LOGINSudah lebih dari sepuluh kali Kalla memelototi CV-nya di layar laptop. Tidak ada yang salah menurutnya. Tapi yang mengherankan kenapa sampai detik ini belum ada satu pun perusahaan yang menerimanya.
Jujur, Kalla sudah mulai putus asa. Dia bahkan berniat belajar menjahit seperti ibunya. Meski sering mengeluh punggung, rejeki ibu datang sendiri ke rumah tanpa harus berkeliling mencari seperti dirinya. Satu tahun, menjadi pengangguran sukses bikin hidupnya rada stress.
Kalla membuang napas, dan menutup laptop. Tidak ada gairah untuk melanjutkan kegiatannya mengirim CV lagi. Dua tangannya menopang dagu, pandangannya lurus ke luar jendela kamar. Memperhatikan taman mini di sebelah rumahnya, milik tetangga. Posisi dengan pandangan yang cukup indah, sangat pas untuk melamun.
Saking khusuknya melamun, Kalla tidak sadar seseorang memasuki kamarnya. Tepat ketika bahunya ditepuk, dia terlonjak kaget.
"Setan Bahlil! Eh, Bahlul!" teriaknya spontan. Membuat orang di belakang punggungnya terpingkal-pingkal.
Kalla menggeram kesal saat tahu orang resek yang tiba-tiba menepuk bahunya.
"Sumpah, Kal. Muka Lo lucu banget!" seru cewek berambut pendek, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat Kalla dari SMA, Moya.
"Bisa nggak kalau datang itu kasih tanda-tanda? Salam kek! Apa kek! Nggak sopan banget jadi manusia. Kalau jantung gue yang harganya mahal ini copot gimana?!" omel Kalla lalu mendengus kesal. Dia tidak peduli ketika Moya merangkul bahunya sambil minta maaf. "Ngapain Lo ke sini?"
"Pake ditanya. Ya ketemu lo dong, sobat gue yang paling lucu sejagat Endonesah!" sahut gadis berambut pendek seleher itu sambil mencubit gemas pipi kemerahan alami Kalla.
"Ih apaan sih! Kebiasaan banget." Kalla melepas kesal tangan Moya dari pipinya, dan memelotot tajam.
"Gue kangen sama lo. Juga sama..." Mata bulat Moya melirik ke arah jendela. Tepatnya melirik ke rumah tetangga. Alisnya naik turun genit. "Si ganteng ada di rumah enggak?"
"Meneketehe! Pintunya nutup terus, berarti lagi pergi."
Moya tampak kecewa, lalu beranjak duduk di tepian tempat tidur Kalla. "Gue kurang beruntung."
"Mungkin lagi kencan sama pacarnya. Kan ini weekend."
"Emang dia udah punya pacar?"
"Ya kali aja. Masa orang ganteng nggak punya pacar?"
"Iya juga, ya."
Moya membuang napas. Tapi sejurus kemudian tampak tak peduli dan fokus menatap Kalla. "Gimana lamaran lo? Udah lo kirim ke PT. Maju Jaya belum?"
PT. Maju Jaya adalah perusahaan yang kata Moya sedang ada loker besar-besaran. Hanya saja, Kalla tidak bergairah lagi untuk sekedar mengirim lamaran sejak terakhir ditolak.
Kalla menggeleng. Wajahnya putus asa. "Males gue. Ujung-ujungnya juga mentok di interview."
"Jangan nyerah gitu dong. Selama masih ada peluang, Lo harus maju. Meskipun gagal 100 kali."
"Ya nggak 100 kali juga, Moyes!"
Moya meringis dan mengacungkan dua jarinya melihat Kalla melotot sambil teriak.
"Kalau enggak melamar lagi. Lo mau apa? Dilamar? Sapa yang mo lamar Lo? Pacar aja kagak gableg."
Untuk keseribu kali Kalla menghela napas berat. "Gue pasrah aja deh. Gue mau kerja apa aja. Jadi pelayan resto juga nggak apa-apa. Yang penting kerja."
