Home / Romansa / Hello, Nanny! / 5. Sebuah Penawaran

Share

5. Sebuah Penawaran

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-09 11:40:05

Kalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland. 

Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain, sehingga ketika bertemu arena bermain, dia akan jadi seheboh ini. 

"Kael! Di sana! Tangkap!" seru Kalla yang langsung ditanggapi Kael. 

Anak itu berlari dan segera mengambil harta karun tersembunyi. Begitu berhasil, keduanya melakukan high-five. 

"Kita main pasir, Kak!" ajak Kael antusias. 

Namun, Kalla tidak langsung menjawab dan melirik anak itu dengan alis berkerut. Seolah tengah berpikir. Tapi sejurus kemudian dia membuka tangan sambil tersenyum lebar. 

"Ayo, siapa takut!" 

Kael tertawa lalu menyambut tangan Kalla. Keduanya kembali berlarian, kali ini menuju bak besar berisi pasir buatan warna-warni. 

Wajah ceria mereka sangat kontras dengan wajah seorang pria yang menunggu di luar arena bermain. Siapa lagi kalau bukan Reyga.

Beberapa kali dia menengok pergelangan tangan. Sudah satu jam lebih, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan keluar dari arena bermain. 

Gelas kopinya sudah kosong, dia memutuskan mengutak-atik ponsel meskipun tidak ada hal menarik yang bisa dia lihat. 

Kembali dia melihat ke arena bermain. Alisnya berkerut melihat putranya dan wanita asing itu naik banana boat besar di tengah kolam bola. Reyga menarik napas, lalu menggeleng. Tidak menyangka waktunya akan dihabiskan dengan sangat membosankan. 

Dua jam lebih! Gila! Dua jam Kalla dan Kael baru keluar. Itu pun lantaran Reyga melambaikan tangan tanda menyerah. 

"Kakak, lain kali kita main lagi ya?" 

Alis Reyga naik sebelah mendengar pertanyaan putranya. Tidak. Tidak ada lain kali. Reyga tidak akan membiarkan itu terjadi. 

"Uhm, kita lihat nanti ya," sahut Kalla, mengacak gemas rambut Kael. 

Reyga cuma menonton keduanya sambil bersedekap tangan. Sangat jarang Kael betah berlama-lama dengan orang asing. Apalagi baru dua kali ini mereka bertemu. 

"Papa!" 

Reyga tersentak saat Kael menarik ujung kemejanya. "Ya?" 

"Aku lapar." 

Bagus! Sungguh enak jadi anak-anak, habis main tinggal minta makan. 

Reyga tersenyum. "Oke, mau makan apa, Boy?"

"Uhm, chiken katsu!" seru Kael bersemangat. "Kita ajak Kakak Cantik juga!" 

Disebut namanya Kalla terperanjat. Dia mengibaskan tangan segera. "Enggak usah, Kael. Kakak harus pulang. Ini sud—" 

"Kakak pasti juga lapar. Ini ucapan terima kasih papa, karena kakak udah mau nemenin aku main." 

Ya? 

Reyga menatap tak percaya putranya? Tidak menyangka Kael bisa mengucapkan hal seperti itu. Siapa yang mau berterima kasih? 

"Iya kan, Pa?" 

Ditodong anaknya sendiri, mau tak mau Reyga mengangguk. Dia memaksa melengkungkan bibir dengan alis terangkat. "Iya. Kamu bisa ikut kami makan." 

"Tapi—" 

Seperti tidak mau terima penolakan, Kael langsung menarik tangan Kalla. "Ayo! Aku tahu tempatnya!" 

"Kael...tapi..." 

Demi apa pun. Bukan begini rencana Kalla. Dia enggan berlama-lama dengan CEO bedebah itu. Tapi dia hanya bisa pasrah ketika Kael menemukan tempat menarik untuk mereka makan bersama. 

Kalla hanya memesan ramen tanpa toping. Dia cukup tahu diri untuk tidak memesan makanan mahal karena ditraktir. Namun coba apa yang Kael lakukan? Dia memesan banyak snack yang katanya untuk Kalla.

"Itu terlalu banyak, Kael," ucap Kalla merasa tak enak. Dia melirik pria di depannya yang terlihat santai. 

"Nggak apa-apa. Kan ada papa, nanti papa yang bantu kakak habisin semuanya." 

Kalla hanya nyengir. Tidak ingin berdebat lagi. Atau akan ada musibah lain yang lebih besar.

