Danesh dengan sebal. Siapa lagi kalau bukan dia biang rusuhnya. “Kan biar mereka siap-siap. Biar bisa kuat mental meskipun Lo udah nggak di sini.” Ngeles aja kayak bajai. “Lagian kenapa sih abis cuti Lo tiba-tiba resign? Jangan-jangan di Jakarta sana Lo diem-diem interview di perusahaan lain.” Kalla mendesah. Lalu melirik malas rekannya itu. “Nggak ada. Gue kasian sama ibu gue. Udah lama banget gue ngebiarin ibu sendirian. Soal kerjaan gampanglah, ntar gue bisa cari lagi.” “Itu bisa Lo omongin sama Pak Wima, Kal. Nggak harus sampe resign segala. Gue yakin dia bakal setuju kalau lo minta mutasi ke Jakarta.” “U

  • Hello, Nanny!   172. Mama

    Kegiatan pengambilan gambar dan video terselesaikan dalam waktu dua hari satu malam saja. Kafi dan Jani memilih langsung pulang ke Jakarta karena masih ada job lain yang harus mereka selesaikan. Sementara Reyga dan Kalla memutuskan menginap satu malam lagi di pulau. “Ah, akhirnya pengganggu itu pulang juga,” ucap Reyga seraya melingkarkan lengan ke bahu Kalla sesaat setelah boat yang membawa rombongan Kafi dan Jani berlayar. “Mereka membantu prewed kita loh. Bisa-bisanya kamu sebut pengganggu,” sahut Kalla tak habis pikir. “Nyesel aku pakai jasa mereka.”“Jangan menggerutu, nanti hasilnya nggak sesuai harapan kita.” “Pekerjaan mereka terkenal bagus sih. Udah taraf internasional, tapi tetap aja bikin aku kesal.” Reyga menatap Kalla. Matanya menyipit, memperingatkan wanita itu. “Sayang, jangan gampang akrab lagi sama laki-laki lain. Aku nggak suka.” Kalla terkekeh, melingkari pinggang Reyga. “Iya, Bapak pocecip.” Lalu mengajak pria itu berjalan menjauhi dermaga untuk kembali ke re

  • Hello, Nanny!   171. Membuatku Tergila-gila

    Jangankan senyum, menarik garis bibir saja tidak. Reyga konstan memasang wajah datar. Bahkan tampak tidak senang dengan kehadiran Kalla. Dia meraih botol bir, lalu menenggak isinya. “Kenapa kamu ke sini? Di sini dingin,” katanya. Nadanya datar dan tanpa ekspresi. “Aku ke sini nyari kamu, Rey. Kamu marah kenapa?” tanya Kalla berusaha sabar. Minimal dia harus melakukan saran dari Moya. “Aku nggak marah.” “Kamu nggak niat diemin aku sampai pemotretan selesai kan?” “Aku nggak diemin kamu. Aku cuma—” suara Reyga berhenti. Lalu kembali menenggak birnya. Seperti malas menjelaskan apapun. “Cuma apa?” Masih terus menatap lelaki tantrum itu, Kalla menaikkan alisnya. “Cuma nyuekin aku?” desaknya lagi. “Aku nggak nyuekin kamu, Kalla.” “Jelas-jelas kamu nyuekin aku.” Wanita bergaun putih itu bersandar pada bean bag, dan bersedekap tangan. Sesekali ujung matanya masih melirik pria itu diam-diam. “Aku cuma lagi nggak mood,” sahut Reyga lagi. Terlalu gengsi mengungkap apa yang sebenarn

  • Hello, Nanny!   170. Sindrom Pranikah

    “Mau minum?” “Nggak usah.” “Buah?” “Nggak perlu.” Daripada menghadapi tawaran Kalla, Reyga memilih fokus main game di ponselnya sambil rebahan di sofa. Sejak pulang dari pantai dengan take terakhir naik canoe di tengah sunset, Reyga berubah aneh. Bukannya Kalla tak tahu kalau lelaki itu tiba-tiba diam. Tapi dia terlalu malas ngadepin orang yang mendiamkannya tanpa sebab. Please deh, mereka bukan remaja lagi. Apa salah kalau Kalla ingin hubungan yang low maintenance? “Ya udah ini buat Kael aja.” Ujung mata Reyga melirik sekilas, lantas kesal sendiri ketika Kalla malah pergi meninggalkannya. Dia beranjak duduk dan mengacak rambut. “Dasar nggak peka!” gerutunya, membuang napas kasar. “Siapa yang nggak peka?” Reyga menoleh, dan spontan berdecak ketika melihat Kafi memasuki villanya sambil menenteng laptop yang terbuka. “Ngapain Lo ke sini? Take kan masih ntar, pas dinner,” tanya Reyga dengan raut tak bersahabat. “Ada yang mau gue kasih liat ke lo.” Tanpa dipersilah

  • Hello, Nanny!   169. Fotografer

    Kael mengerutkan kening melihat dua orang dewasa di depannya. Dia menatap Reyga dan Kalla secara berganti dengan bingung. “Kael, makan buah dulu.” Kalla menyajikan semangkok potongan melon ke depan anak itu. Saat ini mereka tengah berada di meja makan. Kalla sendiri masih sibuk mengeluarkan beberapa makanan yang dia bawa untuk mengisi kulkas. “Punyaku mana, Sayang?” tanya Reyga yang duduk bersebrangan dengan Kael. Kalla memutar bola mata. Bapak pun nggak mau kalah dari anak. Padahal dia sudah memberi apa yang lelaki itu mau di kamar tadi. “Ini.” Kalla mengangsurkan satu apel merah padanya. “Kok apel sih? Aku mau melon juga.” “Duh, makan ini aja. Melon aku kudu potong-potong lagi.” “Pilih kasih,” gerutu Reyga sambil menerima apel itu. Dia melirik putranya yang masih saja melotot padanya. “Ada apa? Dari tadi kamu liatin papa terus?” “Papa sama kakak abis renang ya?” tanya anak itu. “Enggak.” “Tapi kok rambut kalian pada basah.” Sontak Kalla dan Reyga saling tatap. Tap

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

  • Hello, Nanny!   25. Nggak Ingin Bertemu

    Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

  • Hello, Nanny!   22. Batu Betuah, Batu Betangkup

    “Kak, Lo serius jadiin dia cuma nanny Kael? Dia lulusan S1 Cumlaude loh.” Uneg-uneg yang disimpan Cade setelah tahu Kalla bekerja di apartemen kakaknya akhirnya keluar juga. Reyga itu orangnya teliti. Tidak mungkin dia tidak mengecek CV orang yang bekerja padanya. “Dia pernah ikut seleksi sekreta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status