Share

6. Menggalau

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-10 13:08:45

Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. 

Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi pria itu agak songong tidak sih? 

Apa pria itu mau bilang Kalla lebih pantas jadi pengasuh daripada sekretaris, begitu? Sumpah, Kalla tidak ekspek bakal dapat tawaran jadi pengasuh. 

Dia meletakkan sumpit  ke dalam mangkok. Lalu menatap pria tampan itu lurus-lurus. 

"Saya memang tidak keberatan mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan saya. Tapi nggak jadi nanny juga kali, Pak." 

"Kenapa tidak? Apa salahnya? 

Kalla membuang napas, hingga poninya ikut berkibar tertiup napasnya. "Saya yakin Anda sudah baca CV saya." 

"Ya." 

"Meskipun menurut Anda saya tidak layak jadi sekretaris, tapi melihat CV saya, Anda serius menawari saya jadi nanny? Yang benar saja!" 

Ingin rasanya Kalla membalik meja di depannya. Ubun-ubunnya mulai panas. Tapi dia cukup sadar sedang berada di tempat umum. Harus bisa jaga image dan emosi. Terlebih ada anak kecil di sebelahnya. 

"10 juta!" ucap Reyga tiba-tiba. 

"Apanya yang 10 juta?!" 

"Salary. Saya tawarkan 10 juta per bulan salary menjadi nanny Kael." 

Bola mata Kalla melebar tanpa bisa dicegah. "Apa?" 

"Itu penawaran awal. Seiring berjalan waktu bisa naik lagi. Tergantung pola asuh kamu dan juga kecocokan Kael dengan kamu." 

Setelah melebar, mata Kalla mengerjap beberapa kali. Kepalanya langsung mengingat Moya yang di bulan magang pertamanya cuma dapat gaji 3 juta. Dibanding tawaran si CEO songong ini, jelas gaji Moya kalah telak. 

Apa pria itu bercanda? 

Diam-diam Kalla melirik Kael yang sedang asyik menikmati ebi furai sampai tepung rotinya berserakan di meja. Bocah itu ternyata sangat bernilai di mata ayahnya. Bahkan Reyga rela merogoh kantong dalam -dalam untuk gaji pengasuh. 

Jika benar gajinya sebesar itu di bulan pertama, Kalla bisa foya-foya. Hiyah! Astaghfirullah. Eling, Kal! 

Kepala Kalla menggeleng cepat, mengenyahkan pikiran nakalnya. Dia berdeham pelan, berusaha mengendalikan diri. Gaji gede pasti berbanding lurus dengan resikonya kan? Kalla tidak mau cepat tergiur. 

"Saya tidak punya pengalaman mengasuh anak." 

Jual mahal sedikit nggak apa-apa kan? 

"Bukankah Anda lebih suka calon karyawan yang punya pengalaman? Saya masih single. Jangankan mengurus anak, melahirkan anak saja belum pernah. Sangat sangat non-experience." 

Mendengar itu Reyga tersenyum aneh. "Saya tahu. Kelihatan kok dari muka kamu." 

Sebelah alis Kalla kontan naik. Apa maksudnya nih? Memang di mukanya ada apa? 

"Saya memberi kamu penawaran ini karena melihat interaksi kamu dan Kael. Sepertinya kamu bisa mengendalikan anak itu." 

Lagi-lagi Kalla melirik Kael. Apa sesusah itu mengendalikan Kael? Di mata Kalla, Kael itu anak yang manis dan seru. Sepertinya yang punya masalah bukan anaknya, tapi bapaknya. 

Bisa saja Reyga tipe bapak yang temperamental. Atau bapak yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada anaknya. Ya. Itu lebih masuk akal karena lelakiku itu CEO perusahaan besar. 

Tiba-tiba Reyga mendorong sebuah kartu berbentuk persegi ke dekat  Kalla. 

"Apa ini?"

"Kartu nama saya. Saya tidak akan memaksa, tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungi saya. Tapi saya tidak bisa menunggu lama. Saya beri kamu waktu tiga hari untuk berpikir." 

