Accueil / Romansa / Hello, Nanny! / 3. Kakak Cantik???

Partager

3. Kakak Cantik???

last update Date de publication: 2026-02-09 11:29:20

"Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. 

Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—

"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makanan," ujar pria itu lagi.

Hah? Excuse me? 

Kening Kalla berkerut dalam. Sepertinya dia salah menilai lagi. 

"Maksud Anda apa ya, Pak? Saya tidak memberi Kael makanan yang—"

"Kael bilang dia baru makan lolipop dari kamu." 

"Ya, itu benar. Tapi itu kan lolipop, bukan sembarang makanan. Saya tiap hari juga makan dan fine-fine aja." 

Muka di depan Kalla sudah tidak sedap di pandang mata. Setelah insiden wawancara, aura permusuhan di antara mereka masih saja terlihat kental. Kalla bisa merasakan itu. 

"Itu kamu. Kalau Kael giginya masih harus dijaga agar tidak rusak. Jangan samakan anak balita dan kamu yang udah tua." 

"Apa?!" 

Tanpa sadar nada suara Kalla meninggi mendengar kata 'tua'. Pria itu benar-benar dobel menyebalkan. 

"Papa nggak boleh marah sama Kakak Cantik," ucap Kael tiba-tiba, membuat perhatian keduanya teralihkan. 

Rasanya dunia Kalla penuh bunga mendengar anak itu masih menyebutnya 'kakak cantik'. Setidaknya ada hal positif yang pria itu miliki, yaitu Kael. Ah, bagaimana bisa anak semanis itu punya bapak Durjana macam Reyga? 

"Siapa yang kamu sebut kakak cantik, Kael? Di sini nggak ada yang cantik," bantah Reyga sadis. 

"Papa, itu kakak cantik." Kael menunjuk Kalla. "Papa nggak boleh marahin kakak cantik. Kakak Cantik udah nemenin Kael main." 

Pria itu menatap remeh ke arah Kalla. Alisnya naik sebelah, muka tampannya makin terlihat menyebalkan. "Apanya yang cantik? Biasa aja."

"Kam—" Kalla memejamkan mata segera sebelum emosinya meledak dan membuat malu dirinya sendiri. Dia menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan diri. Setelah cukup tenang, dia kembali membuka mata dan menghadapi realita. 

Senyum Kalla terkembang melihat wajah polos Kael. "Kael, karena kamu udah ketemu orang tua kamu, kakak pergi dulu, ya," pamitnya lembut. Lebih baik cabut daripada adu urat dengan CEO brekele itu. 

"Oke. Kakak ingat janji kita kan?" tanya Kael dengan mata polosnya yang penuh binar. 

Oh ya ampun, hanya melihat itu saja dunia Kalla seperti dijungkir-balikkan. Tatapan anak itu begitu penuh harap. 

"Ingat dong. Tapi kalau kita ketemu lagi, ya." 

Dengan mantap anak jalan empat tahun itu mengangguk. Wajahnya tampak senang, kontras sekali dengan bapakmya. 

"Kakak pergi dulu ya." 

Kalla memutar langkah can melambaikan tangan. Sebelum sampai pintu lobi, dia sempat menoleh sebal ke bapaknya Kael, lalu segera melengos lagi. 

*** 

"Jangan merepotkan gini, Son." 

Reyga bergerak membereskan semua kekacauan yang Kael buat. Hari ini Kael mengamuk, memaksa ingin bertemu Kiana. 

Kiana adalah kakak ipar Reyga yang tinggal di Amerika. Sejak bayi, wanita itu ikut merawat Kael lantaran ibu anak itu meninggal setelah melahirkan. Keduanya cukup akrab, sampai akhirnya harus dipisahkan karena Kiana harus ikut Raven, suaminya, ke Amerika. 

"Aku mau ketemu Mama Ki!" teriak Kael, makin menyebalkan. 