"Nanny kamu libur, Kael?" tanya Kalla mengisi waktu menunggu pesanan datang. 

Anak itu menggeleng. "Suster pulang kampung." 

Jawaban yang cukup mengejutkan. "Kok bisa?" 

"Dipecat papa." 

Kalla bisa melihat Reyga melirik putranya dengan tajam dan kening berkerut.

"Dia keluar karena kamu, Kael," bantah Reyga, seakan meluruskan. "Kalau kamu bersikap baik, dia nggak akan pergi." 

"Aku udah baik kok. Iya kan, Kak?" 

Dimintai pendapatnya, Kalla hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Namun decakan kecil dengan segera mengundang perhatiannya. 

"Baik darimana? Anak baik nggak akan suka tantrum dan kabur tanpa izin orang tua." 

"Aku nggak kabur. Aku cuma main!" 

"Ya, main di luar tanpa izin. Kamu tau kan aturan dasar di rumah kita?" 

Bocah empat tahun itu mengerucutkan bibir. Pipinya memerah dan sangat menggemaskan. "Iya, Pa." 

"Sekarang papa bingung di mana harus mencari pengasuh buat kamu. Bi Ina pasti nggak mau dititipin kamu lama-lama," ujar Reyga seperti tengah mengeluh. Tapi bocah yang diajak keluh kesah tampak tak peduli.

Saat pesanan makanan akhirnya datang, fokus mereka segera teralihkan. 

"Kamu bisa makan sendiri?" tanya Kalla membantu Kael membuka sendok.

"Bisa dong, Kak. Aku kan udah besar. Udah sekolah," sahut anak itu antusias. Dia langsung meraih garpu sendok yang Kalla berikan dan langsung memamerkan kemampuannya makan sendiri. 

"Wah, Kael hebat! Makannya dihabisin ya, dan hati-hati." 

"Siap!" 

Reyga yang duduk di seberang keduanya, mengerutkan kening melihat interaksi itu. Agak takjub karena selain Kiana, ternyata ada wanita lain yang bisa akrab dengan putranya. Ajaibnya, Kael tampak begitu patuh dan tidak ada tanda-tanda ingin membantah. Sangat beda jika sedang ditangani beberapa pengasuhnya. 

"Eham!" Reyga berdeham untuk meminta perhatian. Dengan ragu mata legamnya menatap Kalla. "Kamu sudah dapat pekerjaan?"

Kalla menggulirkan pandang pada pria di depannya. Tidak mungkin pria itu bertanya soal pekerjaan pada Kael kan? Jadi pertanyaan itu pasti ditujukan untuk dirinya. Tumben.

"Belum, Pak."

Reyga mengangguk sambil mengaduk makanannya pelan. Entah bagaimana caranya sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya. 

Dia membenarkan posisi duduk, dan memasang wajah serius. "Kalau ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan  pendidikan kamu, apa kamu tertarik?" 

Sambil mengunyah makanannya, Kalla mengedik. "Saya sudah tidak peduli itu. Yang penting bisa kerja. Saya sudah cukup lama menganggur." 

"Good."

Sontak mata Kalla melirik tak suka. "Apanya yang good?"

Sialan sekali. Orang lagi susah malah dibilang good. 

"Maksud saya pemikiran kamu yang good." 

Apa pria itu bercanda? Kalla mengangkat sebelah alis. Sepertinya ayah Kael memiliki kepribadian ganda. 

"Bukannya waktu itu Anda bilang otak saya kosong?" 

Diingatkan soal itu Reyga agak terkejut. Wanita itu ternyata tidak lupa. 

"Ah satu lagi. Anda juga bilang saya manja. Padahal Anda belum mengenal saya." 

Kalla sukses membuat Reyga tidak bisa berkata-kata. 

"Itu..." Reyga menarik napas panjang.  "Sori buat waktu itu." 

"Lupakan. Saya juga udah lupa," ujar Kalla tak acuh lalu fokusnya berpindah pada anak kecil di sebelahnya. "Wah, makanannya hampir habis. Hebat kamu, Kael."

Reyga sukses melongo. Kalau lupa kenapa tadi diungkit? Pria itu segera mengatupkan bibir rapat-rapat. Kenapa harus wanita menyebalkan ini yang dekat dengan putranya? 

Tapi Reyga benar-benar butuh bantuannya. Dia menarik napas panjang, dan berusaha menekan gengsinya. Demi keberlangsungan hidup dirinya dan Kael. 

