เข้าสู่ระบบ"Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi.
Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—
"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makanan," ujar pria itu lagi.
Hah? Excuse me?
Kening Kalla berkerut dalam. Sepertinya dia salah menilai lagi.
"Maksud Anda apa ya, Pak? Saya tidak memberi Kael makanan yang—"
"Kael bilang dia baru makan lolipop dari kamu."
"Ya, itu benar. Tapi itu kan lolipop, bukan sembarang makanan. Saya tiap hari juga makan dan fine-fine aja."
Muka di depan Kalla sudah tidak sedap di pandang mata. Setelah insiden wawancara, aura permusuhan di antara mereka masih saja terlihat kental. Kalla bisa merasakan itu.
"Itu kamu. Kalau Kael giginya masih harus dijaga agar tidak rusak. Jangan samakan anak balita dan kamu yang udah tua."
"Apa?!"
Tanpa sadar nada suara Kalla meninggi mendengar kata 'tua'. Pria itu benar-benar dobel menyebalkan.
"Papa nggak boleh marah sama Kakak Cantik," ucap Kael tiba-tiba, membuat perhatian keduanya teralihkan.
Rasanya dunia Kalla penuh bunga mendengar anak itu masih menyebutnya 'kakak cantik'. Setidaknya ada hal positif yang pria itu miliki, yaitu Kael. Ah, bagaimana bisa anak semanis itu punya bapak Durjana macam Reyga?
"Siapa yang kamu sebut kakak cantik, Kael? Di sini nggak ada yang cantik," bantah Reyga sadis.
"Papa, itu kakak cantik." Kael menunjuk Kalla. "Papa nggak boleh marahin kakak cantik. Kakak Cantik udah nemenin Kael main."
Pria itu menatap remeh ke arah Kalla. Alisnya naik sebelah, muka tampannya makin terlihat menyebalkan. "Apanya yang cantik? Biasa aja."
"Kam—" Kalla memejamkan mata segera sebelum emosinya meledak dan membuat malu dirinya sendiri. Dia menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan diri. Setelah cukup tenang, dia kembali membuka mata dan menghadapi realita.
Senyum Kalla terkembang melihat wajah polos Kael. "Kael, karena kamu udah ketemu orang tua kamu, kakak pergi dulu, ya," pamitnya lembut. Lebih baik cabut daripada adu urat dengan CEO brekele itu.
"Oke. Kakak ingat janji kita kan?" tanya Kael dengan mata polosnya yang penuh binar.
Oh ya ampun, hanya melihat itu saja dunia Kalla seperti dijungkir-balikkan. Tatapan anak itu begitu penuh harap.
"Ingat dong. Tapi kalau kita ketemu lagi, ya."
Dengan mantap anak jalan empat tahun itu mengangguk. Wajahnya tampak senang, kontras sekali dengan bapakmya.
"Kakak pergi dulu ya."
Kalla memutar langkah can melambaikan tangan. Sebelum sampai pintu lobi, dia sempat menoleh sebal ke bapaknya Kael, lalu segera melengos lagi.
***
"Jangan merepotkan gini, Son."
Reyga bergerak membereskan semua kekacauan yang Kael buat. Hari ini Kael mengamuk, memaksa ingin bertemu Kiana.
Kiana adalah kakak ipar Reyga yang tinggal di Amerika. Sejak bayi, wanita itu ikut merawat Kael lantaran ibu anak itu meninggal setelah melahirkan. Keduanya cukup akrab, sampai akhirnya harus dipisahkan karena Kiana harus ikut Raven, suaminya, ke Amerika.
"Aku mau ketemu Mama Ki!" teriak Kael, makin menyebalkan.
Kadang kalau sedang mengamuk, anak itu agak mengerikan. Segala mainan dibanting dan dirusak. Reyga tidak mempermasalahkan itu asal Kael tidak kabur. Entah sudah berapa kali dia ganti pengasuh karena tidak tahan dengan kelakuannya jika sedang marah.
"Kita akan ke Mama Ki kalau papa sedang nggak sibuk. Oke? Hentikan itu, Kael. Itu bisa menyakiti diri kamu sendiri."
Namun terlambat, Kael membanting mainan mobil-mobilannya hingga pecah berkeping-keping. Dan ketika bergerak mundur, kaki kecilnya menginjak pecahan mainan lain hingga berdarah.