Beda dengan Kalla, Moya agak sedikit beruntung. Setelah jadi pejuang loker bersama Kalla, akhirnya tiga bulan lalu ada perusahaan yang mau menerimanya. Meskipun tidak elit-elit amat, tapi lumayan buat magang. Target Moya memang bukan perusahaan bonafit seperti target Kalla. Jadi, dia lebih mudah diterima.
"Lah, kalau cuma mau jadi pelayan ngapain Lo kuliah tinggi-tinggi? Ibu Lo bakal kecewa kalau denger ini!"
Kalla langsung membekap mulut Moya yang kelewat jebol. "Jangan kenceng-kenceng. Kalau Lo nggak bocor, ibu juga nggak tau. Besok gue mo ke mall nyari loker. Atau minimal jadi penjaga toko juga gue mau."
"Serah Lo!"
Suara derum mobil terdengar dan langsung mengalihkan perhatian mereka, khususnya Moya. Dia langsung memepet Kalla yang duduk di depan jendela. Moya sangat hapal suara mesin mobil laki-laki incaran yang sekaligus tetangga Kalla itu.
"Si Ganteng pulang!"
Dari jendela kamar Kalla, keduanya memperhatikan seorang laki-laki keluar dari SUV hitam pabrikan Amerika. Laki-laki urban yang bagi Kalla aneh, karena memilih hidup di tengah kampung kecil alih-alih di tengah kota.
Sepertinya laki-laki itu sadar tengah diperhatikan, karena sebelum masuk rumah, dia sempat menoleh ke jendela kamar Kalla. Yak! Dia melempar senyum yang langsung dibalas heboh oleh Moya.
"Selamat sore, Oppa Ganteng! Mau malam mingguan bareng enggak?!"
Mendengar itu, Kalla meringis keki. Malu-maluin!
***
"Di sini ada Es krim matcha latte enggak, Mbak?"
"Màaf, nggak ada, Kak."
"Kalau lowongan kerja ada nggak?"
"Nggak ada, Mbak."
"Oh, nggak ada juga ya."
Kalla menunduk lesu. Membuang napas dan mengucapkan terima kasih. Ini sudah tenpat ke-lima di mall yang dia datangi. Semuanya tidak ada yang membutuhkan pegawai baru. Melelahkan.
Saat hendak berbalik, Kalla merasakan kakinya berat. Sepertinya ada yang mengganduli. Dan ketika kepalanya menoleh ke bawah, tatapnya dikejutkan dengan kemunculan seorang bocah.
"Astaga!" pekiknya, nyaris teriak kalau saja dia tidak kenal bocah itu. "Kael? Sedang apa kamu di sini?"
Ternyata Kael memeluk erat kaki kanannya. Pantas saja berat.
"Makan es krim."
Kalla celingukan. Lagi-lagi anak ini sendirian. "Sama siapa?"
"Papa."
"Terus, mana papa kamu?"
"Lagi ke toilet."
Kalla berjongkok, menjajari tinggi anak itu. "Meja kamu di mana? Jangan berkeliaran sendirian. Nanti kamu ilang gimana?"
"Kan ada kakak cantik."
"Iya, tapi ntar papa kamu nyariin lagi."
Kael menggeleng. "Aku yang nyari, Kakak. Mau main, mau lollipop."
Ah, tiba-tiba Kalla ingat pernah berjanji pada anak itu, soal lollipop jika bertemu lagi. Sungguh, dia tidak pernah berpikir bisa bertemu anak ini lagi. Terlebih saat tahu siapa bapaknya.
"Tapi, kamu lagi sama papa kamu. Aku yakin papa kamu nggak akan suka kalau kamu makan lollipop."
Wajah Kael cemberut. Pipi chubbi-nya memerah dan makin menggemaskan.
"Kakak akan kasih kamu lolli, asal udah dapat persetujuan dari papa kamu."
Mata bulat Kael tampak sedih. "Kalau gitu main aja. Aku kangen Kakak. Mau main."
"Tapi kakak masih ada urusan."
Sebenarnya Kalla tidak tega melihat wajah kecewa anak itu. Tapi dia harus melanjutkan misi mencari pekerjaan hari ini. Apalagi anak itu datang bersama bapaknya. Kalla tidak mau bertemu CEO sombong itu lagi.
