Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 4. Loker Manah?

Share

4. Loker Manah?

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 11:32:01

Sudah lebih dari sepuluh kali Kalla memelototi CV-nya di layar laptop. Tidak ada yang salah menurutnya. Tapi yang mengherankan kenapa sampai detik ini belum ada satu pun perusahaan yang menerimanya. 

Jujur, Kalla sudah mulai putus asa. Dia bahkan berniat belajar menjahit seperti ibunya. Meski sering mengeluh punggung, rejeki ibu datang sendiri ke rumah tanpa harus berkeliling mencari seperti dirinya. Satu tahun, menjadi pengangguran sukses bikin hidupnya rada stress. 

Kalla membuang napas, dan menutup laptop. Tidak ada gairah untuk melanjutkan kegiatannya mengirim CV lagi. Dua tangannya menopang dagu, pandangannya lurus ke luar jendela kamar. Memperhatikan taman mini di sebelah rumahnya, milik tetangga. Posisi dengan pandangan yang cukup indah, sangat pas untuk melamun. 

Saking khusuknya melamun, Kalla tidak sadar seseorang memasuki kamarnya. Tepat ketika bahunya ditepuk, dia terlonjak kaget. 

"Setan Bahlil! Eh, Bahlul!" teriaknya spontan. Membuat orang di belakang punggungnya terpingkal-pingkal. 

Kalla menggeram kesal saat tahu orang resek yang tiba-tiba menepuk bahunya. 

"Sumpah, Kal. Muka Lo lucu banget!" seru cewek berambut pendek, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat Kalla dari SMA, Moya. 

"Bisa nggak kalau datang itu kasih tanda-tanda? Salam kek! Apa kek! Nggak sopan banget jadi manusia. Kalau jantung gue yang harganya mahal ini copot gimana?!" omel Kalla lalu mendengus kesal. Dia tidak peduli ketika Moya merangkul bahunya sambil minta maaf. "Ngapain Lo ke sini?" 

"Pake ditanya. Ya ketemu lo dong, sobat gue yang paling lucu sejagat Endonesah!" sahut gadis berambut pendek seleher itu sambil mencubit gemas pipi kemerahan alami Kalla. 

"Ih apaan sih! Kebiasaan banget." Kalla melepas kesal tangan Moya dari pipinya, dan memelotot tajam. 

"Gue kangen sama lo. Juga sama..." Mata bulat Moya melirik ke arah jendela. Tepatnya melirik ke rumah tetangga. Alisnya naik turun genit. "Si ganteng ada di rumah enggak?" 

"Meneketehe! Pintunya nutup terus, berarti lagi pergi." 

Moya tampak kecewa, lalu beranjak duduk di tepian tempat tidur Kalla. "Gue kurang beruntung." 

"Mungkin lagi kencan sama pacarnya. Kan ini weekend." 

"Emang dia udah punya pacar?" 

"Ya kali aja. Masa orang ganteng nggak punya pacar?" 

"Iya juga, ya." 

Moya membuang napas. Tapi sejurus kemudian tampak tak peduli dan fokus menatap Kalla. "Gimana lamaran lo? Udah lo kirim ke PT. Maju Jaya belum?" 

PT. Maju Jaya adalah perusahaan yang kata Moya sedang ada loker besar-besaran. Hanya saja, Kalla tidak bergairah lagi untuk sekedar mengirim lamaran sejak terakhir ditolak. 

Kalla menggeleng. Wajahnya putus asa. "Males gue. Ujung-ujungnya juga  mentok di interview." 

"Jangan nyerah gitu dong. Selama masih ada peluang, Lo harus maju. Meskipun gagal 100 kali." 

"Ya nggak 100 kali juga, Moyes!" 

Moya meringis dan mengacungkan dua jarinya melihat Kalla melotot sambil teriak. 

"Kalau enggak melamar lagi. Lo mau apa? Dilamar? Sapa yang mo lamar Lo? Pacar aja kagak gableg." 

Untuk keseribu kali Kalla menghela napas berat. "Gue pasrah aja deh. Gue mau kerja apa aja. Jadi pelayan resto juga nggak apa-apa. Yang penting kerja." 