Kadang kalau sedang mengamuk, anak itu agak mengerikan. Segala mainan dibanting dan dirusak. Reyga tidak mempermasalahkan itu asal Kael tidak kabur. Entah sudah berapa kali dia ganti pengasuh karena tidak tahan dengan kelakuannya jika sedang marah. 

"Kita akan ke Mama Ki kalau papa sedang nggak sibuk. Oke? Hentikan itu, Kael. Itu bisa menyakiti diri kamu sendiri." 

Namun terlambat, Kael membanting mainan mobil-mobilannya hingga pecah berkeping-keping. Dan ketika bergerak mundur, kaki kecilnya menginjak pecahan mainan lain hingga berdarah. 

"Sakit?" tanya Reyga dengan tenang. Seolah itu sudah menjadi hal yang sangat biasa. Dia mengangkat tubuh kecil anak itu dan mendudukkannya ke sofa. Lalu bergerak mengambil kotak P3K.

Kali ini Kael terlihat lebih tenang. Mungkin karena merasakan nyeri di telapak kakinya. 

"Papa sudah sering bilang marah-marah seperti tadi itu nggak baik. Kamu mau jadi anak nggak baik dan nggak disukai Mama Ki?" tanya Reyga sambil membersihkan luka Kael dengan hati-hati. 

Anak empat tahun itu terkesiap. "Mama Ki nggak ke sini karena benci Kael?" 

Reyga menggeleng. "Mama Ki nggak benci kamu, dia cuma nggak suka sama sikap kamu kalau sedang marah." 

"Tapi aku kangen Mama Ki, Papa!" 

"Ya, papa tahu. Tapi apa dengan marah-marah bikin dia datang?" Reyga menatap tepat ke manik bulat sang putra. Saat anak itu menggeleng, dia mengangguk lalu menunjuk luka Kael. "Itu hanya akan merugikan diri kamu sendiri," lanjutnya lantas membubuhi antiseptik sebelum membalutnya dengan perban. 

Wajah Kael melunak. Dia menunduk seperti menyesali perbuatannya. "Maaf, Papa."

"It's Ok." 

"Kalau begitu boleh aku bertemu Kakak Cantik aja?" 

Gerakan Reyga yang tengah menutup kotak P3K terhenti. Keningnya berkerut. "Siapa Kakak Cantik?" tanyanya bingung. 

"Kakak Cantik!" 

Melihat Kael kembali ngotot, dengan cepat Reyga mengingat seseorang yang dipanggil kakak cantik itu. Dia baru paham setelah teringat kejadian beberapa hari lalu di lobi apartemen. Ah, jadi wanita songong itu. 

"Jangan mulai minta hal yang nggak masuk akal, Kael. Papa bahkan nggak tau siapa dia, dan di mana dia." 

"Aku tahu, Pa. Kakak Cantik tinggal di Bulus, sama kayak Om Cade."

Kening Reyga kembali mengernyit. "Maksud kamu Lebak Bulus?" Saat anak itu mengangguk senang, Reyga menghela napas. "Tapi Lebak Bulus itu luas. Kalau kamu tidak punya alamat lengkap, kamu akan sulit menemukannya." 

"Kita tanya Om Cade. Dia pasti tahu."

Mata Reyga terpejam sesaat, lantas meraup wajah dengan lelah. Bagaimana cara menjelaskan pada anak kecil ini? 

"Kalau Om Cade nggak bisa. Papa bisa minta teman-teman papa mencari." 

Teman-teman papa yang Kael maksud adalah orang-orangnya, bawahannya di perusahaan. Reyga tidak ingin berdebat lagi. Dia memutuskan setuju saja. 

"Oke, papa akan minta bantuan mereka. Tapi papa mohon selama mencari, kamu harus jadi anak baik. Papa tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Kalau enggak, papa nggak mau mencari kakak cantikmu itu." 

Bibir kecil itu tersenyum lebar. Tangan kecilnya lantas terulur minta peluk. Reyga pun dengan cepat meraihnya. Memeluk Kael dalam gendongannya. 

"Makasih, Papa." 

"Sama-sama. Ayo kita tidur sekarang." 