"Kakak nggak mau main?"
Mata Kael berkaca-kaca. Sebentar lagi tangisnya pasti tumpah. Berabe kalau itu terjadi.
"Bukan begitu, Kael. Kakak—"
"Ada apa ini?"
Suara itu! Spontan Kalla memejamkan mata. Seharusnya dia bergerak cepat pergi dari tempat ini sebelum manusia itu datang. Kalla menarik napas panjang sebelum menghadapi kenyataan.
Wanita itu beranjak berdiri, dan menyapa Reyga dengan anggukan singkat.
"Kael, sini ke dekat papa," perintah Reyga terdengar tegas kepada putranya.
"Papa! Aku mau main sama Kakak Cantik." Dengan cepat Kael memeluk kaki Kalla lagi. Membuat wanita itu tersentak kaget.
"Jangan merepotkan orang lain, Kael."
"Tapi papa bilang mau mencari kakak cantik. Sekarang udah ketemu, Pa."
Reyga tampak menarik napas panjang. Kesabarannya kembali diuji. "Iya, tapi kakaknya lagi sibuk." Dia berusaha menggapai anaknya. Tapi dengan gesit Kael bersembunyi di belakang kaki Kalla.
Kalla terkejut sendiri dengan aksi bocah itu.
"Kael, kamu udah janji jadi anak baik." Sepertinya Reyga sudah mulai hilang kesabaran. "Ayo, cepat ke mari!" Suaranya terdengar lebih tegas dan tidak ingin dibantah, meskipun tidak teriak juga.
Ada adegan tarik menarik yang sedikit memicu perhatian. Yang mau tak mau, melibatkan Kalla di dalamnya.
"Mau main sama kakak!"
"Kita akan pulang, Kael."
"Nggak mau!"
"Kael—"
"Stop!" seru Kalla cepat. "Izinkan saya bermain dengan Kael sebentar, Pak."
INI BAB PAMUNGKAS YA TEMAN-TEMAN, SETELAH INI TIDAK ADA EXTRA PART. =============Bibir Rere melengkung sempurna ketika melihat pemandangan di halaman rumah Kael. Sesekali dia akan tertawa melihat kekonyolan di sana. Pemandangan Cade dan Reyga yang berkolaborasi menyalakan kembang api hingga langit gelap kampung tampak begitu meriah. Lalu anak-anak mereka akan bersorak bahagia ketika kembang api meledak. Sementara di kursi panjang, Rere melihat Kalla dan Ceci tengah tertawa bersama. Sungguh pemandangan keluarga utuh yang bahagia. Membuat hati kecilnya iri. Andai mama masih hidup, apa Rere akan bahagia seperti itu juga? Dia menghela napas panjang. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak bisa bermimpi indah seperti itu. Sentuhan di bahu membuat Rere tersentak. Dia refleks memutar kepala dan menemukan Kael. “Kenapa cuma berdiri di sini? Ayo, ke sana!” Rere tersenyum tipis, dan mengamini ajakan laki-laki itu. “Kembang apinya stop dulu ya! Nanti lanjut lagi,” seru Kael selagi membawa cake
Rumah ramai. Di halaman depan juga. Reyga mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan sekalian camping di halaman rumah. Bahkan dua tenda Apernaz sudah didirikan. Namun pesta kecil itu ternyata kedatangan tamu tak diundang, dan suasana sontak berubah jadi riuh. Siapa lagi kalau bukan Cade dan anak istrinya? “AChen!” seru si kembar saat melihat saudara sepupunya keluar dari mobil. Keduanya langsung meninggalkan mama papanya, dan menghambur menghampiri AChen. Sementara Kalla, juga tampak heboh saat melihat Ceci. Di depan tempat bebakaran, Rere melihat itu agak terkagum-kagum. Terlebih dengan wanita tinggi bermata sipit yang sedang ngobrol dengan Tante Kalla. “Itu … istri Om Cade?” tanya gadis itu pada Kael yang sibuk mengipas dan membolak-balik sate. “Iya. Namanya Aunty Cecilia.” “Dia… cantik banget.”Kael mengangkat wajah dan ikut melihat ke arah Tante Ceci. “Kelihatannya juga smart. Dia … bukan Chindo ya?” “Yang Chindo putranya. Tuh yang lagi sama si kembar. Namanya AChen. Kalau Au