"Sakit?" tanya Reyga dengan tenang. Seolah itu sudah menjadi hal yang sangat biasa. Dia mengangkat tubuh kecil anak itu dan mendudukkannya ke sofa. Lalu bergerak mengambil kotak P3K.
Kali ini Kael terlihat lebih tenang. Mungkin karena merasakan nyeri di telapak kakinya.
"Papa sudah sering bilang marah-marah seperti tadi itu nggak baik. Kamu mau jadi anak nggak baik dan nggak disukai Mama Ki?" tanya Reyga sambil membersihkan luka Kael dengan hati-hati.
Anak empat tahun itu terkesiap. "Mama Ki nggak ke sini karena benci Kael?"
Reyga menggeleng. "Mama Ki nggak benci kamu, dia cuma nggak suka sama sikap kamu kalau sedang marah."
"Tapi aku kangen Mama Ki, Papa!"
"Ya, papa tahu. Tapi apa dengan marah-marah bikin dia datang?" Reyga menatap tepat ke manik bulat sang putra. Saat anak itu menggeleng, dia mengangguk lalu menunjuk luka Kael. "Itu hanya akan merugikan diri kamu sendiri," lanjutnya lantas membubuhi antiseptik sebelum membalutnya dengan perban.
Wajah Kael melunak. Dia menunduk seperti menyesali perbuatannya. "Maaf, Papa."
"It's Ok."
"Kalau begitu boleh aku bertemu Kakak Cantik aja?"
Gerakan Reyga yang tengah menutup kotak P3K terhenti. Keningnya berkerut. "Siapa Kakak Cantik?" tanyanya bingung.
"Kakak Cantik!"
Melihat Kael kembali ngotot, dengan cepat Reyga mengingat seseorang yang dipanggil kakak cantik itu. Dia baru paham setelah teringat kejadian beberapa hari lalu di lobi apartemen. Ah, jadi wanita songong itu.
"Jangan mulai minta hal yang nggak masuk akal, Kael. Papa bahkan nggak tau siapa dia, dan di mana dia."
"Aku tahu, Pa. Kakak Cantik tinggal di Bulus, sama kayak Om Cade."
Kening Reyga kembali mengernyit. "Maksud kamu Lebak Bulus?" Saat anak itu mengangguk senang, Reyga menghela napas. "Tapi Lebak Bulus itu luas. Kalau kamu tidak punya alamat lengkap, kamu akan sulit menemukannya."
"Kita tanya Om Cade. Dia pasti tahu."
Mata Reyga terpejam sesaat, lantas meraup wajah dengan lelah. Bagaimana cara menjelaskan pada anak kecil ini?
"Kalau Om Cade nggak bisa. Papa bisa minta teman-teman papa mencari."
Teman-teman papa yang Kael maksud adalah orang-orangnya, bawahannya di perusahaan. Reyga tidak ingin berdebat lagi. Dia memutuskan setuju saja.
"Oke, papa akan minta bantuan mereka. Tapi papa mohon selama mencari, kamu harus jadi anak baik. Papa tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Kalau enggak, papa nggak mau mencari kakak cantikmu itu."
Bibir kecil itu tersenyum lebar. Tangan kecilnya lantas terulur minta peluk. Reyga pun dengan cepat meraihnya. Memeluk Kael dalam gendongannya.
"Makasih, Papa."
"Sama-sama. Ayo kita tidur sekarang."
Menjadi single parent Reyga akui sangat melelahkan. Sejak istrinya meninggal empat tahun lalu karena pendarahan hebat saat melahirkan Kael, dia tidak berniat menikah lagi. Apalagi saat itu ada Kiana yang membantu mengurus Kael. Dia merasa sangat terbantu.
Ya meskipun resikonya dia harus ribut terus dengan Raven. Meskipun dia punya masa lalu dengan Kiana, tapi secuil pun dirinya tidak punya pikiran untuk merebut Kiana dari Raven.
Walau gimana juga, Kiana sudah menjadi kakak iparnya. Meski Reyga juga tidak bisa membantah bahwa masih ada sedikit perasaan yang tertinggal. Tapi dia cukup waras untuk tidak lagi mengganggu keluarga kakaknya.