Benar-benar pintar bernegosiasi. Pura-pura memberi waktu targetnya untuk berpikir. Pria itu pasti sadar dengan tampang Kalla yang terlihat ragu, tapi juga mau. 

Pelan Kalla mengambil kartu itu dan membacanya sekilas. Reyga Abimanyu, B.Sc., M.Sc., jabatan CEO of Ganesha Group.  Benar-benar manusia bergengsi. 

Meski cuma kartu nama, kartu ini cukup sakti. Kalau sampai jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab bisa bahaya. Cepat-cepat Kalla menyimpannya di saku kemeja.

*** 

Moya menatap serius wanita berwajah bingung di hadapannya. Setelah mendengar cerita singkat Kalla, dia mendukung seribu persen sahabatnya itu untuk menerima tawaran itu. 

"Lo kan udah capek nganggur. Butuh duit juga biar bisa bantu ibu. Udah lelah juga kan jadi beban keluarga?" 

Kalla berdecak sebal. "Mesti disebut banget ya beban keluarganya?"

Moya terkekeh. "Sori, sori. Lagian gue gemes deh, tawaran bagus kok masih bingung." 

"Moyes, gue dilamar jadi nanny, pengasuh, baby sitter. Yang benar saja!" 

"Jadi maksud Lo jadi pelayan restoran dengan gaji UMR lebih baik?" Moya bersedekap tangan, menatap wajah cantik Kalla yang lama-lama membuatnya sebal. 

"Ya ... eng-nggak sih." 

"Ya udah! Kesempatan di depan mata  sikat! Lagi pula Lo bilang anak itu manis kan? Sama Lo nurut. Makin gampang. Yakin deh kerjaan Lo nggak berat, nggak pusing kek gue. Coba! Kerja nyantai di mana yang gajinya brutal begitu? Nggak ada, Kal!" 

Semua yang Moya katakan membuat Kalla makin berpikir keras. 

"Nggak usah peduliin gengsi. Lo butuh duit. Ntar kalo anak itu udah gede baru deh lo mikirin kerjaan yang sesuai sama gelar lo." 

Sebenarnya bukan hanya kerja yang tidak sesuai, tapi juga karena Kalla tidak ingin terlibat lagi dengan bapaknya Kael yang sombong itu. Ya meskipun pria itu sudah minta maaf, sikap menyebalkannya waktu interview masih belum bisa Kalla lupa. 

"Apa sih yang Lo pikirin lagi? Ingat, Kal! Kesempatan nggak datang dua kali!" pungkas Moya, membuat Kalla makin pusing. 

Tinggal besok. Sudah habis waktu yang Reyga berikan padanya. Kalla harus memutuskan.

Seperginya Moya, Kalla kembali melamun di depan jendela. Sebagian hatinya ingin menerima tawaran itu, tapi sebagian lain menyuruhnya menolak. Lama-lama Kalla frustrasi sendiri. 

Tanpa sadar dia mengacak-acak rambut sambil teriak. Hanya soal terima atau tidak, tapi rasanya seperti menentukan hidup dan mati. 

"Lo oke?" 

Kalla terlonjak dan hampir terjengkang saat tiba-tiba seseorang muncul di depannya. Tepatnya di luar jendela kamarnya. Dia refleks mengelus dada. 

"Astaga! Kira-kira dong kalau ngagetin orang!" sentaknya muncrat. Yang malah membuat orang di depannya tertawa. 

"Sori." Orang itu tersenyum setelah berhenti tertawa. 

Dia tetangga Kalla. Laki-laki yang kata Moya seperti oppa-oppa. Cade. Laki-laki urban yang entah kenapa malah pilih jadi penghuni rumah  kampung, daripada gedung vertikal di pusat kota.

"Bentar lagi maghrib, tapi lo malah melamun. Emang nggak takut ada demit lewat terus ngerasuk?" 

"Huss! Sembarangan kalau ngomong." Kalla lirak-lirik dengan pandangan ngeri. Mana ada demit yang mau merasuki jiwanya yang lagi galau. 

"Ada apa? Ada masalah besar sampe rambut lo yang nggak salah diacak-acak begitu?" 

"Gue lagi bingung." 