Menjadi single parent Reyga akui sangat melelahkan. Sejak istrinya meninggal empat tahun lalu karena pendarahan hebat saat melahirkan Kael, dia tidak berniat menikah lagi. Apalagi saat itu ada Kiana yang membantu mengurus Kael. Dia merasa sangat terbantu. 

Ya meskipun resikonya dia harus ribut terus dengan Raven. Meskipun dia punya masa lalu dengan Kiana, tapi secuil pun dirinya tidak punya pikiran untuk merebut Kiana dari Raven. 

Walau gimana juga, Kiana sudah menjadi kakak iparnya. Meski Reyga juga tidak bisa membantah bahwa masih ada sedikit perasaan yang tertinggal. Tapi dia cukup waras untuk tidak lagi mengganggu keluarga kakaknya. 

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (3)
goodnovel comment avatar
daffa
o...o...kiana mantan rey
goodnovel comment avatar
Hary Anto
aseeeekkk lanjut
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Puasssss aku baca pertemuan kembali Reyga sama Kalla
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Hello, Nanny!   S2.54. First Kiss

    Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka bua

  • Hello, Nanny!   S2.53. Cemburu

    Kael mendengus ketika dari balik meja cashier and order, Rere melambaikan tangan ke arah mejanya. Bukan spesifik melambai padanya, tapi juga ke Om Cade dan Jaya. Sore ini Kael menunjukkan draft final proyek yang dia buat dibantu Jaya kepada Om Cade. Jika eksekusi berhasil maka proyek itu bisa dikatakan goal. Dan dia memilih meeting di kafe tempat Rere part time.“Temen kamu kenapa, Jay? Muka kok asem mulu. Harusnya seneng dong proyeknya bentar lagi kelar,” komen Cade sambil mengutak-atik laptop. Sesekali dia akan menyeruput kopi pahitnya.“Biasa, Om. Lagi tantrum gara-gara gebetannya digondol kucing garong.” Cade yang lagi fokus sampai harus mengangkat wajah mendengar jawaban Jaya. Dia menatap Kael, lalu sadar jika anak itu memang sudah tumbuh dewasa. “Kamu punya gebetan?” tanya lelaki itu pelan dan serius. Kael berdecak. “Nggak usah dengerin Jaya. Dia emang suka cari sensasi dengan gosip.” Di sebelahnya Jaya tak terima. “Gue nggak gosip ya. Nggak liat itu mata lo sampe jereng ga

  • Hello, Nanny!   S2.52. Kalah Telak

    “Ini cream cheese-nya semua, Kak?” “Iya semua. Campur sama gula yang udah kakak siapin ya.” “Oke. Habis itu?” “Tambahin telur.” Rere sedang mengajari Lior dan Kaia membuat burn cheesecake. Katanya dua bocah itu mau bikin kue sendiri pas anniversary mama papanya yang tinggal sebentar lagi. Ketika mereka sibuk di dapur, tanpa suara Kael masuk. Perlahan dia mengintip kegiatan mereka dengan berpura-pura mengambil air minum di kulkas. Tapi daripada melihat apa yang dua adiknya lakukan, dia lebih sering curi-curi pandang ke Rere yang tampak serius. “Masukin telurnya satu-satu ya. Satu aduk dulu sampai rata, baru masukin lagi.”“Oke.” Dua bocah itu juga kelihatan serius. Bikin Kael refleks berdecih. Tumben sekali dua anak itu tidak bikin kekacauan. Bia—“Awas, hati-hati!” teriak Rere panik saat Lior nyaris menumpahkan adonan. Beruntung wadah itu tidak jadi jatuh karena Rere segera menahannya. Kael yang ikut terkejut melepaskan napas lega. Baru saja dia berkata dalam hati soal adiknya,