“Kapan papa sama mama pulang?” “Uhm besok. Tapi kalau nggak bisa ya besoknya lagi, kalau nggak bisa lagi ya besoknya lagi.” Kalla menabok paha Reyga mendengar jawaban ngaco itu. Di layar, anak sambungnya itu menghela napas. Seperti sudah hapal banget kelakuan bapaknya. “Kami pulang lusa, Kael. Uhm kamu mau oleh-oleh apa?” tanya Kalla tersenyum lembut. Senyum yang langsung menulari anak sembilan tahun itu. “Kata Om Cade aku harus minta oleh-oleh spesial.” Perasaan Kalla mendadak tak enak. Begitu pun Reyga, kalau sudah bawa-bawa Cade pasti bukan sesuatu yang bagus. “Yang spesial itu kayak apa?” tanya Kalla hati-hati. “Aku nggak tau yang Om Cade bilang itu beneran atau cuma bercanda. Dia bilang … aku harus minta oleh-oleh adek bayi sama kalian.”Tuh kan! Andai Cade ada di dekatnya Kalla pasti sudah mencubit keras pahanya. Tapi di sebelahnya Reyga malah tertawa, kontras dengan wajah Kalla yang berubah jadi semerah dadu. “Jangan dengerin Om kamu. Dia ngaco,” balas Kalla. “Kael, ka
“Kesan kamu apa habis nonton pertunjukkan tadi?” tanya Kalla begitu mereka keluar dari venue setelah sendratari berakhir. Reyga pura-pura berpikir padahal dalam hati ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat Dewi Shinta melakukan sumpah obong untuk membuktikan kesuciannya setelah setelah 11 tahun diculik Rahwana. “Rahwana kurang beruntung, Shinta bego, dan Rama… lebih brengsek daripada aku.” Kalla sukses melongo mendengar jawaban suaminya. Dia berharap ada jawaban luar biasa dari lelaki itu. Cinta sejati tak akan terpisahkan, misalnya. Ini malah yang keluar kritikan pedas buat para tokoh utama. Kalla menepuk jidatnya seraya terkekeh. “Kenapa? Pendapatku bener kan? Coba pikir deh, Sayang. Rahwana udah segitu baiknya ngetreat Shinta selama belasan tahun, eh malah dengan gobloknya tuh Shinta masih cinta sama cowok yang nyuruh dia bakar diri.” “Astaga, Rey. Rahwana itu nyulik Shinta. Artinya dia memaksakan kehendak.”“Tapi nyatanya dia sabar nungguin sampe Shinta jatuh
“Aku pikir Ramayana dan Mahabarata itu cerita yang sama.”“Beda dong, kalau Ramayana kan cerita tentang Rama dan Dewi Shinta. Kalau Mahabarata itu perang saudara Pandawa dan Kurawa.”Reyga tersenyum seraya menatap Kalla. “Istriku ternyata pintar. Bisa bedain dua fenomenal cerita itu.” “Iya dong. Kalau enggak, mana mungkin bisa dapat beasiswa.” Kalla terkikik meningkahi pujian sang suami. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju venue yang sudah dibuka. Pengunjung sudah berdatangan dan lumayan ramai padahal harga yang dibandrol lumayan agak mahal. “Kita nggak beli tiketnya dulu, Rey?” tanya Kalla yang bingung lelaki itu melewati pintu loket. “Udah ada yang beliin, kita tinggal masuk aja.” “Hah?” Saat itulah Kalla melihat Reyga melambaikan tangannya. Dia mencari tahu dengan siapa pria itu bertegur sapa. Sampai tatapnya menemukan seorang pria tinggi setengah berlari ke arahnya. “Loh itu bukannya… “ Kalla refleks memutar kepala saat mendapat colekan di bahu kanannya, ket
Secangkir kopi dengan pemandangan Candi Prambanan membuat sore Kalla terasa mewah. Tidak banyak orang yang memiliki momen seberharga ini. Banyak yang punya uang, tapi tidak punya waktu, atau sebaliknya banyak waktu, tapi tak punya uang. Makanya tidak henti-hentinya Kalla mensyukuri apa yang dia jalani sekarang. Terlebih saat ini dirinya sudah bukan wanita single lagi. Reyga muncul membawa camilan dan bergabung duduk di sisi Kalla. “Aku pesan ini. Kamu pasti suka.” Mata Kalla melirik kudapan seperti lumpia tapi tidak tampak kering. Lumpia itu diselimuti serabut yang bisa Kalla tebak berasal dari celupan telur kocok sebelum digoreng. “Risoles?” “Bukan. Itu sosis solo.” Reyga mengambil satu dan memberikannya pada sang istri. Kalla langsung mencoba. Menggigit sepertiga bagian kue tersebut dan mengernyit bingung. Bukan karena rasanya yang tidak enak. Sumpah kue ini enak banget, tapi… “Kenapa sih yang kayak gini aja mesti bohong?” Di sisinya, Reyga yang juga tengah menikmati kue