Dalam satu tarikan napas dia melempar sebuah penawaran. 

"Apa kamu mau jadi nanny-nya Kael?" 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Nanny!   175. Lelaki dan Hasratnya

    “Cuma segini aja barang bawaan kamu?” Reyga menyambar travel bag berukuran sedang yang sudah Kalla persiapkan. Besok wanita itu sudah akan kembali ke Jakarta dengan tiket yang Reyga booking. Ya siapa yang tahu ternyata lelaki itu memesan tiket buat dirinya sendiri juga? “Barangku emang nggak banyak. Kemarin-kemarin juga udah duluan aku kirim kan.” Kalla menjatuhkan diri ke sofa. Nyaris pukul 12 malam baru sampai ke apartemen. Reyga menyusul duduk di sebelahnya. Duduk menyamping. Sikut kirinya bertumpu di sandaran sofa, dan tangannya menyangga kepala. Dia menatap Kalla yang tengah memejamkan mata, dengan punggung merebah di sandaran sofa. “Ada apa? Kok kayaknya nggak seneng gitu?” tanya Reyga, tangannya yang bebas terulur menyingkirkan anak rambut Kalla yang berantakan. “Bukan nggak seneng, lebih ke sedih karena besok aku resmi jadi pengangguran.” Wanita itu menghela napas kasar, melirik Reyga. “Dulu aku susah payah banget nyari kerja. Sampai dapat kesempatan sekolah dan dapat ke

  • Hello, Nanny!   174. Firewall Party

    “Maaf aku nggak bisa ikut sepertinya.”Kalla mendesah mendengar penolakan yang dikatakan secara halus itu. “Tapi kalian bisa melakukannya di bar & lounge punyaku di Sanur. Sudah aku bilang ke stafnya. Kalian tinggal pesan menu ntar. Nggak usah mikir soal membayar. Itu gampang.” Sudah cintanya ditolak, resign karena nikah, mau mengadakan firewall party pun harus Wima turun tangan. Nggak tau diri lo, Kal. Kalla mengusap dahi mendengar setan dalam hatinya misuh-misuh. “Nggak bisa gitu dong, Kak. Tetep harus bayar. Aku nggak mau punya utang.”Di ujung telepon sana Wima tertawa. “Kalau gitu terserah kamu deh. Yang penting kamu senang.”“Tapi kamu beneran nggak bisa dateng, Kak?” tanya Kalla memastikan lagi. “Nggak, Kalla. Selain masih ada urusan di Jakarta, aku juga nggak benar-benar firewall sama kamu kan? Kita bahkan masih bisa ketemu di Jakarta. Kalau mereka kan belum tentu.”Wima benar. Tapi kalau pria itu tahu dirinya akan menikah, mungkinkah Wima mau menemuinya lagi? “Uhm oke.”

  • Hello, Nanny!   173. Resign

    Sebulan setelah masa cuti Kalla mengajukan surat resign. Dan itu cukup menghebohkan orang-orang yang selama ini bekerja dengannya. Padahal dia sudah berusaha tidak bersuara soal keputusan resign ini. “Bu, padahal gaji sama jabatan udah lumayan.” “Mbak sayang banget nggak sih? “Terus Pak Wima gimana? Kalla sampai pusing ngadepin para stafnya. Dia cuma bisa melirik Danesh dengan sebal. Siapa lagi kalau bukan dia biang rusuhnya. “Kan biar mereka siap-siap. Biar bisa kuat mental meskipun Lo udah nggak di sini.” Ngeles aja kayak bajai. “Lagian kenapa sih abis cuti Lo tiba-tiba resign? Jangan-jangan di Jakarta sana Lo diem-diem interview di perusahaan lain.” Kalla mendesah. Lalu melirik malas rekannya itu. “Nggak ada. Gue kasian sama ibu gue. Udah lama banget gue ngebiarin ibu sendirian. Soal kerjaan gampanglah, ntar gue bisa cari lagi.” “Itu bisa Lo omongin sama Pak Wima, Kal. Nggak harus sampe resign segala. Gue yakin dia bakal setuju kalau lo minta mutasi ke Jakarta.” “U