Gara-gara gelang, Kael membawa Rere ke sebuah toko aksesoris. Rere pikir lelaki itu akan membelikannya gelang. Namun Kael malah mengambil beberapa tali warna hitam yang tergantung di etalase toko. Kael menarik tangan Rere untuk duduk di kursi tinggi tepat di depan counter. “Mbak, ada manik-manik?” tanya Kael seraya tersenyum. “Ada, Mas.” Mbak-mbak penjaga toko lantas mengeluarkan dua kotak bersekat yang berisi segala macam manik-manik dari yang bentuknya bulat hingga kotak. Ada juga manik inisial, manik berbentuk bunga, bintang, dan love. “Kamu mau bikin apa?” tanya Rere penasaran ketika Kael menyusun tali kecil berukuran panjang menjadi empat bagian. “Nanti kamu juga tau.” Sedikit mengabaikan Rere, Kael mulai fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wajahnya berubah serius, tapi jari-jarinya bergerak lincah. Mengepang, melipat, menarik. Begitu secara berulang hingga tali panjang itu memiliki bentuk baru. “Kamu bisa nganyam?” tanya Rere takjub. “Bukan hal yang sulit. Kamu m
“Aku makan kue ini aja, boleh?” tanya Lior sambil menyentuh boks mika berisi kue dari Rere. Wajahnya nyengir. Dia sudah mencicipi kue buatannya sendiri dan saudara kembarnya. Itu sama sekali tidak enak. Rasanya bisa merusak mood. Dua kembar itu merasa bersalah banget sudah membuat mama dan papanya makan. “Boleh, dong.” Boks mika itu dibuka Kael, lalu dipotong Kalla dengan pisau yang sudah disediakan. “Maafin kami, ya, Ma. Gagal bikin kejutan buat mama papa,” ucap Kaia malu-malu, tapi merasa bersalah juga. “Kenapa minta maaf? Kalian udah berusaha banget. Mama bangga sama usaha kalian, ya meskipun hasilnya kurang memuaskan.” Satu per satu paper plate terisi dengan kue yang sudah dipotong. Rere membuat black forest sebagai hadiah anniversary Kalla dan Reyga. Dan berada dalam satu meja yang sama, mereka menikmati kue itu. “Mmm, ini sih rasanya sekelas bakery ternama, iya, nggak sih, Pa?” Kalla memejamkan mata saat merasakan kelezatan di lidah. Reyga mengamini. “Kamu beli di mana,
Kalla kecewa saat sampai bandara hanya menemukan Pak Sato yang menjemput. Dia berharap anak-anaknya datang lantaran sudah begitu rindu ingin memeluk. Ingin mencium aroma tubuh mereka. “Kok cuma Pak Sato doang sih, Rey? Mereka pada ke mana?” keluh Kalla kecewa seraya berjalan pelan di sisi suaminya. Tidak seperti Kalla yang gusar, Reyga terlihat santai. “Nanti di rumah juga ketemu.” “I-ih, beda lagi itu dong. Emang mereka nggak kangen kita?” Reyga terkekeh melihat sang istri merajuk. Dia merangkul pundak wanita itu dan menenangkan. “Sebentar lagi loh kita sampai rumah.” “Iya, kalau nggak macet.” Kalla menghentakkan kaki, lalu menyingkirkan tangan Reyga dari bahunya. “Selamat siang, Pak, Bu. Gimana penerbangannya?” tanya Pak Sato sopan begitu kedua suami istri itu sampai di depannya. “Capek yang pasti, Pak,” sahut Reyga seraya terkekeh. “Pak Sato sehat?” “Alhamdulillah, Pak Rey.” “Anak-anak gimana, Pak? Kenapa mereka nggak ikut jemput kami?” sela Kalla yang sudah terlanjur
Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka buat
Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. "Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi merem
Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi
Kalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland. Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain,
"Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makan