  • Hello, Nanny!   S2.51. Gebetan

    “Cuma Sabtu Minggu gue. Iya, kebagian sift sore sampe malam.”Telinga Kael menegak mendengar potongan percakapan Rere yang sedang menelepon. Entah ke siapa.Diam-diam lelaki itu makin merapatkan diri. Ingin mendengar lebih banyak. Ya, Kael tahu menguping itu tidak baik. Tapi jiwa keponya meronta-ronta jika itu menyangkut soal Rere.“Hu-um, datang aja. Gue di sana kok. Oke, thanks, gue tunggu, Dri.”Dri? Dri itu maksudnya Drian? Kael mengerjap. Jadi mereka sudah di tahap saling telponan. Tanpa sadar napas Kael berembus kesal. Hidung bangirnya mengembang. Asap bahkan mengebul keluar dari telinganya. “Dasar genit,” gerutunya pelan sebelum bergerak kembali ke kamar. Dia yang akan mengambil minuman di kulkas urung. “Loh, mana minumannya?” tanya Jaya melihat Kael masuk kamar lagi tanpa membawa apapun seperti rencananya. Dengan muka bete, Kael menjatuhkan diri di kursi putarnya. “Ambil sendiri Lo deh, males gue.”“Dih, lo ngapa dah. Angin-anginan banget jadi orang.” “Ngeselin banget si Re

  • Hello, Nanny!   S2.50. Boneka Domba Kecil

    “Ini sih best banget! Mirip yang dijual di bakery terkenal itu loh.”“Hu-um. Aku juga suka. Kak Re, ajarin kita dong. Anniversary mama sama papa entar kita pengin kasih kejutan bikin kue sendiri.” Senyum lebar Rere merekah ketika tahu dua kembar itu menyukai kue yang dia buat. “Boleh. Nanti kakak ajarin ya.”Di sebelah Kael, Cade mencebikkan bibir. “Kalian bisa menikmati kue enak ini karena Om-loh. Tapi nggak ada yang berterimakasih sama Om.”Lior dan Kaia tertawa. Tapi kemudian mereka serentak berseru. “Terima kasih …” Tepat ketika Cade menyambut dengan senyum manis, dua bocah itu menoleh ke arah Rere. “Kak Rere!” Senyum Cade sontak raib, dan wajah lucunya yang cemberut membuat si kembar tergelak lagi. “Dasar Kalla cilik. Awas ya, kalau kalian minta tambahan uang jajan, nggak bakal Om kasih,” balas Cade bersungut-sungut. Hingga tawa bocah itu berhenti seketika. “Iya, iya. Makasih Om Cade ganteng!” “Cih, kalau ada maunya aja.”Interaksi mereka membuat yang lain ikut tertawa baha

  • Hello, Nanny!   S2.49. Belasan Tahun Silam

    Cade berdiri di depan sebuah rumah yang dulu sering dia datangi. Terakhir datang ke sini 3 tahun lalu. Meskipun tidak jauh dari rumah sang Kakak—Reyga—dia tidak pernah mengunjungi lagi. Tepatnya sejak Mella memutuskan mundur dari hidupnya. Tiga tahun lalu saat dia datang lagi, bukan sebuah kesengajaan. Dan karena hal itu pula dirinya tahu bahwa Mella ternyata sudah meninggal. Cade sangat terpukul mendengar kabar itu. Terlebih Bu Arum—ibunya Mella—memberitahu tentang alasan sebenarnya Mella memutuskan pergi meninggalkan dirinya dulu. Rasa menyesal dan sakit kontan menggerogoti hatinya lagi, seperti belasan tahun silam. “Aku mau menikah.”Suara Mella kala itu terngiang lagi. Sesuatu yang membuat Cade semangat karena akhirnya wanita itu memutuskan hal yang tepat. “Serius, Sayang?” Tatap Cade berbinar saat itu. Tidak menyangka lamarannya akhirnya diterima. Dia sontak menggenggam tangan Mella. “Secepat mungkin aku bakal siapin semua. Seperti kata kamu, kita nggak perlu acara yang mewah.

  • Hello, Nanny!   34. Kram

    Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re

  • Hello, Nanny!   10. Sudah Jatuh, Ketimpa Tangga

    Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik

  • Hello, Nanny!   9. Hello, Nanny!

    Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status