Beda dengan Kalla, Moya agak sedikit beruntung. Setelah jadi pejuang loker bersama Kalla, akhirnya tiga bulan lalu ada perusahaan yang mau menerimanya. Meskipun tidak elit-elit amat, tapi lumayan buat magang. Target Moya memang bukan perusahaan bonafit seperti target Kalla. Jadi, dia lebih mudah diterima. 

"Lah, kalau cuma mau jadi pelayan ngapain Lo kuliah tinggi-tinggi? Ibu Lo bakal kecewa kalau denger ini!" 

Kalla langsung membekap mulut Moya yang kelewat jebol. "Jangan kenceng-kenceng. Kalau Lo nggak bocor, ibu juga nggak tau. Besok gue mo ke mall nyari loker. Atau minimal jadi penjaga toko juga gue mau." 

"Serah Lo!" 

Suara derum mobil terdengar dan langsung mengalihkan perhatian mereka, khususnya Moya. Dia langsung memepet Kalla yang duduk di depan jendela. Moya sangat hapal suara mesin mobil laki-laki incaran yang sekaligus tetangga Kalla itu. 

"Si Ganteng pulang!" 

Dari jendela kamar Kalla, keduanya memperhatikan seorang laki-laki keluar dari SUV hitam pabrikan Amerika. Laki-laki urban yang bagi Kalla aneh, karena memilih hidup di tengah kampung kecil alih-alih di tengah kota. 

Sepertinya laki-laki itu sadar tengah diperhatikan, karena sebelum masuk rumah, dia sempat menoleh ke jendela kamar Kalla. Yak! Dia melempar senyum yang langsung dibalas heboh oleh Moya. 

"Selamat sore, Oppa Ganteng! Mau malam mingguan bareng enggak?!" 

Mendengar itu, Kalla meringis keki. Malu-maluin!

*** 

"Di sini ada Es krim matcha latte enggak, Mbak?" 

"Màaf, nggak ada, Kak." 

"Kalau lowongan kerja ada nggak?" 

"Nggak ada, Mbak."

"Oh, nggak ada juga ya." 

Kalla menunduk lesu. Membuang napas dan mengucapkan terima kasih. Ini sudah tenpat ke-lima di mall yang dia datangi. Semuanya tidak ada yang membutuhkan pegawai baru. Melelahkan. 

Saat hendak berbalik, Kalla merasakan kakinya berat. Sepertinya ada yang mengganduli. Dan ketika kepalanya menoleh ke bawah, tatapnya dikejutkan dengan kemunculan seorang bocah. 

"Astaga!" pekiknya, nyaris teriak kalau saja dia tidak kenal bocah itu. "Kael? Sedang apa kamu di sini?"

Ternyata Kael memeluk erat kaki kanannya. Pantas saja berat. 

"Makan es krim." 

Kalla celingukan. Lagi-lagi anak ini sendirian.  "Sama siapa?" 

"Papa." 

"Terus, mana papa kamu?" 

"Lagi ke toilet." 

Kalla berjongkok, menjajari tinggi anak itu. "Meja kamu di mana? Jangan berkeliaran sendirian. Nanti kamu ilang gimana?" 

"Kan ada kakak cantik." 

"Iya, tapi ntar papa kamu nyariin lagi." 

Kael menggeleng. "Aku yang nyari, Kakak. Mau main, mau lollipop." 

Ah, tiba-tiba Kalla ingat pernah berjanji pada anak itu, soal lollipop jika bertemu lagi. Sungguh, dia tidak pernah berpikir bisa bertemu anak ini lagi. Terlebih saat tahu siapa bapaknya. 

"Tapi, kamu lagi sama papa kamu. Aku yakin papa kamu nggak akan suka kalau kamu makan lollipop." 

Wajah Kael cemberut. Pipi chubbi-nya memerah dan makin menggemaskan. 

"Kakak akan kasih kamu lolli, asal udah dapat persetujuan dari papa kamu." 

Mata bulat Kael tampak sedih. "Kalau gitu main aja. Aku kangen Kakak. Mau main." 

"Tapi kakak masih ada urusan." 