Lelaki di depan Kalla tersenyum kecil. Sudah bisa ditebak. Dua tahun tinggal di kampung dan punya tetangga yang kebetulan kamarnya bersebelahan dengan rumahnya, membuat Cade cukup tahu tentang Kalla. 

"Masih soal pekerjaan?" tanya Cade. Dia tahu tetangganya itu tengah gencar mencari lowongan kerja. Sebenarnya dia bisa membantu, tapi saat tahu Kalla bukan tipe yang suka pake orang dalam, Cade membuang jauh ide itu. Dia hanya membantu mencarikan info lowongan kerja beberapa kali. 

Kalla mengangguk lemah. "Gue dapat tawaran kerja yang gajinya menggiurkan buat orang yang baru pertama kali kerja." 

"Wah, bagus dong!" Cade sumringah. Senyumnya terkembang lebar. "Kerja apa?" 

Namun senyum lebar itu perlahan surut saat Kalla menjawab. 

"Jadi pengasuh balita, alias baby sitter." 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Hary Anto
dukung aja gaes
goodnovel comment avatar
Anies
menarik nih...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   S2.59. Pacar

    INI BAB PAMUNGKAS YA TEMAN-TEMAN, SETELAH INI TIDAK ADA EXTRA PART. =============Bibir Rere melengkung sempurna ketika melihat pemandangan di halaman rumah Kael. Sesekali dia akan tertawa melihat kekonyolan di sana. Pemandangan Cade dan Reyga yang berkolaborasi menyalakan kembang api hingga langit gelap kampung tampak begitu meriah. Lalu anak-anak mereka akan bersorak bahagia ketika kembang api meledak. Sementara di kursi panjang, Rere melihat Kalla dan Ceci tengah tertawa bersama. Sungguh pemandangan keluarga utuh yang bahagia. Membuat hati kecilnya iri. Andai mama masih hidup, apa Rere akan bahagia seperti itu juga? Dia menghela napas panjang. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak bisa bermimpi indah seperti itu. Sentuhan di bahu membuat Rere tersentak. Dia refleks memutar kepala dan menemukan Kael. “Kenapa cuma berdiri di sini? Ayo, ke sana!” Rere tersenyum tipis, dan mengamini ajakan laki-laki itu. “Kembang apinya stop dulu ya! Nanti lanjut lagi,” seru Kael selagi membawa cake

  • Hello, Nanny!   S2.58. Belum Halal~

    Rumah ramai. Di halaman depan juga. Reyga mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan sekalian camping di halaman rumah. Bahkan dua tenda Apernaz sudah didirikan. Namun pesta kecil itu ternyata kedatangan tamu tak diundang, dan suasana sontak berubah jadi riuh. Siapa lagi kalau bukan Cade dan anak istrinya? “AChen!” seru si kembar saat melihat saudara sepupunya keluar dari mobil. Keduanya langsung meninggalkan mama papanya, dan menghambur menghampiri AChen. Sementara Kalla, juga tampak heboh saat melihat Ceci. Di depan tempat bebakaran, Rere melihat itu agak terkagum-kagum. Terlebih dengan wanita tinggi bermata sipit yang sedang ngobrol dengan Tante Kalla. “Itu … istri Om Cade?” tanya gadis itu pada Kael yang sibuk mengipas dan membolak-balik sate. “Iya. Namanya Aunty Cecilia.” “Dia… cantik banget.”Kael mengangkat wajah dan ikut melihat ke arah Tante Ceci. “Kelihatannya juga smart. Dia … bukan Chindo ya?” “Yang Chindo putranya. Tuh yang lagi sama si kembar. Namanya AChen. Kalau Au