Kalla segera menahan tangan Reyga. Bukan untuk menyingkirkan tapi justru menuntun tangan besar itu agar terus bergerak. Hidung Reyga mengendus leher istrinya, lantas berbisik. “Aku nggak mau menunda punya anak. Jadi kali ini aku nggak akan kasih longgar.” Di ujung kalimatnya lelaki itu mencubit gemas puncak dada Kalla, membuat wanita itu tersentak. Dia segera menempatkan posisi di atas sang istri, dan menghujani wajah wanita itu dengan ciuman. Kekehan Kalla meluncur. Dia menjauhkan wajah Reyga dan menatapnya. “Emang kamu mau kasih berapa adik buat Kael?”“Uhm, tiga boleh?” “Boleh aja sih, asal satu anak satu Nanny. Terus nanny-nanny itu nggak boleh lebih muda dari aku, dan nggak boleh lebih cantik dari aku.” Tatapan Kalla jatuh ke Reyga, tangannya secara diam-diam menarik simpul kimono pria itu. Perlahan telapak tangannya meraba perut kotaknya. “Itu bisa diatur. Lagi pula…. “ Reyga menangkap tangan Kalla yang akan menyentuh puting dadanya. “Memang ada yang lebih cantik dari nanny-n
Reyga menutup akses tamu yang datang terlambat. Menimbang istrinya yang sudah tidak berdaya karena kelelahan. Bahkan untuk sekedar membersihkan makeup saja wanita itu mengangkat tangan. Sehingga Moya yang akhirnya turun tangan membantu. Sebelum pergi menuju resort tempat dirinya akan menghabiskan beberapa malam ke depan, Kalla dan Reyga lebih dulu mengantar keluarga besarnya yang akan kembali ke Jakarta malam ini. “Kamu sudah jadi istri sekarang. Bertingkahlah selayaknya istri kepada suami. Jangan ngambekan, kunci rumah tangga adalah komunikasi. Selama kalian bisa menjaga komunikasi dengan baik, rumah tangga kalian bakal damai,” ujar Ibu sedikit memberi nasehat kepada putrinya. “Meskipun kalian nanti tinggal sama ibu. Ibu nggak akan ikut campur soal rumah tangga kalian.” Ibu beralih menepuk lengan menantunya. “Nak Rey, kalau suatu hari kamu nggak nyaman tinggal di rumah ibu, ibu ridho kamu membawa Kalla pergi. Dia sudah jadi tanggung jawab kamu sekarang. Pesan ibu, jaga dan sayangi
"Itu... Kakak Cantik kamu kan, Kael?" Kael mengangguk semangat lantas menarik tangan Kiana untuk mendekati Kalla yang masih berdiri di tempatnya. "Kakak! Mama Ki pulang dong!" lapor Kael semangat sambil memamerkan wanita yang seharusnya jadi tantenya itu. Kalla mengangguk seraya tersenyum. "Iya,
Gara-gara kelakuan rese Reyga, keduanya sedikit telat menjemput Kael. Sekolah Kael agak sepi saat keduanya sampai. Meski ada juga beberapa murid yang baru dijemput. Kalla bergegas memasuki koridor kindergarten disusul Reyga di belakangnya. “Pokoknya aku nggak mau ya kejadian tadi terulang lagi,” o
“Nggak ada syarat yang lebih berbobot apa?”Kalla memperhatikan Reyga mengisi pan dengan air, lalu menaruhnya di atas api biru. Kemudian lelaki itu menghampirinya lagi. Berdiri menyelak di antara dua paha Kalla yang sengaja lelaki itu buka. “Itu berbobot dong.”“Itu sih otak kamu yang mesum,” cibir
Tidak ada komentar apapun dari Kalla meski saat ini perasaannya mulai terganggu. Wanita itu meminta Cade agar menurunkannya di Sudirman sebelum menyebrang ke Setia Budi. Ini masih pagi dan hatinya mendadak kacau gara-gara mendengar cerita Cade. Mood bekerja pun menurun drastis. Langkah Kalla tera