Sebenarnya Kalla tidak tega melihat wajah kecewa anak itu. Tapi dia harus melanjutkan misi mencari pekerjaan hari ini. Apalagi anak itu datang bersama bapaknya. Kalla tidak mau bertemu CEO sombong itu lagi. 

"Kakak nggak mau main?" 

Mata Kael berkaca-kaca. Sebentar lagi tangisnya pasti tumpah. Berabe kalau itu terjadi. 

"Bukan begitu, Kael. Kakak—" 

"Ada apa ini?" 

Suara itu! Spontan Kalla memejamkan mata. Seharusnya dia bergerak cepat pergi dari tempat ini sebelum manusia itu datang. Kalla menarik napas panjang sebelum menghadapi kenyataan. 

Wanita itu beranjak berdiri, dan menyapa Reyga dengan anggukan singkat. 

"Kael, sini ke dekat papa," perintah Reyga terdengar tegas kepada putranya. 

"Papa! Aku mau main sama Kakak Cantik." Dengan cepat Kael memeluk kaki Kalla lagi. Membuat wanita itu tersentak kaget.

"Jangan merepotkan orang lain, Kael." 

"Tapi papa bilang mau mencari kakak cantik. Sekarang udah ketemu, Pa." 

Reyga tampak menarik napas panjang. Kesabarannya kembali diuji. "Iya, tapi kakaknya lagi sibuk." Dia berusaha menggapai anaknya. Tapi dengan gesit Kael bersembunyi di belakang kaki Kalla. 

Kalla terkejut sendiri dengan aksi bocah itu. 

"Kael, kamu udah janji jadi anak baik." Sepertinya Reyga sudah mulai hilang kesabaran. "Ayo, cepat ke mari!" Suaranya terdengar lebih tegas dan tidak ingin dibantah, meskipun tidak teriak juga.

Ada adegan tarik menarik yang sedikit memicu perhatian. Yang mau tak mau, melibatkan Kalla di dalamnya. 

"Mau main sama kakak!" 

"Kita akan pulang, Kael."

"Nggak mau!" 

"Kael—"

"Stop!" seru Kalla cepat. "Izinkan saya bermain dengan Kael sebentar, Pak."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   7. Tidak Seburuk Dugaannya

    Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. "Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi meremehkannya tercetak jelas. "Atau Lo mau kerja di tempat gue? Gue bisa—" "10 juta per bulan. Gue ditawari gaji awal segitu," potong Kalla cepat. Dia tahu maksud Cade baik, tapi pantang bagi Kalla masuk pake orang dalam. "Wow." Dua alis tebal pria berwajah pucat itu naik. "Anaknya 'spesial'?" Kalla menggeleng. Rata-rata gaji pengasuh ada di kisaran 2-3 juta, kalau nginep bisa sampai 5 juta, tergantung agen. Pertanyaan yang wajar kalau yang diasuh bukan anak sultan. "Enggak juga. Dia anak baik dan manis. Mungkin karena dia anak orang tajir yang lagi putus asa nyari pengasuh lalu kebetulan ketemu gue yang akrab sama anaknya. Terus bapaknya tau latar belakang pendidikan gue, jadi dia kasih gue

  • Hello, Nanny!   6. Menggalau

    Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi pria itu agak songong tidak sih? Apa pria itu mau bilang Kalla lebih pantas jadi pengasuh daripada sekretaris, begitu? Sumpah, Kalla tidak ekspek bakal dapat tawaran jadi pengasuh. Dia meletakkan sumpit ke dalam mangkok. Lalu menatap pria tampan itu lurus-lurus. "Saya memang tidak keberatan mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan saya. Tapi nggak jadi nanny juga kali, Pak." "Kenapa tidak? Apa salahnya? Kalla membuang napas, hingga poninya ikut berkibar tertiup napasnya. "Saya yakin Anda sudah baca CV saya." "Ya." "Meskipun menurut Anda saya tidak layak jadi sekretaris, tapi melihat CV saya, Anda serius menawari saya jadi nanny? Yang benar saja!" Ingin rasanya