  • Hello, Nanny!   172. Mama

    Kegiatan pengambilan gambar dan video terselesaikan dalam waktu dua hari satu malam saja. Kafi dan Jani memilih langsung pulang ke Jakarta karena masih ada job lain yang harus mereka selesaikan. Sementara Reyga dan Kalla memutuskan menginap satu malam lagi di pulau. “Ah, akhirnya pengganggu itu pulang juga,” ucap Reyga seraya melingkarkan lengan ke bahu Kalla sesaat setelah boat yang membawa rombongan Kafi dan Jani berlayar. “Mereka membantu prewed kita loh. Bisa-bisanya kamu sebut pengganggu,” sahut Kalla tak habis pikir. “Nyesel aku pakai jasa mereka.”“Jangan menggerutu, nanti hasilnya nggak sesuai harapan kita.” “Pekerjaan mereka terkenal bagus sih. Udah taraf internasional, tapi tetap aja bikin aku kesal.” Reyga menatap Kalla. Matanya menyipit, memperingatkan wanita itu. “Sayang, jangan gampang akrab lagi sama laki-laki lain. Aku nggak suka.” Kalla terkekeh, melingkari pinggang Reyga. “Iya, Bapak pocecip.” Lalu mengajak pria itu berjalan menjauhi dermaga untuk kembali ke re

  • Hello, Nanny!   171. Membuatku Tergila-gila

    Jangankan senyum, menarik garis bibir saja tidak. Reyga konstan memasang wajah datar. Bahkan tampak tidak senang dengan kehadiran Kalla. Dia meraih botol bir, lalu menenggak isinya. “Kenapa kamu ke sini? Di sini dingin,” katanya. Nadanya datar dan tanpa ekspresi. “Aku ke sini nyari kamu, Rey. Kamu marah kenapa?” tanya Kalla berusaha sabar. Minimal dia harus melakukan saran dari Moya. “Aku nggak marah.” “Kamu nggak niat diemin aku sampai pemotretan selesai kan?” “Aku nggak diemin kamu. Aku cuma—” suara Reyga berhenti. Lalu kembali menenggak birnya. Seperti malas menjelaskan apapun. “Cuma apa?” Masih terus menatap lelaki tantrum itu, Kalla menaikkan alisnya. “Cuma nyuekin aku?” desaknya lagi. “Aku nggak nyuekin kamu, Kalla.” “Jelas-jelas kamu nyuekin aku.” Wanita bergaun putih itu bersandar pada bean bag, dan bersedekap tangan. Sesekali ujung matanya masih melirik pria itu diam-diam. “Aku cuma lagi nggak mood,” sahut Reyga lagi. Terlalu gengsi mengungkap apa yang sebenarn

  • Hello, Nanny!   170. Sindrom Pranikah

    “Mau minum?” “Nggak usah.” “Buah?” “Nggak perlu.” Daripada menghadapi tawaran Kalla, Reyga memilih fokus main game di ponselnya sambil rebahan di sofa. Sejak pulang dari pantai dengan take terakhir naik canoe di tengah sunset, Reyga berubah aneh. Bukannya Kalla tak tahu kalau lelaki itu tiba-tiba diam. Tapi dia terlalu malas ngadepin orang yang mendiamkannya tanpa sebab. Please deh, mereka bukan remaja lagi. Apa salah kalau Kalla ingin hubungan yang low maintenance? “Ya udah ini buat Kael aja.” Ujung mata Reyga melirik sekilas, lantas kesal sendiri ketika Kalla malah pergi meninggalkannya. Dia beranjak duduk dan mengacak rambut. “Dasar nggak peka!” gerutunya, membuang napas kasar. “Siapa yang nggak peka?” Reyga menoleh, dan spontan berdecak ketika melihat Kafi memasuki villanya sambil menenteng laptop yang terbuka. “Ngapain Lo ke sini? Take kan masih ntar, pas dinner,” tanya Reyga dengan raut tak bersahabat. “Ada yang mau gue kasih liat ke lo.” Tanpa dipersilah

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

  • Hello, Nanny!   25. Nggak Ingin Bertemu

    Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

  • Hello, Nanny!   22. Batu Betuah, Batu Betangkup

    “Kak, Lo serius jadiin dia cuma nanny Kael? Dia lulusan S1 Cumlaude loh.” Uneg-uneg yang disimpan Cade setelah tahu Kalla bekerja di apartemen kakaknya akhirnya keluar juga. Reyga itu orangnya teliti. Tidak mungkin dia tidak mengecek CV orang yang bekerja padanya. “Dia pernah ikut seleksi sekreta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status