  • Hello, Nanny!   S2.57. Gelang

    Gara-gara gelang, Kael membawa Rere ke sebuah toko aksesoris. Rere pikir lelaki itu akan membelikannya gelang. Namun Kael malah mengambil beberapa tali warna hitam yang tergantung di etalase toko. Kael menarik tangan Rere untuk duduk di kursi tinggi tepat di depan counter. “Mbak, ada manik-manik?” tanya Kael seraya tersenyum. “Ada, Mas.” Mbak-mbak penjaga toko lantas mengeluarkan dua kotak bersekat yang berisi segala macam manik-manik dari yang bentuknya bulat hingga kotak. Ada juga manik inisial, manik berbentuk bunga, bintang, dan love. “Kamu mau bikin apa?” tanya Rere penasaran ketika Kael menyusun tali kecil berukuran panjang menjadi empat bagian. “Nanti kamu juga tau.” Sedikit mengabaikan Rere, Kael mulai fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wajahnya berubah serius, tapi jari-jarinya bergerak lincah. Mengepang, melipat, menarik. Begitu secara berulang hingga tali panjang itu memiliki bentuk baru. “Kamu bisa nganyam?” tanya Rere takjub. “Bukan hal yang sulit. Kamu m

  • Hello, Nanny!   S2.56. LDR Kita Nih?

    “Aku makan kue ini aja, boleh?” tanya Lior sambil menyentuh boks mika berisi kue dari Rere. Wajahnya nyengir. Dia sudah mencicipi kue buatannya sendiri dan saudara kembarnya. Itu sama sekali tidak enak. Rasanya bisa merusak mood. Dua kembar itu merasa bersalah banget sudah membuat mama dan papanya makan. “Boleh, dong.” Boks mika itu dibuka Kael, lalu dipotong Kalla dengan pisau yang sudah disediakan. “Maafin kami, ya, Ma. Gagal bikin kejutan buat mama papa,” ucap Kaia malu-malu, tapi merasa bersalah juga. “Kenapa minta maaf? Kalian udah berusaha banget. Mama bangga sama usaha kalian, ya meskipun hasilnya kurang memuaskan.” Satu per satu paper plate terisi dengan kue yang sudah dipotong. Rere membuat black forest sebagai hadiah anniversary Kalla dan Reyga. Dan berada dalam satu meja yang sama, mereka menikmati kue itu. “Mmm, ini sih rasanya sekelas bakery ternama, iya, nggak sih, Pa?” Kalla memejamkan mata saat merasakan kelezatan di lidah. Reyga mengamini. “Kamu beli di mana,

  • Hello, Nanny!   S2.55. Kue Gosong

    Kalla kecewa saat sampai bandara hanya menemukan Pak Sato yang menjemput. Dia berharap anak-anaknya datang lantaran sudah begitu rindu ingin memeluk. Ingin mencium aroma tubuh mereka. “Kok cuma Pak Sato doang sih, Rey? Mereka pada ke mana?” keluh Kalla kecewa seraya berjalan pelan di sisi suaminya. Tidak seperti Kalla yang gusar, Reyga terlihat santai. “Nanti di rumah juga ketemu.” “I-ih, beda lagi itu dong. Emang mereka nggak kangen kita?” Reyga terkekeh melihat sang istri merajuk. Dia merangkul pundak wanita itu dan menenangkan. “Sebentar lagi loh kita sampai rumah.” “Iya, kalau nggak macet.” Kalla menghentakkan kaki, lalu menyingkirkan tangan Reyga dari bahunya. “Selamat siang, Pak, Bu. Gimana penerbangannya?” tanya Pak Sato sopan begitu kedua suami istri itu sampai di depannya. “Capek yang pasti, Pak,” sahut Reyga seraya terkekeh. “Pak Sato sehat?” “Alhamdulillah, Pak Rey.” “Anak-anak gimana, Pak? Kenapa mereka nggak ikut jemput kami?” sela Kalla yang sudah terlanjur

  • Hello, Nanny!   S2.54. First Kiss

    Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka buat

  • Hello, Nanny!   147. Kebakaran

    “Gue harus lihat kondisi villa? Mungkin laptop masih bisa diselametin.” Reyga bergegas keluar. Berusaha mengingat-ingat apakah semua pekerjaannya sudah di-backup.“Eh, gue ikut!” seru Cade menyusul, setelah meminta izin istrinya.Jalan By Pass menuju Tirta Nadi II macet total. Cade mengambil arah j

  • Hello, Nanny!   10. Sudah Jatuh, Ketimpa Tangga

    Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik

  • Hello, Nanny!   9. Hello, Nanny!

    Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status