  • Hello, Nanny!   5. Sebuah Penawaran

    Kalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland. Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain, sehingga ketika bertemu arena bermain, dia akan jadi seheboh ini. "Kael! Di sana! Tangkap!" seru Kalla yang langsung ditanggapi Kael. Anak itu berlari dan segera mengambil harta karun tersembunyi. Begitu berhasil, keduanya melakukan high-five. "Kita main pasir, Kak!" ajak Kael antusias. Namun, Kalla tidak langsung menjawab dan melirik anak itu dengan alis berkerut. Seolah tengah berpikir. Tapi sejurus kemudian dia membuka tangan sambil tersenyum lebar. "Ayo, siapa takut!" Kael tertawa lalu menyambut tangan Kalla. Keduanya kembali berlarian, kali ini menuju bak besar berisi pasir buatan warna-warni. Wajah ceria mereka sangat kontras dengan wajah seorang pria yang menunggu di luar arena

  • Hello, Nanny!   4. Loker Manah?

    Sudah lebih dari sepuluh kali Kalla memelototi CV-nya di layar laptop. Tidak ada yang salah menurutnya. Tapi yang mengherankan kenapa sampai detik ini belum ada satu pun perusahaan yang menerimanya. Jujur, Kalla sudah mulai putus asa. Dia bahkan berniat belajar menjahit seperti ibunya. Meski sering mengeluh punggung, rejeki ibu datang sendiri ke rumah tanpa harus berkeliling mencari seperti dirinya. Satu tahun, menjadi pengangguran sukses bikin hidupnya rada stress. Kalla membuang napas, dan menutup laptop. Tidak ada gairah untuk melanjutkan kegiatannya mengirim CV lagi. Dua tangannya menopang dagu, pandangannya lurus ke luar jendela kamar. Memperhatikan taman mini di sebelah rumahnya, milik tetangga. Posisi dengan pandangan yang cukup indah, sangat pas untuk melamun. Saking khusuknya melamun, Kalla tidak sadar seseorang memasuki kamarnya. Tepat ketika bahunya ditepuk, dia terlonjak kaget. "Setan Bahlil! Eh, Bahlul!" teriaknya spontan. Membuat orang di belakang punggungnya terping

  • Hello, Nanny!   3. Kakak Cantik???

    "Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makanan," ujar pria itu lagi.Hah? Excuse me? Kening Kalla berkerut dalam. Sepertinya dia salah menilai lagi. "Maksud Anda apa ya, Pak? Saya tidak memberi Kael makanan yang—""Kael bilang dia baru makan lolipop dari kamu." "Ya, itu benar. Tapi itu kan lolipop, bukan sembarang makanan. Saya tiap hari juga makan dan fine-fine aja." Muka di depan Kalla sudah tidak sedap di pandang mata. Setelah insiden wawancara, aura permusuhan di antara mereka masih saja terlihat kental. Kalla bisa merasakan itu. "Itu kamu. Kalau Kael giginya masih harus dijaga agar tidak rusak. Jangan samakan anak balita dan kamu yang udah tua." "Apa?!" Tanpa sadar nada suara Kalla meninggi mendengar kata 'tua'. Pria itu b

  • Hello, Nanny!   2. CEO Gila

    Kehadiran Kael di tengah kegalauan karena gagal interview membuat perasaan Kalla sedikit membaik. Dia bisa melupakan hari menyebalkan ini sejenak saat bermain dengan anak itu. Terlihat dari fisiknya, anak itu bugar dan pintar, selain ganteng tentu saja. Entah apa yang terjadi sampai orang tuanya membiarkan anak ganteng ini berkeliaran sendirian. "Kael, ayo kakak antar pulang. Nanti mama kamu nyariin," ujar Kalla setelah capek bermain. Mungkin sudah satu jam lamanya mereka mencoba semua Playground yang ada di taman ini.Anak itu tampak berpikir sejenak. Lalu menggeleng. "Mama Ki di Amerika."Kalla melongo dan ingat permintaan anak itu satu jam lalu. 'Kakak Cantik, mau enggak jadi mamaku'Sekarang Kalla tahu. Kael minta hal aneh itu karena sang mama mungkin lagi ada di Amerika. "Oke." Kalla mencoba mengerti. Dia lantas duduk berjongkok di depan Kael yang sama sekali tidak terlihat lelah meskipun sudah bermain sampai keringetan. "Tapi kamu harus tetap pulang. Kakak juga mau pulang ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status